Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 74) "Dendam Kesumat Zian"


__ADS_3


Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


Desahan dan erangan berkali-kali lolos dari bibir tipis itu, ketika pria diatasnya mencumbunya semakin keras. Tubuhnya tersentak-sentak seiring dengan semakin dalamnya tusukkan yang hampir menyentuh bibir rahimnya.


Peluh tampak membanjiri disekujur tubuh polos mereka berdua yang tampak berkilauan di bawa sinar lampu.


"Sudah hampir keluar," bisik si pria tepat di telinga kanan wanita di bawahnya.


Wajah itu mendongak. Sepasang manik coklatnya mengunci sepasang iris abu-abu dingin itu. "Kalau begitu kita keluarkan sama-sama, Oppa," ucap si wanita yang pastinya adalah Luna.


Setelah pergulatan panas mereka, akhirnya Zian sampai pada puncaknya. Pria itu menjatuhkan wajahnya di lengkungan leher Luna. Tubuhnya sedikit menggelinjang, sama-sama mereka berdua menumpahkan cairan kenikmatan itu.


"Uhhggg..."


Lengkungan panjang keluar dari sela-sela bibir ranumnya ketika Zian menarik keluar miliknya. Lelah terlihat jelas pada wajah keduanya. "Kau puas?" sebuah pertanyaan meluncur dari bibir kemerahan milik Zian. Kemudian Zian mengecup singkat bibir ranum menggoda yang sedikit membengkak itu.


"Humm," Luna mengangguk.


"Kalau begitu segera tidur. Aku akan mandi dulu setelah ini aku akan menyusulnya," ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


"Ahhh," wanita itu sedikit meringis merasakan nyeri dan perih diarea Miss nya. Zian terlalu kasar ketika sedang melakukannya. Tapi Luna sangat menyukainya.


.


.


.


Baru saja Zian hendak menutup matanya.Tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Zian bangkit dari posisinya kemudian berjalan menuju balkon untuk menerima panggilan tersebut. Zian tidak ingin sampai mengganggu tidur Luna jika dia mengangkatnya di sana.


"Ada apa kau menghubungiku malam-malam begini?" tanya Zian tanpa basa-basi. "Apa kau sudah mendapatkan informasi yang aku minta?"


"Saya akan mengirimkannya besok pagi, Tuan,"


"Hn," kemudian Zian memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Dan besok pagi dia akan mengetahui apakah orang itu benar-benar orang yang dia pikirkan atau bukan. Kalau dia memang orang itu, Zian bersumpah atas nama mendiang kakeknya dia akan menghancurkannya.


-


Cicit suara burung dan juga terpaan sinar mentari pagi membuat Viona harus terbangun dari tidurnya. Saat matanya melirik ke arah jam yang terpasang di dinding kamarnya, waktu telah menunjukkan pukul enam kurang lima menit.


Viona menguap lebar. Ia merasa begitu segar pagi ini. Udara pagi yang begitu nyaman untuk dihirup, cicitan burung yang terdengar merdu, dan juga matahari pagi yang bersinar cerah.


Viona menggulirkan pandangannya pada sosok tampan yang masih tertidur pulas disampingnya. Sudut bibir Viona tertarik ke atas melihat wajah tampan itu yang tampak polos seperti wajah bayi yang sedang tertidur.


Perlahan-lahan Viona menarik lengannya kemudian mengarahkan jari-jarinya pada wajah Nathan. Menyusuri wajah tampan itu mulai dari kening sampai bibir kemerahannya. Tiba-tiba wajah Viona merona saat mengingat bagaimana saat bibir itu memanjakannya dan membuatnya mabuk kepayang.


Viona mendekatkan wajahnya kemudian mengecup singkat bibir Nathan. Rasanya sangat manis, pantas jika dia selalu kecanduan dengan kelembutan dan kehangatan bibir itu.


"Aku mencintaiku, Oppa," bisik Viona tepat di depan wajah Nathan. Membuat kedua mata itu terbuka dengan perlahan.


"Katakan lagi, Sayang,"


"Aku mencintaimu," Viona berkata sekali lagi. Dan selanjutnya bibir Viona sudah berada dalam pangutan bibir Nathan. Mencium bibir adalah sebuah ritual wajib yang selalu mereka lakukan setiap paginya.


-


"Paman, aku bosan."


Rio terus saja mengeluh dan mengatakan pada Frans dan Satya jika dirinya merasa bosan. Sebenarnya bukan hanya Rio saja yang bosan, tapi mereka juga. Sejak Nathan mencabut semua fasilitas mewahnya. Tak ada banyak hal yang bisa mereka lakukan. Selain itu mereka juga tidak memiliki ruang gerak lagi karena Tao selalu mengawasinya.


"Kau fikir kau saja yang merasa bosan, aku juga." sahut Frans.


Lagipula bukan salah Nathan jika dia sampai mengambil tindakan tegas pada mereka bertiga. Selama ini Rio, Satya dan Frans tidak pernah serius dengan dengan kuliahnya. Mereka selalu bermain-main sehingga mereka mendapatkan nilai rendah, dan itu yang membuat Nathan menjadi sangat marah.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita keluar untuk mencari hiburan?" usul Satya seraya menatap Rio dan Frans secara bergantian.


"Bagaimana caranya? Uang satu peser pun saja kita tidak punya," sahut Frans menimpali. "Dan lagipula tanpa mobil bagaimana kita bisa bersenang-senang," imbuhnya.


Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Rio. "Aku tau di mana kita bisa akan mendapatkan uang yang banyak." Serunya dengan begitu bersemangat.


Satya dan Frans saling bertukar pandang dan mereka sama-sama mengurai senyum lebar. Keduanya saling bertukar pandang dan sama-sama berseru kencang.


"LEE SOOJIN!!"


"BINGO. TUNGGU APA LAGI? KITA BERANGKAT!!"


"AYO,"


-


"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA KEKEK!!"


Seorang bocah laki-laki berteriak keras melihat perlakuan buruk ketiga orang itu pada kakeknya. Mereka memaksa pria berusia 67 tahun itu untuk menandatangani surat mengalihkan hak ahli waris pada memang telah mereka siapkan.


"Kau tidak usah ikut campur,"


Brugg...


Tubuh bocah berusia 12 tahun itu tersungkur kebelakang setelah di dorong oleh seorang anak laki-laki yang empat tahun lebih muda darinya. Bocah laki-laki itu menggelapkan tangannya. Dengan perasaan yang diliputi penuh amarah, dia menarik lengan orang yang tadi mendorongnya lalu membantingnya ke lantai.


"ZIAN QIN!! APA YANG KAU LAKUKAN, HAN!!"I


Wanita itu berteriak marah setelah melihat apa yang Zian lakukan pada putranya. "Derby, kau tidak apa-apa?" tanya wanita itu memastikan.


"Apa, Mama buta?Jelas aku tidak baik-baik saja. Bocah kurang ajar itu nyaris saja membuatku mengalami patah tulang," teriaknya marah. "Kemari kau bocah sialan," Derby menarik pakaian Zian kemudian memukul dia tepat di wajahnya. Membuat pelipisnya robek dan mengeluarkan banyak darah.


Zian yang memang sudah menguasai tehnik beladiri sejak dia berusia 10 tahun tentu tidak tinggal diam. Zian menyeka darah di pelipisnya kemudian balik menyerang Derby dan membuatnya tumbang sekali lagi.


Perkelahian antar dua saudara sepupu itu pun tak bisa terelakan lagi. Meskipun tubuh Zian lebih kecil dari Derby namun hal tersebut tak lantas membuatnya gentar apalagi takut. Bahkan Zian lebih hebat dari Derby dalam hal bela diri.


"Dasar gila, anak durhaka. Pergi saja kalian semua!!" teriak Zian marah.


"Apa kau bilang. Yakk!! Bocah sialan, jangan bicara sembarangan kau!!"


"Derby, sudah. Ayo kita pulang,"


Zian menghampiri kakek Qin. "Kakek tidak apa-apa? Apa manusia-manusia kurang ajar itu menyakitimu lagi?" tanya Zian memastikan.


"Kakek tidak apa-apa, Zian. Segera ganti pakaianmu setelah ini Kakek akan mengobati lukamu,"


Zian mengangguk. "Baiklah, Kakek,"


Flashback End:


Zian membuka kembali matanya dan mendesah berat. Kedua netranya tampak berkaca-kaca saat mengingat kembali masa lalunya. Masih sangat segar di ingatan Zian bagaimana keluarga pamannya memperlakukan Kakek Qin dengan sangat buruk.


Tak jarang Derby membentak dan berlaku kasar padanya. Dan yang lebih menyakiti hati Zian adalah kematian kakek Qin yang sangat tragis. Yakni dia meninggal di tangan menantunya sendiri. Parahnya lagi kakek Qin meninggal tetap di depan matanya dan demi menyelamatkan dirinya.


"Oppa,"


Zian mengangkat wajahnya saat mendengar suara familiar seorang wanita masuk dan berkaur di dalam telinganya. Sontak dia menoleh dan mendapati Luna menyembulkan setengah tubuhnya pada pintu.



"Apa yang kau lakukan di sana? Kenapa tidak masuk? Kemarilah, Sayang,"


Zian mengulurkan tangannya pada Luna dan memintanya untuk menghampirinya. Luna tersenyum lebar. Dengan segera dia menghampiri Zian kemudian duduk di atas pangkuannya. "Bagaimana gaun baruku? Cantik tidak?"


"Kau baru membelinya?" Luna mengangguk. "Cantik, sangat cantik. Apalagi kau yang memakainya."


"Uuh, tiba-tiba aku merinding sendiri mendengar gombalanmu itu. Mendengar pria dingin sepertimu menggobal rasanya sangat mengerikan, Oppa" ujar Luna sambil menyipitkan matanya.

__ADS_1


Endingnya sebuah jitakan keras malah mendarat mulus pada kepalanya coklat terangnya. "Appo, Oppa sakit!! Berhentilah menjitak kepalaku," protes Luna setengah menggerutu.


Zian terkekeh geli. "Justru kau itu yang terlihat mengerikan, Nona. Apa kau tidak ingat saat kau menangis dan tidak mau makan selama berhari-hari karena diagnosa dokter yang salah? Setelah drama panjang yang membuat jantungku nyaris berhenti berdetak, tiba-tiba kau tertawa dan berteriak kegirangan seperti garis labil yang baru saja melihat pujaan hatinya," tutur Zian panjang lebar.


Luna mencerutkan bibirnya. "Jangan mulai deh. Selalu saja, Oppa membahas hal itu. Kau kan membuatku malu," kemudian menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Zian terkekeh. "Aku hanya bercanda, kenapa kau begitu serius, hm?"


"Habisnya kau sangat menyebalkan. Oya, Oppa. Bagaimana kalau aku ikut les memasak saja supaya aku bisa masak? Kau setuju tidak?"


"Daripada kau les di tempat lain. Lebih baik kau meminta ibumu yang mengajarinya. Dia sangat pandai memasak dan masakannya juga enak."


Luna menepuk jidatnya. "Bodoh, bagaimana bisa aku tidak memikirkannya. Kau benar, Ibu sangat pandai memasak. Seharusnya aku meminta bantuan dia saja supaya mengajariku memasak. Oppa, bagaimana kalau sore ini kita mengunjunginya?" Luna menatap Zian dengan mata berbinar-binar.


"Aku rasa bukan ide buruk, baiklah sore nanti kita kesana."


-


"IBU, KAMI DATANG!!"


Seruan keras dari arah teras rumah menyita perhatian semua orang yang tengah berkumpul di ruang keluarga. Viona yang kebetulan juga sedang berada di sana langsung berdiri setelah mendengar suara yang begitu familiar. Ternyata benar itu Luna. Viona merasa ada yang aneh dengan adiknya itu. Dia terlihat baik-baik saja padahal kemarin dia masih terlihat sangat kacau.


Viona menghampiri Luna kemudian memeluknya."Eonni, tidak perlu merasa aneh begitu. Aku baik-baik saja. Aku sehat dan ternyata dokter Kang yang salah mendiagnosa diriku." Ujar Luna seolah mengerti apa yang Viona pikirkan.


Viona melepaskan pelukannya. "Benarkah? Lalu sakit pada perutmu hari itu?"


"Itu karena pencernaanku yang tidak lancar, dan selebihnya baik,"


Viona menghela nafas lega. Dia lega karena Luna baik-baik saja. Dan ternyata biang keroknya adalah dokter Kang. Lihat saja nanti, Viona pasti akan membuat perhitungan dengannya.


Kalina yang merasa penasaran menghampiri putri kembarnya. Dia merasa penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. "Ada apa sebenarnya? Memangnya siapa yang sakit?" tanya wanita itu penasaran.


Luna dan Viona sama-sama menggeleng. Dengan kompak mereka berdua menjawab"Tidak ada, Ibu. Hanya salah paham saja," jawabnya.


"Ibu, pikir kalian salah satu dari kalian ada yang sakit. Tapi syukurlah. Karena kalian sudah ada di sini. Bagaimana kalau sekarang kalian bantu Ibu menyiapkan makan malam,"


"Tentu saja, Ibu." Keduanya menjawab dengan kompak. Sedangkan Nathan, Zian dan tuan Qin berbincang di ruang keluarga.


Tuan Qin memperhatikan putranya. Dari raut wajahnya, tuan Qin mengerti jika putranya itu sedang tidak baik-baik saja. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. "Zian, apa sesuatu terjadi?" tanya tuan Qin memastikan.


Zian mengangkat wajahnya dan mengangguk. "Ini tentang, Derby Qin, Pa. Kemarin aku melihatnya di kota ini. Sepertinya dia sudah kembali dari Eropa."


"Derby? Putra pamanmu?" Zian mengangguk.


"Melihatnya membuatku merasa sangat marah, rasanya aku ingin langsung membunuhnya. Setiap kali mengingat perlakuan mereka kepada kakek membuat hatiku serasa terbakar. Aku benar-benar tidak bisa memaafkan orang-orang seperti mereka."


"Lalu apa yang akan kau lakukan?"


"Menghancurkan dia dan merebut kembali apa yang mereka ambil dari, kakek. Dan aku akan membuat bajingan itu tidak mampu lagi menghadapi dunia!!"


Tuan Qin mendesah berat. Dia tidak bisa menyalahkan Zian apalagi mencegahnya. Tuan Qin memahami betul apa yang putranya itu rasakan. Sejak kecil Zian memang sangat dekat dengan mendiang kakeknya.


Dia belajar bela diri dan ingin menjadi kuat karena Zian ingin melindungi kakeknya yang selalu di perlakukan buruk oleh putra sulungnya, menantu serta cucunya yang tak lain dan tak bukan adalah Derby. Dan bukan salah Zian jika dia ingin menghancurkan sepupunya itu.


"Derby Qin, sepertinya aku pernah bertemu dengannya," ucap Nathan mengintrupsi ayah dan anak itu.


Zian menoleh dan menatap Nathan penasaran. "Kau mengenalnya, Hyung?"


Nathan menggeleng. "Tidak, tapi aku pernah bertemu dengannya satu kali dan itu sudah delapan tahun yang lalu kalau tidak salah. Derby Qin, adalah orang yang pernah aku hajar sampai nyaris mati karena hampir saja melecehkan mendiang kakakku," jelas Nathan.


"Begitu ya. Dia memang pria yang sangat buruk, saat masih remaja pun dia sering terlibat skandal karena kebiasaannya memainkan wanita dan merebut pasangan orang lain. Derby pernah di penjara selama satu tahun karena kasus serupa. Dan ternyata dia tidak berubah sama sekali. Manusia itu, benar-benar seperti parasit yang meresahkan," ujar Zian sedikit geram.


Sudah sejak lama Zian ingin membunuh sepupunya itu. Tapi Derby menghilang bak di telan bumi, jejaknya juga tidak terlacak. Sampai akhirnya dia tiba-tiba muncul dengan sendirinya, dan hal itu tentu saja akan memudahkan Zian untuk menghancurkannya. Dan Zian tau harus bagaimana dan dengan cara apa untuk menghancurkan Derby.


Tuan Qin mendesah berat. "Apapun keputusanmu, Papa akan selalu mendukungnya, Nak. Lakukan apa yang menurutmu benar, dan Papa akan selalu berdiri di pihakmu,"


-

__ADS_1


Bersambung. "


__ADS_2