
"Aku tidak mau tau. Pokoknya Oppa harus memakai kostum Ayam itu, atau aku akan ngambek sama Oppa dan mendiami Oppa selama berhari-hari?" ancam Tiffany.
Bukan hanya Nathan yang selalu tersiksa dengan tingkah istrinya yang sedang hamil karna ngidam aneh-anehnya. Tapi Henry juga, bahkan yang Henry alami jauh lebih buruk dari apa yang Nathan alami.
Hampir setiap hari Tiffany memintanya untuk memakai kostum-kostum aneh yang menggelikan. Dan jika Henry menolak, maka Tiffany akan menangis sampai berjam-jam. Jika sudah begitu, maka akan sangat sulit untuk membujuknya kembali.
Henry menghampiri Tiffany kemudian berlutut di depannya. "Sayang, kali ini saja. Bisakah kau bebaskan aku dari penderiraan ini," tanyanya memohon.
"Tidak mau!! Pokoknya Oppa harus mau, titik!! Jika Oppa tidak mau maka aku akan-"
"Baiklah, aku akan memakai kostum ayam itu," dan akhirnya Henry pun menyerah.
Dia tidak ingin bila Tiffany sampai merajuk lagi. Sedangkan Senna hanya bisa mendengus geli. Seingatnya saat hamil Rio dulu dia tidak sampai seperti Viona dan Tiffany. Tapi bawaan Ibu hamil memang berbeda-beda.
Tak berselang lama Henry keluar dengan kostum ayamnya. Pria itu bersikap layaknya seekor ayam jantan seperti mengepakkan lengannya dan berkokok persis seperti ayam jantan. Tiffany begitu girang melihat suaminya mau menuruti kemauannya.
"Kokopetokk.. Kokopetokk... Kokopetokk..."
"Ya Tuhan, Oppa apa yang terjadi padamu??" Viona memekik sekencang-kencangnya saat tiba dikediaman keluarga Lu dan mendapati Henry bertingkah aneh lengkap dengan kostum anehnya.
"Diamlah kau adik ipar. Apakah kau tidak merasa prihatin dengan keadaan kakak iparmu yang super duper tampan ini. Hiks, Tiffany ngidam aneh lagi." Ujarnya lemas.
Viona terkekeh. "Kekeke. Tapi kau sangat cocok dengan kostum itu, Oppa." Kemudian pandangan Viona beralih pada Nathan. "Oppa, bagaimana kalau kau juga-"
"Jangan aneh-aneh," sinis Nathan menyela ucapan Viona, tatapannya dingin dan penuh intinidasi. "Apa kau tidak puas sudah merubah suamimu seperti brandalan," lanjut Nathan ketus.
Hari ini Viona memaksa Nathan supaya berdandan seperti brandalan. Celana jeans belel hitam, singlet yang dibungkus rompi levis. Kain hitam bercorak putih melingkari dahinya, tak ketinggalan tiga anting serta eyeliner yang semakin mempertajam tatapannya. Liar tapi terlihat sangat menawan.
Viona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tapi bukan kemauanku, Oppa. Tapi itu adalah kemauan-"
"Berhenti menggunakan janinmu sebagai alasan, Viona Lu!!" geram Nathan masih dengan tatapan tajamnya. Viona mencerutkan bibirnya. Lagi-lagi Nathan mengomeli dirinya dan ini sudah ke lima kalinya dalam setengah hari.
Kedua mata Viona tampak berkaca-kaca. Sudut bibirnya melengkung ke bawah. Wanita itu memasang jurus terampuhnya untuk meluluhkan Nathan yang sedang kesal padanya. Nathan mendesah berat, Viona mendrama lagi.
"Hiks, hiks, hiks, Oppa kau jahat. Hiks, Oppa mengomeliku lagi. A..Aku...Emmpphh," Nathan segera membungkam bibirnya, sebelum Viona semakin banyak bicara.
Bukan ciuman panjang yang memabukkan tapi ciuman singkat penuh kelembutan. "Tidak jadi merajuk?" cibir Nathan sesaat setelah melepaskan tautan bibirnya. Viona menggeleng, bahkan wajahnya kembali sumringah.
Senna terkekeh. "Akhirnya ada juga yang berhasil menjinakkan Iblis kutub ini.Vio, kau memang yang terbaik," puji Senna sambil mengacungkan dua jempolnya.
Rasanya Senna masih tidak percaya jika akhirnya ada orang yang berhasil menjinakkan Iblis seperti Nathan, apalagi meluluhkan hatinya yang sudah lama membeku.
"Vi, ayo bantu Eonni dan Tiffany menyiapkan makan malah. Biarkan para pria berbincang," kata Senna sambil merangkul bahu Viona dan Tiffany. Ketiga wanita itu meninggalkan ruang keluarga dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Oya Eonni, di mana ketiga bocah itu? Apa mereka sedang pergi?" heran Viona karna tidak melihat batang hidung Rio, Frans dan Satya sejak pagi.
"Mereka pergi dari pagi-pagi sekali. Kami juga tidak tau apa yang sedang mereka lakukan di luar sana," sahut Tiffany menimpali.
"Kenapa aku merasa jika mereka semakin sibuk saja. Memangnya apa sih yang dilakukan ketiga bocah itu sebenarnya?" heran Viona.
__ADS_1
"Mereka adalah bocah ajaib, pasti sedang melakukan sesuatu yang tidak pernah terduga. Seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya," ujar Senna.
Memang bukan rahasia lagi jika ketiga bocah itu sering melakukan tindakkan ajaib dan tidak terduga. Bahkan mereka pernah membuat para anggota mafia masuk rumah sakit jiwa. Mereka seperti tidak pernah kehabisan akal dan ide untuk membuat orang lain sakit jiwa.
Dan sentara itu....
Perbincangan serius terlihat pada Nathan dan Henry. Henry penasaran dengan rencana Nathan untuk menghadapi wanita berbisa seperti Dora. Henry dengar dari Kai jika Dora adalah wanita yang sangat licik dan berbahaya. Dora juga memiliki hubungan baik dengan salah satu ketua dari kelompok mafia yang diketahui memiliki hubungan buruk dengan Nathan. Musuh lebih tepatnya. Terus terang Henry merasa cemas dan khawatir akan keselamatan adiknya.
"Lalu apa rencanamu untuk menghadapi wanita berbisah seperti dia?" tanya Henry penasaran. "Jujur saja, Than. Gege merasa cemas. Kita masih belum tau seberapa besar kekuatan yang wanita itu miliki. Gege melakukan penyelidikkan dan menemukan sebuah fakta jika wanita itu memiliki hubungan baik 'dengan sebuah organisasi Mafia yang selama ini bermusuhan denganmu. Bagaimana jika mereka bekerja sama untuk menghancurkan dirimu?" kecemasan terlihat jelas dari raut wajahnya.
Nathan menepuk bahu Henry. "Tenang saja, Ge. Kau tidak perlu mencemaskan hal itu. Aku sudah memiliki cara untuk mengatasi wanita itu. Lagi pula beberapa kartu AS-nya sudah ada di tanganku," jawab Nathan menyeringai.
Henry merinding sendiri ketika melihat seringai Iblis yang tercetak di bibir Nathan. Aura mengerikan yang menguar dari Nathan membuat Henry seperti sedang uji nyali.
Dan hal itu mengingatkan Henry pada masa remaja Nathan, lebih tepatnya satu tahun setelah kepergian kedua orang tua mereka. Nathan yang penuh kasih sayang berubah menjadi seorang monster yang mengerikan. Bahkan Henry dan Senna merasa tak mengenali adik mereka lagi.
Flashback:
Henry hanya bisa menatap ngeri melihat kebiasaan Nathan yang tidak seperti remaja pada umumnya. Di saat anak-anak remaja seusianya lebih menyukai bermain game, maka lain halnya dengan Nathan.
Dia lebih menyukai memainkan pisau lipat yang selalu Nathan bawa kemana pun dia pergi. Henry sendiri tidak tau dari mana dia mendapatkan pisau lipat itu.
Dibandingkan harus menonton drama romance remaja. Nathan lebih suka menonton film yang penuh dengan adegan pembunuhan yang menggambarkan pelaku memutilasi tubuh korbannya mulai dari kepala sampai seluruh tubuhnya, lalu darah mengenai di wajah pelaku itu. Sebenarnya Henry dan Senna khawatir dengan kondisi psikis adik bungsunya itu.
Pernah ada kejadian, Nathan yang tanpa sengaja atau memang disengaja membunuh seekor kelinci dan menyayatkannya dengan pisau lipat miliknya.
Nathan menunjukkan keahliannya dengan mengiris kulit binatang itu lalu mengeluarkan isinya dari dalam perut hewan tersebut. kemudian isinya di potong membentuk tak beraturan, begitu juga dengan jantungnya di tekan hingga darah menempel di tangan Nathan.
"Nathan, kau mau kemana?" seru Henry melihat pemuda itu meninggalkan rumah.
"Cari angin," jawabnya singkat.
"Tapi ini sudah hampir tengah malam," seru Senna yang baru saja tiba dari kamarnya.
"Lalu kenapa kalau ini hampir tengah malam? Sudahlah, berhentilah menjadi manusia menyebalkan dan berhenti ikut campur urusanku!" geram Nathan seraya menatap Senna tajam.
Dan Senna hanya bisa menatap sendu kepergian adiknya. Air matanya jatuh tanpa mampu dia cegah, Nathan sudah banyak berubah dan dia tidak mengenalinya lagi.
Nathan menghentikan langkahnya saat melihat beberapa remaja menghampirinya. Pemuda itu mendengus berat. Apakah mereka tidak bosan terus-terusan mencari masalah denganku? gumam Nathan menbatin. Mereka adalah kelopok remaja yang sering mencari masalah dengannya.
"Nathan Lu, kali ini kau tidak akan selamat,"
"Hn, kenapa kau percaya diri sekali?" sahut Nathan dengan seringan dingin andalannya.
"Karna sekarang aku tidak sendirian. Kau lihat bekas luka di wajahku ini? Aku akan membuat luka yang sama di wajahmu itu,"
"Kita lihat saja,"
Nathan bergerak mundur untuk menghindari pukulan yang mengarah pada wajahnya. Nathan menarik lengan lawannya dan menendang uluh hatinya sebelum akhirnya membanting tubuhnya ke tanah. Tanpa ragu sedikit pun Nathan menggorok lehernya dan orang itu meregang nyawa.
__ADS_1
Nathan yang hanya seorang diri keroyok sedikitnya 10 orang dan hanya dalam hitungan menit saja 6 orang berhasil Nathan bereskan. Nyawa mereka melayang sia-sia di tangan Nathan. Dan itulah pertama kalinya Nathan melalukan pembunuhan. Caranya yang begitu sadis dalam menghabisi lawannya membuat 4 orang yang tersisa menjadi ngeri sendiri.
"Jangan bunuh kami!" mereka memohon.
Nathan menyeringai dingin. "Kalau begitu mengabdilah padaku dan jadilah anak buahku, berjanjilah untuk selalu setia padaku. Maka aku akan mengampuni kalian semua," Ujarnya. Mereka adalah Kai, Jimin, Tao dan Max. 4 orang yang kemudian menjadi orang kepercayaan Nathan
"Kami berjanji," jawab keempatnya dengan kompak.
Dan sementara itu. Tanpa Nathan sadari Henry melihat semuanya termasuk ketika dirinya menghabisi ke enam pemuda itu dengan sadis. Hati Henry rasanya seperti di koyak melihat bagaimana mengerikannya Nathan dalam menghabisi mereka. Ketakutannya menjadi kenyataan dan adiknya menjadi sosok lain yang tidak lagi dia kenal.
Flashback End:
"Apa yang sedang kau lamukan?" tegur Nathan melihat kediaman Henry.
Henry tersentak, lalu menggeleng. "Hanya mengingat masa lalu yang membuatku selalu mengalami mimpi buruk setiap harinya." Ucapnya, Henry memaksakan diri untuk tersenyum. "Sepertinya makan malan sudah siap, ayo kita makan sekarang. Aku sudah sangat kelaparan," ucapnya.
Henry bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Nathan yang masih tetap bergeming dari posisinya.
"Aku tau apa yang sedang kau lamunkan Ge. Jangankan dirimu, bahkan terkadang aku tidak bisa mengenali diriku lagi," gumam Nathan seraya menatap punggung Henry yang semakin menjauh dengan sendu.
-
"Maaf, Nyonya. Kami gagal menghabisi laki-laki itu, dia bukanlah pria lemah seperti yang kami fikirkan."
Pria itu menundukkan wajahnya dan tidak berani membalas tatapan mematikan dari majikannya. "Dasar bodoh!! Membunuh satu orang saja tidak bisa!!! Kalian hanya ingin menakan gaji buta?"
"Dia sangat kuat Nyonya. Kami di buat babak belur oleh dia dan 10 anak buah saya berhasil dia habisi dengan mudah!!"
"Alasan, aku tidak mau tau. Segera bawakan kepala Nathan Lu padaku, jika tidak maka kepala kalian yang akan menjadi gantinya." Teriak wanita itu yang pastinya adalah Dora.
"Ba-baik Nyonya,"
Dora mengepalkan tangannya, sorot matanya begitu tajam dan berbahaya. Dora tidak akan melepaskannya. Dia bersumpah akan membalas kematian putra dan mantan suaminya, tapi satu hal yang tidak Dora sadari, jika dia sudah mencari masalah dengan orang yang salah. Karna yang Dora hadapi bukanlah manusia melainkan Iblis dalam wujud manusia.
-
Nathan menghentikan mobilnya karna dua van hitam yang menghadang di tengah jalan. Pria itu mendesah berat. Dengan tenang Nathan turun dari mobilnya dan menghampiri mereka. "Apa yang sebenarnya kalian inginkan dariku?" tanya Nathan meminta penjelasan.
"Nyawamu!! Kami akan menghabisimu dan membawa kepalamu pada Nyonya,"
"Hn, jadi kalian suruhan wanita itu? Baiklah, maju biar aku habisi kalian secara bersamaan." Geram Nathan. Suaranya rendah tapi terdengar begitu berbahaya.
Mereka maju secara bersamaan dan menyerang Nathab secara bersama-sama. Tiga diantaranya langsung meregang nyawa karna tembakkan yang di lepaskan oleh seseorang dibelakang Nathan. Sontak saja Nathan menoleh dan mendapati Viona berdiri dengan sebuah senjata api ditangannya. "Apa yang kau lakukan? Bukankah aku memintamu untuk tetap di dalam!!" amuk Nathan pada Viona.
"Bagaimana aku bisa diam saja. Lagi pula anak ini tidak akan senang melihat Papanya berkelahi seorang diri,"
"Baiklah, aku akan mengijinkanmu untuk ikut berkelahi tapi jangan jauh-jauh dariku dan jangan melakukan perkelahian fisik yang berlebihan, mengerti!!"
Viona tersenyum senang. "Baiklah, Yuuu akhirnya bisa olahraga lagi." Seru Viona. Nathan hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Viona.
__ADS_1
-
Bersambung.