
Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗
-
"Hyung,"
Satya langsung bangkit dari duduknya saat melihat kedatangan Nathan. Dengan semangat Satya, Frans dan Rio menunjukkan hasil ujiannya pada Nathan.
"Hyung, ini adalah hasil ujianku. Kau tau, aku sudah masuk sepuluh besar seperti yang kau harapakan. Dan apa kau tau aku berada di posisi ke sepuluh, Satya di posisi kesembilan sedangkan bocah ini berada di posisi sepuluh juga. Bukankah kami sangat hebat?" Ujar Satya membanggakan diri.
Dan Nathan tampak sedikit kesal setelah mengetahui alasan Satya memintanya untuk segera pulang.
Sementara itu, Tao dan Kai yang sedang bermain catur hanya bisa mendengus melihat tingkah ketiga pemuda itu yang semakin hari semakin menggelikan saja. Selama ini mereka memang tidak pernah belajar dengan sungguh-sungguh dan selalu bermain-main. Diam bukan berarti Nathan tidak mengetahuinya. Dia sengaja dian dan berpura-pura tidak tau apa-apa.
"Dasar bocah-bocah tengik, mendapatkan urutan ke sepuluh saja bangga." Ucap Tao mencibir.
"Yakk!! Hyung, kenapa kau malah mencibir kami? Seharusnya kau itu bangga pada kami bertiga karna kami bisa masuk sepuluh besar." Protes Frans yang merasa tidak terima dengan cibiran Tao.
Nathan memijit pelipisnya. "Mulai malam ini aku akan mencabut semua fasilitas mewah kalian bertiga. Mulai dar ponsel, mobil dan aku juga akan memotong uang jajan kalian. Kalian tidak boleh menonton tv apalagi pergi kelayapan tidak jelas."
"Aku ingin kalian fokus pada pendidikan dan mendapatkan nilai bagus seperti yang aku harapkan. Kalian bertiga benar-benar membuatku kecewa," tutur Nathan yang sontak saja membuat kedua mata Satya, Frans dan Rio membelalak saking kagetnya.
"MWO?" Pekik mereka kaget. "Paman, pasti kau bercanda? Bagaimana mungkin bisa kami bertiga hidup tanpa ponsel itu, jika kau melarang kami menggunakan mobil lalu bagaimana kami harus pergi kuliah dan jika tanpa uang jajan lebih, bagaimana aku bisa mentraktir para gadis dan menunjukkan jika kami ini keren."
"Dan tanpa TV itu lebih parah lagi, kami bisa tertinggal Tom & Jerry favorit kami Ayolah, Paman. Jangan memperlakukan kamidengan sekejam ini," renggek Rio memohon
"Tao, aku ingin kau mengawasi bocah-bocah ini dan pastikan mereka belajar dengan benar." Ucap Nathan dan pergi begitu saja.
"Siap, Boss." Tao pun dengan sigap berdiri dan menatap Sehun dengan senyum penuh kemenangan '
Hehehhe!! Kali ini kau akan tamat di tanganku, bocah setan.' Ujarnya membatin.
Dan sudah saatnya Tao membalas kejahilan mereka padanya. Kali ini dia tidak akan melepaskan pemuda itu lagi.
.
.
.
Viona meletakkan sisirnya ketika mendengar suara decitan pada pintu yang di buka dari luar. Terlihat Nathan memasuki kamar dengan mimik wajah kesal bercampur marah. Viona bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Nathan.
"Tumben sudah pulang?" Viona menerima jas yang Nathan berikan padanya kemudian meletakkannya di atas tempat tidur.
"Harusnya aku masih belum pulang, tapi semua ini karna bocah-bocah itu. Mereka menghubungiku dan mengatakan ada hal penting yang ingin disampaikan padaku, aku fikir apa, ternyata nilai ujian mereka yang jauh dari harapanku," tutur Nathan.
Viona mendesah berat. "Mereka memang super ajaib. Ya sudah, sebaiknya kau mandi dulu, setelah ini-"
"PAPA!!" kalimat Viona terpotong oleh jeritan Lautent. Bocah itu berteriak dan langsung menghambur ke dalam pelukan Nathan. "Aku senang, Papa pulang lebih awal hari ini. Papa, bagaimana kalau setelah makan malam kita kunjungi kakek Hans? Aku merindukannya,"
"Tidak hari ini, Sayang. Papa sangat lelah, dan banyak pekerjaan yang harus Papa selesaikan," ujar Nathan penuh sesal.
Lautent mendesah kecewa. "Baiklah, aku mengerti,"
"Tidak perlu bersedih, Nak. Papa, janji. Akhir pekan ini kita akan menginap di sana," kedua mata Laurent langsung berbinar.
"Benarkah?" Nathan mengangguk. "Yeee..! Papa memang yang terbaik,"
__ADS_1
Dan Viona hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah putri bungsunya.
"Dasar bocah,"
-
Zian yang baru saja pulang bekerja memicingkan mata melihat keadaan rumah yang tampak sepi. Tidak ada sosok cantik yang menyambutnya pulang. Sangat tidak biasa, mungkinkah terjadi sesuatu pada Luna? batin Zian menerka-nerka.
Zian buru-buru pergi kekamarnya yang berada di lantai dua. Dan setibanya di sana, Zian langsung disambut oleh wajah murung Luna. Wanita itu berdiri di depan cermin sambil terus mengusap perutnya yang tampak rata.
Pria tampan itu memicingkan matanya. Dengan langkah tanpa suara. Zian menghampiri Luna yang sepertinya masih belum menyadari kepulangannya.
Menyadari kedatangan seseorang dari sisi kanannya, sontak saja Luna menolehkan kepalanya dan mendapati wajah datar Zian terpampang di hadapannya. "Oppa, kau sudah pulang." kata Luna lalu menarik sudut bibirnya. Memaksakan diri untuk tersenyum meskipun hatinya merasa cemas dan gundah.
"Apa terjadi sesuatu? Kenapa wajahmu terlihat murung?" tanya Zian penasaran.
Luna mendesah berat. Wanita itu menggeleng lalu menunjukkan tespek yang hasilnya negatif. "Negatif lagi, kapan positif-nya." keluh wanita itu sambil menggembungkan pipi kesal.
Zian mendengus geli. Ia fikir ada apa, ternyata masalah tespek yang lagi-lagi hasilnya negatif. Kemudian Zian mengambil tespek itu dari tangan Luna lalu menyimpannya di atas meja, salah satu tangannya menggenggam ruas-ruas jari lentik istri tercintanya ini.
"Jadi itu masalahnya," Luna mengangguk. Zian tersenyum tipis. "Aku fikir ada apa." Lanjutnya sambil mengunci mata hazel Luna.
"Dengar Sayang," Zian mengambil jeda, mata abu-abunta memandang mata coklat itu dengan serius. "Belum bukan berarti tidak bisa, mungkin saat ini Tuhan masih belum mempercayai kita untuk menjaga dan merawat anak titipannya. Tuhan akan memberikannya di saat yang tepat, kau tidak perlu merasa sedih atau kecewa." ujar Zian masih dengan senyum yang sama.
Mendengar ucapan Zian membuat perasaan Luna terasa menghangat. Wanita itu tersenyum lembut, kemudian Luna melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Zian yang masih lengkap dengan setelan jasnya. Zian tersenyum tipis, dan dengan senang hati dia membalas pelukan Luna sambil sesekali mencium keningnya.
"Sebaiknya ganti pakaianmu. Bukankah kau ingin makan malam di luar? Aku akan mandi dulu," Zian melepas pelukannya lalu berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Luna pergi untuk mengganti pakaiannya.
Setelah mengganti pakaian dan memolesi wajahnya dengan make up tipis. Luna bergegas keluar dan memutuskan untuk menunggu Zian di ruang keluarga. Tiba-tiba Luna merasa haus dan ingin meminum minuman dingin.
.
.
Pria itu terlihat tampan dalam balutan pakaian casualnya. Jeans hitam yang menggantung pas dipinggulnya. T-shirt putih berlengan pendek yang di bungkus rompi denik hitam. Senyum di bibir Luna semakin lebar.
"Wow, lihatlah... Betapa tampannya dirimu, Oppa." Puji Luna lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian. "Aku lebih suka melihatmu berpakaian casual seperti ini daripada harus melihatmu berpakaian formal. Bagaimana kalau lengan t-shirtmu sedikit di gulung ke atas?"
"Aku rasa tidak perlu, lengannya sudah terlalu pendek,"
"Hanya dua kali lipatan saja, boleh ya," renggek Luna memohon.
Zian mendengus. "Terserah kau saja, yang penting itu membuatmu senang." Luna langsung bersorak kegirangan.
Sedangkan Zian hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah Luna. Tak jarang kesabaran Zian harus di uji dengan permintaan-permintaan aneh Luna. "Oppa, bagaimana kalau kita berangkat sekarang. Ayo," Luna memeluk lengan Zian dan keduanya berjalan beriringan menuju halaman tempat mobil Zian di parkirkan.
.
.
Usai makan malam. Mereka berdua tidak langsung pulang. Luna mengatakan pada Zian jika dia ingin berjalan-jalan menikmati kota Seoul di malam hari. Dan Zian mengiyakannya.
Zian menghentikan mobilnya di area Sungai Han. Pria itu membuka pintu di samping kirinya kemudian turun di ikuti Luna yang kemudian berjalan di sampingnya. Langkah kaki Luna terhenti saat mata coklatnya menangkap sebuah cahaya warna-warni yang menghiasi langit malam yang pekat.
Kedua matanya tampak berbinar-binar melihat kembang api yang menghiasi langit malam yang pekat. Riuh kembang api memecah di dalam keheningan malam, sungguh indah dan memanjakan sepasang mata coklat itu. Luna berdecak kagum menyaksikan keindahan warna-warni yang berasal dari kembang api yang menghiasi langit.
"Huaaa.... Oppa, lihat itu...." Luna bersorak riang sambil menunjuk langit berhias cahaya warna-warni kembang api. Zian ikut tersenyum melihat wajah ceria Luna.
Zian menoleh dan menatap sisi wajah Luna."Apa nau menyukainya?" tanya Zian.Luna mengangguk cepat.
__ADS_1
"Tentu saja, itu adalah pemandangan malam yang sangat indah," tuturnya. Luna tersenyum lembut, iris berbeda warna milik mereka saling bersiborok.
Suara kembang api kembali menggelegar di langit yang seketika mengalihkan perhatian Luna. Luna mengangkat wajahnya dan melihat ratusan kembang api berbagai warna yang seketika menyebar di langit malam seperti air mancur. Luna benar-benar merasa takjub melihat pemandangan indah itu. Sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya.
Melihat wajah cantik Luna ketika tersenyum. Membuat Luna ikut tersenyum melihat senyum ceria istrinya, pemuda itu berdiri di belakang Luna lalu memeluknya dan meletakkan dagunya di atas bahu wanita itu.
"Sayang." panggil Zian setengah berbisik.
Luna yang sedari tadi sibuk melihat kembang api sedikit terkejut. Sepertinya wanita itu baru sadar jika sedari tadi ada sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Wanita memutar lehernya menatap wajah Zian yang bersandar di bahu kanannya.
"Apa kau menyukai kejutanku??" tanya Zian memastikan.
Mata Luna membelalak dan berkedip lucu, wanita itu melepaskan dekapan Zian kemudian membalikkan tubuhnya dan posisi mereka kini saling berhadapan.
Luna menatap mata abu-abu suaminya dengan pandangan tidak percaya. "Jadi, kembang api itu kau yang menyiapkannya untukku?" pekik Luna masih dengan rasa tidak percaya.
'Tukkk...'
Zian menyentil kening Luna dengan gemas. "Lalu kau fikir siapa?? Aku tau kau sangat suka melihat kembang api. Itulah kenapa aku mempersiapkan semua ini untukmu." ujar Zian.
Luna tak kuasa menahan air matanya. Wanita itu mulai terisak saking bahagianya. Ia terharu dengan kejutan yang Zian persiapkan untuknya. Wanita itu segera menghambur memeluk pinggang Zian dan menyandarkan kepalanya pada dada bidangnya.
"Hiks, aku tidak menyangka jika kau akan memberikan kejutan seindah ini untukku." isak Luna penuh rasa haru. Zian tersenyum tipis. Mengangkat kedua tangannya dan dengan senang hati membalas pelukan Luna.
"Aku akan melakukan apa pun asalkan itu membuatmu bahagia, Sayang." Zian mencium pucuk kepala Luna dan semakin mengeratkan pelukannya.
Malam ini mereka lewati dengan menyaksikan pertunjukkan kembang api dan rencana Zian tidak mungkin berjalan lancar tanpa bantuan Simon dan Adrian. Merekalah orang yang paling berjasa dan kedua pria itu sangat bersemangat saat Zian menemui mereka dan meminta keduanya untuk membantunya menyiapkan kejutan untuk Luna.
Entah berapa banyak kembang api berukuran jumbo yang mereka beli demi kelancaran kejutan malam ini.
Luna melepaskan pelukannya pada tubuh Zian lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher sang suami. Sedikit berjinjit, Luna menyatukan bibir mereka. Luna memagut bibir atas dan bawah Zian secara bergantian di susul pagutan-pagutan yang semakin lama semakin cepat temponya.
Zian menarik pinggang Luna, tangan lain menekan tengkuknya dan semakin memperdalam ciumannya. Zian mengambil alih ciuman ini dan mulai menginvasi bibir Luna. Zian mulai menggigit-gigit kecil bibir Luna dan meminta akses lebih, seakan mengerti apa yang di inginkan oleh suaminya, Luna segera membuka mulutnya dan mengijinkan lidah Zian menelusup masuk kemudian mengobrak abrik isi dalam mulutnya.
Lidah Zian terus mengobrak-abrik isi dalam mulut Luna dan sesekali mengajak lidah wanita itu untuk menari bersamanya. Tidak ada penolakan, Luna menyambut permainan Zian.
Namun ciuman panas itu tidak berlangsung lama saat keduanya sama-sama menyadari di mana posisi mereka saat ini berada, beruntunh sungai dalam keadaan sepi sehingga tidak ada yang melihat aksi gila mereka berdua.
Zian mengangkat tangan kanannya, jari-jarinya menghapus sisa liur di bibir Luna."Aku mencintaimu, Luna Qin." ucap Zian sambil mengunci manik coklat milik Luna.
Pria dalam balutan jeans hitam, t-shirt putih dan rompi denim itu menarik tengkuk Luna dan membawa sang wanita kedalam pelukannya. Mendekap tubuhnya dengan sangat erat. Luna tersenyum lebar "Aku juga mencintaimu, Oppa. Saranghar...!" katanya lalu membalas pelukan Zian.
Dari kejauhan Simon danAdrian hanya bisa meneteskan liurnya melihat kemesraan yang mereka berdua tunjukkan. Kedua pria itu berkali-kali menelan salivanya sedikit bersusah payah ketika melihat live kiss tepat di depan mata mereka. Zian dan Luna yang sedang berciuman, namun mereka berdualah yang berkeringat dingin.
Simon dan Adrian saling berpelukan."Hyung, aku jadi ingin segera memiliki kekasih. Aku sungguh-sungguh iri melihat mereka berdua." kata Simon sambil menggigit jarinya sendiri, Adrian mengangguk, menyetujui apa yang Simon katakan.
"Sama, aku juga ingin memiliki kekasih. Anak ayam, bagaimana jika sekarang kita pergi ke club malam dan berburu wanita cantik di sana?" usul Adrian yang segera di balas anggukan oleh Simon.
Simon begitu antusias, usulan laknat Adrian membuat otak Simon yang biasanya beku langsung encer dengan seketika. Memang sudah saatnya mereka bersenang-senang.
"Kalau begitu apa lagi yang kita tunggu? Hyung, bagaimana jika kita berangkat sekarang??"
"KITA BERANGKAT...!!"
-
Bersambung.
...Para pembaca yang baik hati. Jangan pelit2 buat kasih like komentnya dong. Karna cuma itu penyemangat author buat lanjutin novelnya 🙏🙏🙏😢😢...
__ADS_1