Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 43) "Menikahlah Denganku"


__ADS_3


Baca juga novel terbaru Author ya, yang judulnya TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM jangan lupa like koment juga ya riders.


-


"Aaahhh,"


Amanda menggeram sambil memegangi kepalanya yang terasa ingin pecah. Kedua matanya terbuka perlahan, pandangannya kemudian menyapu dan memperhatikan sekelilingnya. Tempat itu begitu asing dan mirip dengan hutan benatara.


Amanda mencoba untuk duduk dan mengingat apa yang terjadi. Matanya sedikit membelalak. Amanda meraba rambutnya dan mendapati rambut panjangnya telah terpangkas pendek, sangat pendek malah.


Bukan hanya rambut panjangnya saja yang membuatnya terkejut, tapi juga pakaian yang membalut tubuhnya.


Bukan lagi pakaian mahal yang dia pakai melainkan pakaian bekas yang membuatnya terlihat seperti seorang gelandangan.


Tidak ada ponsel, tidak ada uang, parahnya lagi Amanda tidak mengenal tempat di mana dia berada saat ini. Ia sekarang terdampar di tempat yang asing.


"TIDAKKKK...!!!"


-


Luna berjalan tenang menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang terlihat legang. Tak ada hilir mudik keluarga pasien maupun perawat. Sangat berbeda dengan ketika dia baru menginjakkan kakinya di lobby beberapa menit yang lalu.


Hari ini Luna berencana untuk menjenguk Zian di rumah sakit.


Setelah lebih dari satu tahun. Akhirnya Zian menemukan dokter yang bisa mengembalikan penglihatan pada mata kirinya yang bermasalah pasca kecelakaan yang menimpanya hari itu.


Saat ini Zian tengah berbincang dengan kedua kakaknya di ruangan inapnya. Luna merasa ragu untuk masuk ke dalam. Dia takut jika kedatangannya akan di tolak oleh kedua kakak Zian, apalagi ini pertama kalinya dia bertemu langsung dengan Shea dan Jordan.


"Ngomong-ngomong di mana gadis itu, Zian? Padahal, Nunna ingin sekali bertemu dengannya. Sayang sekali dia sedang tidak ada di sini," Shea menghela nafas kecewa. Dia ingin sekali bertemu dengan Luna dan mengobrol dengannya.


"Dia baru datang," kemudian Shea menoleh mengikiti arah tunjuk Zian.


Terlihat Luna yang sedang berdiri di ambang pintu. Gadis itu tersenyum kikuk. Dengan ragu, Luna menghampiri Zian dan kedua kakaknya. Luna merasa gugup setentah mati ketika berhadapan dengan Shea dan Jordan.


"Tidak perlu setegang itu. Kami tidak akan menggigit kok," ucap Shea melihat kegugupan Luna. Gadis itu terkekeh. "Kau sangat cantik, Luna. Pantas saja bocah kutub ini jatuh cinta padamu," ucap Shea dan membuat Luna tersipu malu.

__ADS_1


"Eonni terlalu memuji,"


"Siapa yang memuji, aku mengatakan yang sebenarnya. Dan apa kau tau? Sudah sejak lama aku ingin bertemu dan mengobrol denganmu. Tapi bocah kutub ini tidak pernah mau mempertemukanku denganmu,"


"Oya, Luna. Aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi. Bagaimana kalau akhir pekan ini kita pergi bersama? Sudah sejak lama aku ingin memiliki adik perempuan yang bisa aku ajak pergi shooping. Bagaimana? Kau setuju bukan?"


"Belanja ya? Aku rasa bukan ide buruk. Kebetulan memang banyak barang yang ingin aku beli." Ujar Luna begitu bersemangat.


"Yess, aku semakin menyukaimu, Luna," ucap Shea kemudian memeluk Luna.


Diam-diam Zian mengulum senyum tipis melihat interaksi antara Luna dan kakaknya. Melihat Shea yang begitu menyukai Luna akan senakin memudahkan Zian untuk segera menikahi gadis itu dalam waktu dekat. Rencananya Zian akan melamar Luna setelah dia keluar dari rumah sakit.


"Shea, kita harus pergi sekarang. Jangan sampai klient sampai duluan dan menunggu kita,"


Shea menepuk jidatnya. Shea lupa jika ia dan Jordan sudah memiliki janji dengan klient mereka. "Ya, Tuhan. Aku hampir lupa. Luna, Eonni titip Zian. Jaga dia baik-baik, baiklah kami pergi dulu,"


"Hati-hati, Eonni, Oppa,"


"Pasti,"


Selepas kepergian Shea dan Jordan, di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Zian dan Luna. Zian menarik lengan Luna untuk duduk disebelahnya. "Bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa lebih baik?" tanya Luna sambil mengunci manik kanan milik Zian.


Untuk sesaat kebersamaan mereka hanya di warnai keheningan. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Zian maupun Luna. Keduanya sama-sama diam dalam dan larut dalam fikiran masing-masing.


Tiba-tiba Luna kehilangan kata-katanya dan dia bingung harus dari mana memulai perbincangannya dengan Zian.


Entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya, Luna merasa bila Zian bersikap lebih dingin dari biasanya. Bahkan Zian tidak menunjukkan sifat bersahabat sejak dirinya datang.


Luna menoleh, membuat iris matanya kembali bersiborok dengan mata kanan milik Zian. "Ada apa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Zian.


Luna menggeleng. "Tidak ada. Oya, Zian. Apa kau sudah makan siang? Bagaimana kalau aku membelikan makanan untukmu? Kau ingin makan apa?" tanya Luna tanpa mengakhiri kontak matanya.


"Tidak perlu. Aku masih belum lapar. Apa hari ini kau free? Aku kesepian jika harus sendirian di sini, bisakah kau tetap di sini dan menemaniku?" Zian menarik pinggang Luna dan menempatkan gadis itu di atas pangkuannya.


"Zian apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku, bagaimana kalau ada yang melihat kita?" panik Luna sambil memperhatikan sekelilingnya. Dia takut jika tiba-tiba ada yang masuk dan memergoki apa yang ia dan Zian lakukan.


"Tidak perlu tegang, kalau kau takut ada yang tiba-tiba masuk dan melihat kita. Sebaiknya tutup dan kunci pintunya. Beres 'kan,"

__ADS_1


Luna meninju pelan dada Zian."Sembarangan, bisa-bisa semua orang akan curiga kita sedang berbuat yang tidak-tidak jika pintunya sampai di kunci dari dalam." Ujar Luna.


Zian terkekeh, dengan gemas pemuda itu menjitak kepala Luna kemudian menarik tengkuknya dan mencium singkat bibirnya. Dan apa yang Zian lakukan tentu saja membuat Luna terkejut setengah mati.


"Zian, jangan sembarangan menciumku di tempat umun. Bagaimana kalau ada yang melihatnya?" protes Luna setelah Zian mengakhiri ciumannya.


"Aku tidak peduli."


Zian kembali mencium dan memagut bibir Luna lebih dalam dan lebih lama dari sebelumnya. Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian.


Zian mencium bibir Luna dengan lembut, ciuman hangat yang penuh perasaan. Bibir Zian terus memagut bibir Luna, atas dan bawah bergantian. Kedua tangannya membingkai wajah cantik Luna dengan mata mereka sama-sama tertutup rapat.


Ciuman yang awalnya begitu lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


"Eeeuungghhh...!!"


Lengkungan panjang keluar dari bibir Luna ketika lidah Zian berhasil masuk ke dalam mulutnya dan mulai mengobrak-abrik rongga mulutnya, lidahnya mengabsen satu persatu deretan gigi putih Luna.


Tubuh gadis itu memberikan respon yang luar biasa terhadap setiap sentuhan bibir Zian, reaksi dari tubuhnya mengirimkan getaran menuju pita suara Luna sehingga mulutnya berkali-kali meloloskan erangan panjang.


"Eeeungghhh,,,,!!"


Gadis itu kembali menggerang ketika lidah Zian mengajak lidahnya menari, seperti sebuah tarian sensual nan panas yang di iringi lagu erotis yang memikat. Sebelah tangan Zian berada di pinggang Luna, menariknya untuk membunuh jarak di antara mereka.


Zian menarik dirinya sesaat untuk menatap wajah cantik Luna yang selalu terlihat mempesona dimatanya. Mata kanannya memancarkan gairah seperti kobaran api yang di dalam kegelapan malam.


Hampir saja Luna terjatuh dari posisinya jika saja Zian tidak semakin mengeratkan pelukkannya.


Kedua kakinya bertrasformasi menjadi jelly karna ciuman Zian yang semakin menggila. Kemudian ciuman Zian turun menuju leher jenjang Luna dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana. Wajah Luna sedikit mendongak. Bibirnya terus mengeluarkan erangan.


"Zi-Zian, hentikan." Rancau Luna memohon. "Ki-kita bisa melakukan yang lebih jauh lagi dari ini,"


Zian terkesiap. Mata kanannya membelalak. "Ma-maaf Luna, aku hampir saja kehilangan kontrol atas diriku sendiri. Aku hampir melewati batas." Ucapnya penuh sesal.


Luna menggeleng. "Bukan salahmu. Sebenarnya aku juga menginginkannya, tapi kita harus bisa menahannya, setidaknya sampai kita berdua sah menjadi suami-istri," tutur Luna.


"Kalau begitu,,,, menikahlah denganku, Leonil Luna!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2