Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 3) "Kaca Mata & Beruang Kutub"


__ADS_3

Lagit sore tak secerah biasanya, mendung dan awan hitam menggulung di ujung cakrawala. Angin musim semi berhembus lembut menerbangkan daun-daun berwarna kecoklatan di area pemakaman.


Gadis itu belum juga beranjak dari tempatnya berdiri, pandangannya kosong dan matanya berkaca-kaca menatap gundukan tanah yang masih basah di depannya.


Dengan berat hati, Luna melangkahkan kakinya dan berjalan meninggalkan area pemakaman. Tempat di mana jasad Jacksoon di semayamkan.


Kepergian Jacksoon yang begitu tiba-tiba menyisahkan luka yang begitu mendalam di hati Luna. Semua terjadi begitu cepat, dia tidak menyangka jika sahabatnya itu akan pergi begitu cepat meninggalkan dunia ini.


Luna menghampiri Thalia yang terlihat lebih hancur dari pada dirinya. Luna memeluk gadis itu dengan erat. "Relakan dia pergi, ini sudah menjadi garisan takdir." Ucapnya menenangkan.


"Tapi kenapa harus secepat ini, Lun? Kenapa Jacksoon harus meninggalkanku di saat kami baru saja memulai sebuah hubungan? Aku hancur, Luna. Sangat-sangat hancur,"


"Aku mengerti bagaimana perasanmu, Lia. Tidak ada gunanya kau terus menangisinya, karna dia tidak akan kembali. Sebaiknya kita pulang," Lia mengangguk


"Baiklah,"


Luna menghentikan langkahnya saat tanpa sengaja iris coklatnya melihat siluet pria berpenampilan serampangan berjalan diarea pemakaman. Luna tidak melihat dengan jelas seperti apa rupa laki-laki itu, tapi wajahnya terlihat tidak asing. Luna seperti pernah melihatnya, tapi di mana? Dia tidak ingat.


Luna tak ingin ambil pusing apalagi memikirkannya, toh dia hanyalah orang asing....


Selama perjalan pulang, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Luna maupun Lia. Luna hanya menatap kosong ke luar begitu pula dengan Lia. Luna menyandarkan punggungnya pada jok mobil yang dikemudikan oleh Satya. Satya-lah yang akan mengantarkan Luna dan Lia pulang.


Setelah mengantarkan Lia pulang ke rumahnya. Luna dan Satya memutuskan untuk singgah sebentar di sebuah cafe. Luna merasa sangat lapar, begitu pula dengan Satya.


"Nunna, kau pasti sangat sedih dan kehilangan," ucap Satya memecah keheningan.


Luna mengangkat wajahnya. "Tentu saja kehilangan. Meskipun Jacksoon sangat menyebalkan, tapi kami berteman sudah cukup lama. Dan rasanya aku sangat kehilangan," ujar Luna.


"Aku juga tidak menyangka jika Jacksoon hyung akan pergi secepat itu. Rasanya baru kemarin aku dan dia bertemu, tapi tiba-tiba aku mendengar kabar jika dia mengalami kecelakaan dan meninggal." Ujar Satya panjang lebar.


Luna mendesah berat. "Mungkin itu sudah menjadi takdirnya. Sudahlah, cepat habiskan makananmu, setelah ini kita pulang. Mungkin Vio eonni dan Nathan oppa sudah menunggu kita,"


"Baiklah, Nunna,"


Luna menyapukan pandangannya dan sepasang mutiara coklatnya menangkap sesuatu yang langsung menyita perhatiannya. Seorang pria yang wajahnya begitu familiar tengah berkumpul dengan beberapa pria asing di meja paling belakang.


Luna memperhatikan penampilan keempat laki-laki itu dan sedikit bergidik ngeri. "Ya Tuhan, sejak kapan Nathan oppa jadi gila," jerit Luna tak percaya. Sontak saja Satya mengangkat wajahnya.


"Apa maksudmu, Nunna-ya?" tanya Satya meminta penjelasan.


"Lihat di sana," seru Luna sambil menunjuk sosok laki-laki yang Luna yakini sebagai Nathan. Tak jauh berbeda dengan reaksi Luna, Satya pun tampak terkejut saat melihat seperti apa rupa laki-laki itu.


Satya memperhatikan penampilan laki-laki itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sebuah tanktop putih yang dibalut leather vest hitam, celana jeans belel yang senada dengan warna rompi kulitnya. Ikat kepala putih bercorak hitam.


Melihat penampilan laki-laki yang mereka yakini sebagai Nathan itu membuat Satya ngeri sendiri.


"Nunna, cepat hubungi Vio nunna dan laporkan kelakuan gila suaminya ketika di luar,"


"Oke, aku akan menghubunginya."


Tut... Tut... Tut...


Panggilan Luna tersambung tapi belum ada jawaban. Hingga akhirnya terdengar suara pria dari seberang sana yang sontak membuat kedua mata Luna membelalak saking kagetnya. "Nathan Oppa!!" pekik Luna terkekut.


"Ada apa, Nunna?" tanya Satya kebingungan.


Luna menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan berbicara pelan. "Ini Nathan oppa yang mengangkat. Sat, coba hubungi ponsel Nathan oppa," Satya mengangguk.


Panggilan Satya tersambung dan laki-laki itu tak bereaksi sama sekali. Dia terlihat asik berbincang dengan teman-temannya. Satya menggeleng pada Luna.


"Luna, kenapa kau hanya diam saja? Sebenarnya ada apa kau menelfon?" suara Nathan kembali berkaur di dalam telinga Luna.

__ADS_1


Luna tersentak. "Ahh. Mianhae Oppa, aku salah pencet. Oke, aku tutup dulu," Luna segera mengakhiri sambungan telfonnya.


Jika yang mengangkat pangilannya adalah Nathan, maka itu artinya pria yang dia lihat itu bukanlah Nathan melainkan orang lain. Penasaran semirip apa orang itu dengan Nathan, Luna ingin memastikannya sendiri.


"Nunna, kau mau kemana?" seru Satya melihat Luna tiba-tiba meninggalkan mejanya. Tak ada jawaban, Luna mengabaikan seruan Satya.


Dugg...


"Aaahhhh,"


Luna jatuh tepat dihadapan pria itu yang pastinya adalah Zian. Luna sengaja menjegal kaki kanannya dengan kaki kirinya demi melancarkan rencananya.


Dan apa yang dia alami langsung menyita perhatian banyak pasang mata. Termasuk keempat laki-laki itu yang salah satunya adalah Zian. Sangat memalukan memang, tapi Luna tak memiliki pilihan.


"Kau tidak apa-apa?"


Luna langsung mengangkat wajahnya setelah mendengar suara datar seorang pria masuk dan berkaur di telinganya. Membuat dua pasang mata berbeda warna milik mereka saling bersiborok selama beberapa detik.


Waktu terasa berhenti. Bumi terasa tak berotasi ketika Luna menatap sepasang mata itu. Luna merasakan debaran aneh saat matanya dan mata abu-abu milik Zian saling bersiborok, jantungnya berdegup kencang, dadanya berdebar tak karuan.


"Leonil Luna, bumi memanggilmu,"


Luna pun segera tersadar. Ia menerima tangan Zian yang terulur padanya. Dengan perasaan tak karuan Luna menerima uluran tangan itu. "A-aku tidak apa-apa," ucapnya gugup.


Zian memperhatikan wajah Luna dengan seksama guna memastikan sesuatu, dan hal itu tentu saja membuat Luna menjadi kurang nyaman. "Ke-kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Luna semakin gugup.


"Tunggu, kau terlihat tidak asing. Apakah kau si kaca mata?" Zian menatap Luna penasaran.


'Apa? Dia menyebutku si kaca mata? Omo!! Jangan-jangan dia adalah-' Kedua mata Luna membelalak saat menyadari siapa yang ada di hadapannya itu. "Kau, beruang kutub!!" pekik Luna tak percaya.


"Sudah kuduga, jika ini memang kau."


Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lama tidak bertemu kau banyak berubah, Zian. Pantas saja jika aku tidak mengenalimu. Kau tidak bulat lagi seperti sepuluh tahun yang lalu." Ucap Luna setengah canggung, padahal dulu mereka pernah satu sekolah.


Tubuh Simon terhuyung akibat ulah Reno dan Danis. "Minggir kau Anak Ayam, kita berdua juga ingin berkenalan dengan Nona cantik ini," ucap keduanya dengan kompak. Reno mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Luna. Tapi sayangnya segera di halangi oleh Satya.


"Sudah-sudah, kalian bertiga jangan mengganggu Luna Nunna lagi. Nunna, sebaiknya kita pulang sekarang. Vio nunna dan Nathan hyung pasti cemas jika kita pulang terlambat." Ucap Satya yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


"Baiklah. Zian, aku pergi dulu." Ucap Luna dan kemudian berlalu dari hadapan Zian dan teman-temannya. Luna menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Zian.


Sudut bibir Luna tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya. "Zian, senang bertemu kembali denganmu," kemudian Luna melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan kafe.


Drett... Drett... Drett..


Perhatian Zian sedikit teralihkan ketika merasakan ponsel yang ada di dalam saku celananya bergetar dan menandakan ada panggilan masuk. Ia segera menggeser tanda hijau pada ponselnya dan mengangkat panggilan itu.


"Ada apa lagi kau menghubungiku?"


....


"30 menit lagi aku akan tiba di sana." Ucap Zian.


Dan setelah memutuskan sambungan telfonnya. Zian memasukkan kembali ponsel itu kedalam saku celanannya. Dan tanpa sepatah kata pun, Zian langsung melenggang meninggalkan ke tiga temannya.


"Hyung, kau mau kemana?" Seru Simon yang menyadari kepergian Zian.


"Sudahlah biarkan saja, mungkin dia ada urusan." Sahut Reno


"Ya sudah kita pulang duluan saja." Ucap Danis dan segera mendapatkan anggukan dari dua pemuda dihadapannya.


.

__ADS_1


.


" Untuk apa kau mengajakku bertemu?" Tegur Zian pada wanita paruh baya yang telah menunggunya di salah satu cafe elit yang ada di khawasan kota Seoul.


Merasa ada yang menegurnya. Wanita itu segera menolehkan kepalanya dan mendapati sosok Zian berdiri di belakangnya tengah menatapnya dingin.


"Zian, kau sudah tiba? Duduklah." Pinta wanita itu mempersilahkan.


"Tidak usah banyak basa basi. Langsung saja ke intinya."


Wanita itu menghela nafas panjang dan menghempaskan sedikit kasar. Kalina meraih cangkir berisi cairan hitam di hadapannya kemudian menyeruput isinya.


"Untuk apa kau buru-buru putra tiriku tersayang? Bukankah sudah lama kita tidak berbincang seperti ini." Wanita itu meletakkan cangkir kopi di tangannya ke tempat semula dan menatap Zian dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Putramu? Memangnya sejak kapan kau menjadi ibuku? Lagi pula aku tidak pernah menganggap wanita yang telah menghancurkan keluargaku sebagai ibuku. Aku hanya memiliki 1 ibu saja, harusnya kau tau itu. Karna bagiku kau tak lebih dari seorang wanita murahan." tutur Zian panjang lebar.


Wanita itu mengepalkan kedua tangannya setelah mendengar penuturan Putra tirinya. Kedua matanya menatap Zian dengan tajam. "Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku Zian Qin!! Apa kau tidak tau siapa aku?"


"Tentu saja aku tau, kau tidaklah lebih dari seorang pengemis jalanan yang kemudian masuk dan menjadi benalu dalam keluargaku. Dan karna kebodohan Papa, kemudian kau menjelma menjadi nyonya besar di sana." tutur Zian.


"Zian Qin, cukup!!" bentak wanita itu sambil mengangkat tangan kanannya dan..


PLLLAAKKK .. !!! ..


Mendaratkan satu tamparan keras pada wajah Zian, dan meninggalkan bekas merah pada pipi kanannya. Rupanya ucapan Zian telah memancing emosi wanita itu sehingga Ia tidak bisa menahan dirinya lagi.


"Aku tidak tau apa masalahmu denganku sehingga kau begitu membenciku. Terima atau tidak terima, kau harus bisa menerimaku sebagai bagian dari keluargamu karna papamu sendiri yang menginginkanku." ungkap wanita itu.


"Memangnya apa hakmu memintaku untuk bisa menerimamu? Dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan ini Kalina Shim!! Dan selama aku masih hidup dan bernafas, jangan harap kau bisa hidup dengan tenang. Karna aku Zian Qin, putra Bungsu keluarga Qin tidak akan membiarkanmu mencapai tujuanmu, camkan itu." Tutur Zian yang kemudian beranjak dan berlalu begitu saja dari hadapan Kalina.


"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Maka jangan menyalahkanku jika aku membuat hidup Ibumu menjadi jauh lebih sengsara dari dari yang sudah-sudah!!"


Zian menghentikan langkahnya setelah mendengar ancama yang baru saja terlontar dari bibir Kalina. Laki-laki itu berbalik dan menghampiri Ibu tirinya yang sedang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan tersungging di bibir merahnya.


"Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Karna sebelum itu terjadi, aku akan lebih dulu menghancurkanmu. Aku akan menemukan putrimu yang kau campakkan itu, dan kemudian merenggut sesuatu yang paling berharga dari hidupnya. Aku akan menghancurkannya sampai kau tidak mampu lagi menghadapi dunia."


Tak ingin kalah dari Kalina, Zian pun memberikan ancaman pada wanita itu. Dan ancaman Zian berhasil membuat Kalina kehilangan kata-katanya, Zian tersenyum miring. Tanpa sepata kata pun Ia beranjak dari hadapan Kalina dan berlalu begitu saja.


"Brengsek kau Zian Qin, aku tidak akan membiarkanmu menyentuh apalagi sampai menyakiti Putriku. Aku tidak akan membiarkanmu menemukan dia. Tidak akan pernah!!" teriak Kalina. Wanita itu melemparkan makiannya pada Zian.


Zian tersenyum miring mendengar teriakan frustasi Ibu tirinya itu. "Ini baru awal Kalina Shim, karna permainan sesungguhnya akan segera di mulai. Sebelum dirimu, aku akan lebih dulu menemukan gadis itu. Dan tunggu pembalasanku." Zian meninggalkan Kalina dengan senyum penuh kemenangan.


Zian tau jika Kalina memiliki seorang putri yang dia campakkan agar bisa menikah dengan ayahnya. Zian akan menemukan putri dari ibu tirinya tersebut, dan melalui gadis itu-lah Zian akan menghancurkan Kalina.


-


Luna hanya mampu menahan perasaannya melihat Dean bermesraan dengan Miranda, calon istrinya. Sakit dan perih, itulah yang selalu Lu a rasakan setiap kali melihat kemesraan mereka. Dan rasa sakit itu telah Luna simpan semenjak 1 bulan yang lalu, sejak Dean memperkanalkan Miranda sebagai calon istrinya.


Rio menghampiri Luna kemudian memeluknya. "Bibi, aku tau bagaimana perasaanmu, tapi ikhlaskan saja. Mungkin kau dan Dean hyung memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh," ucapnya menguatkan.


"Astaga, tidak perlu berlebihan seperti ini. Lagipula aku baik-baik saja, aku memang patah hati tapi aku tidak semenyedihkan itu.


"Hahaha. Aku hanya berusaha menguatkanmu, Bibi. Aku takut kau akan melakukan hal yang tidak-tidak karna patah hati," ujar Rio yang langsung mendapatkan jitakkan keras dari Luna.


"Dasar bodoh!! Aku masih waras, tidak mungkin aku bunuh diri hanya karna patah hati," ujar Luna.


Rio mengusap kepalanya yang menjadi sasaran jitakkan Luna. "Hehehe, aku hanya berjaga-jaga saja," ucapnya.


Mungkin Dean memang di takdirkan dengan sejuta keberuntunga, meskipun dia sangat tidak peka. Namun dia bisa di cintai oleh dua perempuan cantik sekaligus, entah keberuntungan dari mana hingga dua perempuan yang bisa di katakan nyaris sempurna sama-sama jatuh cinta padanya.


-

__ADS_1


Bersambung."


__ADS_2