Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 117 "Bertemu Dalam Mimpi"


__ADS_3

Pemandangan indah yang dilihat oleh Nathan saat ini membuatnya tidak bisa berkata-kata. Pemandangan yang begitu menakjubkan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Apakah yang dilihatnya saat ini adalah mimpi atau bukan? Nathan tidak tau karna semua serasa begitu nyata.


Nathan bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah dia sudah mati? Apakah ini yang dinamakan surga? Nathan lagi-lagi tidak tahu, yang dia tahu saat ini dia sedang berada ditengah taman bunga yang berwarna-warni dengan aliran sungai yang memiliki air sangat jernih didepannya. Sungai dengan jembatan kecil yang  menghubungkan sisi yang satu dan sisi yang satunya lagi.


Nathan melihat dirinya sendiri dari pantulan air sungai didepannya. Ia melihat tidak ada kecacatan sedikit pun pada wajahnya bahkan mata kirinya tanpak baik-baik saja.


Setelah puas melihat dirinya dipantulan air itu, kemudian pandangan Nathan beralih pada ladang bunga yang ada dihadapannya. Ia memetik salah satu bunga dan mencium aroma khas yang dikeluarkan dari bunga tersebut. Bunga cantik namun berduri atau yang lebih dikenal dengan sebutan bunga Mawar.


Nathan tersadar dari kegiatan yang dilakukannya. Ia merasakan ada seseorang yang memerhatikannya. Ia melihat sekeliling dan menemukan seseorang laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengannya dan seorang wanita yang begitu cantik berdiri dan tersenyum di seberang sungai dihadapan Nathan.


Nathan terpaku menatap wajah kedua orang itu. Dengan langkah ragu, Nathan berjalan melewati jembatan kecil dan mendekati sepasang pria dan wanita tersebut. Nathan tak bereaksi dan menatap mereka dengan ekspresi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.


Orang yang telah meninggalkannya sejak bayi. Orang yang hanya bisa ia lihat dari foto yang dia lihat di dalam sebuah kamar. Yang tidak lain adalah Ayah dan Ibunya sendiri.


"Apakah ini sungguh kalian berdua?"


Nathan melihat setiap lekuk wajah pria yang dihadapannya. Wajah rupawan yang begitu mempesona, sepasang mata abu-abu yang menawan serta paras cantik yang tak tergerus oleh waktu.


Nathan melihat sorot matanya yang teduh yang membuatnya tenang mencari jawaban atas pertanyaannya. Dan ketika Nathan mendapat jawaban dengan anggukan kecil serta senyum yang diberikan, Nathan langsung memeluk mereka berdua dengan erat.


"Aku sangat merindukan kalian berdua. Ma, Pa aku mohon, jangan tinggalkan aku lagi," lirih Nathan dengan suara seraknya.


“Maafkan Mama dan Papa yang membuatmu kesepian, apa kau mau berjalan-jalan sebentar dengan kami?" tawar Luna sambil tersenyum lembut.


Nathan merasakan usapan lembut dipunggungnya yang diberikan oleh sang Ibu untuk menenangkannya. Nathan mengangguk mengiyakan ajakan Ibunya.


Mereka berjalan mengitari taman bunga dan aliran sungai ditempat tersebut. Bercanda yang menciptakan tawa dari mereka bertiga. Nathan yang bisanya kaku dan selalu dingin bisa tertawa selebar itu.


Nathan sangat menginginkan hal-hal seperti ini dari dulu. Betapa senangnya bahwa ia bisa merasakan hal yang ia inginkan selama ini, merasakan apa yang dirasakan oleh teman-temannya saat mereka bersama Ayahnya. Bercanda, tertawa dan mengobrol banyak hal dengan Ayahnya. Tidak terasa air mata Nathan kembali menetes.


"Sudah saatnya kami harus pergi, Nak," Luna melepaskan pegangan tangan Nathan dan beralih memegang kedua pundak Putranya dengan tangannya. Senyum menghiasi bibir ranumnya


"Kenapa harus secepat ini?"


"Dengarkan Papa, Nathan. Dunia kita kini berbeda, Papa harap kau bisa menjalani hidupmu dengan baik. Kau memiliki orang-orang yang sangat peduli padamu. Kau memiliki seseorang yang begitu mencintaimu, kami akan selalu bersamamu, dihatimu. Dan kami akan selalu memperhatikanmu dari atas sana. Jika kau menginginkan kami selalu berada disisimu, gunakan nama Papa dan Mama sebagai nama bayi kembarmu kelak. Mereka akan melengkapi kebahagiaanmu, Putraku."


Nathan menatap Ayahnya dan menghapus cairan bening yang mengalir dipipinya. Nathan mengangguk mengerti apa yang dibilang oleh sang Ayah. Dia teringat pada Viona dan semua orang yang selama ini selalu ada dan mengkhawatirkannya, memberinya semangat untuk melewati hidupnya yang teramat sulit.


Nathan berjanji pada Ayahnya untuk membuat mereka selalu tersenyum dan menemaninya sampai mereka tak mampu berjalan lagi.


Pandangan Nathan tiba-tiba  mengabur dan melihat Ayah serta Ibunya yang semakin lama menjauh dari kejauhan.


Detik berikutnya Nathan terbangun dari tidurnya dengan nafas tersenggal-senggal. Pria itu menyeka peluh dari keningnya, Nathan baru saja memimpikan orang tuanya.


Pandangan Nathan kemudian menyapu. Ternyata tanpa sadar ia tertidur dikamar orang tuanya. Langit di luar sana juga sudah mulai menggelap dengan warna orange yang mendominasi. Menandakan jika malam akan segera tiba.


Nathan bangkit dari berbaringnya dan segera meninggalkan kamar. Dari lantai dua ia berdiri, Nathan melihat Viona yang sedang berbincang dengan kakek Xi. Mereka terlihat sangat akrab padahal baru beberapa jan saling mengenal.


Mereka berdua saling bercanda dan tertawa, tak jarang kakek Xi tertawa lepas begitu pula dengan Viona.


Nathan menarik sudut bibirnya. Hatinya tiba-tiba menghangat melihat pemandangan itu. Dengan langkah tanpa suara, Nathan menghampiri mereka berdua. "Eo, Oppa kau sudah bangun," seru Viona melihat kedatangan Nathan.

__ADS_1


"Hn, kita pulang sekarang,"


"Waktu makan malam hampir saja tiba, bagaimana kalau kalian berdua ikut makan malam bersama Kakek di sini?" tawar Kakek Xi seraya menatap Nathan penuh harap. Dia tau jika Viona pasti akan langsung setuju, tapi masalahnya ada pada cucunya sendiri.


"Tidak!!"


"Kakek mohon," Kakek Xi menyela ucapan Nathan. "Sudah lama sekali Kakek makan malam tanpa keluarga, sudah dua puluh delapan tahun. Sekali ini saja, temani Kakek makan malam dan biarkan Kakek merasakan bagaimana menyenangkannya memiliki sebuah keluarga," mohon Kakek Xi membujuk.


Melihat tatapan pria tua dihadapannya membuat perasaan Nathan seperti tercubit. Nathan tidak bisa membayangkan bagaimana kesepiannya Kakek Xi yang hanya sendiri tinggal di mansion semegah ini tanpa ada satupun keluarga yang menemaninya. Apalagi diusia senjanya ini.


"Baiklah, aku rasa tidak buruk," ucap Nathan dan membuat senyum dibibir Kakek Xi mengembang begitu lebar. "Jika kau mengijinkan, kami berdua akan menginap. Tiba-tiba aku merasa lelah dan terlalu malas untuk mengemudi,"


"Tentu saja Kakek mengijinkan, sangat mengijinkan malah. Dan Kakek sangat berharap kalian bisa tinggal selamanya bersama Kakek di sini, setidaknya Kakek tidak merasa kesepian diusia senja ini," ujar Kakek Xi seraya tersenyum sendu.


Nathan menatap pria tua itu dan mendesah berat. "Akan aku fikirkan," ucapnya. Dan selanjutnya makan malam mereka lewati dengan tenang. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka bertiga, hanya terdengar denting suara sendok dan piring serta deru nafas mereka yang beraturan.


Kakek Xi mengangkat wajahnya. Senyum tercetak di wajah penuh kerutannya. Setelah kematian putra dan menantunya, ini pertama kalinya dia merasakan kehangatan sebuah keluarga. Dan Kakek Xi berharap jila suatu saat Nathan sudi untuk tinggal bersamanya disini.


.


.


Usai makan malam. Mereka bertiga melanjutkan berbincangnya diruang keluarga. Tak banyak kalimat yang keluar dari bibir Nathan, hanya beberapa patah kata saja dan perbincangan malam itu didominasi oleh Kakek Xi dan Viona.


"Tuan, ada tiga pemuda yang memaksa untuk masuk dan mereka bilang, kedatangan mereka atas undangan Tuan Nathan,"


Perbincangan mereka bertiga terintrupsi oleh kedatangan Park Yoong. Park Yoong melapor jika ada tiga pemuda yang datang dan memaksa untuk masuk. Nathan mengangkat wajahnya. "Biarkan saja mereka masuk, mereka datang atas permintaanku," ucao Nathan menyahuti.


"Oppa, jangan bilang jika mereka bertiga adalah trio somplak?" ucap Viona penuh selidik.


Nathan mengangguk. "Itu memang mereka. Aku rasa pak tua ini membutuhkan teman supaya tidak merasa kesepian, dan merekalah pilihan paling tepat," jelas Nathan


"Memanya siapa dia, Than? Apakah mereka-"


"Mereka keponakkan dan adik angkatku," Nathan menyela cepat.


Dan panjang umur, tiga pemuda yang sedang mereka bicarakan terlihat memasuki ruangan. Rio, Satya dan Frans langsung menghampiri Nathan serta Viona. "Paman, sebenarnya ini rumah siapa? Dan kenapa kau mengundang kami kemari?" tanya Rio penasaran.


"Hm, ini adalah rumah Kakekku dan aku meminta kalian kemari untuk memperkenalkan kalian padanya. Dia Kakek Xi, pak tua itu adalah Kakekku, Ayah dari mendiang Papa kandungku," jelas Nathan.


"Annyeong Kakek, maaf kami tidak sopan," Satya langsung membungkuk begitu pula dengan Frans dan Rio.


"Sudah-sudah, tidak perlu merasa sungkan. Anggap saja seperti rumah sendiri ya,"


Mata ketiga pemuda itu langsung berbinar. "Benarkah?" Kakek Xi mengangguk. "Itu artinya kami juga boleh dong sering-sering main dan menginap di sini?"


"Boleh, boleh, boleh. Bahkan kalian bisa tinggal bersama Kakek jika kalian mau,".


"Kyyyaaa. Kakek, kau luar biasa. Oya, bagaimana kalau mulai sekarang kita berteman?"


Tampak Kakek Xi berfikir. Kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. "Kakek rasa bukan ide buruk," jawabnya. Kakek Xi melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Sudah hampir mulai, bagaimana jika kalian bertiga ikut kekamar Kakek dan kita menonton kartun Crayon Shinchan?" usul Kakek Xi.

__ADS_1


"Kami setuju!!"


Dan selepas kepergian mereka berempat. Di sana hanya menyisahkan Nathan dan Viona. Nathan menggulirkan pandangannya pada sang istri yang saat ini tengah menatapnya dengan penuh selidik. "Oppa, kau berhutang penjelasan padaku untuk semua ini," ucap Viona tanpa mengakhiri kontak matanya.


"Kita ke taman belakang, aku akan mengatakan semuanya padamu di sana," dan keduanya pun berjalan beriringan menuju taman belakang. Nathan memang berencana memberitau Viona yang sebenarnya karna dia tidak ingin ada rahasia diantara mereka berdua.


.


.


.


"Apa? Jadi Senna Eonni dan Henry Oppa bukanlah kakak kandungmu!!" Viona memekik kaget setelah mendengar apa yang baru saja Nathan katakan. "Tapi bagaimana bisa? Bukanlah kalian bertiga sudah bersama-sama sejak bayi?"


"Panjang ceritanya. Intinya mereka bukanlah kakak kandungku karna aku bukanlah putra kandung dari Doris Lu. Ayah kandungku bernama Xi Lucas dan Ibuku bernama Xi Luna, Doris begitu terobsesi padanya karna kecantikkannya. Dia menghalalkan segala macam cara untuk bisa mendapatkan Mama dan membuat dia menjadi miliknya.


Mama diculik dan dipaksa tinggal bersamanya, Papa meninggal karna dibunuh oleh dia dengan dalih kecelakaan. Mama begitu terpuruk setelah mendengar jika Papa telah tiada, dan dia meninggal tak lama setelah melahirkanku. Kemudian Victoria Lu merawatku dan mengangkatku menjadi putranya. Doris Lu masih hidup sampai detik ini, dia sengaja membuat scenario tentang kematiannya dengan dalih kecelakaan yang melibatkan istrinya sendiri yang kemudian terbakar dan meninggal dalam kecelakaan tersebut,"


Viona terbungkam dan tidak mampu berkata-kata setelah mendengar cerita Nathan. Viona kehilangan kata-katanya mendengar apa yang baru saja Nathan sampaikan. Antara percaya dan tidak percaya, Viona masih sulit untuk mencernanya. Semua begitu sulit untuk dipahami. Kemudian Viona mengangkat wajahnya dan mengunci manik kanan milik Nathan.


"Lalu apa rencana Oppa setelanjutnya?"


"Menghancurkan organisasi Black Devil dan membunuh bajingan itu!!"


"Dan aku akan berjuang bersamau, bersama-sama kita hancurkan dia. Phoenix akan lebih kuat dengan Black Rose sebagai sayapnya,"


"Dan akan semakin kuat jika Phoenix memiliki dua sayap yang tangguh, karna Black Devil juga akan berdiri menjadi sayap kirimu," sahut seseorang dari belakang.


Sontak keduanya menoleh. "Kakek!!" bukan kedatangan Kakek Xi yang membuat mereka terkejut melainkan penampilan baru kakek berusia senja tersebut. "Apa yang terjadi pada penampilanmu?" tanya Nathan dengan penuh selidik. Pasalnya Kakek Xi berpakaian dengan style masa kini. Sebuah jeans belel, kemeja yang dibungkus jaket kulit. Wig warna terang dan jangan lupakan kalung dan kaca mata hitam yang dikenakannya.


"Bagaimana? Kakek sangat keren bukan? METAL!!"


Nathan memijit pelipisnya yang terasa pening. Dan dia tau siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban disini. "RIO, SATYA, FRANS!! TURUN KALIAN!!" teriakan Nathan yang menggema membuat ketiga pemuda itu langsung kalang kabut. Buru-buru mereka menghampiri Nathan yang menatap ketiganya penuh intimidasi. "Apa yang kalian lakukan pada pak tua ini?" tanya Nathan penuh selidik. Ketiganya menggeleng dengan kompak.


"Aish. Tidak perlu memarahi mereka, Kakek sendiri yang meminta mereka merubah penampilan Kakek menjadi sekeren ini. Kakek akan melepaskan posisi Kakek dan akan menyerahkan semua padamu. Kakek ingin pensiun dari dunia perbinisan dan dunia hitam yang selama ini Kakek geluti. Kakek hanya ingin bahagia diusia Kakek ini, Kakek ingin seperti remaja-remaja diluar sana. Menemukan pasangan, pergi berkencan, membuat janji, melihat sunset bersama, atau mungkin melihat film dibioskop. Dan Kakek akan mewujudkan keinginan-keinginan Kakak, jadi jangan menghalang-halangi, oke!! Anak-anak, bagaimana kalau kita menonton vidio METAL di kamar Kakek?"


"SETUJU!!"


Nathan benar-benar tidak habis fikir, dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan fikiran kakeknya. Dan apakah itu yang dinamakan dengan puber kedua? Entahlah, Nathan sendiri tidak tau. "Aku rasa trio somplak mendapatkan satu anggota lagi setelah kemarin Cherly dan Daniel. Bukankah itu sangat luar biasa?" Viona menoleh, menatap Nathan yang juga menatap padanya.


"Hn, aku rasa,"


Selanjutnya bibir Viona sudah berada dalam pagutan bibir Nathan. Kedua tangan Nathan membingkai wajah Viona sedangkan tangan Viona mengalung pada leher suaminya. Mata keduanya sama-sama terpejam dan kepala mereka memutar dan bergerak seirama. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


Posisi mereka tak lagi duduk. Nathan membaringkan tubuh Viona pada bangku taman dengan dirinya menindih diatasnya. Ciuman Nathan kemudian turun menuju leher jenjangnya dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana. Dan Nathan segera mengakhiri ciumannya saat dia menyadari dimana posisi mereka saat ini.


Nathan menbantu merapikan rambut Viona yang sedikit berantakkan. "Kita masuk, aku lelah dan ingin segera tidur," ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona. Dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan taman.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2