Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 88 "Club Malam"


__ADS_3

Hingar bingar musik terdengar menghentak telinga. Gemerlap lampu khas klub malam terlihat jelas dan membuat pusing bagi siapapun yang tidak pernah datang ke sana. Para muda-mudi, baik itu pria maupun wanita terlihat asyik menggoyangkan tubuh mereka di dance floor menikmati dentuman musik yang di mainkan oleh DJ. Sementara yang sedang tidak berminat 'berolahraga' di dance floor, hanya menonton keriuhan itu dari bangku mereka, di temani minuman pesanan masing-masing yang tentu saja beralkohol.


Kerlap-kerlip lampu yang menyilaukan mata tidak sedikitpun menyurutkan niat para manusia itu untuk tidak menghabiskan waktunya disana. Bau alkohol tercium dengan sangat jelas di setiap penjuru tempat. Kepulan asap rokok pun pengganti oksigen di tempat itu.


Menemani lautan manusia yang menari dengan bebas, sembari memegang botol alkohol mereka. Tidak peduli jika sesekali mereka terdorong atau bahkan berdesak-desakan dengan yang lainnya. Para manusia bodoh yang mencoba melarikan diri dari masalah mereka di tempat seperti ini.


Tapi, itu bukanlah urusannya.


Wanita itu membenarkan kembali ikatan rambutnya yang agak miring dan mengambil wine-nya kemudian meminumnya dengan santai sembari menatap lautan manusia itu sekilas.


Dan sementara itu..


Tiga pria berparas rupawan baru saja menginjakkan kakinya di lantai club. Mereka menaiki tangga menuju lantai atas. Dibalik pintu coklat berpelitur elegan itulah terdapat sebuah bar dengan suasana yang lebih tenang.


Sinar lampu lebih terang dengan alunan musik jazz mengalun. Sofa-sofa merah tersusun rapi dengan meja kecil di tengahnya. Bar Stool hitam panjang tertata dengan kursi-kursi tinggi berjejer. Berbagai macam bentuk dan ukuran minuman beralkohol terpampang rapi di belakangnya.


Ruangan ini tampak lebih luas karena tidak terlalu penuh akan lautan manusia. Berbeda dengan ruangan di bawah.


Meski hampir semua kursi tampak penuh, namun tak seliar ruangan bar sebelumnya. Semua yang ada disini seperti orang-orang berkelas.


Ketiga pria tampan ini duduk di depan Bar Stool. Tampak sang bartender yang tengah membuat minuman, beralkohol tentunya. Sang bartender hanya seorang diri melayani puluhan pelanggan yang ada dalam ruangan ini.


"Boss, sudah lama kau tidak datang kemari?" kata sang bartender melihat kedatangan Nathan dan kedua temannya yang pastinya adalah Bima dan Max.


"Berikan seperti biasa untukku," pintanya dingin.


"Baik Boss,"


"Untuk kita berdua juga seperti biasa," kata Bima yang kemudian di balas anggukan oleh si bartender.


"Siap...,"

__ADS_1


Bartender itu mengambil beberapa alkohol seperti Dark Rum, Brandy, Bourbon Whiskey dan Champagne lalu menuangkannya ke dalam Shot Glass sebagai takaran. Dia mencampurkannya serta ditambahkan es batu, lemon dan ceri ke dalam gelas Brandy.


Chatham Artillery Punch. Salah satu cocktail yang diakui sebagai minuman berjenis punch terkuat sepanjang sejarah. Tak heran karena persentase alkohol tinggi dari berbagai jenis minuman keras yang dicampur dalam satu gelas.


Segera sang bartender menyajikannya pada Nathan. Warna jingga menghiasi gelas transparan tersebut bungsu Lu itu menyesap dengan nikmat.


Keberadaan Nathan di club tentu bukan tanpa alasan. Dia hanya mencoba melarikan diri dari semua hal yang terjadi. Luka kehilangan Viona masih begitu membekas dihatinya. Meskipun lima bulan telah berlalu namun Nathan masih belum bisa merelakan kepergiannya. Rasa sesak yang menghimpit dadanya membuatnya sulit untuk bernafas.


Rasanya Nathan masih belum percaya bila Viona telah pergi dan meninggalkan dirinya untuk selamanya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, wanita itu pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan.


Nathan menutup matanya. Bayangan Viona saat tersenyum, saat cemberut dan saat menangis kembali memenuhi pikirannya. Pria itu meraih gelas cocktailnya lalu meneguk isinya hingga tandas tak tersisa.


Nathan meletakkan gelasnya yang telah kosong diatas Bar Stool hitam didepannya. "Berikan aku satu gelas Flaming Lamborghini!" pintanya dengan suara terlewat datar.


Sontak saja Bima dan Max mengangkat wajahnya, keduanya menatap Nathan dengan tatapan tak percaya. "Bocah, kau yakin?" tanya Max memastikan.


Nathan menoleh, menatap pria yang terkenal dengan kemesumannya itu dengan pandangan datar. "Apa aku terlihat bercanda?" katanya dingin. Lirikan tak berminat Nathan berikan pada salah satu dari kedua sahabatnya itu.


"Carl, kenapa kau menyajikan minuman itu untuk manusia kutub ini?" tanya Bima. Nada khawatir sangat jelas disana.


Senyum menenangkan Carl berikan pada Bima dan Max. Meyakinkan jika semua akan baik-baik saja dan tidak akan ada hal serius yang menimpa Nathan. Tangan kanan Carl memegang gelas berisi campuran Baileys dan Blue Curacao yang dia buat untuk pria berkebangsaan China tersebut.


"Tenanglah, Hyung!! Minuman ini tidak akan membunuh Boss besar kok!!" kata Carl meyakinkan.


"Tapi---"


"Kalian tidak usah berlebihan, minuman semacam itu tidak akan membuatku mabuk apalagi membunuhku!" kata Nathan menegaskan.


Iris kanannya yang dingin menatap kedua sahabatnya secara bergantian, meyakinkan pada mereka jika ia akan baik-baik saja.


Glukkk!!!

__ADS_1


Bima dan Max menelan salivanya dengan sedikit bersusah payah. Mereka hanya bisa memandang kegilaan Nathan dengan pandangan cemas dan khawatir. Kini beberapa pelanggan yang hadir berkumpul dan mendekat untuk melihat Nathan yang sedang meminum Flaming Lambirghini-nya.


Dengan lihai dan secara perlahan, tangan putih Carl menuang cairan yang ada dalam gelas yang ia pegang kedalam Shot Glass yang tersusun. Api biru ikut menyambar cairan di dalam gelas tersebut dan membakar seluruh permukaan Shot Glass tersebut.


Dan aksi gila Natham membuat beberapa pelanggan terpukau, tak menyangka jika ada orang yang mampu meminum... minuman itu tanpa beban. Dan parahnya lagi, Nathan meminum cairan itu tanpa sedotan yang telah Carl siapkan. Kegilaan Nathab membuat Bima dan Max menggelengkan kepalanya. Cairan itu mulai memasuki kerongkongannya.


Sensasi panas dan terbakar luar biasa menggerogoti kerongkongannya. Kadar alkohol yang tinggi begitu terasa, jika orang biasa mungkin akan langsung mabuk tapi Nathan tidak. Pria itu tetap terlihat baik-baik saja.


"Kau benar-benar gila," pekik Max dan Bima secara bersamaan. Nathan mendecih dan hanya menatap keduanya datar.


"APA KALIAN INGIN YANG LEBIH?"


Degg...


Nathan tersentak mendengar suara yang begitu familiar masuk dan berkaur di dalam telinganya. Lantas pria itu berdiri dari duduknya, mata kanannya membelalak dan tubuhnya terpaku ketika iris coklat jernihnya menangkap sesuatu yang mampu membuat waktu serasa berhenti berputar detik itu juga.


"Viona," Nathan berkata lirih.


Carl, si bartebder itu tersenyum tipis. "Ada apa Boss? Apa kau tertarik pada wanita itu? Namanya Ellena Kim, dia adalah pelanggan juga DJ suka rela di club ini. Dan club semakin rame sejak kedatangannya. Jika Boss setuju, aku akan memperkenalkannya padamu," ujar Carl panjang lebar.


Namun tidak ada tanggapan dari Nathan. Nathan memperhatikan DJ itu dari ujung rambut dari ujung kaki. Meskipun wajahnya dan Viona bak pinang di belah dua, namun banyak sekali yang berbeda di antara mereka termasuk penampilan dan warna rambutnya. Dan hal itu membuat Nathan berfikir jika wanita itu bukanlah Viona-nya, dan lagi pula mana mungkin dia Viona, karna dengan tangannya sendiri Nathan membopong jasadnya dari Sungai Han.


Dada Nathan tiba-tiba bergemuru hebat saat melihat senyum yang tersungging dibibir DJ itu. Senyumnya begitu familiar dan tidak asing baginya. DJ itu tiba-tiba saja menoleh, membuat pandangannya dan Nathan bertemu. DJ sexy itu kembali menyunggingkan senyum tipis dibibirnya sambil menggerling nakal kearahnya.


Sekali lagi Nathan menggeleng. "Tidak, dia bukan Viona," ucapnya membatin.


Tanpa sepatah kata pun Nathan meninggalkan club termasuk Bima dan Max yang saat ini sedang di manjakan oleh dua wanita Rusia favorite mereka. Dan sebelum pergi tak lupa Nathan meninggalkan beberala lembar uang untuk membayar minumannya.


-


Bersambung."

__ADS_1


__ADS_2