Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 32


__ADS_3

Sepasang mata hazel itu terbuka dengan enggan saat dering pada ponselnya memecah dalam heningnya malam. Gadis itu bangun dari posisi berbaringnya, sejenak pandangannya bergulir pada sosok tampan yang sedang berbaring disampingnya. Sepertinya pria itu juga ikut terusik, terbukti dari kelopak matanya yang perlahan terbuka.


"Dari siapa, Sayang?" Suara serak khas orang baru bangun tidur langsung menyerbu dan berkaur di dalam telinganya. Viona menoleh dan mendapati suaminya tengah duduk dengan wajah agak kusut.


"Rumah sakit." Jawabnya singkat.


"Apa yang kau tunggu? Cepat angkat, mungkin saja hal darurat sedang terjadi di sana," Viona menggangguk.


Melihat ekspresi istrinya di tambah dengan kepanikkan yang terlihat pada raut wajahnya. Nathan berani bersumpah jika hal darurat memang sedang terjadi. Setelah mengakhiri sambungan telfonnya, Viona langsung melesat ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Selang beberapa saat gadis itu keluar dari sana dengan pakaian berbeda.


"Oppa, aku harus pergi ke rumah sakit sekarang. Seorang pasien tiba-tiba kritis," ucap Viona sambil memakai jas putihnya.


"Tunggu sebentar. Aku akan mengantarkanmu," Viona mengangguk.


Meskipun lelah bersandar di bahunya. Tapi Viona tidak bisa menolak apalagi mengabaikan ketika tugas datang memanggilnya. Viona harus bisa bersikap profesional, karna ditangannya takdir pasien-pasiennya di tentukan. Entah itu takdir baik ataupun takdir buruk. Viona memang bukan Tuhan yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang, tapi setidaknya keahliannya di meja bedah masih bisa memberikan sedikit harapan bagi mereka yang merasa hidupnya akan segera berakhir.


-


Suasana di Rumah Sakit itu sedikit menegangkan. Pasalnya tepat jam 02.55 AM KST salah seorang pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut sedang dalam keadaan kritis.


Para Tim Medis terlihat berlari tergesa-gesa menuju kamar rawat nomor 503.1 diantara para Tim Medis itu adalah Viona.


Raut wajah mereka sangat serius, dengan balutan jas dokter serta masker medis dan sarung tangan para tim medis tengah bersiap untuk menyelamatkan nyawa pasiennya yang dalam keadaan kritis.


Ketika mereka sudah sampai di dalam ruangan, betapa terkejutnya mereka saat melihat pasiennya sedang dalam keadaan kejang-kejang diatas ranjang. Kardiogram tersebut sudah menampakan garis lurusnya, dengan sigap Viona langsung meraih alat kejut jantung untung menyadarkan pasien.


"Suster Ami, tolong ambilkan Gel ! "


"Dokter Lee segera suntikan injeksi pada lengannya!!""


"Dokter Nam, periksa keadaan pasien,"


"Baik Dokter!" ketiganya mengangguk dengan kompak.


Mereka terlihat bekerja keras dengan dokter muda kita yang memimpin Operasi kali ini. Viona akan bekerja dengan keras, dia tidak akan membiarkan satu nyawa pun berakhir dengan sia-sia apalagi tanpa diusahan terlebih dulu.


Setelah alat kejut jantung itu diolesi Gel, barulah Viona memulai aksinya.


"Dokter Lee ready? " Sunny mengangguk.


"1, 2, 3 kejutkan ! "


Viona mengarahkan alat kejut jantung tersebut pada dada bidang milik pasien.


"Sekali lagi, ready. "


"1,2,3 kejutkan ! "


Tit Tit Tit


Kardiogram itu mulai menunjukan garis-garis longitudinalnya. Dengan semangat Viona kembali melakukan hal yang sama lagi.

__ADS_1


"Sekali lagi!! Ready!!"


"1,2,3 kejutkan ! "


Tit tit tit tit


"Berhasil ! Persiapkan operasi, kita harus segera membedanya sebelum obat biasnya habis," Ujar Viona sembari mengulurkan tangan kanannya. "Pisau bedah!!"


Selama hampir tiga jam, mereka melakukan operasi itu dengan serius. Peluh membasahi kening para tim medis yang bekerja dengan sangat keras tanpa kenal lelah dan kenal waktu, namun hal itu tak membuat mereka semua patah semangat. Mereka tetap mencoba melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa pasiennya.


"Dr.Viona, sepertinya kita membutuhkan bantuan Dokter Bedah lagi. Melihat kondisi pasien yang seperti ini kemungkinan ia bisa selamat hanya 10%," Ujar Sunny sambil menatap miris keadaan pasien.


Viona menatap Sunny dengan serius. "jika kemungkinannya hanya 10% maka kita harus yakin bahwa kita bisa mengubahnya menjadi 99,99%. Suster Ami tolong ambilkan pipetnya "


Segera Suster Ami berlari kearah meja bedah kemudian mengambil sebuah tabung kecil yang berfungsi untuk menghisap cairan.


Dengan sigap Viona mulai menghisap cairan tersebut dengan menggunakan pipet tadi hingga penuh kemudian ia memindahkannya ketempat stainless yang Kirana berikan.


"Bukankah di sini masih ada kalian berdua. Dokter Lee, Dokter Kim, mari kita lakukan bersama-sama," Viona menatap Sunny dan Kirana bergantian. Keduanya pun segera mengangguk


"Baiklah, mari kita lakukan!!"


.


Fyuhhh,,,,


Viona menyeka peluh dari keningnya. Lega terlihat jelas pada raut wajahnya. Setelah bekerja keras selama lebih dari tiga jam, pekerjaan mereka selesai dengan sebuah keberhasilan. Sekali lagi ketiga dokter cantik itu berhasil menyelamatkan nyawa pasiennya.


"Kau mau pulang?" tanya Sunny melihat Viona yang tengah berbenah di ruang kerjanya.


"Kami memahaminya, baiklah hati-hati di jalan," pesan Kirana yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.


Sebelum pulang, Viona lebih dulu menghubungi Nathan dan memberitaunya jika dirinya akan pulang. Dan karna Nathan sedang ada pertemuan penting dengan rekan bisnisnya dan tidak bisa menjemputnya, maka dia mengirim Kai untuk menjemput Viona. Nathan tidak akan tenang jika harus membiarkan Viona pulang sendirian tanpa perlindungan.


-


CKLEKK'


Suara decitan pintu terbuka memaksa Viona untuk menoleh dan mendapati Nathan datang dengan sebuah map ditangannya. Viona terlihat beranjak dari duduknya lalu menghampiri sang suami. "Oppa, map apa itu?" tanyanya penasaran. Tanpa sepatah kata pun Nathan memberikan map tersebut pada Viona dan meminta gadis itu untuk membacanya sendiri.


Viona membaca rentetan huruf yang membentuk sebuah kalimat dalam lembar-lembaran kertas yang tersimpan di dalam map tersebut. "Siapa orang-orang ini, Oppa? Dan apa hubungan mereka dengan Derry Ardinata?"


"Itu adalah data orang-orang yang menjadi kaki tangan, Derry Ardinata. Mereka yang berperan penting dibalik apa yang Derry miliki saat ini, mereka adalah para anggota mafia yang membelot dari organisasinya. Tanpa sepengetahuan bos besarnya, mereka bekerja untuk Derry Ardinata demi menghasilkan uang yang lebih. Dan orang-orang itu bisa menjadi senjata ampuh untuk kita menjatuhkan bajingan tua itu." Tutur Nathan panjang lebar.


Viona terdiam untuk beberapa saat sebelum melayangkan sebuah pertanyaan lagi pada Nathan. "Lalu, apa rencana Oppa selanjutnya?" Viona mengangkat wajahnya dan menatap mata Nathan yang juga tengah menatap padanya.


Nathan menyeringai tajam. "Menarik mereka untuk menjadi bagian dari kita. Kita akan menggunakan orang-orang itu sebagai alat untuk menghancurkan ayah dan anak itu secara halus, dan aku yakin sekali mereka tidak akan menolak jika uang sudah berbicara." Ujar Nathan dengan seringai yang sama.


Viona tersenyum dan menghambur ke dalam pelukan Nathan, kedua tangannya mengalung pada leher laki-laki itu. "Bisa kita lupakan sejenak semua masalah yang tengah terjadi? Aku merindukanmu, bahkan sejak kemarin kita hampir tidak memiliki waktu untuk bersama, apa Oppa tidak merindukanku?" tanya Viona sambil mencerutkan bibirnya.


Nathan terkekeh lalu mencium singkat bibir Viona dan sedikit melum**nya. "Bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu, istri kecilku? Bahkan aku sangat-sangat merindukanmu." Ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan.

__ADS_1


Nathan kembali mencium bibir ranum Viona dan ciuman kali ini lebih dalam dari ciuman yang sebelummya. Menarik tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka, erangan yang keluar dari bibir Viona segera Nathan manfaatkan untuk mendapatkan akses lebih. Gadis itu membiarkan lidah Nathan berpetuangan di dalam mulutnya, menginvasi mulutnya lebih dalam lagi.


Lidah Nathan terus menari-nari di dalam mulut hangat Viona, mengabsen deretan gigi putihnya, mengajak lidahnya menari bersama juga saling berbagi saliva. Salah satu tangan Nathan melingkari pinggang ramping Viona dan menariknya untuk semakin mendekat.


Kemudian ciuman Nathan turun kebawah menuju leher Viona, kemudian turun lagi menuju bahu putihnya yang mulus tanpa noda. Mengecupi bahunya dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.


"Hari ini adalah terakhir tamuku, bisakah setelah hari ini kita melakukannya? Aku .... ingin kau memasukiku." muncul rona merah pada pipi gadis itu saat mengatakan keinginannya tersebut, antara malu dan geli.


Nathan menakup wajah Viona dan mencium kembali bibir ranum itu. "Tentu, sayang. Apapun yang kau inginkan." Viona tersenyum lalu menghambur memeluk tubuh kekar suaminya. Kebahagiaan yang tidak pernah lagi Viona rasakan semenjak kepergian orang tuanya dan kebahagiaan itu kini Viona temukan saat bersama Nathan.


"Oppa," Viona mengangkat wajahnya dan menatap wajah Nathan yang juga menatap padanya. "Bisakah besok kau meluangkan waktumu dan temani aku untuk menemui Ibu dan Ayah? Aku rasa perlu mengenalkanmu pada mereka."


"Tentu, Sayang. Aku juga ingin agar kau mengenalkanku secara resmi pada orang tuamu."


Gadis itu terkekeh kemudian mengangguk. "Baiklah, dan aku akan memperkenalkanmu sebagai satu-satunya pria yang aku inginkan di dunia ini. Pasti mereka akan merestuinya apalagi suamiku ini adalah pria yang sangat hebat."


"Aku anggap itu pujian, benahi pakaianmu. Setelah ini kita makan malam sama-sama," Viona tersenyum lebar lalu mengangguk. Meninggalkan Viona sendiri di kamarnya, Nathan menghampiri Henry yang sedang duduk sendiri di ruang keluarga.


"Ge,"


Henry mengangkat wajahnya lalu menarik sudut bibirnya. "Kemarilah, temani gege minum." pinta Henry kemudian menuangkan red wine kedalam gelas yang masih kosong.


"Bagaimana keadaan, Kak Senna? Apa dia sudah membaik? Aku belum menemuinya pagi ini?" tanya Nathan sebelum meneguk winenya.


"Dia jauh lebih baik, Viona merawatnya dengan sangat baik. Aku lega karna yang akhirnya kau nikahi bukan Park Cherly. Jujur saja. Sejak awal gege tidak pernah setuju kau menjalin hubungan dengannya, bahkan saat kau memperkanalkannya padaku kami, aku langsung tidak menyukainya apalagi jiejie.. tapi kami tidak bisa berkata apa-apa karna kau sendiri yang memilihnya." ujar Henry panjang lebar.


"Sepertinya pertemuanku dan Viona malam itu bukanlah sebuah kebetulan. Aku tidak pernah bisa mengenyahkan gadis itu dari fikiranku sejak pertama kali menatap matanya. Dia,, adalah wanita tercantik yang ada dalam hidupku selain mama dan kak Senna. Dia adalah wanita impianku."


"Aku rasa lebih dari itu. Dia adalah wanita paling hebat, menurutku. Bagaimana tidak? Buktinya saja dia mampu meluluhkan hatimu yang dingin dan sekeras batu itu. Sepertinya aku terlalu banyak bicara, oh astaga,,, kenapa aku jadi sebawel ini??" keluh Henry dengan kekehan diakhir ucapannya.


Nathan ikut terkekeh, dua saudaranya memiliki sifat yang hangat.. tidak seperti dirinya yang memiliki sifat sedingin es dan berhati dingin, namun perlahan sifat dinginnya itu mencair semenjak dia mengenal Viona. Dan sepertinya hanya Viona satu-satunya orang yang mampu mencairkan hati beku Nathan.


Gludukk.. Gludukk.. Gludukk...


GUBRAK!!


Nathan dan Henry terlonjak dari duduknya karna suara aneh yang berasal dari arah belakang. Keduanya pun menoleh dan mendapati Rio, Satya dan Frans bergelimpangan di lantai dalam posisi saling tumpang tindih. "Omo? Apa yang sedang kalian lakukan di sana?" tanya Henry penuh keheranan.


"Kami jatuh Paman/Hyung, dan terguling-guling dari atas sana." jawab ketiganya kompak.


"Apa? Kalian bertiga jatuh terguling dari atas sana?" pekik Henry lalu memegangi perutnya sampai akhirnya.. "BWAHAHAHHAHA," tawa Henry pun meledak detik itu juga, Ia tidak tau hal konyol apa lagi yang sebenarnya mereka lakukan kali ini bisa sampai terguling berjamaah dari lantai dua rumah mereka.


"Tapi kalian tidak apa-apa?" tanya Nathan memastikan.


"Pinggang kami sedikit sakit." lagi-lagi mereka bertiga menjawab dengan kompak.


"Sebenarnya apa yang kalian lakukan sampai-sampai terkuling berjamaah begitu?" tanya Henry penasaran. Alih-alih menjawab, ketiganya malah terkekeh sebelum akhirnya tertawa sekeras-kerasnya.


"Astaga, apa mereka bertiga sudah mulai tidak waras?" heran Henry sambil menggelengkan kepalanya. Sungguh Henry tidak tau apa yang ada di pikiran mereka bertiga. Setiap hari selalu ada saja hal konyol yang mereka lakukam.


"Paman, kami masih ada urusan. Kami pergi dulu ya, bye." Rio melambaikan tangannya pada Nathan dan Henry. Nathan mendengus dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik dan keponakannya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2