
Jangan lupa baca juga new novel author ya. Bantu like dan kasih koment 🙏🙏🙏 karna satu like riders sekalian sangat berarti buat Author....
-
"Oppa?"
Viona yana baru saja membuka matanya kebingungan saat mendapati kamarnya begitu legang. Ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Nathan di sana dan di mana pun. Wanita itu menyibakkan selimut yang membungkus setengah tubuhnya dan beranjak turun. Dalam keadaan bertelanja** kaki, Viona berjalan meninggalkan kamarnya.
Dari kejauhan ia melihat Nathan yang sedang duduk di ruang keluarga seorang diri. Dia terlihat begitu berantakkan, rambut coklat blondenya terlihat sedikit acak-acakkan, empat kancing kemeja tanpa lengannya terbuka hingga terlihat kaus putih tipis yang menjadi dalaman kemejanya. Di meja ada satu botol wine yang isinya hanya tinggal seperempat dan beberapa puntung rokok di dalam asbak.
Dengan langkah tenang, Viona menghampiri Nathan. "Oppa." panggilnya lirih.
Nathan mengangkat wajahnya seketika dan mendapati Viona berdiri didepannya. "Apa yang sedang kau lakukan di sini? Aku mencarimu.. kau minum?" Nathan beranjak dari duduknya dan menghampiri Viona. Tanpa mengucapkan satu patah kata pun Nathan menarik bahu Viona dan membawa wanita itu kedalam pelukkannya. "Oppa, ada apa?" bisik Viona kebingungan.
"Aku tau kau sangat terluka dengan musibah yang menimpa kita. Aku pun sama sepertimu, aku juga hancur. Tapi aku tidak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan, aku harap kau juga begitu. Ini memang tidak mudah dan rasanya begitu menyakitkan, namun musibah ini bukanlah sebuah akhir dari segalanya karna Tuhan tidak mungkin memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya. Mungkin saja Tuhan memiliki rencana yang indah untuk kita di balik musibah ini-" Nathan menjeda kalimatnya seraya menghela nafas. "Untuk itu, kembalilah menjadi Viona-ku yang dulu. Viona yang hangat dan selalu tersenyum padaku. Melihatmu seperti ini membuatku sangat hancur. Aku benar-benar merindukan Viona-ku yang dulu," ujar Nathan seraya menutup kedua matanya.
"Oppa." gumamnya lirih.
Viona termanggu mendengar ungkapan isi hati Nathan, air matanya kembali menggenang dipelupuk matanya yang kemudian bercucuran membasahi wajah cantiknya. Viona fikir dirinya yang paling hancur atas musibah yang menimpa keluarga kecilnya, tapi tanpa Viona sadari ternyata Nathan-lah yang jauh lebih hancur dari pada dirinya.
Rasa bersalah merambat memenuhi ruang kosong dalam hatinya. Ia tidak sadar jika sikapnya selama satu bulan terakhir ini telah melukai banyak orang terutama Nathan
"Hiks, Maaf oppa. Aku sungguh-sungguh, tidak seharusnya aku seperti ini tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu. Maaf Oppa, aku benar-benar minta maaf," bisik Viona terisak. Wanita itu semakin mengeratkan pelukkannya pada tubuh Nathan. Isakan kembali keluar dari sela-sela bibirnya.
Nathan menggeleng. "Berhenti meminta maaf seperti itu, Viona Lu. Sebaiknya kita lupakan yang sudah terjadi. Dan mulai hari ini kita tutup buku lama dan kita mulai buka lagi lembaran baru," Nathan melonggarkan pelukkannya untuk menatap wajah Viona yang berurai air mata. Dengan lembut jari-jarinya bergerak untuk menghapus jejak air mata di pipi tirusnya. Bibirnya mengurai senyum tipis.
"Aku akan menyiapkan makan malam untukmu, mau menemaniku?"
"Tapi setidaknya bersihkan tubuhmu dulu, bau minumanmu membuatku ingin muntah." Viona menutup hidungnya dengan jari-jarinya, wajahnya merenggut kesal.
Melihat ekspresi Viona membuat Nathan terkekeh pelan. Tanpa peduli dengan protes yang Viona berikan. Nathan menyatukan bibir mereka dan melum**nya. Dan melalui ciuman itu Nathan ingin supaya Viona tau betapa dirinya sangat merindukan wanita itu yang dulu.
"Oppa," renggek Viona sesaat setelah Nathan melepaskan ciumannya.
"Kita kembali ke kamar. Dan kau bisa menungguku di sana sampai aku selesai mandi," ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.
Wanita itu tersenyum kemudian mengangguk. "Baiklah." Jawabnya.
Untuk saat ini Nathan tidak bisa membiarkan Viona berada jauh darinya terlalu lama, bahkan dia sampai mengunci pintu kamarnya agar Viona tidak pergi kemana pun selama dirinya mandi. Bukan maksud Nathan ingin mengekang Viona, tapi keadaanlah yang memaksa Nathan sampai berbuat seperti ini.
Sembari menunggu Nathan selesai mandi. Viona melihat-lihat album foto yang tersimpan di salah satu laci nakas di samping tempat tidurnya. Viona membuka album foto itu dengan perlahan, foto pertama yang dia lihat dalam album itu adalah Nathan saat masih remaja.
__ADS_1
Dalam foto itu suaminya terlihat begitu tampan dan sedikit polos, sangat jauh berbeda dengan Nathan yang sekarang. Kemudian Viona kembali membuka album kenangan itu, di foto kedua ia melihat Nathan bersama teman-temannya dan salah satunya adalah Bima. Dalam foto itu penampilan Nathan sedikit mengerikan namun justru membuatnya terlihat lebih cool dan tampan.
Jari-jari lentik Viona kembali membuka lembar demi lembar album kenangan itu dan gerakan jarinya berhenti saat mata hazelnya tidak sengaja melihat sebuah foto yang terselip di balik foto Nathan bersama kedua kakaknya. Penasaran foto apa iti sebenarnya. Viona memutuskan untuk mengambil dan melihatnya.
Di dalam foto itu terdapat seorang anak laki-laki dan perempuan yang sedang tersenyum lebar menghadap pada kamera. Viona langsung membekap mulutnya dan kedua matanya tampak berkaca-kaca, jari-jarinya yang tampak gemetar merabah permukaan foto itu dan bergumam lirih. "Xiao Lu oppa." gumamnya.
Viona menatap foto itu dengan cukup lama. Air matanya tak bisa lagi terbendung dan tumpah membasahi wajah cantiknya. Rasanya sulit untuk di percaya jika Nathan dan Xiao Lu adalah orang yang sama. Dan yang menjadi pertanyaannya, kenapa Nathan bisa tidak ingat dan melupakan dirinya.
Viona mengangkat wajahnya saat mendengar suara pintu kamar mandi di buka. Tak lama setelahnya sosok Nathan keluar dari kamar mandi dalam dengan pakaian lengkap. Jeans hitam panjang serta kaus putih berlengan pendek yang mengikuti lekuk tubuhnya dipadu dengan long vest abu-abu gelap. Aroma maskulin yang begitu menggoda langsung menyeruak masuk ke dalam hidung Viona ketika suaminya keluar dari sana.
Nathan meletakkan handuknya dan menghampiri Viona yang terlihat berurai air mata. "Sayang, ada apa?" alih-alih menjawab pertanyaan Nathan, Viona malah berhambur kedalam pelukkannya membuat pria itu semakin bingung dibuatnya. "Ada apa? Kenapa kau menangis? Sayang, katakan sesuatu," pinta sedikit cemas.
"Hiks, Oppa... kenapa aku tidak menyadari dari awal jika kau adalah Xiao Lu Oppa. Hiks, bodoh sekali karna aku tidak bisa mengenalimu di awal pertemuan kita. Aku... sudah menunggumu begitu lama. Aku... aku... sangat bahagia karna pada akhirnya kau menepati janjimu untuk menikahiku di usiaku yang ke 21. Mungkin kau memang tidak mengingatku, tapi aku masih sangat mengingatmu. Kau adalah rusa Chinaku dan aku adalah Maomaomu, Oppa... aku sangat merindukanmu."
Detik berikutnya Viona merasakan ada sebuah benda lunak dan basah menyapu permukaan bibirnya. Di susul dengan ******* ******* lembut yang semakin lama menjadi ciuman panas yang menuntut.
Erangan yang mampu membangkitkan gairah meluncur dengan bebasnya dari bibir Viona saat Nathan semakin memperdalam ciumannya. Salah satu tangannya menekan tengkuk Viona sedangkan tangan lain menarik tubuh Viona dan membunuh sepenuhnya jarak diantara mereka.
Meskipun awalnya terkejut, namun dengan cepat Viona dapat mengimbangi ciuman panas Nathan. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan. Dan seakan tau apa yang di inginkan oleh suaminya. Viona langsung membuka bibirnya dan mempersilahkan lidah Nathan untuk masuk kedalam mulutnya.
Kedua tangannya yang semula pasif kini mulai aktif untuk membuka resleting pada dress yang membungkus tubuh Viona. Namun gerakan Nathan terhenti saat dirinya tersadar akan sesuatu. Dengan cepat Nathan beranjak dari atas tubuh Viona dan pergi begitu saja hingga menimbulkan sebuah tanda tanya besar di benak Viona akan perubahan sikap pada suaminya.
Sementara itu, penyesalan terlihat jelas pada raut wajah Nathan. Tidak seharusnya dia berbuat seperti ini di saat kondisi Viona masih belum pulih sepenuhnya. Nathan sungguh sangat merutuki kebodohannya
"Aku lupa jika harus menyiapkan makan malam untukmu, tunggulah sebentar. Aku akan melakukannya dengan cepat." Ucap Nathan sedikit datar
Viona menggeleng. "Tidak perlu repot-repot. Oppa, sebaiknya kita makan di luar saja? Bagaimana?" usul Viona memberikan penawaran. Namun ditolak dengan tegas oleh Nathan. Nathan tidak menyetujui usulan istrinya.
Bukan maksud Nathan ingin mengekang Viona secara terus menerus. Tapi Nathan khawatir bila hal serupa akan kembali terulang. "Ini sudah malam, kita makan malam di rumah saja. Sebaiknya duduk dengan tenang dan tunggulah." Pinta Nathan.
Tidak ada penolakan, Viona mengangguk dan menyetujui keputusan Nathan untuk tidak pergi. "Baiklah." Dan jawaban Viona membuat sudut bibir Nathan tertarik keatas.
.
.
.
Usai makan malam. Nathan dan Viona memutuskan untuk pergi ke taman belakang. Viona ingin melihat bintang dan Nathan mengabulkannya.
Viona menyandarkan kepalanya pada bahu Nathan dengan tangan Nathan yang melingkari pinggangnya. Dagu Nathan bersandar pada kepala coklat Viona.
Kebersamaan mereka hanya di isi keheningan dan kebisuan. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Viona maupun Nathan. Keduanya sama-sama memilih untuk diam dan tidak bersuara. Sesekali Nathan melirik wanita dalam pelukkannya lalu mencium pucuk kepalanya. Pelukkan Nathan semakin erat karna dia takut jika istrinya sampai kedinginan karna udara malam yang semakin menusuk.
__ADS_1
"Oppa, kau lihat bintang itu," tunjuk Viona pada salah satu bintang yang berpijar paling terang di langit. Nathan mengikuti arah tunjuk Viona dan mengangguk. "Kata orang, jika seseorang telah meninggal maka dia akan menjadi bintang-bintang di langit. Dan mungkinkah bintang itu adalah perwujudan dari anak kita?" Viona mengangkat wajahnya dan matanya bersiborok dengan mata coklat milik Nathan.
Nathan meraih kepala Viona dan menyandarkan pada dada bidangnya. "Ya, aku rasa begitu. Dan itu artinya dia sudah mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan. Tuhan lebih menyayanginya dengan mengambilnya kembali. Dan Tuhan akan mengembalikan dia pada kita saat kita benar-benar merasa siap. Untuk itu jangan disesali lagi kepergiannya. Kau harus bisa merelakannya, dia akan sangat sedih jika kau terus-terusan seperti ini." Terang Nathan panjang lebar.
Kata-kata Nathan membuat Viona terdiam. Mungkin memang benar apa yang Nathan katakan, dan tidak seharuanya dia terlalu lama larut dalam kesedihan. Viona sadar jika sikapnya belakangan ini malah membuat banyak orang merasa sedih, Nathan terutama. Dan mungkin sudah saatnya dia bangkit dan melupakan kesedihannya.
Viona mengangkat wajahnya dari pelukkan Nathan dan tersenyum lebar. "Oppa, bisakah kau besok membawaku jalan-jalan? Aku jenuh terlalu lama diam di rumah tanpa melakukan apa-apa. Bagaimana kalau besok kita pergi melihat senja? Bukit angin, bagaimana kalau besok kita pergi ke sana?"
"Jadi kau ingin pergi ke bukit angin?" Viona mengangguk dengan antusias. Melihat raut wajah yang ditunjukkan Viona membuat Nathan tersenyum lebar. "Baiklah, besok kita pergi ke sana," ucapnya dengan senyum yang sama.
"Yeee, Oppa kau memang yang terbaik." Girang Viona dan berhambur ke dalam pelukkan Nathan. Lagi-lagi Nathan mengurai senyum lebar. "Bagaimana kalau kita tidur lebih awal? Aku tidak ingin sampai bangun kesiangan," Viona melonggarkan pelukkannya.
Nathan tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, dan aku akan menggendongmu sampai ke dalam kamar," ucap Nathan. Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan kemudian mengecup singkat bibirnya. Dan lagi-lagi Nathan mengurai senyum lebar.
"Terimakasih karna sudah kembali menjadi Viona-ku yang dulu,"
-
Beratapkan langit berlukis semburat jingga di ujung barat, beralaskan hamparan rumput hijau dengan di temani angin musim. Di sana terlihat sepasang suami-istri duduk memandang langit senja dalam suasana tenang dan hening.
Semburat jingga terlukis di langit. Sang surya mengintip dari bukit dan perlahan tenggelam. Semilir angin senja bertiup, menerbangkan dedaunan kering di hamparan rumput. Desir angin yang berhembus menggoyangkan helaian panjang si wanita yang terurai. Matanya terpejam menikmati hembusan angin yang menerpa wajah cantiknya.
Mereka masih setia di hamparan rerumputan, bercengkrama dengan hembusan angin senja yang senantiasa menemani mereka tanpa bosan
"Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya si pria pada wanita disampingnya.
Wanita itu menoleh dan tersenyum. "Jauh lebih baik dari sebelumnya. Perasaanku jauh lebih tenang, rasa sakit dan sesak yang selama satu bulan membelenggu hatiku perlahan menghilang." Jawabnya menuturkan. Pria itu 'Nathan' menarik sudut bibir kanannya.
Nathan meraih bahu Viona dan membawa wanita itu ke dalam pelukkannya. "Terimakasih telah kembali menjadi Viona-ku yang dulu. Apa kau tau betapa tersiksanya diriku selama kau terpuruk? Aku merasa telah kehilangan separuh jiwaku. Aku sungguh-sungguh merindukanmu," Nathan menutup matanya seraya mengeratkan pelukkannya.
Kini Nathan bisa merasa sedikit lega karna Viona tidak lagi membiarkan dirinya terbelenggu dalam duka. Nathan bahagia tak terkira karna Viona-nya telah kembali pada dirinya yang dulu. Dan lagi pula suami mana yang tidak akan merasa sedih jika istri yang begitu dia cintai terlalu lama terpuruk dalam duka.
"Oppa, sudah hampir petang. Bagaimana kalau kita pulang sekarang?" Viona melepaskan pelukkan Nathan. "Aku lapar," renggek Viona dengan wajah polosnya.
Nathan mendengus geli. Dengan gemas dijitaknya kepala coklat itu. "Astaga, sebenarnya perutmu ini terbuat dari apa sih? Perasaan kita kemari membawa banyak sekali makanan dan hampir semua kau yang menghabiskan, tapi sekarang kau sudah lapar lagi?" Nathan menatap Viona tak percaya.
Viona menekuk wajahnya. "Itu karna aku benar-benar kelaparan, kau tau sendiri bukan jika hampir satu bulan aku tidak bisa makan dengan teratur. Jadi sekarang aku terus-terusan merasa lapar," elak Viona membela diri.
"Baiklah, kita pergi sekarang. Aku tidak ingin jika sampai ada berita jika seorang CEO tampan membiarkan istri cantiknya kelaparan." Viona terkikik geli, keduanya berjalan beriringan meninggalkan bukit angin.
-
Bersambung.
__ADS_1