Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 64) "Nyaris Diculik"


__ADS_3


Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


BRAKKK!!!


"EONNI!!"


Dobrakkan dan teriakkan keras seorang gadis menyita perhatian Viona, Kirana dan Sunny yang sedang berkumpul di ruangan Viona. Mereka baru saja menyelesaikan operasi besar sekitar lima menit yang lalu.


Dengan nafas tersenggal-senggal dan peluh membanjiri hampir di sekujur tubuhnya, wanita itu 'Luna' menghampiri wanita yang berwajah bak pinang di belah dua dengannya yang pastinya adalah Viona.


Viona segera bangkit dari posisinya lalu memberikan segelas air pada Luna. Mencoba membuat Luna lebih tenang lalu bertanya padanya.


"Luna, ada apa? Kenapa kau terlihat panik?" tanya Viona penasaran


"Eonni, selamatkan aku. Ada beberapa pria gila yang mengejar dan berusaha menculikku."


Kedua mata Viona membelalak. "APA? Ada yang mengejarmu dan berusaha untuk menculikmu?" wanita itu mengangguk.


Merasa penasaran, Viona berjalan menuju jendela kaca di samping kirinya dan mendapati beberapa pria asing berpakaian formal mondar-mandir di sekitar rumah sakit tempatnya bekerja.


"Lun. Apa kau mengenal mereka?" Luna menggeleng. "Lalu bagaimana bisa mereka sampai mengejarmu?"


Luna mengangkat bahunya. "Aku sendiri tidak tau. Mereka mengikutiku sejak aku meninggalkan pusat perbelanjaan. Bahkan mobil mereka sempat menghadang mobilku, tapi untungnya aku berhasil kabur dan lolos mereka,"


Bisa saja Luna menghadapi dan menghajar mereka jika saja keadaannya memungkinkan. Luka tembak pada dada kirinya belum sepenuhnya sembuh, jadi Luna tak ingin mengambil resiko besar dengan memaksakan diri.


"Ini tidak bisa di biarkan, aku akan menghubungi Zian, dan sebaiknya kau tetap di sini. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat setelah itu kita pulang sama-sama." Luna mengangguk.


Luna memang tidak memiliki pilihan selain menuruti apa yang Viona katakan. Akan sangat berbahaya jika ia sampai pulang sendirian. Jadi akan jauh lebih baik jika untuk kali ini saja menjadi perempuan penurut.


Bukan hanya Zian saja yang Viona hubungi namun Nathan juga. Viona memberi tau apa yang di alami oleh Luna pada mereka berdua, bukan tanpa alasan. Entah kenapa Viona begitu yakin jika mereka adalah orang-orang yang di kirim mantan istri Zian untuk menghabisi Luna. Meskipun dia tak begitu yakin.


Menurut Viona, Zian dan Nathan perlu mengetahui perihal masalah ini. Karna Viona yakin jika Zian dan Nathan pasti memiliki solusi untuk mengatasi hal ini.


Dan tak sampai sepuluh menit, Zian dan Nathan pun tiba. Luna pun langsung di berondong beberapa pertanyaan oleh Nathan dan Zian mengenai insiden penculikan yang nyaris menimpanya.


"Luna, apa kau sungguh-sungguh tidak mengenal mereka atau melihat mereka sebelumnya?" Tanya Nathan memastikan.


"Berapa kali aku harus mengatakannya padamu, Oppa, jika aku memang tidak mengenal mereka." Wanita itu merasa gemas sendiri dengan pertanyaan Zian yang selalu sama dan dia tanyakan berulang-ulang.


"Bisa kau ceritakan bagaimana kronologinya?" Setelah cukup lama bungkam, Zian mulai membuka suaranya, sama halnya dengan Nathan dan Viona, ia pun merasa penasaran.


Luna pun menceritakan semuanya pada Zian perihal yang dia alami hari ini. Wanita itu menceritakan secara lugas dan jelas tanpa ada satu pun yang terlewatkan.


Mimik wajah Zian, Nathan, Viona, Kirana dan Sunny selalu berubah-ubah setiap kali mendengar kalimat yang keluar dari bibir wanita bermarga Leonil tersebut. Kadang mereka merasa geli, kadang juga merasa geram.


"Begitulah kejadiannya, Oppa." Ujar Luna mengakhiri penjelasannya.


Zian terdiam selama beberapa saat. Mata abu-abunta menatap wanita dihadapannya dengan tatapan datar seperti biasanya. "Zian, mungkinkah ini adalah perbuatan mantan istrimu? Karna selama ini yang menginginkan kematian, Luna hanya dia. Apa kau juga memiliki pemikiran yang sama denganku?" tanya Nathan sambil mengunci mata Zian.


Zian menggeleng. "Aku masih belum bisa memastikannya, Hyung. Kita akan tau setelah kita menangkap salah satu dari mereka," terang Zian.


"Kau benar, kita harus segera mengambil tindakan, Zian. Akan sangat berbahaya jika para penjahat itu masih berkeliaran bebas di luar sana. Bukan hanya nyawa Luna yang berada dalam bahaya, tapi mungkin juga Viona, bisa saja Viona menjadi korban salah sasaran karna mereka mengira jika Viona adalah Luna." Tutur Nathan panjang lebar.


"Kalau begitu, masalah ini serahkan saja padaku. Biar aku yang mengurusnya. Sebaiknya sekarang kita pulang, dan sepertinya tidak lama lagi hujan akan segera turun," ujar Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Nathan dan Viona.


Zian menghampiri Luna yang sedang duduk termenung di sofa ruangan Viona. Wanita itu mengangkat wajahnya saat merasakan genggaman lembut pada jari jemarinya. "Oppa, aku merasa cemas," lirihnya berbisik.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu, dan aku tidak akan membiarkan siapapun meyakitimu. Aku berjani. Kita pulang, mungkin hujan akan segera turun,"


"Oppa," Luna menahan lengan Zian ketika pria itu hendak berdiri. "Tapi aku lapar, bisakah kita makan malam dulu sebelum pulang?" Luna menatap Zian penuh harap. "Apa kau tega membiarkan istrimu yang cantik ini sampai kelaparan?" ujarnya menambahkan.

__ADS_1


Zian mendengus geli. Satu jitakkan Zian daratkan pada kepala Luna. Sedangkan Nathan dan Viona menggelengkan kepala melihat tingkah Luna yang terkadang masih kekanakan tersebut.


"Baiklah, tapi jangan memasang ekspresi menggelikan seperti itu lagi,"


Luna terkekeh. Dengan segera dia menghambur memeluk Zian. "Oppa, kau memang yang terbaik. Aku semakin mencintaimu." Luna mencium pipi Zian dan pergi begitu saja.


-


"APA!! Seseorang mengirim pembunuh bayaran untuk mencelakai putriku?"


Kalina tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya setelah mendengar apa yang Zia sampaikan padanya melalui panggilan telfon. Zian memberi tau Kalina mengenai apa yang di alami oleh Luna siang tadi. Bukan tanpa alasan, karna Kalina adalah Ibu kandung Luna dan dia berhak tau jika hal buruk nyaris saja menimpa putrinya.


"Tapi, Zian. Kira-kira siapa yang melakukanya? Mungkinkah itu adalah, Soojin. Karna setauku hanya dia satu-satunya orang yang bermasalah dengan Luna."


"Aku rasa bukan dia dalang di balik insiden yang nyaris menimpa, Luna. Karna menurut keponakan dan adik angkat, Nathan hyung. Seharian ini mereka bersama wanita itu. Jangankan untuk pergi keluar, untuk menggunakan ponsel saja dia tidak bisa. Aku sedang menyelidiki masalah ini, dan aku akan menemukan pelakunya dengan seger,"


"Zian, Ibu mohon padamu. Segera temukan dalang utama di balik insiden yang menimpa, Luna. Ibu benar-benar tidak bisa merasa tenang sebelum penjahat itu tertangkap,"


"Kau tenang saja. Pasti aku akan menangkap pelaku itu secepatnya!!"


"Ibu mempercayaimu. Tolong sampaikan alam Ibu pada Luna, katakan padanya jika Ibu sangat merindukannya,"


"Hn, akan aku sampaikan,"


Kalina menggepalkan tangannya, dia tidak akan tinggal diam. Nyawa putrinya berada dalam bahaya. Meskipun saat ini Kalina masih belum tau siapa pelakunya, tapi dia bersumpah akan menemukan orang itu. Dia akan membuat orang itu membayar mahal semua perbuatannya kepala Luna.


\=


PLAKKK!!


"DASAR BODOH, MENANGKAP SATU WANITA SAJA TIDAK BISA."


Tiga tamparan keras mendarat mulus pada pipi tiga pria yang berdiri berjajar di depannya. Pria itu tidak bisa menahan kemarahannya mengetahui kegagalan ketiga anak buahnya untuk menangkap Luna dan membawa wanita itu kehadapannya.


Dia memang tidak meminta mereka untuk langsung membunuh Wanita itu. Tapi dia sangat penasaran dan ingin memastikannya lebih dulu, wanita itu benar-benar orang yang sedang dia cari atau bukan.


"ITU KARNA KALIAN MEMANG BODOH!!" pria itu berteriak di depan wajah ke tiga orang di depannya. Mereka yang ketakutan memilih untuk menundukkan wajahnya dan tidak berani membalas tatapan tajam bosnya.


"Aku tidak mau tau, bagaimana pun caranya temukan dan tangkap wanita itu untukku."


"Ba-baik bos." Ketiganya membungkuk dan pergi dengan tergesa-gesa.


Selepas kepergian mereka bertiga. Terlihat seorang wanita datang dan menghampiri pria tersebut. Wanita itu baru saja pulang dari berbelanja bersama Dana, putri mereka "Dari mana saja kalian?" pria itu menatap marah pada Istri dan putrinya.


"Sayang, ada apa depanmu? Kenapa kau terlihat kesal dan marah?" Alih-alih menjawab, wanita ity malah balik bertanya.


Pria bertubuh tinggi itu menyentak tangan istrinya dan pergi begitu saja. Dan sikap suaminya itu membuat wanita tersebut menjadi kebingungan.


Danila menghampiri sang ibu. "Mom, sebenarnya ada apa dengan, Daddy? Kenapa dia marah-marah seperti wanita sedang datang bulan?" Heran Danila melihat sikap aneh ayahnya.


"Mana Mom tau, sudahlah, tidak usah pedulikan dia. Sebaiknya kita coba pakaian-pakaian ini." Ucap perempuan itu yang kemudian di balas anggukan oleh Danila.


"Ide yang bagus, aku sudah tidak sabar mencoba pakaian-pakaian mahal ini."


Soraya tidak peduli dengan berbagai masalah yang tengah di hadapi oleh suaminya tersebut, yang terpenting baginya adalah bisa berbelaja dan bersenang-senang. Urusan yang lain ia benar-benar tidak mau tau.


-


Malam berlalu dengan sangat cepat. Keberadaan bulan telah di gantikan oleh matahari, di sebuah ruangan yang di dominasi warna putih, seorang wanita berparas ayu terlihat memagut didirinya di depan cermin besar di kamar.mewah miliknya.


Dan wanita itu 'Luna' terlihat begitu cantik dan anggun dalam balutan dress brokat hitam yang kontras dengan kulitnya yang seputih porselen.


Tokk!! Tokk!!


Ketukan keras pada pintu mengalihkan perhatiannya. Seorang pelayan datang menghampirinya. "Nona, tuan muda meminta anda untuk segera turun untuk sarapan." Ucap wanita itu yang segera di balas anggukan oleh Luna.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan segera turun."


Sejak kepulangan mereka dari Berlin. Zian memang mempekerjakan beberapa pelayan di rumahnya. Dia rasa keberadaan mereka sangatlah diperlukan mengingat jika Luna begitu payah dalam segala hal terutama soal memasak.


Derap langkah kaki yang terdengar anggun mengalihkan perhatian laki-laki yang tengah duduk sendiri di meja makan sambil memainkan ponselnya. Laki-laki itu yang pastinya adalah Zian mengangkat wajahnya dan hanya menatap datar sosok Jelita yang berjalan menghampirinya


"Oppa, kenapa kau hanya sendiri? Sepertinya aku tadi mendengar suara si berisik, Reno. Apa dia sudah pergi?" Bingung Luna saat melihat hanya ada Zian sendiri di meja makan.


"Dia datang hanya untuk mengantarkan brberapa file, dan dia sudah pergi," Jawabnya datar.


Luna memperhatikan penampilan suaminya pagi ini. Kemeja putih yang di gulung sampai siku, vest hitam serta celana bahan yang senada dengan warna vestnya.


Tiba-tiba Luna merasakan jantungnya berdegup kencang terlebih saat laki-laki itu menatapnya. Meskipun ini bukan pertama kalinta, namun tatapan Zian selalu mampu membuat Luna berdebar-debar, bahkan tak jarang dia sampai menahan nafasnya.


Terkadang Luna hanya bisa berdoa dalam.hati semoga tidak mati muda karna terlalu sering sport jantung.


"Ada apa? Kenapa kau terus menatapku seperti itu? Apakah ada yang aneh diwajahku?" tanya Zian memastikan.


Luna mengangguk. "Tentu saja ada, siapa suruh kau terlalu tampan menjadi orang," ucapnya tersenum.


Zian mendengus geli. Dengan lembut dia mengacak rambut coklat Luna yang terurai."Kau ini ada-ada saja, segera habiskan sarapanmu." Pinta Zian yang kemudiab dibalas angggukan oleh Luna.


.


.


Usai sarapan, Zian membawa Luna menemui Kalina, semalam wanita itu menghubunginya dan mengatakan ingin bertemu dengan Shea. Sengaja hari ini Zian mengosongkan semua jadwalnya hanya untuk menemani Luna untuk bertemu dengan Ibunya.


Bisa saja ia membiarkan istrinya itu pergi ke sana sendiri, tapi insiden yang Luna alami kemarin membuat Zian tidak bisa membiarkannya pergi sendiri. Ia takut jika hal serupa akan kembali terjadi dan menimpa wanita itu.


Dering pada ponselnya membuat Luna terlonjak kaget. Raut wajahnya berubah muram melihat siapa yang menghubunginya. "Ck, mau apa lagi dia menghubungiku?" Keluhnya dan langsung menolak panggilan tersebut.


"Nuguya(Siapa)?" Zian menoleh dan menatap Luna penasaran.


"Siapa lagi? Laki-laki menyebalkan yang dulu sering membuatku kesal setengah mati," jawabnya.


Zian memicingkan matanya. "Mantan kekasihmu?" Luna menggeleng.


"Ralat, tapi seorang penganggum.


"Untuk apa lagi dia memlnghubungimu? Dan bagaimana dia bisa mengetahui nomor ponselmu?"


Wanita itu mengangkat bahunya."Entahlah, aku sendiri tidak tau. Dan mungkin dia tau setelah memintanya dari Irene."


Tidak ada lagi perbincangan setelah percakapan singkat itu. Keduanya kembali sibuk dalam kegiatan masing-masing. Zian kembali fokus pada jalan beraspal di depannya sementara Luna sibuk pada ponselnya. Gadis itu berkirim pesan dengan Viona. Sesekali gadis itu terkikik geli melihat apa yang saudarinya itu tuliskan dalam pesannya. Dan Zian merasa geli sendiri melihat bagaimana menggemaskannya ekspresi gadis di sampingnya ini.


Diam-diam ia menarik sudut bibirnya dan mengurai senyum setipis kertas. Dia ingin selalu melihat senyum itu, tidak hanya hari ini saja, tapi juga nanti dan selamanya.


Mereka tiba di kediaman keluarga Qin tiga puluh menit kemudian. Rupanya Kalina sudah menunggu kedatangan mereka, Ibu dua anak itu sedari tadi mondar-mandir di teras rumahnya dengan gelisah sampai ia melihat Luna datang dalam keadaan baik-baik saja.


"Ibu." Wanita itu berlari menghampiri kalina dan langsung memeluknya.


"Luna-ya, apa kau baik-baik saja? Apa orang-orang itu menyakitimu?" Tanyanya memastikan.


Luna tersenyum tipis dan meyakinkan pada Kalina bila dirinya baik-baik saja dan tanpa luka sedikit pun. Kemudian wanita itu mengajak pasangan suami-istri itu untuk masuk ke dalam.


Luna menceritakan tentang apa yang menimpanya pada Kalina. Ia tidak ingin menutupi apapun dari sang Ibu.


"Beruntung aku bisa lolos dari mereka semua." Tutur Luna mengakhiri ceritanya.


"Kau tau, sayang? Bagaimana panik dan cemasnya Ibu saat suamimu memberi tau tentang apa yang menimpamu? Rasanya Ibu ingin membunuh bajingan itu saat itu juga. Ibu benar-benar tidak habis fikir, bagaimana mungkin ada seseorang yang begitu berniat jahat padamu. Lalu bagaimana dengan, Viona? Apa mereka juga mengejarnya?"


Luna menggeleng. "Hanya aku, Bu.Aku sendiri tidak tau siapa mereka dan apa motifnya." Jelas Luna.


"Yang paling penting kau baik-baik saja, itulah yang terpenting bagi, Ibu."

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2