Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 106) "Akhirnya Hamil"


__ADS_3


Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang ganti juduI jadi SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


"Luna!!"


Zian berteriak menyerukan nama Luna. Kemudian Zian menyapukan pandangannya kesegala penjuru arah dan tidak mendapati wanita itu di mana pun. Zian mengacak rambut blondenya sedikit frustasi.


Zian kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari Luna. Bahkan Zian mengabaikan rasa pusing yang mendera kepalanya. Sekali lagi Zian menghentikan langkahnya dan pandangannya kembali menyapu, namun sosok yang dia cari tak juga dia temukan.


Hiks... Hiks.. Hiks..


Sampai dia mendengar suara isakan yang berasal dari arah danau. Yakin jika itu suara isakan Luna, Zian pun bergegas ke sana. Dan seperti dugaannya. Itu memang Luna. Wanita itu tengah duduk di tepi danau sambil memeluk kedua lututnya. Bahunya naik turun dan isakan terdengar dari sela-sela bibirnya.


Zian menghela nafas. Dia terlihat mengayunkan kedua kakinya secara bergantian dan berjalan menghampiri Luna.


"Hiks, kenapa semua orang begitu jahat padaku. Apa karena aku sangat payah dan tidak berguna, jadi mereka tidak membutuhkan aku lagi. Hiks, kenapa aku jadi semenyedihkan ini."


Zian mendesah berat. Zian mensejajarkan posisinya dengan Luna kemudian menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Dan tentu saja hal itu membuat Luna terkejut. "Kau sudah salah paham, Sayang. Aku tidak mengusirmu apalagi tidak membutuhkan dirimu." Ucap Zian mencoba menenangkan Luna.


"Hiks, lalu kenapa Oppa malah mengusirku. Padahal aku tadi ingin menemanimu," Luna kembali terisak. "Aku kan, hiks... Jadi sedih,"


"Untuk itu aku minta maaf, Luna. Jangan seperti ini lagi. Dan sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau jadi sesensitive ini?" Zian melonggarkan pelukannya dan menatap Luna penasaran.


Luna menggeleng. "Molla, aku juga tidak tau. Mungkin saja karena bawaan orang sedang hamil muda," jawabnya.


Mata kiri Zian lantas membelalak mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Luna. Zian menatap Luna tak percaya. "Luna, katakan sekali lagi," pinta Zian sambil mencengkram lembut bahu Luna.


Luna mengeluarkan sesuatu dari saku dress yang dia pakai kemudian dia tunjukkan pada Zian. "Mungkin benda ini bisa meyakinkanmu." Dengan gematar Zian mengambil tespek itu dari tangan Luna. Air matanya jatuh begitu saja tanpa mampu Zian cegah. Dia sangat bahagia mengetahui jika Luna hamil lagi.


Zian menarik bahu Luna dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Menciumnya berkali-kali. Dia sampai kehilangan kata-kata saking bahagianya. Zian mengangkat tubuh Luna lalu memutarnya. Dan kemudian keduanya jatuh di atas rerumputan dengan Luna berada di atas tubuh Zian.


"Aku berjanji padamu. Kali ini aku akan menjaganya dengan baik. Aku tidak akan membiarkan dia pergi lagi dari kita." Zian menakup wajah Luna dan kemudian mencium singkat bibirnya.


"Gonawo Sayang, lagi-lagi kau memberikan kebahagiaan yang begitu besar dalam hidupku." Bisik Zian dan kembali membawa Luna ke dalam pelukannya. Posisi mereka mereka duduk dan saling berhadapan.


"Kita akan menjaganya sama-sama." Zian mengangguk.


Zian melepaskan pelukannya. Bibirnya mengurai senyum lembut. "Ayo kita kembali. Ibu harus segera tahu kabar baik ini." Luna mengangguk, Zian merangkul bahu Luna dan keduanya berjalan beriringan menuruni bukit.


.


.


"APA? LUNA HAMIL!!"


Kalina tak dapat menahan keterkejutannya saat Zian menyampaikan kabar baik itu padanya. Kalina menangis haru dan langsung memeluk Luna. Dia benar-benar bahagia mengetahui jika dia akan mendapatkan cucu lagi, dan kali ini dari Luna.


Kalina menggenggam tangan putrinya seraya tersenyum lembut. "Kali ini kalian berdua harus menjaganya baik-baik, jangan biarkan dia pergi meninggalkan kalian lagi. Dan sebagai seorang Ibu, Ibu hanya bisa berdoa semoga janin yang ada di dalam kandungan Luna tubuh dengan sehat." Tutur Kalina panjang lebar.

__ADS_1


Luna mengangguk dan kembali memeluk ibunya. "Pasti, Ibu. Kami pasti menjaganya dengan baik," pandangan Luna kemudian bergulir pada Zian yang juga tersenyum padanya.


"Baiklah, kita harus merayakannya. Ibu akan memasak banyak makanan enak malam ini. Berita baik harus dirayakan," ucap Kalina begitu bersemangat.


Luna terkekeh. Wanita itu mengangguk setuju. Sesuatu yang baik memang harus di rayakan. Kalina meninggalkan pasangan suami-istri itu dan pergi keluar untuk berbelanja. Dia akan memasak banyak hari ini.


"Kemarilah," Zian mengulurkan tangannya pada Luna kemudian membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Aku bahagia, Sayang. Sangat-sangat bahagia, bersama-sama kita akan menjaganya."


"Ya, Oppa. Sebaiknya kita ke kamar. Perbannya sudah waktunya di ganti." Ucap Luna yang kemudian di balas anggukan oleh Zian.


.


.


Setelah dua puluh menit. Luna pun menyelesaikan pekerjaannya. Perban kembali membebat luka-lukanya termasuk cidera pada mata kirinya yang sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya. Saat ini pasangan suami-istri itu sedang berada di kamar mereka.


"Oppa, sudah selesai. Sebaiknya kau berbaring saja. Aku akan mengambilkan obatmu dulu." Luna beranjak dan meninggalkan Zian begitu saja. Dan tak lama dia kembali dengan beberapa butir obat dan segelas air putih yang kemudian diberikan pada Zian. "Ini obatnya, minum dulu."


Zian menerima obat-obat itu kemudian meminumnya dalam satu kali tegukan. "Sejak kapan kau tau jika kau hamil, Lun?" tanya Zian sambil menatap Luna yang juga menatap padanya.


"Pagi ini. Aku melakukan tes sekitar jam 5 pagi karena aku sangat penasaran. Aku telat datang bulan selama tiga Minggu dan aku juga sedikit mual dan pusing selama beberapa hari terakhir ini, dan setelah aku memastikannya, hasilnya positife. Aku hamil."


Zian bangkit dari duduknya, Ia melangkahkan kakinya mendekati Luna yang masih duduk di kursinya kemudian berjongkok mensejajarkan wajahnya ke perut Luna. Zian tersenyum tipis.


"Apa kabarmu hari ini, Sayang?" Zian mengelus perut rata Luna dengan sangat pelan, seolah takut kalau tangan besarnya akan menyakiti buah hatinya itu.


"Baik, Papa." Jawab Luna menyahuti, dan kemudian terkekeh.


Lembut, manis dan basah. Itulah sensasi yang Zian rasakan saat bibirnya menyentuh bibir Luna yang selalu terlihat manis dan menggoda di matanya.


Semakin lama ciuman itu berubah menjadi pagutan. Zian semakin menuntut, dan memperdalam ciumannya. Menyapu permukaan bibir Luna, mengisyaratkan bahwa ia ingin akses yang lebih. Luna yang tau apa yang diinginkan suaminya pun membuka mulutnya. Lidah mereka bertemu saling membelit dan bertukar cairan saliva.


Tangan Zian tak hanya diam, tangan kirinya mulai memasuki dress Luna dari bagian atasnya.


Luna tahu, kalau sudah seperti ini Zian tidak akan melepaskannya. Sebaiknya ia segera mengakhiri ini sebelum mereka berkhir di atas ranjang. Kandungannya masih terlalu muda dan itu sangat beresiko besar.


"Oppa, hentikan!! Ahhh, kita tidak bisa melakukan lebih. Di...Dia masih terlalu kecil untuk bertemu denganmu." Ucap Luna dan segera menyadarkan Zian. Buru-buru Zian menjauh dari tubuh Luna.


"Ahhh, maaf Sayang. Aku hampir kehilangan kendali atas diriku sendiri." Ucapnya penuh sesal.


Luna menggeleng. "Tidak apa-apa. Oya, sepertinya Ibu sudah kembali. Aku akan membantunya menyiapkan makan malam. Pasti dia akan sangat kerepotan," Zian menahan pergelangan tangan Luna dan tidak mengijinkannya untuk pergi.


"Tidak perlu. Biar pelayan saja yang membantunya. Kau tidak boleh sampai kelelahan. Sebaiknya kau tetap di sini dan jadi perempuan yang baik,"


"Bagaimana kalau kita tidur saja? Oppa, bisakah kau memelukku? Aku ingin tidur di dalam pelukanmu," rengek Luna memohon.


"Tentu,"


.


.

__ADS_1


Saat ini pasangan muda itu sedang berdiri di balkon kamar setelah makan malam. Luna merengek ingin melihat bintang dan Zian mengabulkannya.


Zian memeluk Luna dari belakang. "Oppa, terus terang aku takut." Ucap Luna lirih.


"Apa yang kau takutkan?" Zian mengecup tengkuk Luna. Dan kembali menyandarkan dagunya di bahu kanannya.


"Bagaimana jika aku sampai tidak bisa menjaganya? Aku takut akan kehilangan dia lagi, aku-"


"Semua akan baik-baik saja,"


"Bagaimana jika aku tidak bisa menjaganya seperti dulu," Luna mengusap perlahan perutnya yang masih rata. Kehidupan baru tersimpan di sana.


Zian melepas pelukannya kemudian menarik perlahan pundak istrinya. Memposisikan Luna untuk bersandar di bahunya. Tangannya melingkupi tangan Luna di perutnya. Ikut mengusap kehidupan kecil di sana. Ia mengecup perlahan pucuk kepala Luna.


"Aku akan menjagamu―juga dia," Zian memeluk Luna dengan erat. Tak ingin melepaskannya barang sejenak. "Sebaiknya kita masuk sekarang, udaranya semakin dingin," Luna mengangguk.


Zian membantu Luna untuk berbaring. Jari-jari besarnya menarik selimut yang kemudian dia gunakan untuk menyelimutinya Luna hingga sebatas dada. Membiarkan tangannya digenggam erat oleh istrinya.


-


Zian duduk termenung di kursi kerjanya. Pria itu memainkan pulpen hitam mengkilapnya diatas meja. Matanya mengarah tepat pada layar laptop dihadapannya, tetapi begitu kosong dan pikirannya melayang entah kemana.


Hari masih menunjukkan pukul 5 Sore, dan Pria itu tentu saja masih berada di ruang kerja kantornya. Zian teringat akan peristiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu, begitu sulit dilupakan, tetapi sedikit menyakitkan untuk diingat.


Rasa khawatir selalu menghampirinya. Walau rasa senang juga hadir, tetapi itu tertutup dengan perasaan tak tenang.


Saat-saat dimana dia mengetahui bahwa Luna benar-benar di nyatakan positif hamil oleh Viona. Dan hal Itu tidak akan pernah dilupakannya.


Hamil. Sebuah kata yang entah bagaimana sedikit menakutinya. Apa yang pernah terjadi di masa lalu masih membuatnya trauma. Ia kehilangan calon anaknya dan Luna harus terbaring koma selama berminggu-minggu. Ketakutan yang sama yang selalu menghantui Luna.


Zian tidak pernah mengatakannya secara langsung apalagi itu di depan Luna. Dia hanya tidak ingin membuat Luna sampai cemas dan semakin tertekan. Sebisa mungkin Zian berusaha untuk bersikap tenang dan meyakinkan pada Luna jika semua akan baik-baik saja.


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatiannya. Zian mengangkat wajahnya dan mempersilahkan orang itu untuk masuk."Presdir, ini adalah beberapa dokumen yang harus segera Anda tanda tangani," ucap seorang wanita yang saat ini berdiri di depan Zian dengan sebuah meja yang menjadi pembatasnya.


"Hn, letakkan saja di situ dan kau boleh keluar." Wanita itu membungkuk dan kemudian meninggalkan ruangan Zian.


Zian mengusap wajahnya kasar. Sepertinya rencananya untuk pulang lebih awal akan gagal total. Selain menandatangani, Zian juga masih harus memeriksa dokumen-dokumen tersebut. Dan dia harus mengabari Luna jika hari ini akan pulang sedikit terlambat.


"Sepertinya kau harus lembur lagi hari ini," Reno datang sambil membawa dua cup kopi yang salah satunya dia berikan pada Zian.


"Hn,"


"Istrimu sedang hamil dan sekarang sedang menunggumu. Saran kecil dariku, sebaiknya kau bawa saja semua berkas-berkas ini dan kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu di rumah." Tutur Reno menasehati.


Zian mengangkat wajahnya dan menyeringai tipis. Membuat Reno merinding dan memiliki firasat yang buruk. "Apa maksud dari senyummu itu?" tanya Reno sedikit was-was.


"Kau memberiku ide terbaik, kawan. Baiklah aku akan pulang sekarang, aku tidak bisa membuat istriku menungguku terlalu lama. Dan karena kau masih bujangan dan tidak ada yang menunggumu pulang. Jadi pekerjaan ini aku serahkan padamu." Zian mengambil jasnya, menepuk bahu Reno dan pergi begitu saja.


Sontak saja Reno menoleh dan menatap Zian dengan wajah tanpa ekspresi. "ZIAN QIN!! KAU BENAR-BENAR TIDAK BERHATI!!!" teriak Reno yang hanya di balas lambaian tangan oleh Zian. Sepertinya mendatangi ruangan Zian dan memberinya nasehat bukanlah keputusan yang tepat. Karena Boss-nya itu memberinya petaka.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2