Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 93) "Hot Kiss"


__ADS_3

Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ETERNAL LOVE (CINTA TERLARANG PANGERAN IBLIS DAN PUTRI LANGIT) tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗


-


Setelah di rawat selama lebih dari satu setengah bulan. Akhirnya hari ini Luna diijinkan untuk pulang. Luna sangat senang karena akhirnya dia bisa keluar dari tempat terkutuk yang di sebut dengan rumah sakit.


Jika boleh jujur, rumah sakit adalah salah satu tempat yang paling tidak ingin Luna datangi. Dia memiliki kenangan buruk dengan rumah sakit.


Dulu ketika masih di luar negeri, Luna pernah bermalam di rumah sakit karena harus menemani temannya yang mengalami diare parah. Menjelang tengah malam, Luna memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar ruang inap temannya karena tidak bisa tidur.


Namun tanpa di duga, Luna melihat kursi dorong pasien berjalan mondar-mandir sendiri tanpa ada yang menjalankannya. Dan sejak saat itu dia tidak pernah mau lagi mendatangi rumah sakit jika bukan karena terpaksa.


"Eo.. Oppa, sepertinya ini bukan jalan kembali ke Villa. Tapi jalan menuju bandara, apa kita akan kembali ke Korea hari ini juga?" tanya Luna penasaran.


Zian mengangguk. "Melihat kondisimu, aku rasa tidak masalah untuk melakukan perjalanan jauh. Kau tidak keberatan bukan kembali ke Korea hari ini?" tanya Zian memastikan.


"Tentu saja tidak, aku malah senang. Lagipula aku sudah sangat merindukan, Korea." Jawabnya.


Hari ini mereka akan kembali dengan jet pribadi milik Nathan. Sebelumnya Zian sudah merundingkan dengan dokter, dan dokter mengatakan jika tidak masalah untuk melakukan perjalanan jauh karena kondisi Luna yang sudah baik-baik saja.


-


Incheon Airport Seoul, Korea Selatan.


Bandar Udara Internasional Incheon adalah bandar udara terbesar di Korea Selatan dan merupakan salah satu yang terbesar di Asia. Bandara yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai bandara terbaik sedunia dari Airports Council International selama sembilan tahun berturut-turut di tahun 2005-2013.


Tidak biasanya bandara ini keliatan lengang.


Suara pesawat landing, menghempaskan kesunyian bandara ini.


Sebuah Jet pribadi Baru saja landing di bandara tersebut.


Perlahan-lahan tangga pesawat mulai diturunkan, dan orang-orang di dalamnya tampak keluar dan menghampiri dua mobil mewah yang terparkir tak jauh dari pesawat tersebut Landing. Kedua mobil mewah itu memang sudah menunggu kedatangan dua pasangan suami-istri yang menjadi penumpang jet tersebut.


"Zian, di sini!!" seru Reno begitu heboh.


"Oppa, apa siberisik itu datang untuk menjemput kita?" bisik Luna bertanya, Zian mengangguk.


Selain Reno, ada juga Theo yang datang untuk menjemput Nathan dan Viona. Luna dan Viona saling berpelukan selama beberapa saat sebelum akhirnya mereka berdua berpisah dan masuk ke dalam mobil masing-masing.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan tak sepatah kata pun keluar dari bibir Luna, Zian maupun Reno. Reno fokus mengemudi, Zian sibuk dengan laptop di pangkuannya sedangkan Luna tertidur pulas sejak beberapa saat yang lalu.


Sesekali Reno melirik ke belakang melalui spion dan menatap pasangan suami-istri itu bergantian. Reno melihat kesedihan dari sorot mata Zian yang tersamarkan oleh wajah dinginnya. Dan tanpa bertanya sekalipun, tentu Reno tau apa yang membuat sahabat yang merangkap sebagai Boss-nya itu bersedih.


Reno ingin sekali bertanya tapi hal itu dia urungkan karena Reno tidak ingin membuka luka yang masih menganga di hati Zian. Sahabatnya itu baru saja kehilangan calon anaknya sekitar satu setengah bulan yang lalu. Duka masih menyelimuti perasaan Zian dan Luna.


"Sepertinya dia sangat kelelahan," ucap Reno memecah keheningan.


Sontak Zian mengangkat kepalanya kemudian menggulirkan tatapannya pada Luna yang sedang tertidur pulas dalam posisi yang sepertinya sangat tidak nyaman. Zian melepas jasnya kemudian menyelimuti tubuh Luna. "Ya, perjalanan hari ini memang cukup melelahkan," jawabnya.


"Zian, aku turut berduka atas apa yang menimpa Luna dan calon anak kalian. Pasti itu menjadi pukulan terberat bagi kalian berdua terutama, Luna," tutur Reno yang terdengar begitu hati-hati karena dia takut jika ucapannya sampai menyinggung perasaan Zian.


Zian mengalihkan pandangannya pada jalanan. Tatapannya kosong dan datar. "Aku dan Luna sudah merelakannya, karena Tuhan lebih menyayanginya lebih dari apapun." Tutur Zian seraya tersenyum pilu. "Dan bisakah kau tidak membahasnya ketika di depan, Luna? Aku takut dia akan kembali bersedih jika mengingat tentang calon anaknya yang telah tiada."


"Aku mengerti, kau tidak perlu mencemaskan hal itu."


-


Hari demi hari berlalu begitu cepat. Waktu demi waktu Luna lalui dengan perasaan yang sulit di jelaskan dengan kata-kata. Rasanya begitu kacau, ia merasa begitu hampa. Luna hidup dalam kekhawatiran yang dia sendiri tidak pasti tentang itu.


Luna baru saja selesai mandi tepat saat pintu kamarnya di buka dari luar. Terlihat sosok Zian yang baru saja pulang bekerja memasuki kamar mereka dengan raut lelah yang terlihat jelas dari sorot matanya.


"Sebentar saja, biarkan seperti ini. Aku sangat lelah, Sayang. Aku benar-benar lelah," bisik Zian di lengkungan leher Luna.


Luna melepaskan pelukan Zian kemudian memutar tubuhnya dan posisi mereka kini saling berhadapan. Luna maju satu langkah lebih dekat kemudian memeluk Zian. "Sekarang kau boleh melepaskan lelahmu di bahuku, Oppa." Ucap Luna dan semakin mengeratkan pelukannya.


Setelah kembali dari Yunani dan beristirahat selama beberapa hari. Zian sudah kembali ke rutinitasnya. Dia kembali bekerja dan memimpin perusahaan yang hampir satu tahun dia tinggalkan.


Meskipun ada Reno yang menggantikan posisinya selama dia tidak ada, tapi tetap saja tidak semua pekerjaan bisa Reno selesaikan. Ada beberapa pekerjaan yang sengaja Reno tinggalkan untuknya karena harus ditandatangani sendiri oleh Zian.


Zian melepaskan pelukannya kemudian menakup wajah Luna dan mencium singkat bibir ranumnya. "Aku akan mandi dulu," ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


Sebelum meninggalkan kamar. Luna menyiapkan pakaian mana yang harus Zian pakai. Dia terlalu bosan melihat Zian yang memakai kemeja lengan panjang, dan untuk itu kali ini Luna menyiapkan kemeja lengan terbuka untuknya. Kemudian Luna pergi keluar untuk menyiapkan makan malam yang tadi dia pesan dari restoran langganannya.


.


.


Aroma lezat makanan langsung menyeruak masuk ke dalam hidung Zian ketika pria itu menginjakkan kakinya di lantai dapur. Di sana sudah ada Luna yang menunggu kedatangannya. Sudut bibir Luna tertarik ke atas menyambut ke datangan suami tampannya.

__ADS_1


"Oppa, Kemarilah. Ayo kita makan malam sama-sama,"


"Terlihat tidak asing, apa kau memesan dari restoran langgananmu?" tanya Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. "Oya, kau dapat dalam dari Viona. Hari ini aku pergi ke rumah sakit karena salah satu karyawanku tiba-tiba jatuh pingsan jadi aku membawanya ke sana."


"Benarkah?Aku akan menghubunginya nanti. Sejak di bandara aku belum bertemu lagi dengan Vio eonni. Aku jadi merindukannya, Oppa bagaimana kalau akhir pekan ini kita pergi piknik bersama? Kau setuju bukan?"


Zian mengangkat bahunya. "Aku rasa bukan ide buruk. Jangan bicara lagi, sebaiknya kita makan malam sekarang, aku sudah sangat lapar." Luna tersenyum kemudian mengangguk. Karena sebenarnya bukan hanya Zian saja yang lapar, tapi Luna juga. Dia sudah sangat kelaparan.


-


Zian menjambak rambutnya sendiri dengan kuat. Kepalanya benar-benar pening. Tumpukan dokumen yang penuh dengan uang dihadapannya terkadang membuat Zian nyaris gila.


Dan jika boleh memilih, Zian lebih memilih profesi lamanya sebagai ketua gangster daripada harus menjadi CEO yang setiap harinya dia harus dihadapkan dengan pekerjaan yang menguras otaknya.


"Kau terlihat sangat berantakan, apa dokumen-dokumen itu membuatmu begitu frustasi?" tanya Reno yang kebetulan berada di ruangan Zian.


"Hn,"


Cklekk...!!!


Dan decitan pintu terbuka mengalihkan perhatian dua pria di dalam ruangan itu. Sosok Luna memasuki ruangan sambil menenteng dua kantong hitam berisi makanan dan minuman .


Wanita itu mengerutkan dahinya melihat wajah muram suaminya. Diletakkan kantong itu di atas meja lalu menghampiri Zian. Luna duduk di pangkuan Zian dengan manja sambil menggesek junior Zian yang mode on tanpa menghiraukan keberadaan Reno. "Oppa, kau terlihat buruk. Apa perlu aku mengembalikan moodmu itu?" tanyanya menggerlingkan mata.


"Aku rasa kau memang harus melakukannya, Lun. Lihat saja wajah suamimu yang mirip kain belum di setrika itu, sangat tidak enak di lihat," komentar Reno menyahuti ucapan Luna.


Sontak saja Luna menoleh. "Memangnya siapa yang minta pendapat darimu," jawabnya sinis. Lalu pandangannya kembali pada Zian.


Tatapan nakal Luna memberikan sinyal agar Zian melakukan lebih, laki-laki itu meraih bibir Luna dengan bibirnya.


"KKKKYYYAAAA MEREKA MESU*!" Jerit Reno histeris melihat live kiss di depan matanya.


Untung saja ruangan itu kedap suara sehingga teriakan keras Reno tidak terdengar sampai keluar ruangan, tidak ada CCTV juga di dalam ruangan itu. Dan satu-satunya saksi mata yang melihat Live Kiss mereka yang mampu membuat siapa pun yang melihatnya panas dingin hanyalah Reno.


Tak ingin mati berdiri karna melihat ciuman panas pasangan suami-istri tersebut. Segera saja Reno melesat keluar sambil mengipasi tubuhnya dengan tangannya. Ia benar-benar kegerahan jika terlalu lama di dalam ruangan itu, bukan karna AC dalam ruangan itu mati melainkan karna Hot Kiss Zian Luna.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2