Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 98 "Donor Mata"


__ADS_3

Nathan menghentikan mobilnya di Golden Caffe. Pagi ini dia berencana untuk bertemu dengan Tania Kim yang tak lain dan tak bukan adalah orang yang sudah menyelamatkan nyawa Viona dan membantunya selama ini.


Seorang pelayan menyambut kedatangan Nathan disana dan segera mengantarkannya menuju ruang VIP di mana Tania sudah menunggunya. Karna pertemuan mereka untuk membahas sesuatu yang penting, maka mereka membutuhkan sebuah privasi.


Tania lekas berdiri dan membungkuk singkat saat melihat kedatangan Nathan kemudian mempersilahkannya untuk duduk. Tak ada satu menu makanan apapun tersaji di atas meja, hanya ada secangkir Latte dan kopi hitam non gula karna Tania tau jika Nathan tidak menyukai minuman yang manis, Viona yang memberitaunya.


"Tuan Lu, ada hal penting apa sampai-sampai Anda mengajak saya bertemu?" tanya Tania penasaran.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada mata Viona? Apa kecelakaan yang menimpanya berakibat fatal untuk penglihatannya?" tanya Nathan meminta penjelasan.


"Jadi Anda sudah tau mengenai hal itu?" Nathan mengangguk. Tania menghela nafas berat. "Kecelakaan itu telah merusak syaraf pada kedua matanya. Dan Dokter bilang, dalam waktu 1 tahun Viona akan mengalami kebutaan jika dia tidak rajin memeriksakan kondisi matanya. Viona sangat susah di atur, dia tidak pernah mendengarkanku. Dia selalu terlambat memeriksa kondisi matanya, dan saat ini kondisi penghilahatannya semakin melemah." Sambung Tania menjelaskan.


Penjelasan Tania membuat Nathan terdiam. Persis seperti dugaannya, ternyara kedua mata Viona memang mengalami masalah. Dan nyaris saja Nathan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, Ia tidak menyangka bila hal semacam itu akan menimpa wanitanya.


Tiba-tiba saja Nathan merasakan kepalanya berdenyut sakit. Bagaikan terhantam bongkahan batu besar, Nathan merasakan sesak di dalam dadanya hingga membuatnya sulit untuk bisa bernafas. Nathan mengangkat kembali wajahnya dan menatap Tania dengan serius. "Lalu apakah masih ada cara untuk bisa menyembuhkan matanya?" tanya Nathan memastikan.


Tania mengangguk. "Ada, dan hanya itu satu-satunya cara yang kini miliki untuk bisa mengembalikan penglihatan Viona supaya bisa seperti sedia kala. Yakni dengan menemukan donor mata untuknya." Tutur Tania.


"Donor mata?" Nathan mengulangi kalimat Tania dan wanita itu mengangguk membenarkan.


"Benar, hanya dengan donor mata Viona bisa di sembuhkan." Jawabnya.


"Tapi di mana kita bisa menemukan donor mata yang cocok untuknya? Jelas itu tidaklah mudah," tukas Nathan, Tania menggeleng lemah.


"Aku juga tidak tau, karna sampai detik ini aku juga belum berhasil menemukannya,"


Nathan memejamkan mata kanannya dan menunduk lemah, Ia hancur mengetahui kenyataan pahit yang tengah di alami oleh istrinya. Bisa saja Nathan mendonorkan mata kanannya untuk wanita itu, tapi masalahnya tidak semua mata memiliki kecocokan yang sama.


"Jika kita tidak mendapatkan donor untuknya, biarka aku sendiri yang akan menjadi pendonor mata untuk Viona. Aku rela kehilangan mata kananku juga, tapi aku tidak rela melihat wanita yang sangat aku cintai menjadi buta." Ujar Nathan pelan.


"Saya tidak setuju dengan Anda Tuan Lu, bagaimana perasaan Viona jika dia sampai tau jika Andalah yang mendonorkan mata untuknya. Kita masih memiliki cukup waktu untuk bisa menemukan pendonor itu." Tania menentang keras rencana Nathan, Ia tidak ingin Viona kembali terluka dan bersedih jika Nathan sampai mendonokan mata untuknya.


Nathan mendesah berat. "Aku akan mengusahakannya dan menemukan donor mata untuknya. Maaf sudah mengganggu waktumu, Nyonya Kim. Aku permisi dulu," Nathan bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


Dan inilah saatnya menggunakan kekuasaannya untuk menemukan pendonor yang tepat bagi Viona. Dan apapun pasti akan Nathan lakukan untuk mencegah Viona menjadi buta.


-


Mega Kelam menyembunyikan sang mentari untuk menyinari bumi. Perlahan, rintik hujan menampakan pesona yang mengagumkan. Menciptakan deru melodi-melodi yang syahdu. Meniupkan kebekuan yang memabukan.


Hujan yang turun membasahi bumi. Menyirami setiap tumbuhan yang kehausan. Menyegarkan udara yang dipenuhi polusi. Menghentikan segala kesibukan. Di lain sisi, hujan memberikan keberuntungan pada sebagian orang. Disisi lainnya tidak bagi sebagian orang.


Dari balik jendela kamarnya, Viona memandangi gumpalan-gumpalan awan kelabu yang tengah bertahta di atas langit. Alih-alih kesal, bibir wanita itu justru kini tengah mengulum senyum tipis.


Memang sudah beberapa minggu musim panas menemani hari-hari Viona. Ia sering berharap hujan kesukaannya akan datang, bersedia memberinya atmosfer yang sudah sangat ia rindukan. Dan harapan itu menjadi kenyataan. Hujan benar-benar datang menyejukkan bumi.


Hujan yang mengguyur bumi akhirnya berangsur berhenti. Viona seketika menghirup dalam-dalam oksigen di sekitarnya. Oksigen yang paling ia suka. Oksigen yang bercampur aroma petrichor yang sangat khas.


Viona bangkit dari duduknya kemudian berdiri di balik jendela, sepasang hazel berlapis kaca mata itu menatap dunia kelabu di luar sana. Semburat jingga terlihat samar menggantung di kaki langit Seoul di penghujung hari. Aroma tanah yang basah bahkan masih menggantung di ujung hidungnya.


Siluet senja tergambar dengan jelas di langit. Goresan-goresan warna oranye bertaburan di langit sore kala itu setelah hujan dan mendung beranjak pergi.


Semakin lama semakin gelap. Senja menyambut malam dengan diiringi dinginnya hawa sorw ini selepas kepergian hujan, yang membuat kebanyakan orang menghangatkan diri mereka di depan perapian.


Di bawah langit senja, Viona menyandarkan tangannya disebuah besi pagar pembatas balkon kamarnya. Terlihat begitu menikmati suasana senja kali ini. Angin sore yang berhembus lirih menyapanya dengan membelai wajah dan rambutnya. Viona memejamkan mata, menikmati belaian dari sang bayu.


Hawa dingin rupanya tidak membuatnya bergeming dari tempatnya. Ia terus menatap senja. Dan perlahan Viona memejamkan matanya. Mengingat lagi memori yang ada di otaknya selama ini. Bahagia. Itulah yang dirasakannya saat ini.


Hingga kemudian, ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang. Merengkuh lembut, memberikan kehangatan disana. Memeluk dengan penuh rasa cinta.


Lantas Viona menoleh dan tersenyum lembut. Ia merasakan sesuatu yang menempel di punggungnya sedikit bergerak. Dan kini ia berbalik. Kedua telapak tangannya diletakkan di kedua pipi seseorang yang memeluknya.


Mata yang biasanya terlihat tajam dan berbahaya itu menatap sepasang hazel milik Viona dengan lembut. Memandangnya dengan penuh rasa cinta dan sayang. Ia mengecup bibir manusia yang ada di depannya.

__ADS_1


"Oppa, kau pergi ke mana saja seharian ini? Kenapa ponselmu sulit sekali dihubungi?" Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan dan menatap mata kanannya penuh rasa rindu.


Nathan mencium singkat bibir ranum Viona yang selalu terlihat memabukkan dimatanya. "Aku ada urusan penting, maaf tidak sempat menghububgimu,"


"Aku merindukanmu," kata Viona sambil menyandarkan kepala coklatnya pada dada bidang Nathan dengan manja. "Apa kau merindukanku juga?" Viona mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam manik kanan milik Nathan.


Nathan kembali mengecup bibir ranum itu untuk yang ketiga kalinya. "Bahkan aku selalu merindukanmu sepanjang waktu," jawabnya tersenyum.


"Aku sangat kedinginan, bisakah kita melakukannya? Aku ingin malam ini kau memasukiku lagi," ucapnya tanpa melepaskan kontak matanya.


Kemudian Nathan mengangkat tubuh Viona Bridal Styel kemudian membaringkannya di atas tempat tidur. "Dengan senang hati, Sayang. Dan setelah ini aku akan membuatmu menyeruhkan namaku secara terus menerus,"


.


.


.


Usai melakukannya. Viona langsung pergi ke dapur untuk membuatkan Nathan makan malam. Nathan harus menunda jam makan malamnya selama dua jam demi memuaskan hasrat istri tercintanya. Dan permainan Nathan yang liar membuat Viona harus merelakan jalannya yang sedikit mengangkang.


Setelah lebih dari tiga puluh menit. Sedikitnya tiga menu berbeda telah tersusun di atas meja.


Dan sosok Nathan terlihat menuruni tangga. Pria itu terlihat lebih fress dari sebelumnya setelah mandi dan mengganti pakaiannya. Sebuah celana bahan hitam dan kemeja gelap tanpa lengan. Dan rona merah seketika menghiasi pipi Viona melihat bagaimana tampannya Nathan saat ini.


"Oppa, maaf hanya ini yang bisa aku masak malam ini,"


"Tidak masalah, dan ini sudah lebih dari cukup untuk makan malam. Dan kenapa kau tidak ikut makan juga?" tanya Nathan.


"Aku masih kenyang, jadi kau makan sendiri saja. Aku akan di sini sampai kau selesai,"


"Baiklah,"


-


"Katakan siapa yang menyuruh kalian dan untuk apa kalian datang ketempat ini?" Kai mencoba berbicara pada kedua pria itu.


....


Hampa. Keduanya tidak memberikan jawaban apa-apa, mereka hanya diam seraya menatap James nyalang. "YAKK APA KALIAN BERDUA TULI EO? CEPAT JAWAB." Bentak Kai penuh emosi.


"Tahan emosimu Kai." James mengangkat tangannya dan mengarahkan pada Kai, pria berkulit tan itu mendesah seraya memutar bola matanya jengah.


"Menghadapi orang seperti mereka tidak perlu dengan kesabaran Hyung." Ucap Tao yang sependapat dengan Kai.


"Benar apa kata Paman hitam dan Paman Panda itu, Paman. Orang seperti mereka tidak pantas di sabarin, pantasnya langsung di lempar saja kedalam kolam Buaya." Sahut Rio yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, bersandar sambil menikmati snak yang ada di tangannya.


"YAKK. BOCAH IBLIS!!" Pekik Kai dan Tao tertahan. Keduanya menatap Rio tajam.


"Paman, Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Rio menatap keduanya secara bergantian. Tao dan Kai memutar bola matanya malas, meladeni Rio maka sama saja kekenakannya dengan pemuda itu. Dan keduanya memilih mengalah dan tidak melanjutkan perdebatannya dengan Rio.


"Lalu baiknya kita apakan kedua pria ini, Hyung? Mereka benar-benar sudah menguji kesabaranku." Ucap Kai geram.


"Aku akan mencoba berbicara lagi dengan mereka." Jawab James.


James yang memang paling bijak di antara yang lainnya dan bertindak dengan menggunakan pertimbangan, tidak mungkin asal bertindak. Ia akan memberi 1 kali kesempatan pada kedua orang itu untuk bicara. "Sekarang katakan, apa tujuan kalian datang kemari dan siapa yang menyuruh kalian berdua?"


...


Hampa. Lagi-lagi mereka berdua tidak mau membuka mulutnya. Mereka tetap diam seperti orang bisu.


"Astaga, sebenarnya kau ini punya MULUT TIDAK?" Bentak Kai yang kembali terpancing emosi.


Bruggg ,, !!! ,,

__ADS_1


Dengan kasar Kai mendorong tubuh pria itu hingga membuat dia tersungkur, Kai mengeluarkan senjata yang ada di balik pakaian yang Ia kenakan dan menggarahkan kekepala pria tersebut.


"Mungkin Hyungku bisa bersikap sabar pada kalian berdua, tapi itu tidak berlaku untukku. Katakan jika tidak ingin timah panas ini menembus kepala kalian berdua."


....


Karna tetap tidak ada jawaban, Kai benar-benar merasa geram. Pemuda itu melepaskan tembakannya ke udara sebagai tanpa peringatan darinya. Melihat Kai yang tidak main-main dengan ucapannya membuat sekujur tubuh kedua pria itu berpeluh, mereka gemetar ketakutan. Meskipun demikian, mereka tetap tidak mau membuka mulutnya apalagi bersuara.


Satya yang merasakan ada keanehan pada kedua orang itu segera menghampirinya. Pemuda itu memperhatikan keduanya dengan seksama, Satya memegang wajahnya dan sedikit mengerakkan dagunya. Dan apa yang dia lakukan menimbulkan pertanyaan di benak yang lain.


"Hei, Bocah! Sebebarnya apa yang kau lakukan?" Tanya Tao meminta penjelasan.


"Hyung apa kalian tidak melihat ada keanehan pada kedua pria ini?" Satya menoleh dan menatap ke 3 pria itu secara bergantian.


"Maksudmu?" James mengerutkan dahinya dan menatap Satya penuh tanya.


"Aku rasa kedua orang ini bukannya tidak mau memberi taumu, tapi ada sesuatu yang memaksa mereka untuk tidak bersuara." Ujarnya.


"Benarkah?" James menghampiri Satya kemudian berdiri di sampingnya. James memegang rahang salah satu dari kedua pria itu dan memaksa mereka untuk membuka mulutnya."Ya Tuhan.??"


Dan James terkejut setengah mati saat melihat pria itu tidak memiliki lidah, lidahnya seperti telah di potong. Sementara Frans segera menutup matanya karna tidak sanggup melihatnya.


Kedua pria malang itu menunduk dalam, James mendesah panjang. "Aku sekarang paham kenapa kalian tidak mau bicara. Sekarang aku bertanya, apa kalian datang membawa pesan?" tanya James dengan nada setenang mungkin. Keduanya mengangguk cepat.


James memberi isyarat agar Tao segera melepaskan cengkramannya, pria itu menghampiri James dan memberikan sebuah kertas padanya. James menatap pria itu sejenak kemudian membuka kertas tersebut. "Sandora Lim ingin bertemu Boss siang besok. Jadi kalian utusan wanita bernama Sandora Lim?" Tanya James dan di balas anggukan oleh keduanya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan pada mereka Hyung?" Tanya Kai.


"Tahan mereka sampai Boss tiba, aku akan segera memberi tau Boss mengenai hal ini." Ucap James dan segera di balas anggukan oleh Kai.


" Baik Hyung,"


-


Nathan langsung pergi setelah mendapatkan telfon dari Kai yang mengatakan jika anak buahnya menemukan penyusup masuk ke dalam kantor dan mencuri beberapa file penting.


Saat ini penyusup itu tengah berada dalam pengawasan Kai, trio ajaib, Tao dan James.


Brakk...


Dobrakkan keras pada pintu nyaris saja membuat Kai dan beberapa pria di dalam ruangan gelap itu terlonjak nyaris terkena serangan jantung dadakan. Sosok Nathan yang diliputi amarah menghampiri dua pria yang tampak tak berdaya dengan luka nyaris disekujur tubuhnya.


Nathan melihat dua orang pria yang tak Ia kenal sama sekali berbaring di atas tempat tidur yang ada di dalam ruangan itu. Keduanya segera berdiri saat menyadari kedatangan Nathan di sana. Mereka berdua berdiri di sudut ruangan sambil menundukkan wajahnya.


"Apa mereka berdua orangnya?" Tanya Nathab dingin.


James mengangguk. "Benar Boss. Dan mereka berdua adalah orang-orang suruhan Sandora, kita sengaja menahannya karna ingin menunjukkan sesuatu padamu." Ujar James. Nathan langsung memberi kode pada Tao.


Tao menghampiri kedua pria itu kemudian meminta salah satu dari mereka untuk membuka mulutnya "Buka mulutmu."


Nathan langsung memejamkan mata kanannya saat melihat keadaan lidah pria itu. Luka bekas pemotongnya masih tampak basah. "Tutup kembali mulutmu." Pinta Nathan dingin. " Apa yang terjadi pada mereka berdua?? Lalu siapa yang memotong lidahnya?" Nathan menatap James, Kai dan Tao secara bergantian.


"Tentu saja Iblis itu, memangnya siapa lagi yang tega melakukan tindakan sekeji itu selain dia." Sahut seseorang dari arah belakang.


Ke 4 nya menoleh pada sumber suara. Terlihat Satya, Frans dan Rio berdiri di ambang pintu. "Kenapa kalian ada di sini?" tanya Nathan pada ketiga pemuda itu.


"Kami habis kena omelan Mama, Paman. Dia mengomeli kami habis-habisan jadi malam ini kami akan bermalam di sini saja," ujar Rio memaparkan.


Nathan mendesah berat. Mengabaikan mereka bertiga, kembali Nathan fokus pada dua pria malang tersebut. "Kai, Tao segera bawa mereka ke rumah sakit. Mereka membutuhkan perawatan, tapi tetap awasi mereka." Ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Kai.


"Baik Boss,"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2