
Jangan lupa untuk meninggalkan like ❤ sebelum membaca. Tambah ke lisft favorite juga. Koment sesuai alur cerita supaya Authornya makin semangat buat ngetik lanjutannya 🙏🙏🙏
-
"Lama tidak bertemu Bram Wiranata, kau terlihat semakin baik saja,"
Wanita itu menghampiri Bram yang memang sudah menunggu kedatangannya. Senyum picik tersungging di sudut bibir merah meronanya. "Sandora Lim, aku fikir kau sudah mati. Ternyata kau masih hidup!!"
"Jadi kau berharap aku mati? Begitu?" sinis Dora meremehkan.
Bram menyeruput kopinya kemudian meletakkan cangkir keramik itu ke tempat semula. "Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin aku menyumpahi wanita yang sudah memberiku anak supaya cepat mati. Ngomong-ngomong bagaimana kabar Leo? Kapan kau akan mempertemukan aku dengannya dan mengatakan padanya jika aku adalah Ayah kandungnya, bukan Derry Ardinata!!"
Pengakuan Bram yang begitu mengejutkan membuat tiga pemuda yang kebetulan juga berada di cafe itu terkejut bukan main. Apa telinga mereka tidak salah dengar?
Apa benar pria setengah baya itu mengatakan jika Leo bukanlah anak kandung dari Derry Ardinata? Tentu saja itu adalah berita yang sangat menggemparkan dan bisa menjadi ladang bisnis jika saja Derry dan Leo masih hidup. Tapi sayangnya mereka sudah mati sehingga Rio, Satya dan Frans tidak bisa mendapatkan keuntungan besar dari mereka.
Raut wajah Dora berubah sedih ketika Bram mengungkit tentang putranya yang sudah tiada. Sepertinya Bram memang belum tau jika Leo sudah meninggal.
Rio, Satya dan Frans memasang baik-baik pendengarannya untuk mendengarkan apa yang mereka berdua bicarakan.
"Sudah terlambat, Bram. Sudah terlambat, karna Leo sudah tidak ada. Dia meninggal di tangan pria bernama Nathan Lu, dia sudah merenggut putra dan suamiku!!"
"A-apa? Leo sudah meninggal?" Dora mengangguk.
Rasanya seperti ada bongkahan batu besar yang menghantam dada Bram saat mengetahui jika putranya telah tiada. Baru saja dia ingin mengungkap sebuah kebenaran dan memberi tau Leo jika dirinya adalah ayah kandungnya yang sebenarnya, tapi semua sudah terlambat karna Leo sudah meninggal.
"Dan karna alasan itulah aku mengajakmu bertemu. Sekarang kita memiliki dendam pada orang yang sama, bagaimana kalau kita bekerja sama? Dan kebetulan sekali, wanita yang sedang kau cari-cari adalah Istri dari Nathan Lu. Bukankah kita berdua akan saling menguntungkan?" Dora menyeringai, menatap Bram yang tampak di liputi amarah. Dan wanita itu berani bersumpah jika Bram akan menerima tawarannya.
"Aku setuju!! Aku akan bergabung dan bekerja sama denganmu. Bersama-sama kita akan menghancurkan dia!!"
"Oh tidak semudah itu, Ferguso!! Selama nyawa kami masih melekat di badan. Tidak akan semudah itu kalian bisa menyentuh mereka." Ujar Rio membatin. Dan sepertinya Maknae dalam keluarga Lu itu sudah memiliki sebuah ide. Dan jika mereka sudah turun tangan, pasti hidup mereka tidka akan bisa tenang.
"Rio, Frans, bagaimana kalau kita langsung beraksi? Sepertinya mereka perlu di beri sedikit pelajaran. Kita buat hari ini sebagai hari paling sial dalam hidup mereka,"
"Setuju!!" Rio dan Frans menjawab dengan sangat kompak.
Dan tanpa Dora dan Bram sadari. Bahaya tengah mengancam mental dan kewarasan mereka berdua. Dan mereka tidak akan pernah bisa lepas dari jerat Rio, Frans dan Satya. Mereka tidak pernah sadar jika di balik iblis seperti Nathan berdiri 3 anak iblis yang tidak bisa diragukan lagi tingkat kenakalannya.
Jika Nathan tidak akan segan-segan mengambil nyawa mereka yang berani membuat masalah dengannya, maka lain halnya dengan mereka bertiga. Mereka lebih suka membuat orang lain sengsara dan membuat rusak otak mereka.
Satya menghampiri kasir wanita dan berbincang sebentar dengannya. Terlihat pemuda itu menunjuk meja yang ditempati Bram dan Sandora. Dan si kasir hanya menganggukkan kepala sebagai tanda jika dirinya sudah mengerti.
"Hehehe. Permainan baru saja di mulai paman, bibi, tunggu dan lihat saja bagaimana kami akan beraksi jadi persiapkan diri kalian." Ujar Satya dengan senyum culasnya.
Bram terlihat bangkit dari duduknya. "Aku akan menghubungimu lagi. Aku harus pergi sekarang, 30 menit lagi aku ada pertemuan penting dengan rekan bisnisku."
"Baiklah, tidak masalah. Kali ini aku yang traktir karna aku yang mengundangmu."
"Oke, thanks,"
Bram langsung pergi sementara Dora menuju kasir untuk membayar. Mata Dora memicing melihat jumlah nominal yang harus dia bayar. "Apa tidak salah? Kami hanya memesan kopi saja, kenapa mahal sekali?" tanya Dora meminta penjelasan.
__ADS_1
"Ini termasuk makanan dan minuman tiga keponakkan Anda, mereka baru saja pergi dan mengatakan jika Anda yang membayar semua pesanan mereka,"
"Apa maksudmu? Jelas-jelas aku hanya berdua dengan temanku!! Jangan mengada-ada Nona, jika kau ingin mencari keuntungan bukan seperti ini caranya. Pokoknya aku tidak mau membayar!!"
"Anda harus tetap membayar Nyonya. Melihat dari penampilan Anda yang begitu elegant pasti Anda adalah orang kaya. Tapi masa iya bayar dalam jumlah segini Anda tidak mampu? Ahh, jangan-jangan Anda orang kaya WK ya?"
"JAGA MULUTMU!!" bentak Sandora dengan suara meninggi.
"Kalau begitu bayar saja tidak perlu banyak alasan. Dan jika Anda tidak mau membayar, kami akan menuntut Anda. Ahh tidak, kami akan menahan Anda di sini untuk mencuci piring selama 24 jam penuh,"
"Yakk!! Aku ini orang kaya!! Jadi jangan sembarangan, ini aku bayar dan ambil saja kembaliannya!!" Dora memberikan sejumlah uang pada dua wanita dihadapannya kemudian pergi begitu saja. Salah satu dari kedua wanita itu tertawa puas.
"Ambil ini. Uang lebihnya untukmu saja. Kakak kasir yang cantik, terimakasih untuk bantuannya ya. Dia adalah wanita jahat, jadi jangan pernah menyesal karna sudah membantuku. Oke aku pergi dulu, byebye." Frans tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Di tengah langkahnya Frans terlihat begitu girang. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kedua paman kecilnya. "Paman, rencana pertama sukses."
"Oke. Aku dan Frans sudah siap di sini, kau segeralah datang dan ambil peran."
"Siap, laksanakan."
Dora memicingkan matanya melihat beberapa orang berdiri berjajar di samping mobilnya sambil membawa karangan bunga. Wanita itu tidak tau apa maksudnya, seorang pria berkumis tebal menghampiri Dora kemudian mengalungkan sebuah bunga pada lehernya. "Selamat... Selamat... Nyonya mendapatkan undian berhadiah. Satu unit apartemen mewah. Sekali lagi selamat... selamata..."
Kelopak-kelopak bunga langsung menghujani Dora. Bukannya bahagia dan berbunga-bunga dia malah tersiksa. Serbuk-serbuk bunga itu membuatnya bersin secara terus menerus. "Yakk!! Hentikan, apa yang kalian hachuuu... lakukan!" amuk Dora pada beberapa orang dihadapannya.
"Ini adalah sambutan dari kami Nyonya. Selamat... selamat.." Orang itu menyemprotkan parfum di depan wajah Dora.
"Aahh!! Mataku, pedih sekali. Yakk!! Hentikan tindakkan bodoh dan barbar kalian. Aku tidak minat dengan Apartement itu. Dasar manusia-manusia menyebalkan." Geram Dora marah.
Rio melemparkan kulit pisang ke tanah yang tanpa sengaja di injak oleh Dora. Akibatnya Dora terjatuh dan pantatnya berciuman dengan aspal. "Aaahh, pinggangku. Yakk!! Siapa yang berani meletakkan kulit pisang di sini?" semua menggeleng. Dora menggeram kesal.
"AAARRKKHHH!! MIMPI APA AKU SEMALAM SAMPAI-SAMPAI BISA SESIAL INI!!"
"Hehehe, ini baru awal saja. Jadi nikmati hari-harimu yang seperti di neraka!!"
-
Waktu berjalan dengan cepat, tidak terasa kehamilan Viona sudah memasuki bulan ketiga. Sikapnya pun menjadi semakin manja dan kadang-kadang sampai membuat Nathan kwalahan jika sudah merajuk. Pagi ini contohnya, Viona terus merenggek dan memaksa Nathan memakai pakaian pilihannya.
Entah apa yang difikirkan oleh ibu hamil satu ini sampai-sampai meminta suaminya memakai pakaian lengan terbuka saat pergi kekantornya. "Oppa, ini bukan keinginanku. Tapi keinginan bayi kita, pakai kemeja dan vest yang ini saja."
"Sekali tidak tetap tidak, Nyonya Lu. Aku pasti akan menurutinya jika tidak pergi bekerja. Bagaimana pandangan karyawanku saat melihat atasan mereka datang dengan pakaian terbuka seperti ini. Dan berhenti menggunakan janinmu sebagai alasannya."
Viona mencerutkan bibirnya, lagi-lagi Nathan mengomelinya habis-habisan. Menghentakkan kakinya kesal dan pergi begitu saja. "Jika tidak mau ya sudah. Memang oppa sudah tidak sayang lagi pada kami, sayang... lihatlah papamu. Dia sudah tidak sayang lagi pada kita," Viona terus mendumal membuat Nathan mendesah berat. Ia tidak tau jika wanita yang sedang hamil akan seribet itu.
Melirik kemeja dan vest yang telah Viona siapkan untuknya, dalam satu tarikan nafas panjang Nathan mengganti pakaian yang sudah melekat ditubuhnya dengan pakaian pilihan istrinya, karna dia tau jika wanita itu akan terus merajuk jika tidak dituruti kemauannya. Nathan meninggalkan kamarnya dan mendapati Viona tengah duduk bersila pada sofa ruang keluarga.
Mulutnya terus berkomat-kamit yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan.
Nathan menghampiri wanitanya dan langsung menyerangnya. Nathan mengunci tubuh Viona dibawah kungkungan tubuhnya. Bibirnya ******* panjang bibir Viona, menghisapnya dan mengecapnya. Lidahnya mengobrak-abrik dalam mulut Viona, menyapu dinding-dinding rongganya dan mengabsen deretan gigi putihnya.
Setelah hampir satu menit, Nathan pun mengakhiri ciuman itu "Bagaimana? Apa kau merasa puas?" wajah murung Viona berseri seketika.
Dengan cepat ia berhambur kedalam pelukkan Nathan. "Aku puas. Terimakasih Oppa, kau memang suami yang terbaik di dunia ini." Nathan menjitak kepala Viona dengan gemas kemudian membalas pelukkan Viona.
__ADS_1
"Apapun asalkan itu membuatmu senang," Nathan melepaskan pelukkannya dan menerima Jas yang Viona sodorkan padanya.
"Hati-hati, jangan mengebut dan jangan pulang terlalu malam."
"Hm," respon Nathan sambil mengecup kening Viona.
Saat dalam perjalanan. Nathan terpaksa harus mengganti kembali pakaiannya sebelum masuk kedalam kantornya. Ia tidak ingin memiliki citra buruk di depan para karyawannya. Untungnya ia selalu menyiapkan pakaian ganti di dalam mobilnya. Selain itu ada rapat penting pagi ini dengan para koleganya yang dari luar negeri.
Nathan langsung meminta Kai untuk menyiapkan segalanya "Ge, kau di sini?" ucapnya saat melihat keberadaan Henry di dalam ruangannya.
"Hanya mampir sebentar setelah mengantar kakak iparmu kedokter. Tiffany hamil tiga bulan, sepertinya dia dan Viona akan melahirkan diwaktu yang hampir bersamaan." ujarnya berbunga-bunga.
Nathan mengerutka dahinya, mata kanannya menatap Henry penuh selidik. "Tiga bulan? Bagaimana bisa? Sedangkan kalian menikah baru satu setengah bulan yang lalu? Jangan-jangan kalian sudah melakukannya jauh sebelum pernikahan itu tiba?" tebak Nathan 100% benar.
Henry menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan mengangguk membenarnya. "Bisa kau pulang sekarang? Aku ada rapat penting sepuluh menit lagi."
"Yakk!! Apa kau mengusirku?" Nathan memutar matanya jengah. Mengabaikan Henry yang sedang berkomat-kamit, dengan tenang Nathan berjalan melewatinya. "Yakk!! Patung es berjalan, kenapa malah meninggalkanku?" Henry mendengus berat, menggelengkan kepalanya dan pergi begitu saja.
Moodnya yang dalam keadaan baik hancur begitu saja karna sikap adik bungsunya yang tidak pernah berubah, dingin dan acuh.
-
Bukan Satya, Rio dan Frans namanya jika tidak membuat keributan di mana-mana. Saat ini ketiga pemuda tampan itu sedang ribut merebutkan sebuah baju di sebuah boutique khusus pria. Mereka yang memang hobi menghabiskan uang hasil rampokkannya dari orang-orang jahat saat ini sedang berburu barang bermerek tapi dengan harga rendah.
Satya selaku orang pertama yang melihat baju itu tidak terima jika pakaian pilihannya diambil Frans ataupun Rio.
Aksi kejar-kejaran dan saling berteriak pun tidak bisa terhindarkan. Semua orang yang datang hanya bisa melihat ketiga pemuda itu dengan heran, sementara pemilik dan penjaga boutique sudah tidak merasa heran apalagi terkejut. Karna hal semacam itu sudah sering sekali terjadi.
Tak jarang mereka sampai di buat pusing karna ulah mereka. Tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa mengingat jika mereka bertiga adalah tamu VIV di sana. Mereka bisa kena masalah besar dari atasannya jika sampai membuat pelanggan VIV marah. Terlebih lagi mereka adalah pemuda dari keluarga Lu.
"Yakk!! Rio Lu, kembalikkan baju itu padaku. Aku dulu yang melihatnya." Teriak Satya dengan nada meninggi.
"Tidak mau!! Kau itu sudah tua, Paman. Seharusnya mengalah sama yang muda."
"Tidak.. tidak.. kalian berdua tidak akan mendapatkannya karna aku yang akan memiliki baju itu." sahut Frans menimpali. Frans pun tak mau kalah.
"Enak saja, siapa cepat dia dapat." Seru Rio.
Rio tidak kehabisan akal, ia tau cara paling jitu agar kedua pamannya itu menyerah kemudian mengalah. Rio menggunakan baju itu untuk mengelap ingusnya, karna dengan begitu mereka akan merasa jijik. Ia masih bisa mencucinya nanti saat berada di rumah
"Hehhhe, bagaimana? Kalian masih mau?"
"Tidak sudi," jawab keduanya dengan kompak, sedangkan Rio langsung tertawa kencang, dia bersorak penuh kemenangan. Itu memang satu-satunya cara yang paling jitu dan kali ini dia yang menang.
"Hehehe. Rio Lu, kau memang yang terbaik. "Nona cantik. Bungkus baju ini untukku ya."
"Baik Tuan Muda,"
-
Bersambung.
__ADS_1