
Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya DIPAKSA MENIKAHI TUAN MUDA CACAT tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗
-
"Zian, kau di mana? Aku sudah sampai,"
Reno menyapukan pandangannya mencoba menemukan keberadaan Sahabat yang merangkap sebagai Boss-nya tersebut. Tidak hanya sendiri, Reno datang bersama Adrian dan Simon.
"Aku melihatmu, bodoh!! Matamu saja yang sedari tadi terus menatap wanita-wanita yang ada di sekelilingmu. Angkat wajahmu dan menoleh ke arah jam 3,"
Reno pun mengikuti intrupsi Zian dan dia mendapati Zian tengah menatap ke arahnya. Di sampingnya terlihat sosok wanita bersurai coklat panjang.
Reno pun tersenyum dan langsung melambaikan tangannya. Dia merasa senang karena akhirnya bisa menemukan Zian juga setelah perjuangannya yang tidaklah muda.
Lima kali mobilnya mengalami masalah. Mogok, bensin habis dan terakhir pecah ban, dan rasanya Reno tadi sampai ingin menangis karena terlalu frustasi.
"ZIAN...!! HUAAAA..!!"
Reno berteriak, berlari dan kemudian memeluk Zian dengan dramatis. Demi terlihat meyakinkan, Reno sampai memakai obat tetes mata yang beberapa kali terlihat dia teteskan pada kedua matanya secara bergantian..
"Hiks, setelah semua perjuangan panjang ku yang penuh dengan liku-liku dan keputusasaan, akhirnya aku bisa sampai di sini juga. Hiks, aku sangat bersyukur..."
"Ck, lepaskan bodoh. Apa kau tidak merasa malu?" sinis Zian dan berusaha melepaskan pelukan Reno. Namun Reno malah semakin mengeratkan pelukannya.
Dan sementara itu. Luna yang tidak suka melihat suaminya di peluk oleh orang lain bahkan itu seorang pria. Terlihat menghampiri keduanya. Dengan kasar Luna menarik Reno dan kemudian menjauhkannya dari Zian.
"Yakk!! Apa kau sudah bosan hi-"
"Apa?" Reno tak melanjutkan kalimatnya dan menggeleng cepat. Awalnya dia ingin membuat perhitungan dengan orang yang sudah menariknya, tapi hal tersebut langsung dia urungkan setelah melihat siapa yang berdiri dihadapannya.
"Aku kembalikan Zian padamu, aku sudah selesai kok dan hanya meminjamnya sebentar. Ini," Reno mundur beberapa langkah kebelakang. "Tiba-tiba aku kebelet pipis, aku cari toilet dulu ya...."
Zian mendengus geli. Dan dengan gemas dia menjitak kepala coklat Luna. "Dasar kau ini. Selalu saja ribut dengan Reno kalau bertemu," kemudian pandangan Zian bergulir pada Adrian dan Simon. "Lama tidak bertemu, Hyung, Mon." Ketiganya saling berpelukan.
Simon terlihat menyusut air matanya dan.."HUA, HYUNG.. AKU SANGAT MERINDUKANMU!!" teriak Simon sambil merentangkan kedua tangannya dan bermaksud untuk memeluk Zian jika saja seseorang tidak menghalanginya.
"KAU TIDAK BOLEH MEMELUKNYA!!" Luna berdiri di depan Zian sambil menyilang kan kedua tangannya di depan dada. Kemudian beranjak dan memeluk lengan terbuka Zian."Dia adalah suamiku, dan aku tidak rela jika suamiku di peluk orang lain meskipun itu kalian!!"
Simon mencerutkan bibirnya. "Nunna, kenapa kau ini pelit sekali sih? Padahal aku 'kan hanya ingin memeluk Zian Hyung. Dulu aku sering melakukanya." Tutur Simon.
"Itukan dulu, bukan sekarang. Sekarang 'kan dia sudah menikah, dan sebagai istrinya aku tidak rela jika suamiku di sentuh dan di pegang oleh orang lain, apa kau paham!! Sana pergi ke kamarmu. Merusak pemandangan saja,"
"Nunna," seru Simon sambil menghentakkan kesal kakinya
"Hei kalian, Kemarilah disini ada pria kesepian!!"
Kedua mata Simon membelalak melihat ada tiga waria berlari menghampirinya.
"KYYAAA!! MAHLUK DUA ALAM!!!"
-
__ADS_1
Angin bertiup dengan lembut di Pulau Jeju. Cuaca yang sangat cerah dan berbeda dengan Jeju yang biasanya. Tampak sepasang suami-istri tengah menikmati suasana tenang di bawah naungan pohon Sakura yang mulai mekar.
Tanpa sengaja, sehelai kelopak bunga Sakura jatuh ke pangkuan wanita bersurai coklat gelap itu. Dengan sigap dia mengambilnya dan tersenyum simpul.
"Kenapa kau tersenyum, Sayang? Apa ada yang lucu dengan bunga itu?" tanya pria yang duduk di hadapannya dengan ekspresi bingung.
Si wanita lantas menggeleng. "Tidak."
"Lalu?"
"Aku menyukai udara seperti ini, Oppa. Rasanya tidak seperti di bukit angin," balas wanita itu sambil menutup matanya dan menghirup udara segar di sekitarnya, lalu menyaringnya di dalam tubuh.
"Hn, jadi kau menikmatinya?" wanita itu mengangguk.
Kemudian si pria menggeser duduknya. Jari-jari besarnya meraih bahu si wanita dan kemudian membawa wanita itu untuk bersandar pada dada bidangnya. Dan pria itu menggunakan kepala coklat istrinya sebagai sandaran dagunya.
"Vi," panggil pria itu 'Nathan'
"Hmm," sahut Viona tanpa merubah posisinya.
"Rasanya baru kemarin mereka ada di dalam perutmu. Tapi dalam sekejap mata mereka tumbuh menjadi anak-anak yang luar biasa. Aku bangga, sangat bangga, karena anak-anakku terlahir dari rahim seorang wanita yang hebat seperti dirimu," tutur Nathan.
Viona tersenyum simpul. "Kau terlalu memujiku, Oppa. Tapi mereka tidak akan sempurna tanpa mendapatkan suntikan bibit yang unggul, kekeke..." Viona terkekeh.
Nathan melonggarkan pelukannya kemudian menakup wajah Viona. Wanita itu langsung menutup matanya ketika merasakan sesuatu yang lunak dan basah menyapu permukaan bibirnya yang kemudian di susul pagutan-pagutan kecil yang memabukkan.
Viona mengangkat kedua tangannya dan kemudian mengalungkan pada leher Nathan. Desahan yang keluar dari bibir Viona memberikan kesempatan pada Nathan untuk bisa mendapatkan akses lebih.
Ciuman yang semula lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut. Nathan memindahkan tangannya pada kepala belakang Viona dan sedikit menekan tengkuknya untuk semakin memperdalam ciuman mereka. Sedangkan tangan lain memeluk pinggang rampingnya dengan erat.
Ciuman yang penuh dengan makna, karena mereka berdua berciuman di bawah langit senja.
-
Semilir angin musim semi membelai lapisan epidermis Luna Qin. Wanita itu berdiri di depan balkon kamar inapnya sambil menikmati semilir angin musim semi yang menerpa kulit putihnya, di ujung barat matahari mulai tenggelam menuju peraduannya.
Luna memejamkan mata menikamti angin yang menerpa kulitnya, sejuk. Silia-silia dalam hidung digoda oleh serbuk bunga, membuat hidungnya gatal tiada tara.
Musim semi selalu membawa hawa sejuk dan ratusan bunga-bunga yang bermekaran menerbangkan kelopaknya dari pohon-pohon yang ditanami.
Musim semi, di mana jalan-jalan mendapat sentuhan warna merah muda karena tinta alami. Musim semi memang sangat indah, tak ayal jika manusia yang hidup di negara empat musim selalu menantikan datangnya musim semi, Luna salah satunya.
GREP...
Luna membuka kembali matanya saat merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Wanita itu tersenyum lembut. Tanpa melihat pun tentu Luna tau siapa yang memeluknya ini. Sentuhannya, aroma tubuhnya, dan kelembutannya, semua sangat familiar untuknya.
Luna menyandarkan kepalanya pada dada bidang yang tersembunyi di balik kemejanya. Kedua matanya lantas tertutup rapat. "Oppa, kau dari mana saja? Kenapa harus membiarkan aku sendirian dan kesepian sendiri di sini?" kelopak mata itu lantas terbuka, memperlihatkan sepasang mutiara berwarna coklat jernih yang indah.
Luna mengangkat wajahnya, membuat dua pasang mutiara berbeda warna itu langsung bersiborok. Dikecupnya singkat bibir tipis menggoda milik Luna. "Ada sesuatu yang harus aku selesaikan."
"Oppa, bagaimana kalau kita pergi ke luar? Aku bosan dan ingin jalan-jalan," rengek Luna memohon.
Zian terlihat menganggukkan kepala. "Ganti pakaianmu, aku akan menunggumu disini." Luna tersenyum senang dan segera melesat dan masuk ke dalam. Dan Zian hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang terkadang kekanakan itu.
__ADS_1
-
Bukan Satrya, Frans dan Rio namanya jika tidak membuat orang lain kesal dan marah karena perbuatan mereka. Saat ini si trio sedang berada di kediaman Derby, dan untuk apa lagi mereka di sana jika tidak merecoki hidup pria bermarga Qin tersebut.
"Sebenarnya siapa kalian ini dan untuk apa kalian ada di sini?" tanya Derby pada ketiga pemuda itu.
"Hiks, kami juga tidak tau siapa kami dan dari mana kami berasal, Paman. Kami hanya ingat jika kami tidak memiliki tempat tinggal. Kami mengalami amnesia setelah tidak sengaja terpentok tiang listrik. Saking kerasnya benturan itu, sampai-sampai membuat tiang tetangga jadi roboh." Tutur Rio.
"Dasar sinting. Sebenarnya apa yang kau bicarakan?"
Rio menggelengkan kepala. "Aku juga tidak tau apa yang sedang aku bicarakan ini, Paman. Benturan itu membuat kepalaku menjadi tidak stabil dan aku sedikit linglung." Tuturnya.
Derby tidak tau kesialan macam apa lagi yang menimpa hidupnya kini. Perusahaannya berada di ambang kebangkrutan, babak belur di hajar orang sekampung, harus merasakan dinginnya sel penjara selama berhari-hari, dan sekarang dia kedatangan tiga pemuda aneh yang mengaku hilang ingatan karena kepalanya terpentok tiang.
"Hyung, kau memiliki guci yang sangat indah. Di mana kau mendapatkannya?" tanya Satya penasaran.
Sontak saja Derby menoleh. Kedua matanya membelalak sempurna melihat guci yang berada di tangan Satya. "Yakk!! Jangan menyentuhnya senlmbarangan. Itu adalah guci yang sangat mahal dan sangat langkah. Cepat letakkan kembali!!" bentak Derby dengan nada meninggi.
Prakk...!!
Kedua mata Derby lantas membelalak. "TIDAK!" lalu pandangannya bergulir pada Satya yang terlihat menggaruk tengkuknya. "YAKK!! KENAPA KAU MALAH MENJATUHKANNYA? ITU GUCI YANG SANGAT MAHAL DAN LANGKAH!!" teriaknya penuh emosi.
"UPS, Sorry Hyung. Aku benar-benar tidak sengaja. Tiba-tiba tanganku terasa licin." Jawabnya.
"AARRKKHHH...!! SIAL... SIAL.. SIAL...!!"
Byurrr....!!...
Tiba-tiba saja Frans datang dengan seember air yang kemudian dia guyurkan pada tubuh Derby hingga pria itu basah kuyub.
"Yakkk!! Kenapa kau malah menyiramku dengan air?" teriaknya marah.
"Aku pikir kau itu kesurupan, Hyung karena terus saja berteriak dan air itu bisa mendinginkan tubuh dan kelapamu." Tuturnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Derby memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. Mata itu kembali terbuka dan menatap mereka satu persatu. "Pergi sekarang juga dari sini atau... KYYYAAA!! SETAN," kalimat Derby terjeda dan pria itu langsung berteriak histeris karena Rio muncul tiba-tiba di depan mukanya dengan topeng menyeramkan.
Kedua mata Derby membelalak. Dia hilang keseimbangan dan berakhir mengenaskan di dalam tong air. Bagaimana bisa ada tong air di dalam ruangan itu? Ya, karena Frans dan Satya yang meletakkannya.
"Arrrkkhh...!!Apa yang kalian lakukan padaku? Yakk!! Bocah Iblis, kemari dan batu aku keluar dari sini...."
"KAMI TIDAK MAU!!?"
"YAKK!! JANGAN KABUR KALIAN, KEMBALI.. ITU UANG DAN EMASKU!! KALIAN PERAMPOK ULUNG. YAKKK!! JANGAN KABUR KALIAN... BRENGSEK!!"
Derby tidak bisa berbuat apa-apa melihat uang-uangnya dan puluhan batang emas miliknya di bawah kabur oleh Satya, Rio dan Frans.
Derby benar-benar bisa jatuh bangkrut jika dia tidak bisa mendapatkan uang dan emas-emas itu kembali. Dan dia bersumpah akan menghabisi mereka bertiga jika berhasil menemukannya.
Tapi sepertinya Derby tidak menyadari satu hal, karena berani mencari masalah dengan mereka bertiga sama saja dengan bunuh diri. Karena di belakang mereka berdiri orang-orang yang bisa membuatnya hancur hanya dengan jentikan jari.
-
Bersambung.
__ADS_1