
Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗
-
"Luna..."
DEGG...
Luna terlonjak kaget mendengar suara yang begitu familiar masuk dan berkaur di dalam telinganya. Sontak saja Luna menoleh dan...
"OPPA!!!"
Wanita itu memekik kencang setelah melihat siapakah gerangan yang saat ini berdiri tepat dibelakangnya. Jantung Luna serasa berhenti berdetak dan aliran darah pada tubuhnya seperti berhenti mengalir. Antara takut dan terkejut. Takut jika Zian akan meninggalkannya setelah dia tau jika dirinya adalah wanita yang tidak berguna karena tidak mungkin bisa memberinya keturunan. Terkejut oleh kemunculan Zian yang begitu tiba-tiba.
Luna menundukkan wajahnya.Air matanya jatuh perlahan dan membasahi wajah cantiknya. Membentuk aliran sungai kecil di kedua sisi hidung mancungnya. Luna bingung harus berkata apa, lidahnya terasa keluh.
Zian maju satu langkah kemudian membawa Luna ke dalam pelukannya. "Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja," lirih Zian berbisik. Suaranya terdengar parau seperti sedang menahan tangis. Luna mencengkram pakaian Zian dan mulai terisak. Air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuknya perlahan jatuh dan tumpah membasahi wajah cantiknya.
Luna tidak tau dosa apa yang telah dia perbuat sampai-sampai Tuhan harus memberinya cobaan seberat ini. Dan yang tidak dia pahami adalah, kenapa duka selalu datang bertubi-tubi ke dalam hidupnya. Luna tersayat, hatinya terluka dan berdarah-darah. Dia ingin menumpahkan semuanya, kepedihan hatinya di dada Zian.
"Hiks, kenapa Oppa? Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Kenapa Tuhan tidak pernah membiarkan aku bahagia walau hanya satu detik saja, kenapa?"
Zian menutup matanya. Wajahnya mendongak, mencoba menghalau cairan bening yang menggenang di pelupuknya. "Semua akan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu, kita akan menemukan cara agar kau bisa sembuh," ujar Zian panjang lebar.
Luna menggeleng. "Tidak ada cara lain, Oppa. Tidak ada cara lain, hanya itu satu-satunya cara. Dan jika rahimku sampai di angkat maka itu artinya aku tidak mungkin bisa hamil dan memiliki anak. Aku akan mandul, Oppa. Aku akan menjadi wanita yang tidak berguna,"
"Jangan pikirkan apapun, kita harus fokus pada kesembuhanmu dulu. Yang terpenting bagiku kau sembuh, Luna. Soal anak kita masih bisa membicarakannya lagi,"
Luna melepaskan pelukan Zian. "Sebaiknya kita bercerai saja, Oppa. Aku sudah tidak berguna lagi untukmu. Aku bukan wanita yang sempurna. Aku penyakitan dan mandul, keberadaanku hanya akan merepotkanmu saja. Jadi lebih baik kita berpisah saja" Ujarnya.
"Apa yang kau katakan, Luna Qin? Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan ini?" Zian menatap Luna dengan marah. Kilatan tajam terlihat jelas dari sorot matanya.
"Aku sadar, Oppa. Aku sangat sadar dengan apa yang aku katakan. Memangnya apalagi yang bisa kau harapkan dariku sekarang? Aku.... Emmpphh..." Luna tidak melanjutkan ucapannya saat kedua tangan Zian menakup wajahnya dengan dan memagut kasar bibirnya.
__ADS_1
Zian mencium bibir Luna dengan kasar dan sorot matanya memancarkan amarah yang begitu besar. Luna yang merasa terancam berusaha melepaskan ciuman tersebut namun tidak bisa. Luna terus memukul dada Zian dengan brutal, berharap pria itu mau melepaskan ciumannya. Tapi tidak, Zian tetap tidak mau melepaskannya. Dan parahnya lagi dia melakukannya di depan umum.
Zian tersentak saat merasakan sisi wajahnya basah. Dan ketika dia membuka matanya, Zian melihat wajah Luna yang sudah berderai air mata. Zian melepaskan pelukannya kemudian membawa Luna ke dalam pelukannya.
"Aku tidak peduli kau mandul atau tidak, aku tidak peduli kau bisa memberikan keturunan padaku atau tidak. Aku memang menginginkan seorang anak, Luna-ya. Tapi aku tidak bisa kehilanganku juga. Aku mohon, jangan mengatakan yang tidak-tidak lagi. Jangan pernah berfikir untuk pergi dan meninggalkanku. Karena selamanya aku akan menahanmu untuk selalu di sisiku. Karena kau adalah sumber kebahagiaanku," Zian menutup matanya dan kian mengeratkan pelukannya pada tubuh Luna.
Luna menutup matanya. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Zian."Terimakasih sudah menerimaku apa adanya, Oppa."
"Sama-sama, Sayang."
-
Kabar mengenai penyakit Luna telah sampai ke telinga Viona. Sebagai seorang kakak tentu saja Viona sangat syok setelah mengetahui penyakit yang tengah di derita oleh adiknya. Dan sebagai seorang kakak tentu saja Viona bisa merasakan kesedihan dan kepedihan hati Luna.
Memangnya wanita mana yang tidak akan hancur dan terpuruk ketika dia mengetahui jika dirinya tidak mungkin bisa memiliki keturunan. Mengandung, melahirkan dan menyusui adalah salah satu impian terbesar bagi setiap wanita yang ada di dunia ini. Salah satunya adalah Luna. Tapi impian Luna untuk memiliki seorang anak kini hanya tinggal angan-angan.
Viona menghampiri Luna yang sedang duduk termenung di ambang jendela kamarnya. Pandangannya kosong ke depan, wajahnya terlihat sendu dan sepasang mutiara coklatnya hanya memancarkan kepedihan hati. Viona mendesah berat. Dengan senyum di bibirnya, kemudian dia menegur Luna.
"Luna,"
"Lepaskan semuanya dan jangan di tahan. Menangis lah sepuasnya karena bahu, Eonni akan selalu ada untukmu," bisik Viona dengan suara paraunya.
"Katakan, Eonni-ya. Katakan aku harus bagaimana? Hiks, aku tidak ingin mandul. Aku tidak kau di operasi," tangis Luna pecah di pelukan Viona.
Viona mengangkat wajahnya mencoba menghalau cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya. Viona memahami betul apa yang dirasakan oleh Luna saat ini. Pasti dia sangat syok dan terpukul dengan vonis yang di berikan oleh Dokter Kang.
"Semua akan baik-baik saja. Percayalah pada, Eonni. Eonni, akan melakukan apapun yang terbaik untukmu."
"Bagaimana jika, Zian Oppa pada akhirnya akan kecewa padaku, Eonni-ya? Bagaimana jika akhirnya dia malah meninggalkanku karena aku tidak bisa memberinya keturunan. Aku sangat takut, Eonni-ya. Aku benar-benar takut,"
Viona semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Luna. Di ambang pintu terlihat Zian yang mencoba menahan perasaannya. Hatinya hancur melihat keadaan Luna saat ini. Tak sanggup, Zian memutuskan untuk pergi dan menemui Nathan di ruang keluarga
"Bagaimana keadaannya?" tanya Nathan setelah Zian tiba di sana.
"Buruk, Hyung. Luna, sangat terpukul dengan Diagnosa dokter. Aku sangat takut jika hal itu akan mempengaruhi mentalnya. Aku bingung harus bagaimana sekarang. Bagaimana caranya aku bisa menyelesaikan masalah ini dan membuat Luna merasa lebih baik. Aku benar-benar merasa buruk," Zian mengusap kasar wajahnya dan sedikit membungkuk dalam posisi duduknya.
__ADS_1
"Dukungan darimu!! Hanya itu yang Luna butuhkan saat ini," sahut seseorang dari arah tangga. Terlihat Viona berjalan menghampiri kedua pria tampan tersebut. "Berikan dukungan penuh untuknya. Lambat laun dia pasti bisa melupakan kesedihannya, dan selama itu.... kehadiranmu sangat diperlukan untuk menguatkan mentalnya."
"Peranmu untuk membantunya keluar dari jurang keterpurukan adalah yang paling penting. Dan yang paling penting sekarang adalah melakukan operasi. Karena hanya itu satu-satunya cara untuk bisa menyelamatkannya dari kematian. Dan semakin cepat di lakukan, maka akan semakin baik,"
"Akan aku lakukan, Nunna!!"
-
Zian menghampiri Luna di kamar. Wanita itu tak mau keluar kamarnya sama sekali sejak dinyatakan jika dirinya mengidap kanker rahim stadium 3, satu Minggu yang lalu. Luna terus mengurung dirinya di kamar, dan hal itu membuat Zian menjadi semakin cemas. Berat badannya menurun akhir-akhir ini, keadaannya benar-benar memperihatinkan.
"Sayang, makan dulu, ya. Kau belum makan apapun sejak pagi,"
Luna menggeleng. "Nanti saja, Oppa. Aku masih belum lapar."
Zian mendesah berat. "Kau selalu saja mengatakan belum lapar. Sedangkan kau belum makan apapun sejak pagi. Kau bisa sakit jika-"
"Bukankah aku memang sedang sakit-" Luna menyela cepat. Wanita itu mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Zian. "Bukan, tapi aku sekarat." Lanjutnya dengan mata terkunci pada sepasang mutiara milik Zian.
"Apa yang kau katakan?"
"Bukankah itu adalah fakta, Oppa. Jika aku makan, apakah semua bisa kembali seperti semula? Apakah keadaan bisa berubah? Tidak kan. Aku hanyalah wanita cacat yang tidak berguna. Impianku untuk menjadi seorang ibu pupus karena penyakit sialan ini. Lalu untuk apalagi aku tetap bertahan jika aku sudah tidak memiliki tujuan,"
"Lalu apakah aku tidak penting untukmu?"
"Penting!! Kau sangat penting bagiku, Oppa. Dan aku tidak bisa mengingkarinya. Itulah kenapa aku merasa semakin ketakutan. Bagaimana jika suatu saat nanti hatimu berubah?"
"Bagaimana kalau hatimu goyah, aku takut kau akan merasa bosan pada wanita tidak berguna yang tidak bisa memberimu keturunan. Seperti Papa dan Mama, pada akhirnya kau akan meninggalkanku juga. Hiks, aku sangat takut Oppa. Aku benar-benar takut, aku takut kau meninggalkanku suatu saat nanti. Aku hanyalah wanita cacat yang tidak berguna,"
Zian menyeka air matanya. Hatinya terasa seperti di remas-remas setelah mendengar apa yang Luna katakan. Zian menarik Luna ke dalam pelukannya. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Apapun yang terjadi aku akan selalu berada di sisimu. Aku akan menerimamu apa adanya. Aku tidak peduli kau bisa memberiku keturunan ataupun tidak, aku akan selalu berada di sisimu. Untuk itu, jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku. Karena aku bisa gila tanpa dirimu," Zian menutup matanya dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Oppa," lirih Luna.
"Untuk itu, jalani operasi itu dan tetaplah hidup. Kembalilah menjadi, Luna yang dulu aku kenal. Ceria dan tidak mudah putus aku. Aku... merindukanmu yang dulu,"
-
__ADS_1
Bersambung.