Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 11) "Brandalan Tampan"


__ADS_3

Apa yang menimpa Luna telah sampai ke telinga Viona, ibu dua anak itu menjadi sangat cemas dengan keadaan adiknya saat ini. Viona sungguh tidak habis fikir dengan apa yang ada di pikiran Dean, bagaimana dia bisa melakukan hal gila semacam itu pada adiknya sendiri.


Meskipun Luna bukanlah adiknya sendiri, tapi bagaimana pun juga mereka telah bersama-sama selama lebih dari 15 tahun. Dan Viona tidak tau bagaimana hancurnya perasaan Luna saat ini, karna pria yang sangat dia cintai justru ingin melenyapkannya demi wanita lain.


Saat ini Viona dan Nathan sedang dalam perjalanan menuju tempat di mana Luna berada. Viona tidak tau apa alasan kenapa Luna tidak langsung pulang ke rumah dan memilih berada di tempat orang lain. Tapi hal tersebut tidaklah penting untuknya. Karna yang terpenting sekarang adalah mengetahui bagaimana keadaan Luna.


"Oppa, cepat sedikit. Aku benar-benar mencemaskan, Luna," ucap Viona sambil menatap sosok tampan dihadapannya.


Nathan menoleh. "Ini juga sudah sangat cepat, Vi."


"Rasanya aku ingin menggantung Dean hidup-hidup. Sungguh, aku tidak habis fikir dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Bagaimana dia bisa bertindak sekeji itu pada Luna, dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati gadis malang itu," Viona meyusut air matanya. Hatinya pedih memikirkan perasaan Luna.


Sekali lagi Nathan menoleh, dia melihat kesedihan dan emosi tersirat pada sorot mata Viona yang teduh. "Kita akan memberi pelajaran padanya, tapi tidak sekarang. Karna yang terpenting sekarang adalah mengetahui bagaimana keadaan, Luna dulu,"


Viona mengangguk. "Oppa, benar,"


-


Zian menghampiri Luna yang sedang duduk termenung di atas tempat tidur. Tatapannya kosong, dan wajahnya tampak sembab.


Zian merasa perih melihat keadaan Luna saat ini, ia bahkan tidak tau kenapa hatinya terasa seperti diiris-iris ketika melihat air mata gadis itu. Dan rasa takut yang begitu luar biasa membuncah di dalam dadanya ketika mengetahui Luna berada dalam bahaya.


Luna mengangkat wajahnya merasakan genggaman lembut pada ruas-ruas jarinya, sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan tipis di wajah cantiknya. "Jangan menatapku seperti itu, Zian. Sungguh, aku baik-baik saja," ucapnya meyakinkan. Luna tidak ingin semakin terlihat lemah di depan orang lain.


Tanpa mengatakan apapun Zian meraih bahu Luna dan membawa gadis itu ke dalam pelukkannya. Zian mendongakkan wajahnya dan meletakkan dagunya diatas kepala gadis itu.


"Bagaimana bisa kau mengatakan jika kau baik-baik saja setelah apa yang kau alami ini, Lun. Mungkin kau memang bisa membohongi orang lain tapi kau tidak akan bisa membohongiku, dan jika kau ingin menangis.. Menangislah, tidak perlu di tahan, karna itu hanya akan membuatmu semakin buruk,"


Luna mencengkram kemeja hitam yang Zian kenakan, tanpa peduli jika kain berharga mahal tersebut akan kusut karna ulahnya. Air mata yang dia tahan sejak tadi pun akhirnya tumpah begitu saja, pertahanan Luna runtuh dipelukkan Zian. Dan Luna tidak menolak ketika Zian menawarkan bahunya, karna dia memang membutuhkan seseorang untuk menjadi sandarannya.


Dan sementara itu...


Nathan dan Viona melangkahkan kakinya memasuki sebuah bangunan yang cukup megah yang berada di Jantung kota Seoul. Viona berjalan dengan tidak sabaran dan meninggalkan Nathan beberapa langkah dibelakangnya. Kemudian dia menekan bel yang ada di samping pintu.


TING TONG...


Dan suara keras itu sedikit menyita perhatian Luna dan Zian. "Tunggulah sebentar, sepertinya ada tamu yang datanh," kemudian Zian beranjak dari hadapan Luna dan pergi begitu saja. Dan Zian merasa sangat yakin jika itu adalah saudari kembar Viona dan juga kakak iparnya.


"YA TUHAN!!" Viona membekap mulutnya dan memekik sekencang-kencangnya setelah pintu terbuka dan menampilkan sosok pria yang wajahnya bak pinang di belah dua dengan suaminya.


"Oppa, coba cubit lenganku," Viona mengulurkan lengannya pada Nathan dan meminta suaminya itu mencubit lengannya. Viona hanya ingin memastikan jika yang dilihatnya itu adalah nyata bukan mimpi. "Bagaimana bisa ada dua orang yang bukan saudara bisa semirip ini?" ucap Viona terheran-heran. Tapi hal berbeda justru di tunjukkan oleh Nathan dan juga Zian.


"Lama tidak bertemu, Zian Qin," ucap Nathan seraya mengurai senyum tipis.


"Ya, sudah lama sekali, Hyung,"


Viona menatap keduanya bergantian."Jadi kalian sudah saling mengenal? Bagaimana mungkin aku bisa tidak tau?"


"Karna kau tidak bertanya," sahut Nathan menyahuti.


Baik Nathan maupun Zian sama-sama tidak menduga bila mereka akan bertemu kembali. Mereka berdua memang sudah saling mengenal sebelumnya, bahkan dulu keduanya pernah bertukar identitas demi satu tujuan. Karna dulu mereka pernah memiliki dendam pada orang yang sama


"Ngomong-ngomong di mana, Luna?"


"Dia ada di kamar atas, kau bisa menemuinya di sana," Viona mengangguk. Wanita itu bergegas menghampiri Luna karna dia sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana keadaannya.

__ADS_1


"Luna," seru Viona seraya menghampiri Luna.


"Eonni,"


Tubuh Viona terhuyung kebelakang karna pelukan Luna yang sangat tiba-tiba.


Seulas senyum menghiasi wajah cantik Viona setelah melihat keadaan Luna. Dia lega melihat adiknya baik-baik saja, lantas Ia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Luna.


"Eonni, lega melihatmu baik-baik saja." Ucap Viona setengah berbisik. Wanita itu menutup matanya yang mulai memanas, dan sebisa mungkin Viona menahan dirinya supaya tidak menangis.


Luna melepaskan pelukkan Viona dan menatap sang kakak dengan penuh kebingungan. "Tapi, Eonni. Bagaimana kau bisa tau jika aku hampir celaka?" tanya Luna penasaran.


"Temanmu yang mirip dengan kakak iparmu itu yang menghubungi, Eonni. Dan kau, Luna William... Kenapa kau tidak pernah bercerita kalau memiliki teman setampan dan sekeren itu? Jika boleh jujur, dia adalah brandalan paling tampan yang pernah Eonni lihat,"


"Hah,"


"Iya, dia adalah brandalan paling tampan!!" kata Viona menegaskan.


Luna memicingkan matanya. "Apa Eonni mulai katarak ya? Brandalan seperti itu bagaimana bisa kau sebut keren dan tampan. Apa karna wajahnya yang sama persis dengan Nathan oppa?" alhasil sebuah jitakkan mendarat mulus pada kepala Luna. "Eonni, sakitt!!!" jerit gadis itu histeris.


"Siapa suruh kau bicara sembarangan, dan Eonni rasa yang mulai katarak itu kau, Lun. Jelas-jelas Zian itu sangat tampan, apalagi dengan style serampangan yang justru membuat aura ketampanannya semakin terpancar," ujar Viona yang tidak setuju dengan pendapat Luna.


"Dan jangan bilang itulah kenapa kau sering memaksa, Nathan oppa untuk memakai pakaian lengan terbuka? Karna kau terobsesi pada suami yang terlihat seperti Bad Boys, benar kan?" tebak Luna 100% benar. "HAHAHA. Aku sudah menduganya," Luna tertawa.


Dan sementara itu...


Perbincangan hangat mewarnai kebersamaan Nathan dan Zian. Kedua pria itu benar-benar terlihat seperti sepasang saudara kembar ketika bersama. Dan siapa yang menyangka jika mereka berdua sudah saling mengenal sejak lama.


Nathan meletakkan rokoknya yang tinggal setengah. "Kemana saja kau selama ini, Zian? Bertahun-tahun kau menghilang seperti di telan bumi?"


"Aku kembali ke China dan menetap di sana selama beberapa tahun, dan baru kembali sekitar enam bulan yang lalu."


"Semakin hari keadaannya semakin memburuk, dan saat ini dia sedang berada di luar negeri. Aku mengirimnya pergi supaya dia bisa mendapatkan pengobatan yang layak, selain itu pikirannya juga harus tenang. Karna jika tetap berada di rumah tidak menutup kemungkinan jika keadaannya akan semakin memburuk karna perlakuan kedua bajingan itu!!"


Zian menggepalkan tangannya. Dan dia tidak bisa menerima bagaimana perlakuan ayah serta ibu tirinya pada wanita yang telah melahirkannya. Dan jika saja sang ibu tidak menghalang-halanginya, mingkin sudah sejak lama Zian mengirim mereka berdua ke alam baka.


"Lalu apa rencanamu?"


"Memantau mereka berdua, dan aku tidak akan tinggal diam jika mereka sampai berani berbuat yang tidak-tidak lagi,"


"Dan mengenai hubunganmu dengan, Luna? Bagaimana kalian berdua bisa saling mengenal? Dan sepertinya kalian lumayan dekat,"


"Aku dan Luna memang sudah lama saling mengenal, hanya saja sudah sangat lama tidak saling bertemu, dan belum genap satu bulan kami dipertemukan kembali," jelas Zian.


"Sepertinya pertemuan kalian itu bukanlah sebuah kebetulan saja, melainkan karna takdir Tuhan. Dan mungkin Tuhan sudah menyiapkan sebuah takdir yang manis untuk kalian berdua yang pernah sama-sama dikhianati oleh cinta," tutur Nathan.


Zian menggeleng. "Aku tidak tau, Hyung. Dan aku juga tidak ingin berharap terlalu tinggi,"


Dan perbincangan keduanya di intrupsi oleh kedatangan Luna serta Viona. Kedua saudari kembar itu menuruni tangga dan kemudian menghampiri para pria. .


"Zian, gomawo karna sudah mengijinkanku tinggal di sini, aku akan ikut pulang bersama Vio eonni dan Nathan oppa. Maaf jika aku sudah merepotkanmu," ujar Luna penuh sesal.


Zian menggeleng. "Sama sekali tidak,"


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu," Zian mengangguk.

__ADS_1


"Zian, terimakasih sudah menampung gadis barbar ini. Dan terimakasih juga karna sudah ada di saat dia berada dalam bahaya. Kami sekeluarga berhutang budi padamu," ujar Viona panjang lebar. Nathan menepuk bahu Zian dan pergi begitu saja.


Dan kediaman Zian mendadak hening setelah semua orang pergi dari sana, dan hanya menyisahkan Zian sendiri. Tak ingin mati kebosanan, Zian pun memutuskan untuk menemui teman-temannya.


-


"Apa? Gadis itu berhasil selamat?" Dean mengangguk lemah. "Bagaimana bisa, Oppa? Apa kau tidak memastikannya dulu sebelum pergi meninggalkannya? Ini sangat gawat, Oppa. Bagaimana jika sewaktu-waktu dia datang kembali untuk mencelakaiku lagi? Aku sangat takut, Oppa. Aku benar-benar takut,"


Dean menarik Miranda ke dalam pelukkannya dan mencoba untuk menenangkannya. "Tenanglah, Sayang. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mengurusnya nanti, aku tidak akan membiarkan dia melakukan apapun lagi padamu," ujar Dean sambil mengusap punggung Miranda dengan gerakkan naik turun.


Miranda mengangkat wajahnya dari dekapan Dean. "Sungguh? Kau akan membunuh dia kembali untukku?".Dean mengangguk.


"Ya, aku berjanji,"


"Tapi, Oppa. Kira-kira siapa yang sudah menyelamatkan Luna, dan bagaimana mungkin orang itu bisa tau jika nyawa gadis itu sedang berada dalam hahaya?" Miranda menatap Dean penasaran.


Dean menggeleng. "Aku juga tidak tau. Karna aku sendiri tidak melihatnya "


"Oppa, pokoknya kau harus menyingkirkannya. Dia itu sangat bebahaya, jangan sampai aku dan anak kita malah yang jadi korbannya,"


Dean mengusap rambut sebahu Miranda kemudian mengangguk. "Itu pasti, kau tidak perlu cemas. Aku pasti akan menyingkirkannya. Aku lebih baik kehilangan adik jahat seperti dia daripada harus kehilangan kalian berdua," ujar Dean.


Miranda menyetingai, wanita itu kemudian berhambur ke dalam pelukkan Dean. "Oppa. Kau memang yang terbaik,"


-


BRAKK...


Dobrakkan keras pada pintu mengejutkan sepasang suami-istri yang sedang bersantai di ruang keluarga. Dan selang beberapa saat, seorang laki-laki berjalan sempoyongan memasuki rumah, dan aroma yang begitu menyengat menguar dari tubuhnya.


"Dasar brandalan, apa kau tidak memiliki kerjaan lain selain membuat masalah dan mabuk-mabukkan seperti ini? Lihatlah betapa kacaunya dirimu saat ini, dan aroma tubuhmu sangat bau, kau bau alkohol," komentar Kalina seraya menatap Zian dengan tatapan tidak sukanya.


"Diamlah kau betina!! Memangnya siap yang meminta pendapat darimu!!" sinis Ziab dengan ketus.


"Zian Qin!! Cukup!! Di mana sopan santunmu, hah! Bagaimana pun juga dia adalah istri Papa yang sah!! Suka tidak suka, mau tidak mau, dia tetaplah Ibumu!!"


Zian menyeringai dingin. "Memangnya kapan aku lahir dari rahimnnya? Dan asal kau tau saja, seumur hidupku aku tidak akan pernah menganggap wanita murahan seperti dia sebagai ibumu. Karna aku hanya memiliki satu Ibu di dunia ini, dan perempuan tak tau malu ini tak lebih dari seorang jalang murahan yang tak memiliki harga diri!!"


"ZIAN QIN!!" teriak tuan Qin dengan suara meninggi.


Pria tengah baya langsung berdiri dan mendaratkan sebuah tamparan pada sosok laki-laki muda di hadapannya. Tapi sayangnya tangan pria itu berhasil di tahan olehnya. "Kau fikir aku masih bocah kemarin sore yang bisa kau perlakukan dengan sesuka hatimu? Sebaiknya jaga baik-baik tanganmu ini jika kau tidak ingin aku sampai mematahkannya.


Dan kau.. Tunggu bagaimana aku akan menghancurkanmu, aku akan meregut mahkota berharga dari putrimu setelah aku menemukannya nanti. Aku akan membuat hidupnya hancur sehancur-hancurnya seperti kau menghancurkan keluarga ini. Ingat dan camkan itu," Zian menyeringai, dan pergi begitu saja.


Sementara itu. Kalina menggepalkan kedia tangannya dengan kuat. Tidak, dia tidak akan membiarkan Zian menemukan putrinya. Mungkin dia memang ibu yang buruk karna sudah mencampakkan putrinya sendiri. Tapi dia tidak akan tinggal diam apalagi membiarkan Zian melakukan hal buruk padanya.


Sebagai seorang ibu, Kalina akan menemukan gadis itu lebih dulu sebelum Zian dan melindunginya dengan segenap jiwa dan raganya. Kalina tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya terutama Zian.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" tuan Qin menahan tubuh Kalina yang nyaris ambruk.


"Sayang, bantu aku menemukan putriku. Temukan gadis malang itu. Dia tidak bersalah, dia tidak bersalah. Jangan sampai Zian menemukannya dan menghancurkan masa depannya. Tidak,, tidak,, tidak. Aku tidak bisa membiarkannya,"


Tuan Qin mencoba menenangkan istri muda kesayangannya tersebut. "Tenang, Sayang. Sama-sama kita akan menemukannya, dan kita akan melindunginya. Karna putrimu adalah putriku juga. Aku pasti akan melindunginya," Kalina berhambur kendalan pelukan suaminya.


"Terimakasih, Sayang Kau memang selalu bisa di andalkan. Zian Qin, aku tidak akan pernah membiarkanmu menemukannya!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2