
Jacksoon menghentikan mobilnya di sebuah wahana bermain. Pria berdarah China tersebut terlihat turun dari mobil sport mewahnya, di ikuti Luna yang kemudian berdiri disamping Jacksoon.
"Untuk apa kita datang kemari?" tanya Luna penuh kebingungan.
"Mengembalikan moodmu supaya wajah jelekmu tidak semakin jelek," jawab Jacksoon.
Dan rasanya Luna ingin sekali menimpuk wajah Jacksoon yang sok ganteng itu dengan kotoran ayam. Moodnya semakin buruk karna ulahnya. Apalagi Jacksoon selalu bersikap seenak jidatnya, dan hal itu membuat Luna semakin kesal.
"Yakk!! Jangan menarikku sembarangan!" amuk Luna sambil menatap kesal tangannya yang di tarik sembarangan oleh Jacksoon. "Sebenarnya kau ingin membawaku ke mana?"
"Ck, jangan cerewet dan ikut saja," jawab Jacksoon sambil menjitak kepala sewarna tembaga milik Luna.
"Yakkk!!"
CHU...
Kedua mata Luna membelalak saking kagetnya. Jacksoon menciumnya, tepat dibibirnya. Dan itu adalah kedua kalinya Jacksoon menciumnya. Pria itu menyeringai, sekarang dia tau cara paling ampuh untuk membuat Luna berhenti mengomel dan marah-marah karna ulahnya.
"Ayo masuk," Jacksoon menggenggam tangan Luna dan membawanya memasuki wahana permainan. Luna tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Tidak tertarik," balasnya dengan raut malas.
Jacksoon mendesah berat. "Ya sudah kalau kau tidak mau. Aku akan ke sana sendiri," ucap Jacksoon.
Luna pun masih tetap pada pendiriannya untuk berdiam di tempatnya, sampai ia menyadari bila Jacksoon sudah menghilang dari sampingnya. Laki-laki itu serius mendatangi wahana permainan.
Akhirnya Luna pun mulai beranjak dan menghampiri si pria menyebalkan tersebut. Dari kejauhan, Luna melihat Jacksoon sedang berkutat pada salah satu permainan yaitu robot pengambil boneka. Luna yang memang pada dasarnya sangat menyukai boneka langsung mendekati pria tersebut dan mengambil alih permainan yang dimainkan Jacksoon.
"Yahh, meleset!"
"Sial, padahal sedikit lagi,"
"Hampir, sedikit lagi. Ya! Ya! Tidaaakk…"
"Ugh, lolos lagi!"
"Bodoh, padahal sudah kena!"
Jacksoon hanya mendesah melihat keseriusan gadis aneh itu. Bahkan ia sudah tak dapat menghitung berapa koin yang sudah Luna habiskan untuk satu permainan ini.
"Ck, dasar bodoh!! Mengambil boneka saja tidak bisa, minggirlah biar aku yang melakukannya,"
"Cihh, sombong sekali kau. Baiklah, aku akan membiarkanmu mencobanya Tuan simbong," balas Luna seraya memutar mata jengah.
"Hao, lihat ini dan buka lebar-lebar matamu, Nona." Jacksoon langsung mengambil alih permainan Luna. Dia begitu percaya diri bisa mendapatkan boneka incaran Luna.
1 menit
2 menit
3 menit
"KYYYAA!! KAU BERHASIL!" Luna langsung menjerit histeris begitu Jacksoon berhasil menjepit boneka yang menjadi incarannya itu. Sedangkan Jacksoon hanya bisa mendengus geli melihat bagaimana tingkah kekanakkan Luna.
"Kau puas, aku tidak hanya sekedar omong kosong saja, dan sebagai imbalannya. Kau harus mentraktirku makan siang.
"Bukan masalah, nanti aku akan mentraktirmu."
"Aku sangat menantikannya. Kau mau coba permainan lain?" tawar Jacksoon
Luna mengangkat wajahnya dan mengangguk dengan antusias. "Mau! Aku mau, ayo kita pergi sekarang!" renggek Luna sambil mengedipkan matanya. Jacksoon mengacak helaian sewarna tembaga milik gadis itu dan mereka berjalan beriringan menuju wahana lain.
__ADS_1
Satu jam kemudian…
"Aarrkkhhh. Sial, kenapa aku kalah terus! protes Luna sangat frustasi.
Setelah mendapatkan boneka Teddy itu. Mereka memutuskan untuk mulai mencoba permainan lain di wahana ini. Mulai dari memasukkan bola basket, menginjak tombol, sampai dance. Tapi Luna heran, ia selalu kalah telak dari Jacksoon. Apakah seorang Luna Leonil sepayah itu? Luna iri pada Jacksoon.
"Itu karna kau terlalu payah, Nona." Cibir Jacksoon sambil terus fokus pada permainan yang dimainkannya. Kali ini adalah permainan memukul buaya. Dan lagi-lagi Jacksoon menang telak dari Luna.
"Setidaknya berikan aku kesempatan untuk menang," kata Luna setengah memohon. Ia sangat frustasi.
Kesal ketika waktu bermain sudah hampir habis dan skor Jacksoon masih unggul darinya.
Jacksoon dan Luna masih tetap memukul buaya itu sesuai instruksi permainan, tinggal sepuluh detik lagi dan waktu akan habis. "Aarrrkkhhh, kau benar-benar menyebalkan Jackoon Wang!! Kenapa tidak mau mengalah sedikit saja dariku.
Jacksoon mendelikkan bahu acuh. "Itu bukan urusanku, kalau payah ya akui saja." Luna mencerutkan bibirnya.
Jacksoon memang tidak ada bagus-bagusnya selain wajahnya yang tampan. Dia tetaplah sosok yang sangat menyebalkan, tidak peka, egois, dan mau menang sendiri. Dan tiga sifat itu melekat pada seorang Jacksoon tanpa ada yang bisa menyangkalnya.
"Dasar menyebalkan,"
Jacksoon mendecih melihat Luna yang sedang menekuk wajah, kemudian gadis itu membalikkan badan membelakanginya dan melipat tangannya di atas dada.
"Hei, gadis manja," panggil Jacksoon datar.
"…"
Tak ada jawaban.
"Luna," panggil Sasuke melembut.
"…"
Masih tak ada jawaban.
"APA?" Luna berbalik dengan wajah garangnya, menatap Jacksoon dengan tajam.
"Bagaimana? Kau ingin kemana lagi?" tanya Jacksoon dengan nada yang diusahakan terdengar lembut meskipun Ia sendiri cukup tahu bahwa ia tak pandai melakukan hal itu.
"Tidak ingin kenana-mana, aku mau pulang saja," jawab Luna dan mulai berjalan menuju lantai satu menggunakan eskalator.
Jacksoon hanya mengikuti gadis itu dari belakang. Dan sepertinya usahanya untuk membuat gadis itu tersenyumnlagi gagal total. Jacksoon mengacak rambutnya frustasi, dia tidak tau habis fikir dengan gadis yang satu ini.
-
"Oppa," panggil Viona pada suaminya.
"Ada apa, Sayang?"
"Aku harus berbelanja bulanan, bagaimana jika si kembar kita titipkan saja pada Cherly? Aku rasa dia tidak akan keberatan,"
"Aku sih setuju-setuju saja. Hubungi Rio juga dan minta mereka untuk datang ke rumah Cherly. Mungkin dia akan kwalahan jika hanya sendirian,"
Viona tersenyum kemudian mengangguk. Ia setuju dengan Nathan. "Baiklah, aku rasa bukan ide yang buruk. Kalau begitu aku akan bersiap-siap," Nathan mengangguk.
.
.
Mereka dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan setelah menitipkan si kembar di rumah Cherly. Tepat di belakang mobil Nathan, terlihat sebuah van hitam yang sepertinya sedang mengikuti mobilnya.
Untuk kesekian kalinya, Nathan melirik kaca spion dan mendapati van hitam tersebut masih mengikuti mobilnya.
__ADS_1
Sejak tadi firasatnya tak enak dan sejak tadi pula mobilnya diikuti beberapa mobil tak dikenal. ia yakin sekali mereka sedang diikuti. Nathan kembali melirik ke belakang, tidak hanya satu mobil saja.
Ada yang menjaga jarak dari mobilnya, ada juga yang tidak. Ia ingin sekali menghubungi Theo namun ia tak ingin memancing kecemasan wanita yang sedang duduk disampingnya. Jadi Nathan memutuskan hanya memutar-mutar jalan untuk mengulur waktu sampai mobil yang mengikutinya kehilangan arah.
"Oppa, sebenarnya kita mau kemana?"
Nathan menoleh dan mendapati Viona sedang melihat bingung kearah luar jendela mobil. Sudah ia duga jika Viona mulai curiga, "Sepertinya kita sedang diikuti,"
"Diikuti?" ulang Viona, Nathan mengangguk.
"Aku akan sedikit mengecoh mereka,"
Mobil Nathan melaju kencang menuruni fly over dan berakhir disebuah perempatan jalan. Mata Nathan melebar saat mendapati kendaraan yang memadati perempatan itu, "Ada apa ini?"
"Sepertinya sedang ada sebuah parade tahunan," jawab Viona.
"Sial!!" Nathan tajam mengumpat sambil menginjak rem. Mobilnya tak bisa bergerak sama sekali. Mengapa disaat seperti ini harus ada parade sialan ini, sih? gerutu Nathan membatin.
"Oppa, sepertinya kita akan terjebak macet selama beberapa kilometer kedepan. Bagaimana ini?" Viona menggigit bibirnya khawatir. Sementara Nathan sedang berfikir keras dan mencoba mencari jalan keluar.
"Oh! Aku tahu jalan pintas yang sepi!" Viona berseru disampingnya. Ia baru saja ingat jika dulu sering melewati jalan tersebut.
Nathan menoleh sekilas kearah Viona, "Jalan pintas apa?"
Viona mengangguk. "Sekitar lima ratus meter kedepan ada belokan ke kiri, lalui jalan itu dan kita akan sampai ke jalanan besar dekat rumah lamaku. Aku yakin jalanan itu pasti sepi." Ujar Viona. Ia tahu persis jalan pintas itu. Jalanan gelap itu panjang dan sepi. Bagaimana jika orang-orang yang membuntutinya sejak tadi menghadang mereka di jalanan sepi itu?
"Oppa, apa yang kau fikirkan?"
Nathan mengerjap dan baru sadar Viona tengah memandanginya, "Apa kau yakin kita akan lewat sana? Apakah aman? Bagaimana kalau mereka samlai memblokir jalan kita?"
Viona tampak berfikir. "Tapi jika kita tetap dijalan ini, kupastikan tengah hari kita baru sampai di pusat perbelanjaan. Ini macet total, Oppa!" Ujar Viona menegaskan.
"Baiklah." Ujar Nathan pada akhirnya. Padahal batinnya masih berdebat. Akhirnya ia memutuskan untuk melewati jalanan tersebut atau tidak?
"Tuan, Anda dalam masalah besar. Mobil Anda sedang diikuti,"
Sebelum Nathan sempat mengatakan sesuatu, suara Theo lebih dulu terdengar di earphone yang terpasang ditelinga kirinya. Nathan melirik Viona sekilas sebelum menjawab, "Ya, aku tau dan saat ini aku dan Viona dalan masalah besar,"
"Yamamoto dan anak buahnya sedang menguncar Anda Tuan, sepertinya mereka menyimpan dendam setelah Anda menolak kerja sama dengan perusahaan mereka,"
"Jadi karna ulah bajingan itu? Aku akan mengurus mereka nanti, aku tidak bisa melibatkan Viona dalam bahaya, dia baru saja melahirkan. Dan saat ini kami terjebak macet."
"Di jalan. Perlambat laju mobil Anda Tuan, dan kami akan menuju ke tempat Anda. Jangan berhenti, karena kemungkinan besar mereka sedang mengekori mobil Anda."
Nathan mendesah berat. Ternyata situasinya lebih buruk dari yang dia bayangkan. "Aku mengerti. Segera menuju kesini. Aku akan mengulur waktu."
"Apakah itu, Theo?" tanya Viona.
Nathan menoleh dan langsung mendapati wajah cemas Viona, "Benar, dan bantuan akan segera datang. Jadi kau tidak perlu cemas. Semua akan baik-baik saja,"
Setelah itu Nathan menginjak gas dan mobil melaju perlahan karena lalu lintas di depan masih padat. Akhirnya ia sudah memutuskan, ia akan melalui jalan pintas itu dan tancap gas sekecang-kencangnya. Artinya ia siap memulai aksi kejar-kejaran yang menegangkan.
"Bersiaplah Nyonya,nmungkin kita harus berolah-raga sebentar?"
"Aku siap, dan aku rasa tidak ada masalah. Lagi pula ini bukan pertama kalinya untukku," Viona tersenyum.
Nathan menghela napas, dia benci situasi semacam ini. "Mahluk-mahluk menyebalkan seperti mereka memang harus dibereskan. Dan yang paling penting sekarang adalah kita harus bisa terbebas dari macet yang menyengsarakan ini."
"Ya, kau benar Oppa,"
-
__ADS_1
Bersambung.