Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 4) "Gadis Barbar"


__ADS_3

Dua orang sahabat baru saja meninggalkan pusat perbelanjaan. Di kedua tangan mereka penuh dengan berbagai jenis barang bermerek yang baru saja mereka bodong beberapa saat yang lalu.


Mall sedang mengadakan diskon besar-besaran dan tentu saja mereka tak ingin melewatkannya. Luna membuka pintu mobilnya dan memasukkan semua belanjaannya begitu pula dengan gadis disampingnya.


Sretttt ... !!! ...


"YAKKKK .. !!! ..


Luna tiba-tiba berteriak saat menyadari seseorang telah merampas tasnya dengan paksa dan membawanya lari.


Tanpa membuang banyak waktu Luna segera mengejar orang itu. Ia tidak memikirkan apa pun bahkan sahabatnya sendiri pun tidak Ia fikirkan, yang ada di kepalanya adalah cara mendapatkan tasnya kembali. Orang itu berlari ke arah taman.


"Luna, tunggu aku!!" teriaknya keras.


Seakan tuli, Luna terus berlari dan menghiraukan teriakan Irene yang terus memanggilnya. Irene menyambar tasnya dan bergegas mengejar Luna yang sudah semakin menjauh, namun Irene sedikit kesulitan karna hils tinggi yang membalut kakinya. Dengan kesal, Irene melepas sepatu itu dan lari tanpa alas kaki.


"Yakk!! Leonil Luna, tunggu aku!!" teriak Irene untuk yang kedua kalinya. Namun tetap di hiraukan oleh Luna. Gadis itu tidak menyerah dan terus mengejar Luna yang semakin menjauh. "Luna!! Tunggu!!" Teriaknya lagi.


"Irene!! Cepat jangan lelet, kita bisa kehilangan jejak pejambret itu." Seru Luna menyahut.


Luna melirik sekilas kearah pagar, Ia berfikir jika bisa melewati pagar itu. Pasti Ia akan bisa mengejar penjambret tersebut karna pagar itu adalah satu-satunya jalan pintas.


"Lun, jangan bilang jika kau mau melompati pagar itu?" tebak Irene seolah mengerti apa yang tengah difikirkan oleh sahabatnya tersebut.


Luna menoleh dan menatap Irens. "Aku tidak memiliki pilihan. Karna hanya pagar ini satu-satunya akses terdekat untuk menghadang langkah penjambret sialan itu," tuturnya.


Tanpa banyak berfikir, Luna segera mengambil ancang-ancang dan..


Bruggg ... !!! ...


Luna melompati pagar itu dan berhasil, kedua kakinya mendarat dengan mulus di atas rerumputan. Dan saat ini Luna sudah berada di taman. Untung saat itu suasana di sana cukup sepi hingga tidak ada seorang pun yang melihat aksi gila Luna kecuali Irene.


Sungguh, Irene tak habis pikir dengan sahabatnya itu. Luna memang terlalu barbar. Daripada disebut nekat, Luna lebih pantas di sebut gila.


Dan gadis itu menarik sudut bibirnya ketika melihat keberadaan jambret tersebut, menciptakan smrik tipis terlukis di wajah cantiknya.


"Jangan pernah panggil aku, Leonil Luna jika aku tidak bisa mendapatkan tas itu kembali." Ujar Luna pada diri sendiri.


"Kau mendapatkan pejambret itu?" tanya Irene dengah nafas terengah-engah. Irene harus berjalan memutar karna dia tidak segila Luna.


Luna menoleh dan menatap Irene sekilas."Belum, tapi sebentar lagi pasti dapat." Balasnya penuh percaya diri.


Luna menoleh dan mendapati penjambret itu berhenti di tempat sepi yang sedikit gelap.


Luna menyipitkan matanya, orang itu membuka tas miliknya dan mengeluarkan dompet berwarna biru tua dari dalam tas tersebut. Dompet itu dia kembalikan kedalam tas lalu menciumnya, Ia menengok sekitar.


Setelah di rasa aman, Ia berjalan biasa saja. Tas itu Ia masukkan kedalam pakiannya agar tidak ada orang yang mencurigainya.


"Bajingan itu!!" Geram Luna dan segera menghampirinya.


"Luna, tunggu," seru Irene.


Dan teriakkan Irene langsung menyita perhatian orang itu, kedua matanya terbelalak seketika saat melihat Luna yang masih mengejarnya. Pria itu pun segera berlari.


"Yakkk!! Penjambret sialan jangan lari kau." Teriak Luna lantang.


Suaranya yang tinggi dan melengking menyita perhatian seorang pria muda dengan style serampangannya yang sedang duduk di salah satu bangku taman seorang diri.


Laki-laki itu lantas menoleh pada sumber suara, keadaan yang sangat gelap membuat orang itu tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan jelas. Hanya dua sosok gadis yang sedang kejar-kejaran yang Ia lihat, sedangkan jambret itu tidak terlihat karna warna pakaian yang melekat di tubuhnya senada dengan suasana malam itu, gelap.


"Yakkk!! Luna, tunggu aku." Teriak Irene lagi.


Luna mendengus kesal. "Irene, cepat, aku harus segera mendapatkan tasku kembali." Balas Luna menyahut.


Orang itu menggeleng tipis melihat tingkah Luna dan Irene yang seperti anak kecil. " Dasar kekanakan." Gumamnya pelan.


Kedua gadis itu semakin mendekat, pria muda itu yang tak lain dan tak bukan adalah Zian memiringkan kepalanya dan menyipitkan matanya, sampai salah satu dari kedua gadis itu berada di tempat yang sedikit bercahaya hingga Zian bisa melihat dengan jelas wajahnya.


"Luna," gumamnya pelan.


"Hei. Tuan yang berdiri di sana, tolong hentikan pria itu. Dia adalah seorang jambret." Teriak Luna dengan lantang.

__ADS_1


Dan teriakan keras Luna segera menyadarkan Zian, dan Ia baru saja sadar jika ada orang lain dan orang itu seorang pria. Pria itu berlari kearahnya, Zian memperhatikan sekeliling dan melihat sebuah balok kayu ditanah.


Zian meninggalkan tempatnya untuk mengambil balok itu yang kemudian Ia lemparkan pada orang tersebut. Dan...


Bruggg .. !! ..


Balok itu menghantam kepala belakang pria itu dan membuat tubuhnya tumbang seketika. Zian menghampiri pria itu kemudian mengambil tas milik Luna dari tangannya. Dan entah sejak kapan Luna dan Irene sudah berdiri di belakang Zian


Zian berbalik lalu mengembalikannya pada Luna. "Ini tasmu," ucapnya. Kedua mata Luna membelalak setelah melihat siapa gerangan yang berdiri menjung di hadapannya tersebut.


"Zian!!"


.


.


Keheningan menyelimuti kebersamaan Luna dan Zian. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir keduanya. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan. Sesekali Zian menatap gadis di sampingnya begitu pula dengan Luna.


Banyak sekali yang berubah pada diri Luna, dia menjadi sangat cantik dan anggun, wajar bila Zian tidak langsung mengenalinya ketika dia melihatnya malam itu.


Luna yang dulu mendapatkan julukan kaca mata kini menjelma menjadi sosok gadis yang sangat cantik dan anggun. Tidak ada lagi kaca mata yang menghalangi kecantikannya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Luna memecah keheningan


Zian menoleh, membuat dua pasang mutiara berbeda warna milik mereka saling bersiborok. "Ya, begini-begini saja. Kau sendiri bagaimana?"


"Baik tidak baik. Aku menemukan keluarga kandungku setelah puluhan tahun, dan aku baru saja mengetahui jika sebenarnya aku terlahir kembar. Itu kabar baiknya. Sedangkan kabar buruknya, aku sedang patah hati. Pria yang aku cintai ternyata mencintai wanita lain,"


"Sungguh ironis,"


"Ya, begitulah. Lalu bagaimana kabar paman, bibi, Adrian oppa dan Shea eonni? Apa mereka baik-baik saja?"


"Shea dan Adrian baik-baik saja, tapi tidak dengan mama. Mama sedang sakit dan saat ini sedang berada di rumah sakit. Semalam Shea dan Adrian membawanya ke America untuk mendapatkan pengobatan. Keluargaku berantakan, Lun. Papa menikah lagi dan mencampakkan mama. Semua tidak lagi sama, Luna," ujar Zian panjang lebar.


"Dan apakah itu yang membuatmu berubah menjadi seperti ini? Jujur saja, Zian. Aku benar-benar tidak mengenalimu lagi,"


Zian tersenyum getir. "Jangankan kau, bahkan terkadang aku pun tidak bisa mengenali diriku sendiri," ucapnya sambil mengunci sepasang manik coklat milik Luna. "Akan turun hujan, sebaiknya aku antar kau pulang sekarang," ucap Zian seraya bangkit dari duduknya.


Zian mengulurkan tangannya yang kemudian di sambut oleh Luna. "Tidak perlu, aku membawa mobil kok,"


"Baiklah,"


.


.


"Jadi di sini kau tinggal?" Luna mengangguk. "Masuklah, sudah malam,"


"Kau tidak ingin mampir dulu? Aku akan memperkenalkanmu pada kakak dan kakak iparku, dan aku jamin kau akan sangat terkejut setelah bertemu dengannya,"


Zian menggeleng. "Lain kali saja, masuklah," pinta Zian sekali lagi. Luna masuk kembali ke dalam mobilnya. Gadis itu melambaikan tangannya pada Zian. Detik berikutnya mobil Luna hilang dari pandangan Zian.


Pemuda itu memakai kembali helmnya, dan dalam hitungan detik saja mobil sport mewah milik Zian melesat jauh meninggalkan kediaman Nathan.


"EONNI!! OPPA!! AKU PULANG!!" teriak Luna dengan lantang. Suaranya menggema, memenuhi di seluruh penjuru ruangan.


"Kau dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Viona seraya menjitak gemas kepala coklat Luna.


Luna mencerutkan bibirnya. "Eonni, berhentilah menjitak kepalaku, bagaimana kalau aku yang jenius ini jadi bodoh karna jitakkanmu," Luna mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Viona.


"Dasar kau ini, sudah malam. Sebaiknya segera tidur," Luna memeluk Viona dan pergi begitu saja.


Perhatian Viona sedikit teralihkan oleh decitan pada pintu. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat kedatangan Nathan. Nathan menarik tengkuk Viona dan mencium singkat bibirnya. "Apa mereka rewel lagi?" Viona menggeleng.


"Hari ini lumayan anteng. Sebaiknya Oppa mandi dulu, aku akan menyiapkan makan malam untukmu,"


Nathan menggeleng. "Tidak perlu, aku sudah makan malam. Sebaiknya kita tidur saja," Viona mengangguk.


"Baiklah,"


-

__ADS_1


Hingar bingar musik terdengar menghentak telinga. Gemerlap lampu khas klub malam terlihat jelas dan membuat pusing bagi yang tidak biasa melihatnya. Para muda-mudi, baik itu pria maupun wanita, terlihat asyik meliukkan tubuh mereka di dance floor, menikmati dentuman musik yang terputar.


Sementara yang sedang tidak berminat 'berolahraga' di dance floor, hanya menonton keriuhan itu dari bangku mereka, di temani minuman pesanan masing-masing yang, tentu saja, beralkohol.


"Hei, buaya darat!! Bagaimana kalau kau bertaruh denganku?" tantang Seho pada rekan satu gengnya yang tak lain dan tak bukan adalah Adrian. "Kau lihat wanita itu?" tunjuk Seho pada seorang wanita yang sedang duduk sendiri menikmati wine-nya.


"Tentu saja aku melihatnya, karna aku tidak buta!!" sinis Adrian setengah kesal.


"Jika kau bisa mendekati dan mendapatkan ciuman dari wanita itu, aku akan berdandan seperti perempuan selama 1 bulan penuh."


"Setuju."


"Adrian, tunggu dulu. Maksudku-"


"Bukankah kau sendiri yang memberiku penawaran, eh? Jadi aku anggap kau setuju."


Alih-alih ingin menunggu kalimat yang akan terlontar dari bibir Seho, Adrian malah meninggalkan pria itu yang bergeming sedikit pun dari tempatnya dan berjalan menuju meja tempat gadis yang di maksud oleh Seho berada.


"Oh no, sepertinya palayboy tengil itu benar-benar serius."


Pukkk..


Seho menolehkan kepala saat merasakan tepukan ringan pada bahunya. "Kau harus bersiap-siap, Hyung. Bukankah kau sendiri tau jika Adrian hyung adalah orang yang handal dalam segala hal. Apalagi itu menyangkut masalah wanita."


"Kau benar Mon, kenapa aku bisa ceroboh sekali dan memberikan tantangan semacam itu padanya, pasti playboy kampret itu akan mengerjaiku habis-habisan." Ujar Seho sambil mengacak kasar rambut hitamnya.


Seho tidak henti-hentinya merutuki kebodohannya karna telah memberikan tantangan semacam itu pada Adrian."Kita akan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya, kau atau Adrian yang akan menjadi wanita jadi-jadian selama 1 bulan penuh." Sahut Reno.


"Dan aku rasa kau yang akan kalah, Hyung." Kini giliran Simon yang bersuara, dan membuat Seho semakin frustasi.


"Entahlah."


Ke tiga pemuda itu berjalan beriringan menuju konter bar untuk memantau apa yang bisa Adrian dapatkan dari gadis yang menjadi bahan taruhannya dengan Seho. Dalam hatinya, Suleho tidak henti-hentinya berdoa supaya Adrian gagal dalam taruhan itu.


"OMOOOOO!! HYUNGG .. LOOKKKK!!"


Reno memekik sekencang-kencangnya saat melihat Adrian tengah berciuman dengan seorang gadis malam yang di ketahui bernama Sarah Kim. Di tengah aksinya, Adrian melemparkan tatapan penuh kemenangan pada Seho di iringi smrik tipis yang terlukis nyata di wajah tampannya.


"Mampus kau Kim Seho." Ucap Seho pada dirinya sendiri.


Sementara Simon dan Reno tertawa keras melihat tingkah Seho yang sudah seperti cacing kepanasan.


"Yakkk, kalian berdua, berhentilah menertawakanku. Apa kalian fikir ini lucu eo?" sungut Seho kesal.


"Kekeke .. Kau harus bersiap-siap Hyung, dan kau tidak perlu cemas. Kita berdua pasti akan membantumu, khususnya aku. Aku akan membantumu mengabadikan moment-moment langkah itu kok." Tutur Simon terkekeh dengan nada mengejek.


"Yakkkk kau!!"


"Hyung, setelah kau menjadi perempuan yang sangat cantik. Aku akan mengganti namamu dan memanggilmu Suhee Nunna." Imbuh Simon.


Rasanya Seho ingin menelan hidup-hidup kedua pemuda itu, Ia benar-benar di buat kesal oleh mereka berdua. Kini Seho menjadi bahan ejekan Simon dan Reno. Dan semua itu terjadi karna kebodohan serta kecerobohannya sendiri.


Perhatian keduanya terlaihkan oleh kedatangan Zian. "Buatkan aku seperti biasanya," seru Zian pada bartender yang sedang meracik minuman di depannya.


"Hyung, kau dari mana saja? Kenapa.baru sampai?"


"Mengantar teman," jawab Zian datar.


"Teman? Nuguya? Apakah seorang gadis? Tunggu, apakah teman yang kau maksud adalah nunna cantik yang kemarin? Omo,, omo.. Hyung, jangan bilang jika kau dan dia-"


"Berisik," sahut Zian dan membuat Simon bungkam seketika. Pemuda itu mencerutkan bibirnya. Zian memicingkan matanya melihat wajah kesal Seho. "Ada apa dengan mukamu itu, Hyung?" tanya Zian penasaran.


"Hahaha. Dia baru saja kalah taruhan dari Adrian, dan karna kekalahannya itu, Seho Hyung harus jadi wanita jadi-jadian selama satu bulan penuh. Hahaha, akan ada sebuah pertunjukkan yang begitu menghebohan di abad ini mulai besok pagi, Hyung. Hahaha,"


Zian mendesah berat. Lagi-lagi mereka melakukan hal konyol yang menggelikan. Terkadang Zian berfikir, kapan mereka bisa bersikap dewasa dan tidak terus-terusan seperti bocah.


-


Bersambung.


Makin hari novel ini makin sepi pembaca Like koment juga jauh banget dari harapan. Mungkin karna ceritanya kurang menarik makanya pada malas kasih like-koment kali ya.

__ADS_1


Padahal cuma like koment itu yang bisa bikin author semangat buat ngetik lanjutan ceritanya.


Dan untuk semua pembaca setia, author ucapin terimakasih sebanyak-banyaknya 🙏🙏 Tetap dukung author ya 🤗🤗🤗, Love you all 😘😘


__ADS_2