Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 12) "Putri Kandung Kalina"


__ADS_3

Ancaman Zian membuat Kalina tidak bisa merasa tenang. Rasa takut menyelimuti perasaannya. Seburuk apapun dirinya, bagaimana pun juga dia adalah seorang Ibu.


Kalina memiliki seorang putri yang pernah dia campakan dan dia tinggalkan di sebuah panti asuhan. Sebenarnya Kalina tidak pernah berniat meninggalkan putrinya di sana, tapi Kalina tidak memiliki pilihan. Karirnya sebagai seorang model terkenal hancur setelah dirinya terlibat sebuah skandal dengan seorang CEO di agensinya sendiri.


Bukan hanya kehilangan pekerjaan dan popularitasnya saja. Tapi Kalina juga kehilangan seluruh harta bendanya sehingga dia bangkrut dan jatuh miskin. Dia tidak memiliki pilihan lain selain menitipkan putri kecilnya itu di sebuah panti asuhan.


Hidup Kalina yang semula berantakkan tertata kembali setelah dia menikah dengan ayahnya Zian. Derajatnya diangkat kemudian dia menjadi nyonya besar di kediaman keluaga Qin dan menggeser posisi nyonya Qin yang tak lain dan tak bukan adalah ibu kandung Zian.


Setelah hidupnya membaik. Kalina mendatangi pantiasuhan tempat dia menitipkan putrinya. Tapi sayangnya putri cantiknya itu sudah tidak ada lagi di sana, dia telah di adopsi oleh sepasang suami-istri yang begitu mendambakan seorang putri karna mereka hanya memiliki seorang putra.


Selama bertahun-tahun Kalina mencoba menemukan putrinya, tapi jejaknya tidak pernah bisa dia temukan. Apalagi setelah keluarga itu membawanya pindah ke luar negeri.


Kalina menggepalkan tangannya. "Luna, ibu pasti akan menemukanmu sebelum bajingan kecil itu. Ibu akan melindungimu dan ibu tidak akan membiarkan dia menemukanmu apalagi menyakitimu, tidak akan pernah!!"


Kalina bangkit dari duduknya dan melenggang pergi meninggakkan kamarnya. Namun langkahnya terhenti kerna keberadaan sosok pemuda yang sedang bersandar pada tembok di samping kanan pintu kamarnya sambil bersidekap dada.


Kalina tak ingin terlalu ambil pusing dan melewati sosok itu begitu saja."Tinggalkan papa jika kau ingin putrimu selamat!!"


Tapp..


Kalina menghentikan langkahnya setelah mendengar perintah Zian. Sontak wanita itu menoleh dan menatap tajam Zian yang beranjak, menghampirinya. "Apa maksudmu?"


"Apa masih kurang jelas? Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan yang saling menguntungkan, tinggalkan papa dan pergi dari rumah ini maka aku akan melepaskan putrimu. Bagaimana?"


"Aku tidak mau!! Aku tidak akan meninggalkan papamu dan juga membiarkanmu menyentuh putriku. Aku akan melindunginya dan menemukannya sebelum dirimu!!"


"Baiklah, kau yang memaksaku. Kita lihat saja, aku atau kau yang akan menemukannya lebih dulu," Zian menyeringai dan meninggalkan ibu tirinya itu begitu saja.


-


Luna menggembungkan pipinya kesal, menatap sebal pada hujan yang mengguyur bumi dengan derasnya. Tubuh mungilnya sedikit menggigil, pakaian yang Ia pakai pun sangat kontras dengan cuaca malam ini.


Hari ini Ia benar-benar sial, mobil yang Ia tumpangi tiba-tiba mogok di tengah perjalanan dan akhirnya Ia harus berjalan kaki untuk mencari halte terdekat. Tapi tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya dan menghambat langkahnya, endingnya Ia terjebak di depan pagar sebuah rumah minimalis yang sudah tidak bisa lagi di jelaskan kondisinya.


Rumah itu bercat kuning yang telah pudar, di hiasi coretan-coretan yang hampir memenuhi seluruh dindinginya, dan beberapa gambar mulai yang biasa saja sampai luar biasa menyeramkannya. Seperti gambar muka setan bertanduk merah dengan gigi-giginya yang runcing dan dua taring di sisi bibirnya.


Jika di lihat, bangunan itu lebih pantas di sebut sebagai sarang penjahat di bandingkan sebuah tempat tinggal.


Dan kesialan Luna tidak sampai di situ saja, ponselnya mati hingga Ia tidak bisa menghubungi orang rumah agar menjemput dirinya. Dan mungkin saja yang terjadi pada Luna adalah karma karna sudah meninggalkan temannya di cafe.


Dalam hati Ia terus merutuki kebodohannya, seharusnya Ia membawa payung tadi mengingat jika cuaca memang sedang tidak bersahabat. Jika saja yang turun adalah salju, Ia masih bisa menerjang dan mengabaikannya. Tapi masalahnya yang mengguyur kota adalah air dalam jumlah yang sangat besar, dan jika Ia nekat.


Bukan hanya rasa dingin yang akan Ia dapatkan, bisa-bisa Ia menderita flu berat seperti saat masih di Inggris dulu dan Luna membenci itu.


Luna mendesah kesal, uap putih keluar mengudara. Kenapa malam ini harus turun hujan segala, fikirnya. Dan kenapa Ia tidak menghiraukan ramalan cuaca yang Ia lihat di cafe tadi.


Luna kembali mendesah, kini di sertai erangan. "Kapan hujannya akan berhenti sih," keluhnya mulai frustasi.


Luna sedikit menyipitkan matanya dan menadahkan lengannya di depan wajahnya ketika sebuah lampu yang sangat terang menyorot kerahanya. Gadis itu melihat sedikitnya ada 3 motor besar yang melaju kerahanya.


Glukkk...!!


Susah payah Luna menelan salivanya, Ia tidak tau lagi harus melakukan apa. Wajahnya menenggok kekanan dan kekiri, berharap ada seseorang di sana yang bisa Ia mintai pertolongan jika saja para pengendara dan penumpang pada ketiga motor itu memiliki niat buruk padanya. Tapi sayangnya tidak ada siapa pun di sana dan hal itu membuat Luna menjadi sangat ketakutan.

__ADS_1


Mulutnya terus berkomat-kamit seperti penyihir yang sedang merapalkan mantra dengan kedua matanya tertutup rapat.


"Kkkkyyyyyaaaa," Luna terlonjak dan menjerit histeris ketika merasakan tepukan pada bahunya.


Gadis itu menjatuhkan tubuhnya, berlutut sambil menutup dan menggosok-gosokkan kedua tangannya di depan mukanya. "Ampun, kalian jangan membunuhku. Aku di sini hanya menumpang berteduh dan akan segera pergi setelah hujannya reda. Aku bersumpah, tidak akan mengatakan pada siapa pun jika ini sarang penjahat. Tapi jangan mencincang dan memutilasi tubuhku lalu membuangnya dalam tong sampah. Aku masih muda, aku belum menikah apalagi merasakan malam pertama. Jadi aku mohon lepaskan aku, ne! Lagipula dagingku rasanya pahit dan tidak enak di makan," Luna terus mendumal dan merancau tidak jelas, membuat beberapa pria itu hanya menatapnya penuh kebingungan.


Mungkin saja Luna menganggap jika mereka adalah para preman yang suka memutilasi tubuh orang kemudian memasukkannya kedalam tong sampah. Atau mungkin para kanibal yang suka makan daging manusia.


Dan para pemuda itu pun saling bertukar pandang dan sama-sama mengangkat bahunya. Salah satu dari mereka mendekati Luna dan kembali menepuk bahunya, kini di ikuti teguran.


"Nona, kau tidak apa-apa?"


"Eeehhh?" katanya cengoh.


Luna seperti mengenali suara itu. Buru-buru Ia mengangkat kepalanya dan wajah Simon-lah yang pertama tertangkap oleh mata coklatnya. "Omo? Nunna, jadi itu kau?" Simon memekik kencang setelah melihat wajah gadis itu.


Luna mengangkat kepalanya lebih tinggi, mata coklatnya menatap satu persatu para pemuda yang 3 di antaranya sedang duduk nyaman di atas motor besarnya. Di saat bersamaan, sebuah motor lain datang dan motor tersebut di kemudikan oleh Zian.


Zian turun dari mobilnya dan menghampiri Luna. Pemuda itu sedikit terkejut melihat melihat keberadaan Luna di depan markasnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zian memastikan.


Sooyeon mendesah "Seperti yang aku katakan pada teman-temanmu, aku numpang berteduh. Mobilku mogok dan terpaksa aku harus berjalan kaki menuju halte terdekat, tapi tiba-tiba saja hujan turun dan endingnya aku terjebak di sini!" ujarnya memaparkan.


"Dasar ceroboh, seharuanya kau membawa payung. Di sini udaranya sangat dingin. Sebaiknya kau ikut masuk dan berteduh di dalam, setidaknya sampai hujannya benar-benar reda!" ujar Zian menambahkan.


Luna menjadi tidak enak pada teman-teman Zian karna telah berfikir yang tidak-tidak dan mengira jika mereka adalah para penjahat. "Tidak usah. Aku tidak ingin merepotkan kalian, aku di sini saja!" Luna menolak halus ajakan Zian. Luna merasa malu.


"Kau yakin ingin tetap di sini?"


Luna mengangkat wajahnya dan pandangannya bergulir pada Zian yang tengah menatapnya datar. Gadis itu mengangguk mantap. "Ya," jawabnya singkat.


"A..apa? Yang benar? Kau tidak bercandakan?" tanyanya memastikan.


Reno menggeleng cepat. "Lokasinya hanya satu blok dari sini, dan biasanya jika jam segini dia suka lewat sini sambil membawa pisau daging yang besar!" ujar Simon menambahkan.


"Dan kejadian seperti itu, sudah terjadi sedikitnya tiga kali!" kini giliran Adrian yang membuka suaranya.


Luna menatap ketiga pemuda itu bergantian dan mencoba mencari kebohongan atas penuturan mereka. Namun Ia tidak menemukannya, mereka tidak berbohong. Itulah yang Luna fikirkan.


"Baiklah, kalau kau tidak mau. Kami juga tidak akan memaksa," ujar Zian.


Pemuda itu menghidupkan mesin motornya, Ia memberi kode pada Simon agar membuka pintu pagar. Dan motor besar Zian memasuki halaman rumah itu, kini Ia berjalan memasuki bangunan yang selama ini menjadi tempat tinggalnya dan dan para sahabatnya.


Diam-diam Luna menatap kepergian Zian dengan tatapan tak terbaca. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya bila Zian lebih dingin dari biasanya.


"Nunna kami masuk dulu, ne. Semoga orang gila itu tidak lewat sini!" Simon tersenyum dan melenggang pergi.


"Tunggu," seru Luna sambil menahan lengan Simon. Pemuda itu menoleh. "Aku ikut masuk bersama kalian, aku tidak ingin mati konyol di sini. Di sini sangat menyeramkan!" ujarnya.


Simon tersenyum penuh kemenangan, pemuda itu mengangguk. "Ayo," serunya bersemangat.


.


.

__ADS_1


"Nunna, masuklah!" seru Simon mempersilahkan.


Aroma tidak sedap menyambut Indera penciuman Luna ketika Ia menginjakkan kakinya di rumah itu. Aroma tembakau dan alkohol yang begitu menyengat membuat gadis itu sedikit sesak nafas.


Luna meringis melihat keadaan rumah itu begitu berantakan, banyak bungkus makanan ringan yang berserakan di atas meja, asbak yang penuh dengan putung rokok, botol-botol minuman keras dan kartu poker.


"Jangan merasa heran, Nona. Jika rumah ini seperti kapal pecah, maklum saja karna semua penghuninya adalah laki-laki!" kata Reno sambil memungguti selimut, kaos kaki dan beberapa helai pakaian yang berserakan di atas sofa."Duduklah, aku sudah membersihkannya!"


Luna memerhatikan Adrian dan Reno yang sedang membereskan sampah-sampah yang berserakan di atas meja dan memasukkan kedalam kantong besar.


Lalu pandangannya bergulir pada Simon yang sibuk menyapu lantai dan mengelap meja, hanya Zian yang tidak terlihat di sana. Sampai Luna mendengar decitan pintu terbuka dan menampilkan sosok pemuda dalam balutan jeans biru di bawah lutut dan kaus putih ketat berlengan pendek keluar dari kamar mandi, tangan kanannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


Meletakkan handuknya, Zian berjalan menuju lemari pendingin. Mengeluarkan satu kaleng bir dan sebotol air mineral yang kemudian Ia berikan pada Luna.


"Minumlah, kau pasti haus" ucap Zian sambil membuka kaleng beernya dan meneguk setengah isinya.


Luna menerima air mineral itu lalu membukanya dan meneguk setengah isinya. "Zian, kau terlihat sedikit buruk. Apa kau baik-baik saja?" tanya Luna memastikan.


"Memangnya kenapa? Apa aku terlihat tidak baik-baik saja?" ucapnya datar. Melihat sosok Zian malam ini seolah-olah Luna seperti tidak mengenalinya lagi. Zian begitu dingin, sorot matanya tajam dan sedikit mengintimidasi.


"Hm, mungkin saja hanya perasaanku saja," ucapnya teraenyum.


"Nunna, aku bawahkan cemilan untukmu!" Simon datang sambil membawa beberapa bungkus makanan ringan yang kemudian Ia letakkan di atas meja.


"Tidak perlu repot-repot, lagi pula aku tidak lapar!" tukasnya.


Adrian mengambil satu bungkus kemudian membukanya. "Tidak baik menolak rejeki," katanya menyahut.


Luna mengangguk tipis "Oya, nun. Sepertinya kita belum berkenalan dari hati ke hati ya. Perkenalkan, aku Reno yang cerewet ini namanya Simon tapi kau bisa memanggilnya Momon.


Yang ini Adrian hyung, dia yang paling mesum di antara kita dan hobi mengoleksi video laknat. Dan yang terakhir adalah Zian hyung. Pasti kau sudah mengenalnya bukan. Dia memang yang paling tampan, tapi jangan tertipu karna dia memiliki sifat seperti kutub utara, dingin dan bermulut tajam!" tutur Reno panjang lebar.


Luna tersenyum tipis, ia tidak menyangka bila Zian memiliki teman-teman yang sangat unik. Aku Luna," kata Luna memperkenalkan diri.


Zian meneguk kembali beernya dan matanya menatap tidak suka pada tangan Luna yang sedang di genggaman oleh Reno.


Tanpa Zian sadari, diam-diam Simon memperhatikannya. Pemuda itu menyeringai tipis, sepertinya Simon sedang membaca gelagat Zian dan Ia mencium bau-bau kecemburuan dalam tatapan mata itu.


"Ngomong-ngomong di mana mahluk dua alam itu? Kenapa dia tidak ikut pulang bersama kalian?" tanya Zian saat tak melihat keberadaan Suhee alias Seho di antara teman-temannya.


"Hahaha. Kami meninggalkannya di bar, Hyung. Dia menjadi rebutan tiga pemuda aneh. Kami geli sendiri melihat kelakuan mereka dalam memperebutkan, Sunee nunna. Jadinya kami memutuskan untuk langsung pulang saja," ujar Simon memaparkan.


Zian meletakkan kaleng beernya di atas meja kemudian menghampiri Luna yang sedang asik mengobrol dengan teman-temannya. "Hujannya sudah mulai reda. Kau ingin tetap di sini tau pulang?" tanya Zian.


Sontak saja Luna mengangkat wajahnya dan menatap Zian. "Tentu saja pulang,"


"Kalau begitu aku akan mengantarkanmu. Tunggu sebentar," kemudian Zian beranjak dan pergi begitu saja.


Namun tak lama berselang pemuda itu kembali sambil membawa kunci motornya. Zian tetap memakai pakaian yang sama hanya menambahkan long vest hitam sebagai luaran t-shir lengan pendeknya.


"Ayo," Luna segera berdiri dan berpamitan pada teman-teman Zian. Dan keduanya pun berjalan beriringan menuju halaman


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2