Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 16 "Kekasih Gelap"


__ADS_3

Ketukan keras pada pintu mengalihkan perhatian Viona yang sedang berbaring disofa. Gadis itu bangkit dari posisinya dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa tamunya. "Good night, Miss." Viona terkekeh, gadis itu menarik tamunya untuk masuk kedalam kamar inapnya dan menuntun laki-laki itu untuk duduk disofa.


"Kenapa tidak menghubungiku lebih dulu jika ingin berkunjung kekamar ini?" tanya Viona pada laki-laki disampingnya.


Nathan mengecup singkat bibir Viona. "Jika aku memberitaumu bukan kejutan namanya." Lagi-lagi Viona terkekehL.


Tanpa merasa sungkan...Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan. "Kenapa, Sayang? Kau ingin sesuatu dariku?" Kembali Nathab mengecup bibir Viona setelah menyelesaikan pertanyaannya. Viona menggeleng kemudian menurunkan kedua tangannya dari leher Nathan.


"Oppa, biar aku lihat iritasi pada mata kirimu. Aku takut jika iritasinya akan semakin parah."


"Tentu, jika kau tidak keberatan."


Viona lantas menggeleng.. hati-hati gadis itu melepas perban dari mata kiri Nathan. Viona memperhatikan mata kiri kekasihnya yang tampak memerah dan sedikit berair itu dengan seksama. "Apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Viona ditengah kesibukannya membersihkan sekitar mata itu sebelum meneteskan cairan tanpa warna pada bola matanya dan menutupnya kembali dengan kasa baru.


"Entahlah, aku merasa seperti kemasukkan sesuatu semalam. Aku menggosoknya, bukannya membaik malah jadinya seperti ini saat pagi harinya" Tutur Nathan.


"Selama tiga sampai empat hari pastikan tidak ada debu dan air yang masuk. Dan aku sarankan tetap gunakan perban sampai iritasinya benar-benar sembuh." Nasehat Viona setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Siap Ibu dokter." Viona terkekeh mendengar jawaban Nathan. Gadis itu mengecup singkat bibir pria selingkuhannya sebelum beranjak dan melesat menuju kamar mandi.


"OPPA, TETAPLAH DISITU. AKU AKAN MEMBERSIHKAN DIRI DULU SETELAH INI TEMANI AKU MAKAN MALAM, OKE." Teriak Viona dari arah kamar mandi, suaranya sedikit meninggi agar bisa terdengar sampai telinga Nathan. Nathan mendengus dan menggelengkan kepalanya.


Drett... Drett... Drett..


Getaran pada ponsel Viona sedikit menyita perhatian Nathan. Pria itu mengambil benda tipis nan canggih yang tergeletak di atas meja dan mendapati nama 'Leo' menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Tanpa ragu, Nathan segera menerima panggilan itu.


"Hallo, Sayang. Apa kau sudah tidur? Aku sangat merindukanmu, kelinci kecilku. Besok aku akan tiba di Korea dan kita akan bertemu. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk bisa segera memeluk dan menciummu."


Gyutt...


Tangan Nathan terkepal kuat mendengar apa yang baru saja Leon katakan. Hatinya seperti terbakar bara api ketika mendengar kata 'Memeluk dan mencium' yang keluar dari bibir Leo. Nathan tidak terima jika miliknya di sentuh oleh orang lain bahkan itu tunangannya sendiri.


"Sayang, apa kau di sana? Viona, kenapa kau tidak bicara dan hanya diam saja? Ahh, aku tau. Pasti kau terkejut ya, saking bahagianya aku akan pulang makanya kau sampai tidak bisa berkata apa-apa. Oya, aku juga sudah menyiapkan gaun yang akan kau kenakan saat pesta pernikahan kita. Satu bulan, aku akan menundanya selama satu bukan. Semoga kau senang, dan sebelum pernikahan kita. Aku ingin meminta sesuatu darimu, itung-itung sebagai pembuktian jika kau benar-benar bersedia menjadi istriku."


Nathan semakin tersulut emosi dengan kalimat yang Leo katakan. Pria itu berusaha untuk mendapatkan kesucian Viona sebelum hari pernikahan mereka dan Nathan tidak bisa menerimanya.


"Sayang, kenapa kau tetap diam? Ahh, baiklah kalau kau memang tidak mau bicara. Aku masih ada pertemuan penting, aku tutup dulu, oke. Love You!"


BRAKKK...

__ADS_1


Nathan membanting ponsel Viona dan membuat benda tipis itu hancur hingga menjadi beberapa bagian. Amarah terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam. Aura yang dipancarkan pun terlihat begitu mengerikan membuat bulu kuduk siapa pun berdiri termasuk sosok gadis yang terpaku di depan pintu. Sepanjang dia mengenal Nathan, ini pertama kalinya melihat dia semarah itu. Viona bisa merasakan aura membunuh yang begitu kuat dari diri Nathan.


Dengan jantung yang berdegup kencang. Viona menghampiri Nathan yang masih di kuasai amarah. Dan tanpa sepatah kata pun, gadis itu langsung memeluknya. "Aku tidak tau apa yang membuatmu sampai semarah ini. Tapi aku mohon tenanglah. jangan membuatku ketakutan," lirih gadis itu memohon. Nathan terkesiap. Di liriknya Viona dari sudut mata kanannya dan mendesah berat.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu ketakutan. Kau sudah siap?" Nathan melonggarkan pelukkannya yang kemudian di balas anggukan oleh Viona. "Soal ponselmu, aku akan menggantinya setelah perjalanan ini selesai. Dan untuk sementara gunakan dulu ponselku," Viona menggeleng. Kembali dia memeluk pria itu dengan erat.


"Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Jika aku bisa memilih, aku ingin hidup dan menghabiskan masa tuaku bersamamu!" Viona menutup matanya yang mulai memanas.


Viona belum pernah sampai seperti ini sebelumnya, begitu pula dengan Nathan. Mereka yang tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, dan ketika cinta itu tumbuh dan mekar di hati mereka namun cinta mereka adalah cinta terlarang. Dan itu rasanya sangat menyakitkan.


.


.


Nathan dan Viona melanjutkan kegiatannya dengan berjalan-jalan menyusuri kapal pesiar setelah makan malam terakhir mereka di kapal super mewah itu. Mengingat jika besok mereka akan berpisah entah untuk sementara atau justru selamanya.


"Kenapa kau tidak menyukai kisah Phantom dalam Pahantom Of The Opera? Bukanlah dia adalah pejuang cinta yang tangguh? Demi cintanya dia sampai rela menghabisi semua orang yang dia anggap sebagai penghalang. Meskipun apa yang dia lakukan itu tergolong kejam, tapi dia setia pada pasangannya sampai akhir hayatnya." ucap Luhan.


"Yes, It is. Tapi aku lebih tertarik pada kisah Moulin Rouge. Belive In Truth, Beauty, Fredem and abote all things Love. Dan aku ingin kisah kita seperti itu, meskipun hubungan kita berawal dengan cinta terlarang tapi memiliki akhir yang indah seperti kisa Cinderella."


Nathan terdiam mendengar ucapan Viona. Laki-laki dalam balutan kemeja hitam lengan tebuka itu menarik tengkuk Viona dan mencium bibirnya. Menekannya dengan penuh perasaan dan menginvasi bibir manisnya itu. Nathan memainkan lidahnya di dalam mulut hangat Viona dan mengajak lidahnya menari bersama hingga sepasang tangan memeluk lehernya dengan mesra.


"Vio." panggil Nathan setelah mengakhiri ciumannya. "Aku tidak tau mantra apa yang telah kau sematkan padaku. Padahal aku hanya mengenalmu secara fisik dan nama... tapi kenapa aku bisa mencintaimu begitu besar." bisik Nathan setelah melepaskan tautan bibirnya. "Meskipun cinta ini terlarang dan salah. Namun aku tidak akan pernah menyesalinya, aku akan memperjuangkannya dan merebutmu dari pelukannya. Aku akan menbuatmu menjadi milikku, hanya milikku."


Viona menurunkan tangan Nathan dari wajahnya dan berhambur memeluknya, menyandarkan kepalanya pada dada bidang yang tersembunyi dibalik tanktop dan kemeja hitamnya


"Aku akan menantikannya, Oppa."


Viona mengangkat wajahnya dari dekapan Nathan. Menatap Nathan dengan senyuman pada bibir yang dipoles lipstick pink lembut itu. Nathan ikut menarik sudut bibirnya dan kembali merengkuh gadis itu kedalam pelukannya.


-


"Viona,"


Viona tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum saat melihat kedua sahabatnya berdiri disana sambil melambaikan tangannya. Viona berlari dan memeluk mereka berdua, Kirana dan Sunny tidak dapat menahan kebahagiaannya karna akhirnya sahabat barbienya itu pulang dari liburan mewahnya.


"Ki-Kiran/Su-Sunny...! Kalian tidak membuatku tidak bisa bernafas!!" Viona berusaha untuk melepaskan pelukan kedua sahabatnya.


"Hei nona-nona , lepaskan. Kalian membuat calon istriku tidak bisa bernafas."

__ADS_1


Deggg!!!


Viona terkejut mendengar suara itu. Lantas Viona menoleh dan mendapati dia berdiri disana dengan senyum lebar terbaiknya. Sosok itu menghampiri Viona yang sudah lepas dari dekapan Kirana dan Sunny lalu memeluknya dan mengecup singkat bibir tipisnya. "Aku merindukanmu, Sayang." Bisik laki-laki itu sambil terus mengecupi wajah hingga leher Viona dan semakin mengeratkan pelukannya.


Sementara itu, dari kejauhan seorang laki-laki menatap mereka dengan pandangan tidak suka. Kemaran terpancar jelas dari sorot matanta yang tajam. Rasanya dia ingin sekali menembak mati pria itu karna sudha berani menyentuh dan mencium miliknya dengan sesuka hatinya. Meskipun statusnya hanya sebagai kekasih gelap, namun Nathan tetap tidak suka melihatnya.


GYUTTT'...


Laki-laki itu mengepalkan tangannya dan mata kanannya terus menatap pasangan yang tengah berpelukan itu dengan pandangan tidak suka.. cemburu lebih tepatnya. Jessica menutup matanya dan membalas pelukan laki-laki itu tanpa tau jika ada seseorang menatapnya terluka.


"Viona Anggela, aku pasti akan merebutmu dari pelukkannya. Bahkan jika aku harus membunuhnya!!"


-


"Tuan,"


Perhatian Nathan teralihkan dari koran paginya saat Kai datang bersama seorang laki-laki muda yang memiliki lesung pipi. Keduanya sama-sama menghentikan langkahnya saat sudah tiba di depan Nathan.


Laki-laki berwajah stoic itu meletakkan korannya di atas meja dan pandangannya bergulir pada dua laki-laki didepannya. Kai menyodorkan sebuah map pada Nathan. "Tuan,, semua informasi yang Anda butuhkan tentang laki-laki itu ada di situ. Dan kami berdua sudah menyelidikinya.. seperti dugaan Anda. Jia dia memang putra Derry Ardinata." Ujar Kai menjelaskan.


Nathan melemparkan map itu keatas meja. "Aku ingin kalian mengawasinya, apapun yang dia lakukan laporkan padaku. Pastikan bajingan itu tidak melakukan sesuatu yang buruk pada gadisku." Pinta Nathan pada sikembar Kai dan Lay. Keduanya mengangguk kompak kemudian melenggang meninggalkan Nathan sendiri diruangan itu.


Drett!! Drett!! Drett!!


Perhatian Nathan teralihkan. Pria itu bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju nakas kecil yang ada disamping sofa paling ujung.


Bungsu Lu itu memicingkan mata kanannya melihat nomor asing yang tertera dilayar ponselnya yang menyala terang. Karna merasa penasaran, tanpa berfikir panjang Nathan langsung menerima panggilan itu dan suara yang begitu familiar langsung menyapu gendang telinganya.


^Tuan, kami melihat nona Viona. Dia dan laki-laki itu sedang berada di restauran sekitar Hongdae.^


"Baiklah, aku akan kesana sekarang. Siapkan sebuah ruangan khusus untukku. Aku butuh privasi saat bertemu dengannya. Aku tidak ingin pertemuanku diketahui oleh bajing** itu dan menempatkan gadisku dalam bahaya."


^Baik, Tuan!!^


Nathan memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak. Pria itu beranjak dari posisinya dan melenggang pergi. Sudah dua hari sejak berakhirnya pelayaran itu, Viona dan Nathan tidak lagi bertemu karna kesibukkan masing-masing. Viona yang kembali bekerja dan begitu pula dengan Nathan. Pekerjaan di kantornya menumpuk karna Bima tidak bisa mengatasi semuanya.


Baru saja Senna hendak memanggilnya untuk sarapan bersama tapi Nathan sudah terlanjur pergi. Wanita itu mendengus kemudian berbalik dan menghampiri keluarganya yang lain yang sudah menunggu di meja makan.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2