Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 104 "TUYUL!!"


__ADS_3

Kelopak bunga sakura berterbangan ditiup oleh sang bayu. Helaian rambut panjang Viona yang tergerai juga ikut melambai akibat ulah sang angin di musim semi. Tidak ada musim yang sebaik musim semi karena selain berbagai macam bunga tumbuh bermekaran, angin juga sangat memanja kulit setiap insan.


Viona sedang memejamkan matanya di bawah pohon yang sangat indentik dengan musim semi. Wanita ini memejamkan matanya, menikmati hembusan angin yang memanjakan kulitnya. Ah... betapa menyenangkan musim semi. Pikirnya...


Kelopak-kelopak bunga sakura berjatuhan di atas kepalanya. Ia tidak menyadari hal itu karena sedang asik memejamkan matanya, mungkin ia sedang tertidur. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya. Ingatan Viona kembali pada kenangan tiga tahun yang lalu.


Pria dingin berdarah China bermata tajam menjerat terbayang di matanya yang terpejam. Senyum tulus pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu membius dirinya hingga Viona mengeluarkan semburat merah saat membayangkannya. Viona terus membayangkan lebih jauh tentang wajah sang pria yang selalu memenuhi pikirannya. Dan karna terlalu larut dalam pikirannya, sampai-sampai Viona tidak menyadari kedatangan seseorang di sana.


"Apa yang membuatmu terus tersenyum seperti itu, hm?" suara bariton yang sangat dia kenal mengusik pendengarannya saat melamunkan si pemilik suara.


Viona mendongakkan kepalanya dan bibirnya langsung disambut ciuman lembut bibir Nathan. "Oppa, kapan kau kembali? Aku fikir kau sampai malam," seru Viona. Pagi ini Nathan kembali ke Seoul untuk mengurus sesuatu, dan Viona fikir Nathan akan pulang sampai larut malam, tapi ternyata tidak.


"Hn, aku tidak mungkin meninggalkanmu terlalu lama sendirian di sini. Kau sudah makan siang? Aku membawakanmu banyak buah-buahan segar,"


"Ahh.. Kebetulan sekali aku memang ingin makan buah-buahan segar terutama semangka dan melon," ujar Viona dengan begitu antusias.


Nathan memicingkan mata kanannya. "Semangka dan melon?" ulangnya. Viona mengangguk. "Tumben sekali, bukankah kau paling benci pada melon dan semangka?" heran Nathan.


"Entah, tiba-tiba aku ingin sekali makan melon dan semangka," jawabnya.


"Baiklah, aku akan meminta pelayan menyiapkan semangka dan melon segar untukmu," kata Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona. "Cuaca semakin terik, sebaiknya kita kembali sekarang,"


"Tapi gendong," renggek Viona sambil merentangkan kedua tangannya. Wajahnya tampak memelas seperti bocah lima tahun yang minta supaya dibelikan ice cream oleh Ibunya.


Nathan mendengus geli. Pria itu menghampiri Viona kemudian membungkuk didepannya. "Oppa, semakin hari penglihatanku semakin memburuk. Dan hal itu membuatku sangat takut. Aku takut tidak bisa lagi menjadi istri yang baik untukmu. Aku-"


"Stt, apa yang kau katakan? Jangan bicara sembarangan. Jika kita tidak bisa mendapatkan donor mata untukmu dalam waktu dekat. Biar aku yang menjadi mata dan kaki untukmu. Aku akan merawatmu dan menjagamu sepanjang waktu. Dan aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan donor mata untukmu. Jika kita tetap tidak bisa mendapatkannya juga, aku akan mengambil mata Shion dan Jordy sebagai gantinya," ujar Nathan panjang lebar


"Oppa," gumam Viona dengan mata berkaca-kaca.


Sungguh betapa Viona sangat beruntung memiliki suami seperti Nathan. Meskipun terkadang dia terlihat seperti Iblis. Tapi Nathan selalu memperlakukannya dengan hangat dan penuh kasih sayang. Dan Nathan juga tidak pernah mengeluh meskipun terkadang Viona begitu menyebalkan. Nathan selalu sabar menghadapinya.


Nathan menurunkan Viona setelah mereka tiba di Villa. Mereka berdiri saling berhadapan. Senyum lembut yang tersungging di bibir Nathan membuat sudut bibir Viona ikut terangkat juga. Viona merasa bahagia dan beruntung memiliki Nathan disampingnya yang selalu ada untuk menemaninya dalam keadaan suka maupun duka, senang maupun susah. Nathan adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padanya.


"Oppa, aku hanya merasa takut. Aku takut jika suatu saat nanti kau akan meninggalku dan berpaling pada yang lain setelah aku buta. Aku... Aku... sangat takut kehilanganmu," lirihnya parau.


Viona menundukkan wajahnya, air matanya jatuh perlahan membasahi wajah cantiknya. Rasa takut itu serasa menggerogoti perasaannya yang kemudian membuat dadanya terasa sesak seperti dihimpit dua bongkahan batu besar


Nathan menarik bahu Viona dan memvawa wanita itu ke dalam pelukkannya. "Sayang, dengarkan apa yang akan aku katakan ini," suara Nathan membuat Viona mendongakkan kepalanya dalam pelukkan suaminya.


"Dengarkan, Ini bukanlah sebuah bualan atau gombalan seperti yang selalu diucapkan kebanyakkan pria diluar sana. Bahkan ketulusan bisa dilihat jelas perbedaannya. Dan kau sendiri tahu bahwa aku bukan tipikal pria perayu, bukan?" Viona mengangguk.


"Dari awal, ada sepasang mata yang selalu bisa membuat mataku tertarik untuk bertemu dengan maniknya. Ada sepasang hidung yang sangat ingin kukecup ujungnya. Ada sebuah bibir yang selalu ingin ku kecup dan kulihat senyuman terlukis dari bibirnya. Ada seseorang yang selalu membuatku merasa nyaman berada disampingnya dan membuatku bahagia. Meskipun dia seorang yang buruk, karena dia telah mencuri hatiku sejak pertama kali bertemu dengannya tanpa mau mengembalikannya," Nathan mengambil jeda dalam ucapannya.

__ADS_1


Jari-jarinya membelai pipi Viona sambil mengulum senyum tipis. "Pesonanya terlalu kuat. Senyumnya terlalu memikat. Tatapannya terlalu mempesona. Dan aku ingin memilikinya sejak saat itu. Dihadapannya, aku ingin menghapus dan membuang semua kenangan manis maupun buruk di masa lampaunya bersama mantan kekasihnya. Dan menggantinya denganku, dengan nama Nathan Lu. Pada akhirnya aku bisa memilikinya. Jadi bagaimana bisa aku melepaskannya begitu saja," Nathan mengakhiri kalimatnya kemudian mengecup singkat bibir ranumnya.


Viona terperangah menahan haru saat mendengar kalimat-kalimat tersebut keluar dengan lancarnya dari mulut suaminya. Inikah yang namanya ketulusan? Bukan sebuah perencanaan kalimat yang pasti akan terbata-bata jika lupa akan teksnya.


Sekali lagi, Nathan berhasil membuatnya menangis. Namun mengganti tangisan luka menjadi haru. Viona menyeka air matanya dan berhambur kedalam pelukkan Nathan. Kalimatnya terlalu manis dan terlalu rumit untuk dicerna.


Namun satu kesimpulan yang bisa Viona dapatkan, bahwa Nathan mencintainya dengan penuh ketulusan. "Oppa, gomawo karna sudah mencintaiku dengan penuh ketulusan. Aku tidak akan merasa takut kagi pada apapun juga selama kau berada disisiku. Jangan pernah meninggalkanku, karna aku tidak akan sanggup hidup tanpamu," pinta Viona sambil mengeratkan pelukkannya.


Nathan menggeleng. "Tidak akan pernah, apapun yang terjadi aku akan selalu berada di sisimu. Aku mencintaimu, Viona Lu, sangat-sangat mencintaimu," bisik Nathan sambil menutup matanya.


Viona semakin mengeratkan pelukkannya pada tubuh Nathan. "Aku juga sangat mencintaimu, Oppa. Sangat-sangat mencintaimu," dan selanjutnya bibir Viona berada dalam pagutan bibir Nathan. Memagutnya dengan penuh kelembutan. Bukan ciuman panjang yang penuh nafsu melainkan ciuman lembut penuh ketulusan. Dan melalui ciuman itu, Nathan hanya ingin Viona tau betapa dia sangat mencintainya.


-


"TUYULL!!"


Frans menjerit histeris dan langsung melompat kedalam gendongan Satya saat sosok bocah berwajah putih berkepala plontos serta hanya memakai popok keluar dari kamar Cherly. Sosok kecil yang Frans kira sebagai tuyul itu terkekeh dan tertawa geli apalagi ketika melihat wajah ketakutan pemuda itu.


"Paman, kau buta ya? Jelas-jelas itu adalah Daniel, Bibi Cherly sengaja mendandaninya mirip seperti Tuyul karna aku ingin bocah ini memgambil peran juga," jelas Rio.


"Aku sudah tau, hanya akting saja dan rupa-rupa terkejut saja," elaknya membela diri.


"Pura-pura!!" sahut Satya dan Rio dengan kompak.


"Tapi Paman, memangnya Tuyul itu apaan sih? Apa itu sejenis makanan?" tanya Daniel penasaran. Wajahnya terlihat polos dan begitu menggemaskan.


Daniel memiringkan kepalanya. "Hah.. Mirip aku sekarang? Memangnya seberapa mirip sih Paman?" tanya Daniel penasaran.


"Coba kemari dan bercerninlah," pinta Satya.


Daniel pun menurut dan menghampiri Rio. Kedua matanya langsung membelalak saking kagetnya. "Huaaa.. Hantu!!" Daniel yang terkejut melihat mukanya sendiri langsung melompat ke dalam pelukkan Frans. Dan mejenggelamkan wajahnya pada lengkungan leher pemuda itu. "Huaa.. Paman aku takut. Aku jadi hantu. Aku sudah mati, hiks... aku tidak mau muka jelek seperti ini,"


"Astaga Daniel, kenapa kau ini polos sekali sih. Jelas-jelas itu hanya make up. Bahkan kepala plontosmu itu juga palsu. Kau bisa menghapus make upnya nanti setelah pekerjaanmu selesai. Sekarang kau harus membantu Paman dan Bibi. Bukanlah kau bilang ingin memberi pelajaran pada orang-orang yang membuat Bibi Viona celaka," ucap Satya mencoba menyakinkan Daniel. Bocah itu terlihat menganggukkan kepala. Satya tersenyum lalu mencubit pipi Daniel saking gemasnya. "Ya sudah, sebaiknya kita pergi sekarang.Dan sebagai gantinya. Nanti Paman akan membelikamu ice cream dan permen bagaimana?"


"Setuju!!" Daniel begitu antusias. Dan malam ini trio kadal serta Cherly akan melakukan rencana mereka yang selanjutnya.


-


Semburat jingga terlukis di langit. Sang surya mengintip dari bukit, perlahan tenggelam. Semilir angin senja bertiup, menerbangkan dedaunan kering di hamparan rumput. Di sana terlihat seorang wanita bersurai coklat duduk memandang langit senja.


Desir angin yang berhembus menggoyangkan helaian rambut panjang sang dara. Matanya terpejam menikmati hembusan angin yang menerpa wajah cantiknya.


Dia masih setia duduk di hamparan rerumputan, bercengkrama dengan hembusan angin senja yang senantiasa menemaninya tanpa bosan. Viona menatap langit. Indah, awan berhias warna jingga yang begitu indah bak sebuah lukisan raksasa di langit.

__ADS_1


"Nona, apa yang sedang Anda lakukan di sini? Udara sangat dingin, sebaiknya Nona masuk sekarang," seorang wanita sebaya dengannya terlihat menghampiri Viona. Dia adalah Mariana, anak dari pengurus Villa.


"Oh, kau rupanya. Aku fikir kau sudah pulang bersama Ayahmu,"


Mariana mendekati Viona kemudian duduk bersebelahan dengannya. "Tugas saya adalah menjaga Villa ini, Nona. Setiap malam saya menginap di sini," jawabnya.


"Oh, begitu,"


"Nona. Sepertinya Tuan Muda sangatlah mencintai Anda. Dan Anda adalah orang yang sangat special bagi beliau. Saya dengar dari Ayah, ini pertama kalinya Tuan Muda datang bersama seorang wanita ke tempat ini,"


"Apa Ayahmu sudah bekerja sangat lama pada keluarga Lu. Sepertinya dia mengerti banyak mengenai suamiku,"


"Ayah sudah hampir lima puluh tahun bekerja pada keluarga Tuan Muda. Ayah adalah orang yang dipercayai oleh Tuan Besar untuk menjaga Villa ini. Dulu ketika Tuan dan Nyonya besar masih ada, mereka sering berkunjung ke tempat ini. Tapi setelah Nyonya dan Tuan besar tiada, Villa ini hanya sesekali dikunjungi. Tiga tahun yang lalu Tuan Henry sempat menginap beberapa malam di sini, dia bercerita pada Ayah sedang melarikan diri dari Tuan Nathan. Tuan Henry tidak sengaja melakukan sesuatu yang membuat Tuan Nathan marah besar. Jadinya beliau kabur kemari,"


Viona tersenyum tipis. "Temprament suamiku memang sangat buruk. Dia arogant dan sedikit mengerikan,"


"Oh, jadi begini yang kau lakukan ketika aku tidak ada, hm? Membicarakanku secara diam-diam dan mengataiku yang tidak-tidak," sahut seseorang dari arah belakang.


Sontak kedua wanita itu menoleh dan mendapati seorang pria dalam balutan singlet putih yang dibalut long vest hitam berlebel Gucci dan jeans hitam panjang bersandar pada sebuah pohon sambil melipat tangannya yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang kokoh.


"Oppa," seru Viona kemudian bangkit dari duduknya. "Kau boleh pergi," Viona melirik Mariana dan dia mengangguk paham.


Dan selepas kepergian Mariana. Di sana. hanya menyisahkan Nathan dan Viona saja. Nathan menghampiri Viona dan menarik wanita itu kedalam pelukkannya. Viona mengangkat tangannya dan mengalungka pada leher Nathan ketika pria itu mencium bibirnya dengan rakus.


"Coba katakan sekali lagi," pinta Nathan setelah melepaskan tautan bibirnya.


Viona menggeleng. "Tidak mau. Aku tidak mau mengulangi kata-kataku karna aku tidak ingin mendapatkan hukuman darimu, setidaknya untuk malam ini. Aku sangat lelah," ujarnya.


"Kenapa? Bukankah hukuman dariku itu sangat menyehatkan, sekalian kau bisa berolahraga,"


Viona mendecih. "Menyehatkan bagaimana, membuat encok yang ada," Nathan terkekeh dan kemudian mencium bibir Viona untuk yang kedua kalinya.


"Aku hanya bercanda. Kenapa kau begitu seriua sekali. Aku sangat lapar, bagaimana kalau kita pergi keluar dan makan malam di luar saja," usul Nathan yang disambut antusias oleh Viona.


"Setuju, kalau begitu aku akan bersiap dulu. Oppa, sebaiknya kau tidak usah mengganti pakaianmu. Kau terlihat sangat tampan dalam balutan pakaian itu." Ujar Viona menuturkan. "Beri aku waktu sepuluh menit untuk bersiap," Nathan mengangguk.


Nathan mendengus geli seraya menggelengkan kepala melihat tingkah Viona yang terkadang kekanakan itu.


Nathan merogoh saku long vestnya saat merasakan ponselnya tiba-tiba berdering. Alih-alih menerimanya. Nathan malah menolakbya kemudian memasukkan kembali ponsel itu ketempat semula. Dan tak berselang lama, Viona datang dengan pakaian yang berbeda.


"Oppa, aku sudah siap," ucap Viona sambil memeluk lengan terbuka Nathan. Dan keduanya pun berjalan beriringan menuju tempat di mana mobil milik !!!!!Nathan diparkirkan.


Dan sementara itu. Tanpa keduanya sadari. Ada sepasang mata manusia yang tengah menatap mereka berdua dari kejauhan dengan pandangan tidak suka. Kedua tangannya terkepal kuat dan matanya berkilat tajam. Dalam hatinya, dia bersumpah akan merebut Nathan dari pelukkan Viona bagaimana pun caranya. Obsesinya pada Nathan yang teramat besar membuatnya akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pujaan hatinya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2