Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 128 "Tutup Buku Lama Buka Lembaran Baru"


__ADS_3

"KAKEK!! ANAK-ANAK, AKU PULANG!!"


Suara Viona yang mirip lumba-lumba menggema, memenuhi setiap penjuru ruangan. Membuat empat orang yang sedang berkumpul diruang keluarga terkejut karnanya. Rio, Frans dan Satya dengab tidak sabaran menghampiri Viona lalu memeluknya sambil menangis sejadi-jadinya.


"Huaaa.. Nunna, kau dari mana saja? Semalaman kau menghilang kemana? Apa kau tau bagaimana cemasnya kami berempat?" ujar Frans sambil menyeka air matanya.


"Maaf, semalam Nunna menginap di rumah Sania. Karna terlalu lelah jadinya Nunna tidak sempat mengabari kalian," dusta Viona.


Karna tidak mungkin dia memberi tau yang sebenarnya pada mereka bertiga, jika semalam dia bermalam di apartemen miliknya bersama Nathan. Karna setau mereka Nathan sudah meninggal.


"Bibi, jangan lakukan itu lagi ya. Kami benar-benar takut kau akan pergi juga seperti Paman Nathan dan Mama. Kami tidak siap, dan tidak akan pernah siap jika harus kehilanganmu juga. Kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya kau, Kakek dan Paman Henry yang kami miliki, tapi Paman Henry... Kau tau sendiri bagaimana keadaannya," ujar Rio panjang lebar.


Air matanya jatuh tanpa bisa dia cegah. Rio benar-benar merasa sedih dengan apa yang menimpa keluarganya. Semua yang terjadi seperti mimpi. Hidupnya yang semula baik-baik saja hancur berantakkan dalam hitungan jam saja. Dan semua itu karna satu orang, Doris Lu.


Viona membawa Rio ke dalam pelukkannya dan ikut terisak. Viona memahami betul apa yang Rio, Frans dan Satya rasakan saat ini. "Bibi tidak akan pergi pergi kemana-mana dan akan selalu bersama kalian. Jadi jangan pernah berfikir jika Bibi akan meninggalkan kalian."


Rio mengangkat wajahnya dari pelukkan Viona. "Bibi Janji?" Viona mengangguk.


"Ya, Bibi berjanji. Kemarilah," Viona mengulurkan tangannya pada Satya dan Frans. Keduanya menghampiri Viona kemudian meneluknya. "Sekarang kita harus bangkit. Lupakan masa lalu, tutup buku lama dan kita buka lembaran baru. Karna hidup harus terus berjalan," ujar Viona yang kemudian dibalas anggukan oleh ketiga pemuda itu.


Kakek Xi yang melihat pemandangan mengharukan itu tidak kuasa menahan rasa harunya. Mereka bisa saling menguatkan, dan Kakek Xi lega karna Viona tak terlalu larut lagi dalam duka setelah kepergian suaminya.


"Hei, Kalian!! Sampai kapan kalian akan menundanya? Kakek sudah sangat kelaparan. Bisakah kita saraoan sekarang?" seru Kakek Xi.


Mereka melepaskan pelukkannya. "Ahhh, kebetulan sekali Kakek, aku memang sudah sangat lapar." kata Satya menyahuti. Satya meninggalkan Viona, Rio dan Frans kemudian menghampiri Kakek Xi. Frans dan Rio menyusul setelahnya.


Viona menarik sudut bibirnya. Hatinya menghangat, mereka memang luar biasa. Karna tanpa mereka Viona tidak mungkin bisa melewati masa-masa paling sulit dalam hidupnya. "Yakkk!! Bagaimana bisa kalian makan tanpa diriku?" seru Viona dan segera bergabung bersama mereka berempat.


-


"Silahkan Tuan, mereka sudah menunggu Anda di dalam," ucap Theo saat melihat kedatangan Nathan.


Nathan melangkahkan kakinya memasuki sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai. Bangunan megah yang berdiri di tengah perbukitan itu memang jarang sekali terjamah oleh manusia, dan tidak sembarang orang bisa datang kesana.


Dari jarak lima meter. Nathan melihat keberadaan tiga pria dan satu wanita yang wajah mereka tentu saja tidak asing sama sekali bagi Nathan. "Ya Tuhan!!" satu-satunya wanita dalam ruangan itu langsung berdiri saat melihat kedatangan Nathan. Bukan hanya wanita itu saja, tapi juga dua pria yang datang bersamanya.


"Natan-Kun," gumam wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Yurinaka. Yurinaka meninggalkan tempatnya dan menghampiri Nathan. "Aku tidak percaya jika ternyata kau masih hidup. Aku fikir kau benar-benar sudah meninggal," ujar Yurinaka seraya mengeratkan pelukkannya pada tubuh Nathan.


Dengan kasar Nathan mendorong Yurinaka hingga pelukkan itu terlepas.


"Bersikaplah yang sopan, Nona. Kau salah mengenali orang, karna aku bukan Nathan!!" ujar Nathan.


"A-Apa, bagaimana mungkin kau bukan Nathan?"


Pria itu mendesah berat. "Aku tidak tau siapa pria bernama Nathan itu. Karna aku tidak ada hubungannya sama sekali dengannya. Theo, usir mereka dari sini. Kerjasama batal," Nathan beranjak dari sana dan pergi begitu saja.


"Tuan Kevin, tunggu!!" seru Yamamoto dan hendak mengejar Nathan tapi dihalangi oleh Theo. "Yakk!! Apa yang kau lakukan? Minggir dan jangan halangi jalanku!!" teriak Yamamoto di depan wajah Theo.


Theo memberi kode pada anak buahnya. Ketiga pria bertubuh kekar itu menghampiri Yamamoto, Yurinaka dan Caesar lalu menyeret mereka bertiga keluar dari mansion Nathan. Mereka diperlakukan dengan begitu tidak hormat. Dan setibanya di luar, mereka bertiga di dorong begitu saja hingga tersungkur di lantai.


.


.


"ARRKKHHH...!!"


Lolong kesakitan seorang terdengar dari sebuah ruangan di bawah tanah. Pintu bercat putih itu di buka oleh sosok pria yang kemudian melenggang, memasuki ruangan.


Seringai kepuasan terlihat jelas di wajahnya saat ia melihat wanita yang yang menghancurkan keluarganya itu begitu tersiksa saat sebuah jambuk menghantam tubuhnya.

__ADS_1


CTARRR...


"Aaahhh!!" jerit kesakitan kembali terdegar. Air mata tampak mengalir dari sudut matanya yang kemudian membasahi wajah pucatnya. "Ka-Kau benar-benar Iblis," ucap wanita itu 'Tiffany' terbata-bata.


Nathan menghampiri Tiffany. Salah satu tangannya mencengkram rahang Tiffany dengan keras. "Bagaimana? Apa kau begitu menikmatinya?"


"Dasar brengsek, bukankah masalahmu dengan bajingan Lu itu? Tapi kenapa kau malah milibatkan diriku yang tidak tau apa-apa!!" jerit Tiffany dengan penuh amarah.


Nathan menyeringai tajam. "Bukankah kau dan dia sama-sama brengseknya? Jika kau memang tidak tau apa-apa, kau tidak mungkin memperdaya suamimu dan membuatnya mendekam di rumah sakit jiwa. Kau sama berdosanya dengan bajingan Lu itu. Dan kau sangat layak mendapatkan penyiksaan-penyiksaan itu," ujar Nathan panjang lebar.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Tiffany penuh selidik.


"Aku rasa kau tidak mengalami amnesia, sampai-sampai kau melupakan namaku"


"Kau...benar-benar brengsek!!"


PLAKK...


Wajah Tiffany menoleh kesamping karna tamparan keras Nathan. Saking kerasnya tanparan itu sampai-sampai membuat sudut bibir Tiffany terkelupas dan mengeluarkan darah. "Lanjutkan, cabut semua kuku-kukunya dan buat cacat wajahnya,"


"Baik Tuan


"ARRRKKHH!! KEVIN XIAO, KAU BENAR-BENAR IBLIS!!"


-


"AARRKHHH!! DASAR BODOH, MENEMUKAN SATU ORANG SAJA TIDAK BISA!!" amuk Doris pada semua anak buahnya.


Doria sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Tiffany yang diculik sampai keseluruh penjuru kota. Tapi sayangnya apa yang mereka lakukan tetap tidak membuahkan hasil.Tiffany belum berhasil ditemukan.


"Maaf Tuan. Kami sudah berusaha dengan keras, tapi kami benar-benar tidak bisa menemukan keberadaan Nyonya Tiffany!"


"Itu karna kalian semua bodoh. Sia-sia aku membayar kalian dengan harga tinggi tapi tidak becus. Aku akan memberi kalian satu kali kesempatan. Temukan Tiffany dalam waktu kurang dari 24 jam. Jika kalian semua sampai gagal, makan hukumannya adalah tiang gantungan. Kalian paham?"


"Jika memang paham, kenapa kalian masih disini? Cepat pergi!!"


"Baik Tuan,"


"Dasar tidak berguna!!"


-


Club malam memang sangat identik dengan hal-hal yang berbau dewasa.


Hingar bingar musik terdengar menghentak telinga. Gemerlap lampu khas klub malam terlihat jelas dan membuat pusing bagi yang tidak biasa melihatnya. Para muda-mudi, baik itu pria maupun wanita, terlihat asyik menggoyangkan tubuh mereka di dance floor, menikmati dentuman musik yang diputar dan dimainkan oleh DJ.


Sementara yang sedang tidak berminat 'menari' di dance floor, hanya menonton saja keriuhan itu dari bangku mereka, di temani minuman pesanan masing-masing yang tentu saja beralkohol.


Di sebuah ruangan, dilantai paling atas. Di ""mana sebuah ketenangan bisa ditemukan, karna di tempat itu tak ada remaja yang menari, lampu disko, atau pun musik.


Yang ada hanya sebuah meja panjang dengan 7 kursi berderet horizontal, dan 5 meja bundar dengan kursi yang mengelilingi setiap meja. Tiga meja di antaranya sudah terisi dengan orang-orang mencurigakan. Sasuke mengernyitkan hidung, tapi tak mengeluarkan komentar apa pun.


Seorang pria berambut coklat terang berdiri di balik counter bar. Tubuh atasnya hanya terbalut sebuah vest hitam tanpa dalaman apapun yang memperlihatkan lengan atletisnya.


Penampilannya yang begitu panas membuat beberapa pengunjung wanita maupun kupu-kupu malam yang bekerja diklub rela membuka lebar-lebar kakinya untuk Bartender tampan itu. Tapi sayangnya mereka harus mengubur dalam-dalam keinginnnya karna Bartendet tampan itu selalu bersikap dingin dan acuh.


"Buatkan seperti biasa untukku," pinta seorang pria pada Bartender dihadapannya. "Aku tidak melihatmu beberapa hari ini, hanya ada anak buahmu yang melayani pelanggan. Aku fikir kau sedang kurang enak badan, tapi sepertinya kau baik-baik saja," ujar pria itu.


"Hn, aku ada urusan," jawabnya dingin dan acuh tak acuh.

__ADS_1


Pria itu mendesah berat. "Oh ayolah, Bung. Sampai kapan kau akan bersikap menyebalkan seperti ini, Xi Nathan?" keluh pria itu yang langsung dihadiahi sebuah tatapan tajam oleh bartender tersebut yang ternyata adalah Nathan.


"Dean Leonil!! Kau sudah bosan hidup ya!!" geram Nathan dengan nada rendah tapi terdengar begitu berbahaya.


Dean berdecak lidah. "Tenanglah sobat, lagi pula tidak ada seorang pun yang mengenalmu di sini. Kau aman-aman saja. Identitas aslimu akan tetap terjaga dengan baik, aku tidak akan membiarkannya sampai bocor keluar, apalagi nama Kevin Xiao adalah pemberianku, bukan tapi usul dari adikku,"


Nathan memicingkan matanya. "Kau punya adik?" tanyanya penuh selidik.


Dean mengangguk. "Namanya Luna, dan saat ini dia sedang berada di luar negeri. Adikku sangat mencintai dunia fashion, itulah kenapa dia ngotot ingin kuliah di Paris. Gadis barbar itu begitu ambisius, persis seperti Ayah. Huh. Sayangnya kau sudah memiliki istri, jika saja kau masih belum punya pasangan, aku pasti sudah menjodohkanmu dengannya." Ujar Dean sambil menikmati minumannya.


Kali ini Nathan tidak memberikan tanggapan dan kembali menyibukkan diri ada pekerjaannya. "Oya, aku perhatikan barmu semakin ramai saja pengunjungnya. Padahal baru dua bulan berdiri, tapi pelangganmu jumlahnya sudah ribuan. Aku salut padamu,"


Ting...


Denting pada ponselnya mengalihkan perhatian Nathan. Sebuah pesan, masuk ke dalam ponselnya. Nathan tersenyum tipis. Dia segera mengambil salah satu karyawannya supaya menggantikan pekerjaannya.


"Kevin, kau mau kemana?" seru Dean milihat Nathan meninggalkan bar.


"Pulang," jawabnya dingin.


Dean hanya bisa mendesar berat. Berbicara dengan Nathan memang membutuhkan kesabaran yang ekstra, ini bukan pertama kalinya kesabaran Dean harus diuji. Tapi untungnya Dean sudah terbiasa, hampir lima bulan mengenal Nathan, sedikit banyak Dean mulai mengenal sifat dan karakternya.


Dean terlonjak kaget karna dering pada ponselnya. Dan nama Luna langsung menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. "Yakk!! Gadis barbar, tidak bisakah kau tidak usah mengejutkan Oppamu yang super duper tampan ini. Aku hampir saja terkena serangan jantung karna-"


"Kau terlalu berisik Oppa, aku hanya ingin memberiraumu jika kepulanganku harus kutunda sampai musim semi tiba. Ada Event penting yang harus aku ikuti, oke nanti aku telfon lagi. Bye,"


Dean mendesah berat. "Selalu saja bersikap seebaknya, dasar gadis ini. Kau benar-benar gadis yang barbar, Leonil Luna!"


-


Brugg..


Tubuh Nathan terhuyung kebelakang karna pelukkan Viona yang sangat tiba-tiba. Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap wajah Nathan. "Kemana saja kau seharian ini? Kenapa tidak menghubungiku sama sekali? Apa kau tau jika aku sangat merindukanmu?" ujar Viona seraya mengeratkan pelukkannya.


"Maaf Sayang, hari ini aku terlalu sibuk sampai-sampai aku tidak memiliki.waktu untuk menghubungimu," jawab Nathan penuh sesal.


Viona mengangkat wajahnya, kedua matanya membelalak melihat sebuah perban menutup pelipis Nathan. "Oppa, apa yang terjadi? Kenapa kau bisa sampai terluka begini?" tanya Viona, kecemasan terlihat jelas dari sorot matanya yang teduh.


Nathan menggenggam tangan Viona yang menyentuh perban tersebut. "Tidak perlu panik, Sayang. Aku baik-baik saja dan ini hanya luka kecil. Dan kenapa kau belum tidur?"


"Aku menunggumu. Mereka merindukanmu," ucap Viona seraya mengusap perutnya yang membuncit.


Kemudian Nathan merundukkan tubuhnya. Wajahnya berhadapan dengan perut Viona. "Nak, bagaimana kabarmu hari ini? Kalian baik-baik saja bukan? Maafkan Papa, Nak. Jika Papa tidak pernah ada waktu untuk kalian. Sehat-sehat di dalam sana, Papa dan Mama selalu menunggu kedatangan kalian disini," ujar Nathan sambil mengusap perut buncit Viona kemudian menciumnya.


"Sekarang giliran Mamanya yang harus kau cium," renggek Viona seraya menunjuk bibirnya sendiri.


Nathan menakup wajah Viona dan segera menyatukan bibir mereka. Kedua tangan Viona mengalung pada leher Nathan. Sebelah tangan Nathan memeluk pinggang Viona sedangkan tangan satu lagi menekan bagian tengkuknya.


Kedua mata berbeda warna milik mereka sama-sama terbuka dan saling menatap. Ciuman yang semula begitu lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


Sadar Viona membalas ciumannya. Kemudian Nathan mengangkat tubuhnya dan membaringkannya pada sofa ruang keluarga. Desahan dan erangan berkali-kali lolos dari bibir Viona ketika Nathan menciumnya semakin keras.


Setelah puas dengan bibirnya, kemudian ciuman Nathan turun menuju leher jenjangnya. Nathan terus mengecupi leher putih milik Viona dan meninggalkan jejak kepemilikkan di sana.


Viona membuka matanya, seperti ada kabut tipis yang menghalangi pandangnya. Viona menakup wajah Nathan dan balik menciumnya dengan keras. Sebelah tangan Viona turun menuju lengan terbuka Nathan dan mengusapnya dengan gerakkan sensual.


Desahan berkali-kali lolos dari bibir Kissablenya. Nathan yang sudah tidak tahan lagi langsung menanggalkan kain bermotif bunga yang membalut tubuh Viona dan kembali mencumbunya dengan keras. Jari-jari Viona melepas satu persatu kancing pada Vest hitam yang Nathan kenakan.


Malam yang terasa dingin bagi orang lain, justru terasa panas bagi mereka berdua. Malam ini akan mereka habiskan untuk saling berbagi cinta dan mereguk kehangatan melalui bentuhan masing-masing.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2