Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 20 "Cemburu Menguras Hati"


__ADS_3

Jalanan kota Seoul memang selalu padat ketika pagi ataupun ketika hari menjelang siang. Lalu lalang kendaraan pribadi dan umum sudah menjadi pemandangan umum bagi setiap warga yang tinggal di sana.


Di antara kendaraan-kendaraan mewah yang melaju memadati jalanan. Sosok pria tampan terlihat melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi.


Wajahnya terlihat datar, tidak banyak ekspresi dari wajah tampan itu. Hanya ekspresi dingin dan datar yang selalu Ia perlihatkan. Entah itu di hadapan teman, keluarga bahkan gadis yang sejak beberapa bulan lalu menjadi kekasihnya, pria itu selalu memasang ekspresi yang sama. Dingin dan datar. Dan hanya pada satu orang dia bisa bersikap berbeda.


Pria itu menghentikan laju mobilnya ketika melihat rambu-rambu lalu lintas berganti merah. Yang berarti para pengendara harus berhenti "Oppa, kita akan makan di mana?" tegur seorang darah jelita yang duduk nyaman disampingnya. Pria itu melirik sekilas gadis itu dari ekor matanya.


"Terserah," jawabnya singkat. Si gadis terlihat mencerutkan bibirnya, tidak puas dengan jawaban kekasihnya itu.


Pria itu menyapukan pandangannya dan mata coklatnya tidak sengaja bersiborok dengan sepasang mutiara hazel miliki seorang gadis yang tengah duduk nyaman di samping pria yang sedang mengemudikan mobil mewahnya. Pandangan pria itu tak lepas sedikit pun dari pemilik mata hazel itu, dan si pemilik mata tampak terkejut melihat keberadaannya.


Lalu pandangannya bergulir pada sosok lain yang duduk disamping kanannya. Gadis itu menatap tidak suka pada gadis bersurai hitam tersbut. Ada rasa perih mengiris hatinya melihat gadis itu menyandarkan kepalanya pada bahu pria tersebut dengan mesra. Tak ingin melihat pemandangan yang membuat sesak dadanya terlalu lama, akhirnya dia menaikkan kaca disamping kanannya.


Lampu berganti hijau, dan mobil tersebut melesat begitu saja mendahului mobil di samping kanannya. "Oppa, kau kenapa?"


"Diamlah, Park Cherly!! Dan sebaiknya jangan sembarangan menyenderkan kepalamu di bahuku!!" sinis pria itu yang pastinya adalah Nathan.


"Tapi kenapa, Oppa? Kita kan sepasang kekasih,"


Nathan menggulirkan tatapannya pada Cherly dan menatapnya dengan tatapan yang sama, dingin dan datar. "Sebaiknya jangan pernah mengharapkan lebih dari hubungan ini, karna sejak awal bukannya kau tau jika aku memang tidak pernah mencintaimu dan sampai kapan pun akan tetap sama!!" tegas Nathan dan membuat kedua tangan Cherly terkepal kuat.


Dia tidak tau lagi dengan cara apa mendapatkan hati Nathan. Berbagai cara sudah Cherly coba tapi tak satu pun ada yang berhasil. Hati Nathan begitu sulit untuk di raih.


Tubuh Cherly menegang seketika saat Nathan menambahkan kecepatan pada mobilnya. Mobil sport hitam itu menyalip beberapa kendaraan yang melaju di depannya termasuk mobil hitam yang di tumpangi oleh gadis bermata hazel tadi. Dan secepat kilat, mobil sport itu melesat jauh meninggalkan keramaian lalu lintas yang kemudian berhenti di sebuah cafe yang menjadi tempat favoritnya ketika menghabiskan waktu luangnya bersama teman-temannya.


Nathan terlihat turun dari mobilnya di ikuti oleh sosok gadis yang sejak tadi duduk di samping kanannya. "Kita makan di sini saja," ucap dingin pria itu yang kemudian di tanggapi dengan anggukan oleh Cherly.


Cherly memeluk lengan Nathan yang tertutup kain kemeja hitamnya. "Di mana saja asalkan Oppa yang menentukan, aku tidak keberatan!" jawabnya sambil tersenyum manis.


Nathan itu hanya menyikapi senyum manis kekasihnya itu dengan tatapan datarnya. Cherly kembali tersenyum dan memperlihatkan deretan gigi putihnya ketika pemuda itu menatapnya "Kita adalah sepasang kekasih , jadi hal semacam ini tidak mungkin di haramkan!"


Nathan menghela nafasnya. Cherly memang selalu memaksakan kehendaknya dan bertindak semaunya. "Tapi aku tidak suka jika kita terlalu intim seperti ini," sinis Nathan kemudian menurunkan tangan Cherly dari lengannya. Dan lagi-lagi gadis itu menggeram rendah, kesal karna lagi-lagi Nathan memperlakukan dirinya dengan dingin.


Gesekan ban mobil dan aspal parkiran mengalihkan perhatian keduanya, sepasang kekasih itu menoleh dan mendapati sebuah sedan hitam berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sedan hitam itu adalah sedan yang sama yang Nathan lihat saat di lampu merah tadi, tak lama setelahnya dua orang keluar dari mobil itu. Seorang pria dan seorang gadis cantik berparas jelita.


"Sayang, kita makan di sini saja ya. Bagaimana pun juga tempat ini adalah tempat yang penuh dengan kenangan kita. Ayo masuk," si pria merangkul bahu calon istrinya dengan mesra. Dan apa yang dia lakukan memancing amarah seseorang yang sedang memandang mereka dengan penuh intimidasi. Kedua tangannya terkepal kuat dan sorot matanya terlihat begitu berbaya.


"Bajing** itu!! Berani-beraninya dia menyentuh milikku!! Lihat dan tunggu saja, bagaimana aku akan merebut Viona darinya!!"


Baru saja Viona membalikkan tubuhnya dan hendak memasuki cafe tersebut, namun mata hazelnya tidak sengaja bersiborok dengan mata coklat milik Nathan. Lagi-lagi api cemburu membakar hatinya ketika melihat Cherly memeluk lengan Nathan dengan sangat manja. Dan terlihat Nathan yang berkali-kali menyentaknya, terlihat jelas dari raut wajahnya bila Nathan merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Sebaiknya kita bergegas, aku sudah lapar," ucap Viona dan pergi begitu saja.


"Sayang, tunggu!!"


-


Entah sebuah kebetulan atau memang takdir. Meja yang Viona pilih bersebelahan dengan meja yang di tempati oleh Nathan dan Cherly. Bukan karna Viona sengaja, karna hanya meja itu satu-satunya yang tersisa. Dan Ia tidak memiliki pilihan lain selain memilih meja itu.


"Oppa, apa yang sebenarnya kau lihat?" tegur Cherly pada Nathan yang sedari tadi sibuk melihat kerah lain dan tidak menghiraukan dirinya yang sedang berbicara padanya.


Nathan menoleh dan wajah kesal Cherly-lah yang tertangkap oleh mata coklatnya. Nathan menghela nafas panjang. "Hn, tidak ada," jawabnya datar.


Gadis itu menyodorkan sendoknya yang telah Ia isi makanan pada Nathan. "Oppa, cobalah makanan ini. Rasanya sangat lezat," Nathan mendorong sendok itu dan menolaknya, apa Cherly ingin membunuh Nathan. Nathan memiliki alergi pada segala macam jenis seafood.


Nathan menggulirkan pandangannya pada sisi kirinya, manik coklatnya menatap sisi wajah Viona. Mengamati ketika gadis itu menyantap makanannya dengan tenang. Nathan menarik sudut bibir dan mengurai senyuman setupis kertas. Namun senyum itu luntur begitu saja ketika melihat Leo mengulurkan tangannya dan jarinya menghapus saus yang ada di sudut bibir gadis itu.


Nathan merasa kesal melihat pemandangan itu. Hatinya seperti terbakar bara api. Dan jelas sekali terlihat jika dia tidak suka ketika tangan Leo menyentuh bibir Viona.


Krakkk ...!!!


Perhatian beberapa pengunjung terarah pada Nathan. Baru saja pria itu memecahkan gelas minumannya karna genggamannya yang terlalu erat. Akibatnya tangan Nathan terluka dan berdarah. Melihat hal itu membuat Cherly menjadi sangat panik. "O..oppa kau berdarah!" serunya, Nathan menepis tangan Cherly dan bangkit dari duduknya.


Selepas kepergian Nathan, Cherly memanggil pelayan dan memintanya untuk membersihkan pecahan beling yang berserakan di lantai dan tergeletak di atas meja. Pihak restoran tidak menyalahkan Nathan dan justru menganggap itu sebagai kelalaian pihak restoran karna mengira jika gelas minuman itu memang rapuh.


"Aku akan ke toilet sebentar," Viona bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja.


Dari jarak lima meter Viona dapat melihat punggung tegap Nathan yang tertutup jas hitamnya. Pria itu berdiri di depan wasstafel yang berada di antara pintu masuk toilet pria dan wanita. Mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya, Viona segera menghampiri Nathan.


"Bodoh!! Kenapa harus melukai dirimu sendiri, Oppa?"


Nathan sedikit terkejut, dia mengangkat wajahnya. Viona berdiri dan sedang membebat luka menganga di telapak tangan kanannya dengan sapu tangan milik gadis itu. Alih-alih sebuah jawaban, Nathan malah mendorong tubuh Viona menuju salah satu bilik yang terbuka kemudian menutupnya. Dengan keras Nathan langsung menyergap bibir tipis Viona dan melum**nya. Nathan mencoba meluapkan semua perasaan yang bercampur aduk didadanya.


Nathan terus melum** bibir Viona tanpa peduli jika gadis itu semakin kwalahan karna ulahnya tersebut. Berkali-kali Viona memukul dada Nathan, memohon supaya Nathan segera melepaskan ciumannya, tapi Nathan tetap tidak menghiraukannya. Sampai dia merasakan sesuatu yang hangat dan basah pada pipinya. Lantas Nathan membuka matanya dan alangkah terkejutnya dia saat melihat air mata membasahi wajah cantik Viona.


Segera Nathan akhiri ciuman tersebut. Viona merasa lega dan sekarang dia bisa bernafas dengan bebas.


"ARRKKKHHHH!!"


BRUGGG...!!


"Aaahhh!!" Viona memekik kaget saat tiba-tiba Nathan memukul tembok di samping kanannya dengan keras. Viona sampai menutup mata saking kagetnya. "O-Oppa!!"

__ADS_1


"Aku pasti akan membunuh pria itu dan merajam tangannya karna sudah berani menyentuh milikku!!" dan Nathan pergi begitu saja setelah mengatakan kalimat itu pada Viona. Rasa cemburu yang begitu besar serasa menguras hati Nathan.


Viona langsung menjatuhkan tubuhnya pada ubin toilet yang dingin dan keras. Viona merinding sendiri ketika melihat tatapan Nathan yang tajam dan berbahaya. Sungguh, Nathan begitu mengerikan dimatanya. Dan Viona semakin tidak mengerti, siapa sebenarnya pria yang dia cintai itu. Tapi satu hal yang Viona tau, jika dia adalah pria arogant yang selalu memperlakukannya dengan penuh kelembutan.


Viona segera mengirimkan pesan singkat pada Leo dan mengatakan jika dirinya ada urusan mendadak. Viona pergi dari pintu samping supaya kepergiannya tidak diketahui oleh Leo. Viona ingin menenangkan fikirannya yang sedikit kacau. Dan di tengah langkahnya, Viona melihat Nathan meninggalkan cafe seorang diri, pria itu berjalan menuju parkiran. Viona mempercepat langkahnya dan menghampiri Nathan lalu menghentikan langkahnya.


"Kau, apa yang kau lakukan di sini? Masuklah, atau tunanganmu akan marah!!" pinta Nathan dingin.


Viona menggeleng. "Aku tidak mau. Bawa aku pergi dari sini!! Biarkan aku bersamamu, jadi bawa aku pergi!!" pinta Viona bersikeras. Nathan menatap Viona sekilas kemudian mengangguk.


-


Sebuah Lamborghini Veneno terlihat melaju di jalanan kota yang cukup legang. Mobil sport mewah itu melaju dengan kecepatan sedang. Seorang pria berwajah rupawan mengendarai mobil tersebut dengan tenang, di sampingnya seorang gadis berparas elok bermata hazel, indah. Dan mereka tak lain adalah Nathan dan Viona.


Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibir Nathan maupun Viona, keduanya terlalu larut dalam keheningan yang mencekam. Sesekali Viona menatap pada Nathan yang terlihat fokus pada jalanan beraspal di depannya.


Entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya jika pria arogant super tampan itu lebih banyak diam sepanjang perjalanan. Nathan tidak seperti biasanya, dia begitu dingin dan acuh. Dari wajah sang Adonis, kemudian pandangan Viona bergulir pada lengan kokohnya yang tidak tertutup apapun setelah jas hitamnya dia tanggalkan dari tubuhnya karna merasa gerah.


Viona mengutuk Nathab yang tiba-tiba melepas jasnya dan malah menyimpannya di jok belakang. Di tubuhnya hanya menyisahkan vest v-neck tanpa t-shirt ataupun kemeja sebagai **********. Dan jika seperti ini terus bisa-bisa Viona mati muda karna pemikiran konyolnya.


"Oppa, sampai kapan kau akan mendiamiku?" ucap Viona memecah keheningan. Tatapannya kembali terfokus pada wajah tampan Nathan. Namun tidak ada jawaban, Nathan benar-benar mengacuhkan dirinya dan itu membuat perasaan Viona teramat sedih. Dia merindukan Nathan dan mulut manisnya yang menghanyutkan.


Tiba-tiba Nathan menepikan mobilnya saat merasakan ponsel dalam saku celananya bergetar. Dahinya membentuk siku-siku melihat nama Kai tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.


Tanpa menghiraukan Viona yang terus menatap padanya, Nathan segera menerima panggilan itu. "Ada apa, Kai?" Tanyanya to the poin. Nada panik Kai terdengar jelas di telinganya, kedua mata Nathan membelalak. "Apa? Baiklah aku akan pulang sekarang." Nathan melihat kebelakang melalui spion depan, saat di rasa aman..


Nathan memutar balik mobilnya. "Aku akan mengantarkanmu setelah urusanku selesai." Kata Nathan pada Viona. Pria itu menambah kecepatan pada mobilnya, mobil Nathan melaju kencang pada jalanan yang legang, menyalip beberapa kendaraan di depanjya tanpa peduli cacian dan makian dari pengendara lain yang nyaris celaka karna ulahnya.


-


DORRR....


DORRR...


"Ya Tuhan, bagaimana bisa dia melakukannya dengan begitu mudahnya. Siapa pria ini sebenarnya, Tuhan? Sebenarnya pria seperti apa yang aku cintai ini?"


"Jangan berfikir yang tidak-tidak, aku tidak mungkin membunuhmu seperti aku membunuh mereka."


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2