
Cicit burung yang hinggap diatas dahan terdengar riuh dan saling bersahut-sahutan. Semilir angin pagi yang terasa menyegarkan mambuat kalbu siapapun terasa tenang. Tak lupa suara angin yang menggoyangkan setiap daun pepohonan menambah elok suasana sekitar danau.
Sang mentari mulai menampakkan sosoknya yang begitu gagah. Sinarnya yang agung telah merangkak naik menuju singgasananya, sinarnya yang hangat mampu mengusir hawa dingin di sekitar danau. Air danau yang berkilau terkena bias cahaya sang mentari menambah kesan keeksotisan pemandangan danau tersebut.
Viona menghentikan langkahnya. Kini ia berada di tepi danau yang berada tepat dibelakang Villa. Danau ini begitu indah dan sangat luas hingga serasa lebih mirip dengan laut daripada sebuah danau. Banyak bunga-bunga liar nan indah yang tumbuh di sekitar danau tersebut. Airnya yang jernih membuat Viona bisa melihat pantulan dirinya sendiri.
Warna danau yang begitu jernih benar-benar membuat Viona terpesona. Suasana danau yang begitu tenang
dipadukan dengan warna langit yang
cantik, memberikan kesan yang damai dan romantis.
Seandainya saja saat ini Nathan ada bersamanya, pasti rasanya akan sangat menyenangkan. Tapi sayangnya Nathan sedang pergi dan Viona tidak tau kapan dia akan kembali. Entah siang, sore atau mungkin malam.
"Nona, saya mencari Anda dan ternyata Anda ada disini," tegur Mariana seraya tersenyum lebar. Gadis itu menghampiri Viona kemudian duduk disampingnya.
"Kau mencariku?" Mariana menganggukkan kepala. "Kenapa? Apa kau takut jika aku sampai tersesat?" lagi-lagi Mariana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk pertanyaan Viona.
Ya, Mariana memang takut jika Viona sampai tersesat mengingat jika ini pertama kalinya dia datang ke Villa pribadi milik Nathan. "Aku ingin jalan-jalan disekitar sini, bisakah kau menemaniku?" Viona lekas berdiri dan memeluk lengan Mariana.
"Nona, saya tau tempat yang bagus disekitar sini dan banyak bunga-bunga tumbuh di sana, apa Anda ingin pergi kesana?" tanya Mariana memastikan.
Mata Viona berbinar seketika. "Benarkah? Kalau begitu ayo bawa aku kesana. Kebetulan aku ingin sekali memetik bunga," renggek Viona yang terlihat begitu antusias. Mariana terkekeh. Dia tidak menyangka jika Viona memiliki sisi yang kekanakan juga.
"Nona, apakah Anda bisa bermain biola? Saya membawa biola, biasanya saya selalu memainkannya ketika di sana,"
Viona tampak berfikir. "Aku rasa bisa, dulu aku pernah belajar bermain biolansaat masih remaja. Baiklah, nanti aku akan mencobanya. Dan bisakah kita berangkat sekarang?"
"Tentu Nona,"
.
.
.
Suara gesekan biola memenuhi ladang bunga matahari di pagi itu. Jika ada yang mau memperhatikan, suara itu berasal dari sebuah tempat terpencil di puncak bukit yang dipenuhi bunga matahari.
Tampak seorang perempuan cantik dengan rambut coklat panjang sedang menggesek biola ditemani seorang perempuan lain yang begitu menikmati permainan biolanya.
__ADS_1
Alunan suara biola yang merdu berpadu dengan hembusan angin musim semi menciptakan melody yang begitu indah dan menenangkan jiwa siapapun yang mendengarnya.
Matanya terpejam mencoba menyalurkan segala rasa yang ada dalam hatinya. Semua perasaan yang telah menumpuk oleh waktu, rasa cintanya, rindunya dan putus asanya akan sesuatu yang tak bisa ia gapai lagi. Rambut coklat panjangnya tersibak oleh angin menunjukkan paras cantik sang perempuan muda yang pastinya adalah Viona
Mariana terpanah, dia terpukau dengan permainan Viona yang begitu luar biasa. Permainan yang sangat mengagumkan untuk seseorang yang hanya berlatih beberapa kali saja. Musik dengan nada-nada rumit berhasil dimainkan oleh Viona dengan begitu memukau.
Mariana segera berdiri dan bertepuk tangan dengan hebohnya segera setelah Viona menyelesaikan permainan biolanya. "Nona, itu sangat luar biasa. Tidak disangka, kau begitu hebat dalam bermain biola. Itu benar-benar sangat mengagumkan, Nona" Puji Mariana menunjukkan kekagumannya.
Viona terkekeh. Menurutnya Mariana sangatlah berlebihan. "Kau terlalu berlebihan, Ana. Oya ayo bantu aku memetik bunga, kita harus kembali sebelum waktu makan malam tiba,"
Mariana mengangguk. "Oke Nona," serunya bersemangat. Lagi-lagi Viona terkekeh. Wanita itu menggelengkan kepala. Dan keduanya pun berjalan beriringan menuju lokasi yang Mariana maksud.
Sementara itu...
Danila yang sedang sendiri di Villa memiliki banyak waktu untuk melakukan apapun yang dia inginkan, dia merasa bebas. Wanita itu masuk ke dalam kamar milik Nathan. Tidak ada yang berubah dengan kamar itu, semua masih terlihat sama.
Danila mengambil salah satu pakaian kotor Nathan yang ada dalam keranjang. Danila memeluk dan mencium kemeja itu dan menbayangkan jika yang sedang dia peluk itu adalah sang pujaan hati.
"Tuan Nathan. Sudah sejak lama aku mencintaimu, tapi tak sekali pun kau mau melihatku. Memangnya apa lebihnya dia dibandingkan diriku sampai-sampai kau lebih memilihnya sebagai pendamping hidupmu dibandingkan diriku. Oh, Tuan Nathan. Andaikan kau mendengar jeritan hati ini yang terus memanggil namaku. Aku sangatlah mencintaimu."
Danila membuka kembali matanya. Wanita itu beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju tempat dimana Nathan menyimpan semua barang-barangnya termasuk barang-barang Viona. Danila mengeluarkan sebuah dress hitam berbahan brokat milik Viona kemudian mengepaskan pada dirinya sendiri. Danila melepaskan pakaian maidnya lalu menggantinya dengan dress milik Viona.
"Jika aku menjadi seperti dirinya. Apa kau akan menyukaiku?" ucap Danila sambil menatap pantulan dirinya dicermin.
Sontak Danila menoleh. Matanya membelalak melihat Viona berdiri diambang pintu sambil bersidekap dada. Bibirnya mengurai seringai tajam. Kemudian Viona beranjak dari tempatnya lalu menghampiri Danila. "Sepertinya kau sangat terobsesi pada suamiku?" sindir Viona dengan nada sinis.
Viona merebut kemeja Nathan yang ada pada Danila dan merobek dressnya yang wanita itu pakai. "Dasar wanita tak tau malu. Kau fikir dengan seperti ini Nathan Oppa akan menyukaimu, yang ada dia malah jijik padamu." Viona menarik Danila dan mencengkram rahangnya. Wanita itu memasukkan sebutir obat ke dalam mulut Danila dan memaksa wanita itu supaya menelannya.
"Uhuk.. uhuk... Apalagi yang kau masukkan ke dalam tubuhku?" Danila terbatuk-batuk sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. "Wa-wanita sialan. A-apa kau benar-benar ingin membunuhku?" tubuh Danila jatuh kelantai, kedua tangannya memegang lehernya. Peluh mulai membasahi kening dan tubuhnya.
"Kau akan membaik dalam beberapa menit. Obat itu tidak berefek apapun pada tubuhmu apalagi sampai membunuhmu. Kau hanya akan merasa kesakitan dan sesak nafas. Aku akan mengambil kembali milikku." Viona mengambil baju yang sudah robek itu dan membuangnya ketempat sampah.
Apa yang Viona lakukan semata-mata hanya sebuah peringatan kecil untuk Danila. Dan Viona tidak akan membiarkan orang ketiga masuk dan mengusik rumah tangganya dengan Nathan.
.
.
.
__ADS_1
Sampai malam menjelang Nathan belum juga kembali, dan hal itu membuat Viona benar-benar merasa bosan. Untuk mengusir kebosanannya. Viona memilih berjalan-jalan disekitar Villa.
Viona memicingkan matanya melihat banyaknya manusia berkumpul di sebuah taman yang tak jauh dari Villa. Viona mendekati kerumunan itu dan bertanya pada seorang yang lewat didepannya. Ia menjawab kalau sebentar lagi akan diadakan festival panen raya dan akan diadakan pesta kembang api saat penutupan tengah malam nanti.
Viona berfikir sejenak, ia mempertimbangkan tetap di Villa dan menunggu Nathan pulang atau membuang rasa bosannya dengan ikut melihat festival yang diadakan. Dan akhirnya Viona pun memutuskan untuk mengikuti festival, tak lupa Viona mengirimkan pesan singkat pada Nathan supaya suaminya itu tidak kebingungan mencarinya.
Viona begitu takjub dengan festival yang diadakan ditempat itu, dalam festival itu diadakan berbagai jenis hiburan. Mulai dari drama panggung yang menyajikan lawakan atau drama romantis, bahkan banyak penjual souvenir yang bertebaran diberbagai tempat. Ternyata festival itu juga menjadi daya tarik untuk orang luar.
Viona terus berjalan dan berbaur ditengah-tengah keramaian para pengunjung. Ketika ia hendak membeli souvenir untuk dirinya dan juga Nathan, dia tersenggol dan hampir terjatuh jika saja tidak ada sepasang tangan yang menahannya.
"Kau tidak apa-apa, Nona?" Viona menoleh ke orang yang telah menolongnya tadi. Dia adalah seorang pria tampan berambut hitam dan bermata hitam pula. "Maaf, saya tidak sengaja." Lanjutnya penuh sesal.
Viona menggeleng. "Aku tidak apa-apa," Viona membungkuk sekilas dan pergi meninggalkan pria itu. Sampai sebuah seruan menghentikan langkahnya.
"Nona, tunggu!!" seru pria itu dan menghentikanangkah Viona. "Sebagai permintaan maaf dariku, bagaimana jika aku mentraktir kau minum kopi? Kebetulan ada caffe di sekitar sini,"
"Aku hargai niat baikmu, tapi aku menolak. Aku sedang menunggu suamiku," Viona menepis tangan pria itu dan pergi begitu saja. Sedangkan pria itu menatap kepergian Viona dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Baru kali ini aku bertemu dengan wanita yang membuat dadaku berdebar tak karuan. Mungkinkah ini yang disebut sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama?" pria itu menekan dadanya yant terus berdebar tak karuan. Sudut bibirnya tertarik keatas. "Selanjutnya saat kita bertemu, akan kupastikan aku mengetahui namamu,"
-
Nathan menghentikan mobilnya dihalaman Villa. Mata kanannya memicing melihat Villa tampak sepi dan lampu kamar di lantai dua yang mereka tempati tampak mati yang menandakan jika Viona memang tidak ada disana.
Ting...
Perhatian Nathan teralihkan oleh denting pada ponselnya. Nathan menbaca pesan dari Viona kemudian memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam saku jasnya. Nathan masuk kembali ke dalam mobilnya dan menyusul Viona yang saat ini sedang melihat Festival.
Tidak sampai sepuluh menit Nathan pun tiba dilokasi. Dan tidak sulit menemukan keberadaan wanita itu. Viona sedang melihat-lihat aksesoris di salah satu kedai. Nathan meninggalkan mobilnya dan menghampiri Viona.
"Itu terlihat bagus padamu. Ambil saja jika kau suka," dan sontak Viona menoleh setelah mendengar suara yang begitu familiar berkaur di dalam telinganya.
"Oppa," serunya dan berhambur ke dalam pelukkan Nathan. "Akhirnya kau kembali juga, apa kau tau betapa aku sangat kesepian tanpa dirimu. Aku sangat bosan," Viona mendongakkan wajahnya. Matanya membelalak melihat perban melilit kening yang kemudian turun sampai menutupi mata kiri Nathan yang tak lagi sempurna.
Viona membekap mulutnya. "Terjadi sebuah insiden saat dalam perjalan tadi. Kepalaku mengalami benturan dan mata kiriku mengalami pendarahan lagi," jelas Nathan menjawab kecemasan Viona. Jari-jarinya menghapus air mata dipipi Viona. "Tidak perlu cemas, aku baik-baik saja," lanjutnya meyakinkan.
Viona mendesah berat. "Kapan kau akan berhenti membuatku cemas, Oppa?" ucap Viona dengan mata berkaca-kaca. Nathan meraih tengkuk Viona dan menuntun wanita itu ke dalam pelukkannya. Nathan menutup mata kanannya dan semakin mengeratkan pelukkannya. Nathan sangat menyesal karna sudah membuat Viona cemas, dan ini sudah yang kesekian kalinya.
"Maaf,"
__ADS_1
-
Bersambung.