
Jordy menoleh seketika saat merasakan ada sekelebat bayangan hitam melintas di belakangnya. Namun saat Ia menolehkan kepalanya, tak ada siapa pun di sana. Selain jalanan sepi dan pohon-pohon hijau yang berjajar disepanjang jalan.
Jordy mencoba untuk tidak terlalu ambil pusing, Ia kembali melanglahkan kakinya menyusuri jalanan yang tampak sepi itu. Dan jika bukan karna mobilnya yang tiba-tiba mogok pasti dia tidak akan berjalan kaki.
SRETTTT...
Bulukuduk Jordy berdiri seketika saat merasakan sebuah tangan sedingin es saat menyentuh tangannya dengan gerakan memanjang. Jordy merasakan aliran darah dalam tubuhnya berhenti mengalir pada detik itu juga, ada yang mengganjal di tenggorokannya hingga Jordy tidak mampu mengeluarkan suara bahkan satu kata pun. Jangankan untuk bersuara, untuk menggerakkan bibirnya saja Ia tidak bisa, bibirnya terasa kaku saat melihat sosok wanita dengan balutan pakaian yang telah berlumur darah berdiri 2 meter di hadapannya.
Wanita itu tidak berkata apa-apa, hanya diam menatap Jordy dengan penuh dendam. Tangannya yang berlumur darah Ia angkat ke depan dan di arahkan pada Jordy yang gemetar ketakutan, seolah meminta pertolongan.
Tubuh Jordy mundur kebelakang dan menabrak tong sampah dibelakangnya, dia menggeleng kuat. Peluh mengucur deras dari dahinya, tubuhnya gemetar hebat. Dapat di pastikan jika saat ini Ia dalam keadaan ketakutan.
"Vi-Vi-Viona," Lirih Jordy terbata-bata.
Jordy ingin sekali berlari dari tempat itu, namun sayangnya Ia tidak mampu. Jordy merasa lututnya begitu lemas, persendian kakinya seperti tidak mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Jordy memejamkan matanya, berharap saat Ia membuka matanya sosok itu sudah tidak ada lagi di tenpatnya.
"Viona, aku mohon jangan menggangguku lagi. Aku tau aku salah, aku berdosa padamu. Tapi tolong, pergilah sejauh mungmi dariku. Dunia kita sudah berbeda." Tutur Jordy masih dengan memejamkan rapat-rapat matanya.
PUKKK...
Jantung Jordy semakin berdebar tidak karuan saat Ia merasakan tepukan pada bahunya, reflek Jordy merosotkan tubuhnya dan berjongkok di lantai. Pria itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Jordy, kau tidak apa-apa?" Tanya seseorang yang tadi menepuk bahu Jordy.
"Viona, aku mohon jangan menggangguku lagi. Aku tau aku salah, aku berdosah padamu. Tapi tolong, jangan menggangguku lagi." Mohon Jordy sambil berlutut di depan orang itu.
"Jordy, aku bukan Viona, tapi aku Sunny." Sontak Jordy membuka matanya dan mendongakkan kepalanya. Benar, yang berdiri di hadapannya memang bukan Viona, tapi Sunny.
"Sunny," seru Jordy kemudian bangkit dari posisinya.
"Ada apa Jor? Sepertinya kau sangat ketakutan? Apa kau-"
"Sudah semakin larut malam, sebaiknya kau segera pulang. Aku masih ada janji dengan kolegaku, aku duluan." Kata Jordy dan berlalu.
Sunny mengerutkan dahinya, Ia merasa ada yang Jordy sembunyikan darinya. Jordy selalu bersikap aneh setelah kepergian Viona. Dalam hati, Sunny berfikir untuk menjebak Jordy agar Ia bisa mengorek informasi darinya.
"Sepertinya aku harus membuat dia mabuk agar dia mau mengaku." Gumam Sunny yang kemudian meninggalkan taman.
Selepas kepergian Jordy dan Sunny, seorang wanita keluar dari persembunyiannya. Smrik mengerikan terlukis di wajahnya yang penuh darah. Ia segera membersihkan darah buatan itu menggunakan tisu basah kemudian melepaskan wig lurus yang ada di kepalanya, terakhir pakaian berlumur darah yang di kenakannya. Dan menyisahkan dress hitam yang membalut sekujur tubuhnya, wanita itu tersenyum puas melihat Jordy yang sangat ketakutan.
__ADS_1
"Jordy Lim, aku tidak akan lelah untuk membuatmu lebih menderita lagi. Setiap detik, setiap menit kau akan di hantui oleh rasa bersalah dan ketakutan yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Aku akan membuat keadilan untuk diriku sendiri." Tutur wanita itu yang tidak lain dan tak bukan adalah Viona
Viona meninggalkan taman itu dan masuk ke dalam mobilnya. Ia harus segera pulang atau Nathan akan mengomelinya habis-habisan jika dia tau dirinya kelayapan malam-malam begini seorang diri.
-
Nathan yang baru saja tiba di apartemen memicingkan matanya dan terus memperhatin Viona yang sedang duduk di ruang keluarga, sedikit pun Ia tak meluputkan pandangannya dari wanita itu. Bukan tanpa alasan, Nathan merasa ada yang tidak beres dengan istrinya.
Dan entah sudah berapa lama Ia berdiri di sana dan dalam posisinya berdiri, dan selama itu pula Nathan enggan untuk beranjak apa lagi meninggalkan tempat itu. Bahkan Ia tak menggiraukan kakinya akan semutan karna terlalu lama berdiri.
Bisa saja Nathan menghampiri Viona, namun Nathan tidak melakukannya. Ia memilih untuk memperhatikannya dari jauh saja.
Dan di saat itu pula Nathan melihat ada keanehan dari wanita itu, Viona terlihat seperti kebingungan untuk menemukan sesuatu. Padahal apa yang sedang Ia cari ada di sampingnya.
"Ada apa sebenarnya denganmu Vi?" Gumam Nathan penuh tanda tanya.
Nathan tersentak saat melihat Viona menabrak bangku di hadapannya, dan membuat pria itu semakin yakin bila mata Viona memang bermasalah. Gadis itu menabrak apa pun yang ada di hadapannya jika tanpa bantuan kaca mata. Dan ini bukan pertama kalinya Nathan melihatnya.
Dan anehnya, seketika semua menjadi normal setelah Ia memakai kembali kaca matanya. Dan Nathan tau pada siapa dia harus bertanya. Karna Viona tidak akan mau berterus terang jika bertanya langsung padanya.
Nathan mengeluarkan ponselnya untuk menghungi seseorang.Panggilannya tersambung namun tidak ada jawaban.
"Ini aku, bisa kita bertemu besok pagi? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Dan ini mengenai Viona." ucap Nathan pada lawan bicaranya.
"Baiklah, tenui aku jam delapan di golden cafe.
"Hn,"
Nathan memutuskan sambungan telfonnya dan memasukkan kembali ponsel itu kedalam saku celananya. Pria itu beranjak dari tempatnya dan menghampiri Viona yang sepertinya masih belum menyadari kepulangannya.
"Kau belum tidur?" tegur Nathan yang sontak membuat perhatian Viona sepenuhnya tercurah padanya.
"Oppa, kau sudah pulang? Malam ini kau lembur lagi?" alih-alih menjawab, Viona malah balik bertanya.
Nathan memicingkan matanya. "Tidak biasanya kau memakai kacamata, apa matamu bermasalah?" tanya Nathan penuh selidik.
Viona menggeleng. "Tidak, hanya sedikit lelah saja. Besok pagi mataku juga akan membaik lagi," katanya meyakinkan.
"Kau yakin?" Viona mengangguk. Nathan kembali memicingkan matanya. "Kau tidak sedang menyembunyikan apapun dariku bukan?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Tentu saja tidak," jawabnya meyakinkan. "Aku akan menyiapkan air hangat untukmu. Kau mandi dulu kemudian aku akan menemanimu makan malam," Viona beranjak dan pergi begitu saja meninggalkan Nathan seorang diri.
Melihat sikap Viona, membuat Nathan semakin yakin ada yang wanita itu sembunyikan darinya. Dan Nathan akan segera mengetahuinya dari Viona.
Usai mandi dan menyantap makan malamnya. Nathan langsung membaringkan tubuhnya yang terasa lelah pada tempat tidurnya. Nathan benar-benar sangat lelah dan dia ingin segera tidur. "Oppa, kau terlihat pucat. Kau baik-baik saja bukan?"
"Hn,"
"Kalau begitu istirahat saja, aku juga sangat lelah dan mengantuk," kemudian Viona membaringkan tubuhnya disamping Nathan. Menggunakan lengan pria itu sebagai bantalan kepalanya. Dan sentuhan lembut Nathan pada kepalanya menghantarkan wanita itu pergi ke alam mimpi.
-
"Aaahhhh,"
Shion memekik kaget saat melihat begitu banyak foto-foto dirinya yang sedang menghabisi Viona ada di dalam tasnya. Baru sebentar dia pergi ke toilet dan foto-foto sudah ada di dalam tasnya.
Foto-foto itu adalah bukti nyata kejahatan yang telah Ia lakukan pada Viona. Dan Shion sangat bingung bagaimana foto-foto itu bisa ada di dalam tasnya. Yang menjadi pertanyaan besar dalam benak wanita itu adalah tentang siapa orang yang telah meletakkan foto-foto tersebut di dalam tasbya. Dan foto itu akan sangat membahayakan dirinya bila masih tersimpan di sana, Shion memungguti foto-foto itu dan membawanya menuju luar cafe.
Setelah memastikan keadaannya benar-benar aman, Shio membuang seluruh foto itu kedalam tong sampah dam kemudian membakarnya. Shion ingjn menghilangkan semua bukti yang Ia miliki. Ia tidak ingin satu orang pun mengetahui tentang kejahatan yang telah Ia lakukan kepada Viona.
"Bakar terus foto itu sampai benar-benar menjadi abu dan hilang semua bukti kejahatanmu." Seru seseorang yang berasala dari belakang, sontak saja wanita itu menolehkan kepalanya dan mendapati sosok Rio, Satya dan Frans berdiri di belakangnya.
Shion sedikit tersentak melihat banyaknya foto yang ada di tangan ketiga pemuda itu, dan foto itu adalah foto yang sama dengan foto yang kini Ia bakar.
"Kenapa kau terlihat terkejut, Nunna? Kaget karna kami bertiga memiliki foto ini ya?" Satya menarik sudut bibirnya, gadis itu menyeringai tipis.
"Berikan foto itu padaku." Pinta Shion menuntut.
"Oh kau ingin semua foto-foto ini? Ambil." Frana melemparkan foto-foto itu pada Shion dan berlalu begitu saja.
Sebelum ada yang melihatnya, Shion segera memungguti foto-foto itu kemudian membakarnya. Shion ingin memusnakan semua bukti nyata mengenai kematian Viona.
"Shion Choi, kau fikir kami akan melepaskanmu begitu saja setelah apa yang kau lakukan pada Bibi Viona? Ini baru awal dan belum seberapa, nikmati hari-harimu yang seperti di neraka," seru Rio dengan seringai iblis tercetak dibibirnya.
Dan bukan Rio namanya jika tidak memiliki banyak ide yang bisa membuat orang lain bermimpi buruk. Dan Rio sudah menyiapkan kejutan untuk Shion.
-
Bersambung.
__ADS_1