Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 14) "Air Mata dan Kepedihan Hati Luna"


__ADS_3

DEG...


Luna menghentikan langkahnya saat dia tiba-tiba merasakan perasaan yang tidak enak. Entah kenapa dia merasa jika sesuatu yang buruk sedang terjadi pada papanya.


Luna bangkit dari duduknya dan pergi menemui Zian di kamarnya. Katakan saja yang dia lakukan gila dan terkesan berani, karna Luna sudah seenaknya masuk ke dalam kamar orang lain tanpa ijin apalagi itu laki-laki. Tapi Luna tidak memiliki pilihan lain, situasinya sangat mendesak.


"Aahhh,"


Luna menjerit dan buru-buru berbalik badan ketika masuk ke dalam kamar Zian dan mendapati pemuda itu tengah bertelanjang dada. Zian mendengus, tangan kanannya terulur ke samping untuk mengambil kemeja lengan terbuka dan kemudian memakainya.


"Ada apa?" tanya Zian to the poin.


"Zian, bisakah kau mengantarku pulang ke rumah, papa.Tiba-tiba perasaanku tidak enak, aku takut jika hal buruk sampai menimpa papaku. Zian, aku mohon," Luna menggenggam tangan Zian dan menatapnya dengan tatapan memohon. Kedua matanya bahkan tampak berkaca-kaca.


"Ambil mantel hangatmu dan tunggu di luar," pinta Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


Zian menyambar kunci motor dan jaket kulitnya kemudian menghampiri Luna yang sedang menunggunya di luar. Terlihat jelas dari raut wajahnya jika gadis itu dalam keadaan panik. "Ayo," Zian meraih pergelangan tangan Luna, dan keduanya berjalan beriringan menuju halaman.


Motor sport milik Zian melaju kencang pada jalanan yang legang. Jika biasanya Luna akan berteriak dan melayangkan protesnya ketika seseorang membawanya mengebut, maka tidak kali ini. Bahkan dia tidak bersuara sedikit pun, pikirannya kacau sehingga Luna tidak bisa berfikir dengan jernih.


Dan setelah berkendara kurang dari dua puluh menit. Mereka tiba di kediaman keluarga Leonil. Luna melihat mobil papanya terparkir di halaman dan pintu rumah terbuka lebar.


Luna segera turun dari atas motir Zian dan berlari ke dalam. Kedua mata Luna membelalak setibanya di dalam dan mendapati tubuh tuan Leonil terkapar bersimbah darah di lantai.


"PAPA!!!" jerit Luna histeris.


Brugg...!


Nyaris saja tubuh Luna menghantam lantai jika saja Zian tidak menahannya tepat waktu. Zian terkejut, kedua matanya membelalak sempurna melihat ayah Luna yang terkapar di lantai bersimbah darah. Kemudian Zian membaringkan Luna yang sedang tak sadarkan diri di sofa. Pemuda itu segera menghubungi Viona.


"Luna," Zian berseru setelah melihat pergerakkan pada gadis itu. Zian membantunya untuk duduk.


Bagaikan terhantam batu besar, Luna merasakan sakit yang luar bisa mendera kepala bagian belakangnya. Dadanya terasa sesak, nafasnya tercekat. Tenggorokannya terasa kaku hingga Ia tak mampu untuk merangkai kata-kata.


Langkah kakinya tertatih-tahih, Ia seakan-akan kehilangan seluruh sel-sel tulangnya. Bahkan kedua kakinya tak mampu lagi untuk menopang berat tubuhnya sendiri. "Papa," lirih Luna dengan berderai air mata. Luna memghampiri tuan Leonil dan memeluk erat tubuh yang telah tak bernyawa itu.


"PAPA!!!"


-


Langit tak secerah biasanya, mendung dan awan hitam mengulung di ujung cakrawala.


Angin musim panas menerbangkan helai dedaunan berwarna kuning kecoklatan di area pemakaman.


Gadis itu masih enggan beranjak dari tempatnya berdiri, pandangannya kosong. Wajahnya basah dan matanya berkaca-kaca menatap gundukan tanah basah di hadapannya.


Luna tidak menyangka bila ayahnya akan pergi secepat ini. Dan semua yang terjadi bagaikan mimpi di siang bolonh, karna baru kemarin siang Luna mengobrol dengan ayahnya dan ia sangat bahagia saat mengetahui jika tuan Leonil akan segera pulang. Dan mimpi buruk itu pun terjadi.


Luna tidak percaya jika secepat itu maut akan menjemputnya. Menyakitkan memang, namun Luna tetap harus menerima kenyataan pahit yang kini menimpa hidupnya.


"Papa," lirih Luna masih terisak.


Kematian pasti akan menghampiri siapa pun, di mana pun dan kapan pun termasuk orang yang paling kuat sekalipun.

__ADS_1


Tidak ada yang bisa memprediksi kapan kematian itu akan datang. Entah itu hari ini, esok, lusa atau kapan pun juga.


Kematian bagaikan benda trasparan yang mengikuti setiap jejak kaki manusia kapanpun dan kemanapun mereka melangkah, dan kematian selalu menunggu waktu yang tepat untuk menjemput mereka yang telah kehabisan waktu di dunia.


Sudah banyak manusia di dunia ini yang mati, hingga tidak terhitung lagi jumlahnya saking banyaknya. Dan sebagian besar kematian mereka tidak wajar atau karna di sebabkan oleh manusia lainnya, yaitu dengan cara membunuh dengan beragam cara dan motifnya. Sampai cara yang kejam dan tragis tak luput dari perhatian.


Korea tengah berduka, salah satu dokter terbaiknya telah pergi untuk selama-lamanya.


Di bawah nisan dan gundukan tanah itu telah terkubur jasad seorang pria bertangan dingin, dan berkat tangan dinginnya banyak nyawa manusia yang berharga berhasil diselamatkan.


Menyisahkan luka mendalam di hati orang yang telah di tinggalkannya, terutama putri bungsunya yang saat ini tengah menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Viona.


Banyak orang berdatangan untuk menghantarkan kepergiannya dan memberikan penghormatan terakhirnya. 'Leonil Albert' nama itu terukir jelas di atas batu nisan membuat isak tangis yang terdengar begitu pilu dari orang-orang yang dagang melayat, menghantarkan sang dokter menuju tempat peristirahatan terakhirnya.


"Papa, kenapa kau harus pergi secepat ini? Papa, kenapa harus meninggalkanku? Bukankah Papa sudah berjanji akan mendampingiku sampai tua. Kenapa Papa begitu tega padaku? Hiks," ujar Luna di tengah isaknnya.


Viona pun tak kuasa menahan air matanya. Dia sungguh merasa sesak melihat keadaan Luna saat ini. Luna yang biasanya ceria kini terlihat rapuh. "Luna, kuatkan dirimu, Sayang. Eonni, memahami betul apa yang kau rasakan saat ini."


"Hiks, kenapa Eonni? Kenapa, Papa harus pergi? Aku tidak siap, Eonni. Aku tidak siap kehilangan Papa. PAPA...." Jerit Luna histeris


Luna menangis sejadi-jadinya, membuat sosok pemuda yang berdiri tak jauh darinya merasakan kepiluan yang saat ini di rasakan oleh gadis itu.


Semua orang yang hadir dalam acara pemakaman itu hanya bisa diam sambil menatap gadis itu dengan iba, ayahnya meninggalkan gadis malang itu di dunia yang begitu kejam ini.


Luna sungguh tidak pernah menyangka bila sang ayah juga akan pergi meninggalkannya. Bagaikan tersambar petir di tering siang, hati Luna hancur berkeling-keping. Semua kebahagian dalam hidupnya lenyap bersama kepergian sang ayah, yang hanya menyisahkan luka mendalam di hati Luna.


Langit pun ikut menangis, tetesan-tetesan air hujan mulai berjatuhan dan turun menguyur di area pemakaman. Membuat para pelayat berhamburan pergi, menyisahkan beberapa orang saja yang masih bertahan di sana. Membiarkan tubuhnya basah terguyur derasnya air hujan.


Hans beranjak dan menghampiri putri bungsunya. "Luna, kuatkan dirimu, Nak. Dokter Leonil, pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini. Ayah tau ini sangat menyakitkan dan berat untukmu, tapi kau tidak boleh lemah. Kau harus tegar, di dunia ini kau tidak hanya sendiri. Masih ada Ayah, kakakmu, sahabat-sahabatmu dan semua orang yang menyayangimu. Kau masih memiliki kita semua, dan Ayah berjanji padamu. Ayah pasti akan menenukan pembunuh, dokter Leonil," tutur Hans panjang lebar.


Sesunggunnya Zian memahami apa yang saat ini di rasakan oleh Luna. Pria itu mendongakkan kepalanya menahan agar cairan kristal yang sejak tadi tertahan di pelupuk matanya agar tidak sampai menetes.


Helaan nafas panjang meluncur begitu saja dari bibir Zian, pemuda itu menelisikkan pandangannya kesegala penjuru arah memperhatian semua pelayat yang datang. Tampak sebagian besar dari mereka yang menangis, sebagian lagi berusaha untuk tegar meskipun sesungguhnya mereka juga kehilangan.


Dan saat itu juga manik kelam abu-abu milik Zian menangkap dua sosok pria dan wanita berdiri di bawah sebuah pohon besar yang tak jauh dari pemakaman. Zian mengenali mereka. Mereka berdua adalah kakak angkat Luna serta calon istrinya, Miranda.


Dan yang menjadi pertanyaannya, kenapa Dean tidak menghadiri pemakaman ayahnya sendiri? Dan mungkinkah kematian dokter Leonil ada hubungannya dengan mereka berdua? Tidak, Zian tidak akan tinggal diam. Dia akan menyelidiki masalah ini. Dan Zian tidak akan tinggal diam jika mereka berdua memang terlibat.


Zian mengalihkan pandangannya dari dua sosok itu yang mulai melangkah pergi pada Luna. Gadis itu tidak henti-hentinya menitihkan air matanya. Luna meremas pakaian Viona tanpa peduli jika kain berharga mahal itu akan kusut karna ulahnya.


"PAPA!!!" Jerit Luna untuk yang kesekian kalinya, meluapkan segala rasa sesak yang ada di dalam hatinya. Sebelum akhirnya Ia jatuh pingsan di dalam dekapan hangat Viona.


"Luna...!!" Jerit Viona melihat apa yang terjadi pada adiknya..


Zian segera berlari menghampiri Luna yang berada sekitar 4 meter dari tempatnya di ikuti trio kadal dan teman-teman Zian. "Luna, Sayang. Hei, bangun, jebal buka matamu. Jangan membuat Eonni takut. Luna, bangun" pinta Zian sambil menepuk ringan pipi Luna dan mengguncang tubuhnya.


"Sepertinya dia sangat kelelahan, lebih baik kita bawah dia pulang." ucap Nathan dan di balas anggukan oleh Viona.


"Baiklah."


"Biar aku saja yang membopongnya," Zian mengangkat Luna bridal style dan membawanya keluar meninggalkan area pemakaman.


.

__ADS_1


.


Zian masih tetap menggenggam tangan Luna dan menemani di sampingnya. Sudah lebih dari 2 jam gadis itu tak sadarkan diri, dan selama itu pula Zian tak sedikit pun tak beranjak dari tempatnya apalagi meninggalkan gadis itu yang masih terbaring tak sadarkan diri.


Saat ini mereka berada di rumah pribadinya, Zian sengaja membawa Luna ketempat tinggalnya, dan bukan tanpa alsan dan pertimbangan.


Zian berfikir jika untuk sementara akan lebih baik bila gadis itu tinggal di tempat lain. Karna jika Ia kembali ke rumahnya atau rumah Nathan, itu hanya akan membuka luka dalam hati Luna dan membuat gadis itu semakin bersedih karna mengingat kepergian ayahnya yang telah meninggalkannya.


Terlebih lagi banyak kenangan indah yang telah Luna lewati bersama sang ayah. Sebelumnya Zian telah membicarakan hal ini bersama Viona dan Nathan. Dan mereka setuju dengan usul Zian, karna menurut mereka itulah satu-satunya pilihan terbaik untuk Luna saat ini. Karna hanya di rumah Zian tak ada kenangan antara Luna dan ayah angkatnya.


"Apa dia masih belum sadarkan diri?" tegur Viona seraya berjalan menghampiri Zian di ikuti trio kadal yang berjalan di sampingnya.


"Sepertinya dia begitu tertekan dan syok dengan peristiwa yang baru saja terjadi, pasti perasaannya sangat hancur setelah kehilangan dan di tinggalkan oleh orang yang sangat dia sayangi." ujar Zian.


"Kasian sekali, Luna Nunna. Pasti dia sangat sedih atas kepergian Dokter Leonil. Dia orang yang sangat baik, tapi kenapa dia harus pergi dengan cara yang tragis?" ujar Rio.


"Benar sekali. Dan aku sangat penasaran siapa yang sudah begitu kejam pada oranh sebaik, Dokter Leonil." Sahut Satya.


"Ngomong-ngomong aku tidak melihat Dean hyung tadi. Apa dia tidak tau jika ayahnya telah meninggal?" giliran Frans yang bersuara. Rio dan Satya menggeleng.


"Kami juga tidak tau"


"Zian, sebaiknya l kau makan malam dulu, biar kami saja yang bergantian menjaganya."


"Nanti saja, Nunna, aku masih belum lapar." balas Zian datar.


"Baiklah terserah kau saja, aku titip.Luna padamu. Mungkin si kembar sudah lapar, aku harus memberi asi pada mereka." Zian menatap Viona kemudian mengangguk.


"Hyung, kami lapar. Tidak apa-apa bukan jika kami keluar dulu?" tanya Frans yang kemudian di balas anggukan oleh Zian.


Dan selepas kepergian trio kadal. Di dalam kamar itu hanya menyisahkan Zian dan Luna yang masih tak sadarkan diri.


"Papa... Papa... Jangan pergi, Papa... Aku mohon jangan tinggalkan aku. PAPA!!" jerit Luna seraya bangun dari berbaringnya.


Gadis itu baru saja sadar. "Luna, Seru Zian dan segera merengkuh tubuh Luna kedalam pekukannya.


"Hiks .. Hiks .. Hiks .. Papa," Isak Luna dalam pelukan Zian, isakannya terdengar begitu pilu. Membuat siapa pun akan ternyuh ketika mendengarnya. Dan Zian salah satunya.


Zian menghela nafas panjang, pemuda itu meletakkan dagunya di atas kepala Luna sambil memejamkan matanya.


"Keluarkan semuanya, Lun. Dan luapkan semua rasa sesak yang ada di dalam hatimu. Lepaskan semua bebanmu di atas bahuku, karna bahuku setiap saat siap untuk menampung semua kesedihan dan air matamu. Dan jadikan aku sebagai sandaran saat kau merasa kesepian dan butuh seseorang." Tutur Zian seraya mengusap punggung Luna dengan gerakan naik turun.


Luna tak memberikan respon apa-apa selain isakan yang keluar dari bibirnya.


Kemudian Zian melepaskan pelukannya pada tubuh Luna dan mengunci sepasang mutiara coklatnya, tangannya menggenggam telapak tangan Luna. Tangan kanannya Ia gunakan untuk mengusap kepalanya sampai ujung rambutnya.


"Zian, kenapa takdir begitu kejam, dan kenapa takdir selalu berlaku tidak adil padaku? Kenapa takdir selalu mengambil semua dari sisiku? Pertama mama, dan sekarang papa. Kenapa takdir tidak membiarkan aku merasakan bahagia sekali saja, kenapa?" tutur Luna dengan mata berkaca-kaca.


Luna memejamkan matanya, cairan-cairan kristal bening berjatuhan dari dalam pelupuknya yang kemudian turun dan membasahi wajah cantiknya. Yang awalnya hanya beberapa tetes saja, tapi semakin lama semakin tidak terhitung jumlahnya.


Zian benar-benar pedih melihat keadaan Luna saat ini, tak ada yang bisa Ia lakukan untuk menghibur gadis itu selain menenangkan Luna semampu yang Ia bisa.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2