Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 105 "Menyerah"


__ADS_3

"Kakak, apa yang sedang kau lakukan disini?" tegur Mariana pada sosok wanita berambut hitam sebahu bernama Danila.


Danila menoleh dan menatap tajam gadis dihadapannya. "Anak kecil sepertimu sebaiknya tidak usah ikut campur," ucap Danila dan pergi begitu saja. Meninggalkan Mariana yang tetap bergeming dari tempatnya berdiri.


"Kakak, sebaiknya kau berhenti!!"


Langkah Danila terhenti karna seruan Mariana. Sontak wanita itu menoleh dan menatap tajam pada Mariana. "Apa maksudmu?"


"Tuan Muda Nathan. Berhentilah mengharapkannya. Dilihat dari segi mana pun keluarga kita tidak akan sederajat dengannya. Dan lagi pula sekarang dia sudah beristri. Jadi sebaiknya Kakak berhenti sekarang sebelum kau semakin terluka."


"Sebaiknya kau diam saja. Aku tidak akan berhenti apalagi menyerah. Lagipula aku dilahirkan dan ditakdirkan untuk menjadi Nyonya besar dalam keluarga Lu. Jadi sebaiknya kau tidak usah ikut campur urusanku lagi!!" Danila menepuk bahu Mariana dan pergi begitu saja.


Mariana tidak tau kapan kakaknya itu akan menyerah pada perasaannya terhadap Nathan. Danila sudah lama menaruh hati pada Nathan, dan dia tidak pernah menyerah untuk mendapatkannya. Bahkan Danila pernah menjebak Nathan dan membuat pria itu seolah-olah tidur satu ranjang dengannya tapi sayangnya usahanya itu digagalkan oleh Rio dan kedua paman kecilnya.


Mereka memindahkan tubuh Danila yang sedang tak sadarkan diri ke kamar penjaga kebun sehingga terjadi kehebohan saat pagi harinya. Bukannya berhenti, Danila justru semakin menjadi. Wanita itu selalu berusaha mati-matian untuk mendapatkan hati Nathan meskipun pada akhirnya berakhir nihil.


Mariana mendesah berat. Dia mengenal kakaknya itu dengan sangat baik. Danila bukan tipe wanita yang mudah menyerah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Danila akan menghalakan segala cara untuk bisa mencapai tujuannya.


Dan sebagai seorang adik, tentu Mariana tidak akan tinggal diam dan membiarkan kakaknya tersesat semakin dalam. Mariana akan menghentikan Danila bagaimanapun caranya.


-


Langit senja mulai menyemburatkan warna hitam dan matahari sudah tenggelam di sisi baratnya sejak dua jam yang lalu, tanda hari Minggu ini sudah berakhir. Tepat saat matahari menghilang seluruhnya di balik batas bumi dan langit. Lampu-lampu telah dinyalakan, tampak seperti butiran intan di tengah warna-warna yang mulai gelap.


Viona menghentikan langkahnya begitu pula dengan Nathan. Sepasang suami-istri itu duduk di sebuah bangku taman yang tak jauh dari Villa. Viona manyenderkan kepalanya pada bahu yang hanya tertutup kain vest itu dengan pandangan lurus ke depan.


Tak ada yang berbicara. Samar-samar hanya terdengar detak jantung mereka yang berdetak beraturan. Viona mengangkat wajahnya dan menatap wajah Nathan yang juga menatap padanya. "Oppa," panggil Viona dengan raut muka yang menunjukkan keseriusan.


"Hm,"


"Aku ingin segera hamil lagi. Bagaimana kalau kita melakukannya secara rutin supaya mendapatkan hasil yang memuaskan," usul Viona yang langsung dihadiahi sebuah jitakkan keras oleh Nathan. "Apppoo..!!Oppa, sakit," keluh Viona sambil mencerutkan bibirnya.


"Siapa suruh kau jadi semesum ini," sinis Nathan tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Viona mencerutkan bibirnya. Dengan kesal wanita itu mencubit perut Nathan. "Kenapa kau semakin menyebalkan saja, Oppa. Kau benar-benar membuatku kesal," Viona bangkit dari posisinya dan melangkah pergi sampai tarikan pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya.


"Kau akan menyesal jika pergi sekarang. Sebaiknya lihat dan perhatikan disana," Viona pun mengikuti arah tunjuk Nathan dan...


DUAAR !!! DUUAARR !!! BUUMM !!! DUAARR!!!

__ADS_1


Berbagai warna dari kembang api memenuhi langit Kota Seoul. Langit malam yang semula gelap menjadi begitu indah. Viona terperangah. Kedua matanya membelalak dan bibirnya sedikit terbuka.


"Bagaimana? Indaglh tidak?" tanya Nathan.l memastikan.


"Bukan lagi sekendar indah, tapi itu sangat sempurna,"


Kedua insan itu menatap langit malam yang kini bercahaya indah karna letupan kembang api dengan pandangan takjub. Viona tersenyum tulus, begitu indah hidupnya saat ini. Hidup itu ibarat seperti kembang api yang ada di langit kelam. Singkat waktunya, tapi begitu Indah sekali. Mereka tidak mengalihkan pandangannya dari langit. Hingga tiba tiba, kembang api itu membetuk sebuah tulisan yang bertulis...


'AKU MENCINTAIMU VIONA LU.'


Melihat pemandangan yang aneh dari kembang api itu, sontak Viona menatap Bathan. Belum sempat wanira itu berbicara.. Sebuah ciuman lngsung mengunci bibirnya yang disusul pagutan-pagutan lembut namun memabukkan.


Meslipun awalnya terkejut. Tapi Viona tak berusaha untuk melepaskan ciuman tersebut dan dia malah menikmatinya. Kedua tangannya mengalung pada leher Nathan dan kedua matanya tertutup rapat. Sebelah tangan Nathan menekan tengkuk Viona sedangkan sebelah lagi memeluk pinggang rampingnya.


"Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf, karna tidak bisa membikan sesuatu untukmu," bisik Nathan dan kembali mencium bibir Viona namun kali ini lebih singkat.


Viona menatap Nathan dengan mata berkaca-kaca. "Bahkan aku sudah tidak ingat jika hari ini adalah ulang tahunku. Gomawo Oppa, karna sudah mengingatnya," ucap Viona dan berhambur kedalam pelukkan Nathan.


"Sama-sama Sayang. Apapun pasti akan aku lakukan untuk membahagiakanmu, dan aku tidak mungkin melupakan hari-hari penting yang berhubungan dengan dirimu."


Viona melonggarkan pelukan Nathan. "Ini adalah bukti cintaku padamu," kemudian Viona mencium singkat bibir Nathan. "Sedangkan ini adalah bukti kesetiaan dan cintaku yang menerimamu apa adanya tanpa memandang fisikmu." Ciuman itu beralih pada mata kiri Nathan yang selalu tertutup eyepacht. "Dan ini adalah bukti jika aku hanya mencintaimu, dan selamanya hanya dirimu," Viona mencium setiap inci bagian pada wajah Nathan.


Beberapa saat kemudian Nathan mengakhiri ciumannya. "Sudah semakin larut. Sebaiknya kita kembali ke Villa sekarang," ucap Nathan seraya menyeka sisa liur di bibir Viona. Wanita itu tersenyum kemudian mengangguk.


"Baiklah,"


-


Glukk...


Susah payah Shion dan Jordy menelan salivanya. Pandangan mereka menyapu kesegala penjuru arah. Suasana di sekitar sungai tempat mereka berada saat ini begitu kelam dan mengerikan. Suara burung hantu yang bertengger di atas pohon membuat suasana kian mencekam.


"Shion, bagaimana ini?"


Angin dingin meniup tengkuk Jordy dengan kencang sampai menerpa wajahnya, menembus baju hangatnya yang tebal. Daun-daun berputar diantara bebatuan dan akar-akar pohon yang menjalar keluar menyembul tanah, dahan-dahan pohon bergoyang melambai bagaikan sepasang tangan yang mengapung diudara. Tangan Jordy terasa dingin, kedua kakinya serasa mati rasa.


"Jangan menarik bajuku, bodoh!" bentak Shion sambil menyentak tangan Jordy dari pakaiannya.


Cuaca malam ini begitu suram, seakan dimaksudkan untuk menakuti Jordy dan Shion. Dan jika bukan karna terpaksa, mereka juga tidak akan sudi datang ketempat seperti ini tengah malam begini.

__ADS_1


"Shion," panggil Jordy.


Hanya suara angin yang menjawab. Suasana sungai begitu sepi dan hening tak berkehidupan. Hanya ada udara dingin dan kegelepan yang membuat bulu roma berdiri dihempasnya. Mencekam.


Sehelai daun kering terlihat seperti tangan keriput berwarna cokelat menghampiri kakinya dengan cepat. "KYA!" Jordy berteriak berlari meninggalkan Shion sendiri.


"BRENGSEK! KENAPA AKU DITINGGALKAN SENDIRI!!" umpat Shion melihat Jordy yang sudah berlari tunggang-langgang.


Wanita itu terus menoleh kebelakang. Pikirannya dilanda frustasi serta amarah yang menggelak ditenggorokannya. Ketakutannya bahkan sekarang menghasilkan air mata yang mengalir deras dari kedua bola matanya. "Bodoh, tunggu aku!!"


"Aku tidak peduli lagi. Aku tidak sudi melakukan ritual konyol ini lagi. Aku menyerah, aku menyerah!!" teriak Jordy ditengah langkahnya.


"Jangan konyol kau!! Apa kau mau terus-terusan diganggu oleh arwah gentayangan itu?" seru Shion.


"Aku bilang aku sudah tidak peduli lagi!! Apa kau tuli?"


"Baiklah, kalau begitu biar aku sendiri saja yang meneruskannya." Kata Shion.


Dengan berbekal keberanian. Shion kembali kesungai. Itu adalah sungai ke lima yang artinya hanya tersisa dua sungai lagi. Dan selanjutnya dia hanya perlu berendam di dalam tujuh kotoran hewan seperti kotoran ayam, kotoran kerbau, kotoran sapi, kotoran kambing, kotoran monyet, kotoran buaya dan kotoran kuda. Meskipun sangat menjijikkan tapi Shion akan tetap melakukannya supaya dia bisa segera lepas dari jeratan arwah gentayangan.


"Mama... Mama... Tolong susui aku,"


Glukk...


Susah payah Shion menelan salivanya dan nyaris saja dia berteriak sekencang-kencangnya melihat sosok bocah berkepala plontos tanpa pakaian dan bermuka putih menari-nari sambil melambai padanya. Shion menggeleng. Wanita itu bergerak kebelakang melihat sosok bocah menyeramkan itu berjalan menghampirinya.


Shion menggeleng kuat. "Jangan mendekat, aku mohon. Jangan menggangguku,"


"Mama.. Mama.. Susui aku. Aku lapar,"


"Aku bukan Mamamu jadi pergilah dan jangan ganggu aku,"


"Mama.. Mama... Tolong susui aku, aku lapar," dan sosok bocah itu pun melompat ke arah Shion hingga wanita itu terjengkang kebelakang. Shion menggeleng kuat.


"TIDAK....!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2