
Dua pria misterius baru saja meninggalkan sebuah gedung perkantoran yang terletak di pusat kota. Dengan tenang mereka berjalan menuju tempat di mana mobil milik salah satu dari kedua pria itu diparkirkan. Suasana di sana begitu gelap dan sunyi mengingat jika waktu telah menjelang tengah malam. Satu alat penyamaran di tanggalkan dari tubuhnya mulai dari masker, topi sampai mantel hitam yang mereka kenakan.
"Kau saja yang mengemudikan mobilnya. Aku sangat lelah," ucap dingin seorang pria yang sebelumnya duduk di balik kemudi. Pria itu lantas turun dan bertukar posisi dengan teman jangkungnya.
"Dasar patung es menyebalkan. Padahal aku ingin tidur, malah di suruh mengemudi!!" gerutu lelaki jangkung itu sedikit kesal.
"Ck, berhentilah menggerutu Bima Park. Kemudikan mobilnya atau aku akan meninggalkanmu di sini!!" ancam pria dingin itu yang pastinya adalah Nathan.
Nathan dan Bima baru menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. Dan yang mereka lakukan kali ini lebih ringan dari dua hal yang mereka lakukan sebelumnya. Mereka hanya memastikan jika kamera-kamera kecil yang mereka pasang beberapa malam sebelumnya benar-benar berfungsi dengan baik. Dan ternyata ada dua kamera yang tidak sesuai dengan harapan Nathan, untungnya Nathan bisa segera mengatasinya.
Ckittt...!!
Bima tiba-tiba mengerem mendadak ketika sebuah pohon tiba-tiba melintang di tengah jalan, padahal sebelumnya tidak ada. Nathan dan Bima saling bertukar pandang, mereka berdua sama-sama menyeringai lebar. "Sepertinya ada yang ingin mengajak kita berolah raga malam ini. Baiklah, mari kita ajak mereka bermain." Ujar Bima sambil meregangkan otot-otot jarinya.
Nathan dan Bima sama-sama keluar dari mobil. Nathan memperhatikan sekeliling dan melihat semak-semak sedikit bergoyang. Diam-diam Nathan mengeluarkan sesuatu dari balik kemejanya dan...
Jlebb...
Tiga belati yang dia lemparkan menancap pada kening tiga pria yang bersembunyi di balik semak-semak tersebut. Dan apa yang Nathan lakukan tentu memancing amarah rekan-rekan mereka yang lainnya. "Trik murahanmu tidak berlalu pada kami, Bung," sinis Bima menatap ke 10 orang itu satu persatu.
"Kau siap?"
"Tentu saja siap, semangatku sedang membara seperti seekor kuda!!" balas Bima berapi-api.
"Apa yang kalian tunggu, cepat serang dan habisi dua pria sombong itu kemudian rebut harta bedanya."
"Siap Boss!!"
Perkelahian pun tak dapat terhindarkan lagi. 9 orang mengeroyok Bima dan Nathan secara bersamaan. 4 orang berkelahi dengan Bima dan 5 lainnya berkelahi melawan Nathan.
Nathan dan Bima dapat menghindari semua serangan yang mengarah pada keduanya.
Tak satu pun pukulan lawan yang berhasil mengenai tubuh mereka. Menghadapi Nathan dan Bima yang sudah mengikuti latihan fisik selama bertahun-tahun tentu bukanlah perkara yang mudah. Dan mungkin itu adalah sebuah kesalahan besar bagi mereka karna berani mencari masalah dengan orang-orang yang salah
Krakkk...
"Aarrrkkhhh!!"
Suara tulang patah dan teriakkan seseorang menggemma di kesunyian malam. Tanpa ragu sedikit pun Nathan mematahkan tangan salah satu dari kelima orang yang menyerangnya. Kaki kanan Nathan bergerak untuk menghantam kepala salah seorang yang menyerangnya dari belakang. Tanpa ampun Nathan menembaki orang tersebut dan menbuatnya meregang nyawa dalam hitungan detik saja.
Di pihak Bima. Dua orang berhasil dia tumbangkan dan hanya tersisa dua lagi. Nathan dan Bima berdiri saling memunggungi. Keduanya sama-sama mengangguk, Nathan dan Bima bertukar posisi kemudian menembaki 4 yang tersisa dengan bertubi-tubi hingga nyawa mereka melayang begitu saja. Tinggal satu orang lagi. Dan satu orang itu adalah orang yang paling sesumbar tadi.
"Bim, yang satu itu aku serahkan padamu. Untuk manusia seperti dia aku rasa, aku tidak perlu turun tangan sendiri."
"Oke, serahkan padaku!!"
"Ma-mau apa kau?" tanya pria itu melihat Bima menghampirinya. Ketakutan terlihat jelas dari sorot matanya.
"Sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal pada dunia!!" ucap Bima dan kemudian melepaskan beberapa tembakkan kearah pria tersebut. Tubuhnya ambruk setelah 5 peluru bersarang di tubuhnya.
"Kita pulang," ucap Nathan dan pergi begitu saja. Diikuti Bima yang berjalan mengekor dibelakangnya.
__ADS_1
-
"Vio?"
Luhan yang baru saja kembali terkejut karna tidak mendapati sang istri berbaring di ranjangnya. Kaki panjangnya melangkah menuju balkon, Nathan memiliki keyakinan jika sang istri berada di sana karna pintu kaca yang menjadi penghubung antara balkon dan kamarnya terbuka. Dan ternyata dugaan Nathan memang benar. Viona memang berdiri di sana tanpa penghangat apapun. Dengan satu kali tarikan nafas panjang, Nathan melangkahkan kakinya dan menghampiri sang istri.
"Vio, apa yang kau lakukan di sini?" tegur Nathan saat ia sudah ada dibelakang Viona, memaksa gadis itu untuk menoleh "Kau bisa sakit jika terlalu lama berdiri di sini. Anginnya lumayan kencang." lanjutnya menambahkan.
"Tiba-tiba aku memimpikan Ibu dan Ayah, dan setelah itu aku tidak bisa tidur lagi. Mungkin karna aku terlalu merindukan mereka sampai-sampai aku memimpikan mereka berdua." ujarnya parau. "Oppa, kau baru pulang?" Nathan melangkah lebih dekat kemudian menarik bahu Viona dan membawa gadis itu kedalam pelukannya.
Nathan sangat memahami apa yang Viona rasakan saat ini, pasti sangat berat untuk dia setelah kehilangan dua orang yang paling berharga dalam hidupnya. Nathan pernah berada diposisi gadis itu, beruntung Nathan masih memiliki dua kakak yang sangat menyayanginya tidak seperti Viona yang hanya tinggal sebatang kara setelah kepergian kedua orang tuanya.
Karna rasa depresi yang sangat tinggi sampai-sampai terbesit dibenak Viona untuk mengakhiri hidupnya. Dan Nathan berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan selalu membahagiakan gadis itu apapun dan bagaimanapun keadaannya, karna kebahagiaan Viona kini menjadi prioritas utamanya.
Nathan menatap Viona dalam pelukannya. "Kau ingin mengunjungi mereka? Jika kau ingin, besok aku akan menemanimu kesana," ucapnya. Viona menggeleng membuat Nathan menyernyit bingung. "Kenapa? Bukankah kau bilang kau merindukan mereka?" lanjutnya.
Gadis itu mendesah berat. "Jika aku pergi ke sana itu hanya akan membuat hatiku semakin terluka, aku akan semakin tidak bisa menahan rasa rinduku pada Ibu dan Ayah.. mungkin lain kali saja." Ujarnya. "Oppa." panggil Viona, gadis itu mengangkat wajahnya dalam pelukan Nathan dan menatap wajah tampan suaminya.
Rasa bersalah kembali menghinggapi perasaan Viona saat melihat perban putih yang melilit kening Nathan dan sebuah plaster yang menutup luka dibawah mata kanannya, luka yang akan meninggalkan bekas yang tidak pernah bisa hilang. Yang lebih menyakitkan untuk Viona, luka-luka itu Nathan dapatkan setelah terlibat perkelahian dengan Leo yang tidak terima karna ia lebih memilih pria berdarah China itu dibandingkan dirinya.
Viona menyentuh permukaan kasa itu dan mendesah berat. "Laki-laki itu benar-benar sudah sangat keterlaluan. Awas saja jika aku sampai bertemu dengannya, aku pasti akan membuat perhitungan dengannya. Aku benar-benar tidak terima kau dilukai seperti ini, oppa." Nathan memicingkan matanya melihat perubahan pada sikap Viona yang biasanya lemah lembut tiba-tiba menjadi sedikit mengerikan seperti itu.
Viona yang sadar sedang diperhatikan langsung terkekeh. "Oppa, tidak usah terkejut begitu. Meskipun selama ini aku dikenal sebagai dokter yang hangat dan penuh perhatian, tapi juga aku bisa marah." ujarnya dengan ekspresi yang begitu menggemaskan.
"Sudah jangan banyak bicara lagi, sudah hampir pagi sebaiknya kita tidur sekarang." Ucap Nathan tak ingin dibantah. Gadis itu mendengus dan dengan terpaksa Viona menuruti ucapan Nathan
"Huft, baiklah."
Baru saja Nathan dan Viona hendak menutup matanya, namun getaran pada ponsel Viona membuat mereka mengurungkan niatnya untuk tidur. Gadis itu beranjak dari berbaringnya dan mengambil ponselnya yang ia letakkan diatas nakas.
Viona mengerutkan dahinya melihat nama yang tertera di layar ponselnya lalu pandangannya bergulir pada Nathan yang menatapnya penasaran. "Dari siapa?" tanya Nathan to the poin.
"Paman Jang, mantan pengacara keluargaku dulu." balasnya.
"Lalu kenapa tidak kau angkat? Mungkin saja ada yang penting." Ucap Nathan, Viona memandang suaminya itu sejenak kemudian mengangguk.
Viona pun menerima panggilan itu. Orang itu tidak mengatakan apa-apa dan hanya bilang ingin bertemu dengannya besok siang. Viona memutuskan sambungan telfonnya dan kembali membaringkan tubuhnya disamping Nathan. "Untuk apa dia ingin bertemu denganmu?" tanya Nathan penasaran.
Viona menggeleng. "Aku sendiri tidak tau, paman Jang tidak mengatakan apapun hanya meminta untuk bertemu besok," ujarnya.
Nathan menarik Viona lebih mendekat dan merengkuh tubuh mungilnya. "Ya sudah, sebaiknya sekarang kita tidur. Besok aku akan menemanimu menemuinya." Viona mengangguk tanpa merubah posisinya, dan sentuhan lembut jari-jari Nathan pada pucuk kepalanya mengantarkan Viona menuju alam mimpi.
-
Hari ini cuaca cukup bersahabat, tidak mendung namun juga tidak panas. Banyak sekali kendaraan berlalu lalang dengan tujuan masing-masing. Sementara itu, disebuah cafe terlihat seorang laki-laki berkepala empat duduk dimeja paling ujung. Berkali-kali laki-laki itu melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, sudah lebih dari 10 menit dia duduk dicafe itu namun belum ada tanda-tanda orang yang dia tunggu akan segera datang.
Ting!!
Bunyi lonteng diatas pintu cafe menandakan jika ada seorang pelanggan yang datang.
Terlihat sepasang suami-istri melangkahkan kakinya dengan tenang menuju meja yang letakkan paling ujung dekat jendela. Kedatangan mereka cukup meyita perhatian para pengunjung lain, banyak sekali pasang mata yang menatap pasangan itu dengan berbagai ekspresi... mulai dari ekspresi kagum sampai iri. Namun keduanya tidak terlalu ambil pusing dan tetap melangkah tanpa menghiraukan orang-orang disekitar mereka.
__ADS_1
"Maaf Paman, kami datang sedikit terlambat." Sesal si wanita sedikit merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, Vi. Paman juga belum lama, senang melihatmu baik-baik saja."
"Oya, Paman. Perkenalkan, ini Nathan oppa, suamiku." Viona memperkenalkan Nathan pada pria paruh baya didepannya.
Pria itu pun segera berdiri dan menjabat tangan Nathan, senyum tipis tersungging disudut bibir pria itu namun tidak dengan Nathan yang hanya memasang ekspresi datar. "Oppa, ini adalah Paman Jang. Selain pengacara keluargaku, beliau juga orang yang sangat berjasa merawatku dulu ketika Ibu dan Ayah pergi keluar negeri, dan dia sering sekali kerepotan karna kenakalanku." Viona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat menceritakan masa lalunya dulu.
"Hahahha! Rupanya kau masih ingat, Vi. Saat masih kecil selain manis kau juga sangat badung, kau suka sekali membuat anak orang menangis dan terkencing dicelana. Paman juga ingat saat kau menangis tersedu-sedu karna akan berpisah dengan teman kecilmu, sampai hampir satu minggu kau tidak mau makan dan mengurung diri di kamar.
Dan apakah kau sudah bertemu kembali dengannya? Ahhh, pasti saat ini dia sudah tumbuh menjadi pria yang sangat tampan." ujar pria itu panjang lebar, raut wajah Viona berubah sendu setelah Pengacara Jang mengungkit tentang teman masa kecilnya itu. Viona yang sudah melupakannya kini menjadi merindukannya lagi.
"Kami sudah tidak perna bertemu setelah hari itu Paman, aku juga tidak tau dimana Xiao Lu saat ini. Dia seperti apa? Apakah dia masih mengingatku atau tidak? Aku benar-benar tidak tau." Jawabnya sambil mengulum senyum sendu.
Sementara itu, Nathan langsung menoleh setelah Viona menyebut nama Xiao Lu... nama itu seperti tidak asing untuknya, ia seperti pernah mendengarnya namun Nathan lupa dimana dan kapan. Dan tiba-tiba kepalanya serasa seperti terhantam batu besar saat mencoba mengingatnya.
Kesakitan terlihat jelas pada raut wajahnya yang mulai berkeringat "O-oppa, kau kenapa?" panik Viona sambil menatap cemas Nathan. "Minum dulu." pintanya sambil menyodorkan segelas air putih pada Nathan.
"Nak, kau tidak apa-apa?" tanya pengacara Jang memastikan, Nathan menggeleng.
"Tidak, aku baik-baik saja. Tiba-tiba aku merasa sedikit pusing." dustanya sambil memegangi keningnya yang masih terlilit perban. "Bisakah kita langsung pada intinya saja? Kami masih memiliki banyak urusan." Ujar Nathan yang terlihat sedikit lebih baik dari sebelumnya. Viona yang duduk disamping Nathan tetap tidak merasa tenang, ia takut jika pusing yang Nathan rasakan ternyata serius.
Pengacara Jang terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya kemudian meletakkan keatas meja dan mendorongnya pada Viona. "Ini adalah beberapa dokument penting milik mending ayahmu, dari semua aset yang dia miliki, hanya sepertiganya yang berhasi ayahmu selamatkan. Sedangkan seperempatnya berada di tangan Derry Ardinata termasuk Jaesung group dan J.S hottel. Mungkin kau tidak banyak mengetahui tentang aset-aset itu, termasuk perusahaan dan hotel.
Sehari sebelum ayahmu meninggal, dia datang menemui Paman untuk menitipkan semua aset ini. Dia meminta agar Paman menyerahkan padamu di saat kau benar-benar siap, dan Paman rasa inilah saatnya. Viona, ketahuilah jika kedua orang tuamu meninggal bukan karna kecelakaan melainkan karna dibunuh.
Derry Ardinata dan Istrinyalah yang merencanakan kematian untuk orang tuamu agar bisa mendapatkan seluruh aset kekayaannya, sedangkan pertunanganmu dan putranya hanyalah akal-akalan mereka saja karna mereka berdua tau jika kau akan mewarisi seluruh kekayaan ayahmu. Derry sudah menghianati Ayahmu dan keluargamu, itulah fakta yang harus kau ketahui.
Paman tau, ini pasti sangat mengejutkan bagimu, tapi Paman harap kau bisa menerimanya dan berlapang dada untuk merelakan kepergian mereka. Dan mengenai liontin yang kau kenakan. Sebenarnya itu bukanlah liontin biasa, di dalam liontin tersebut tertanam sebuah chips yang didalamnya terdapat semua bukti-bukti tentang kejahatan Derry Ardinata pada keluargamu juga keluarga sahabat ayahmu. Keluarga itu bermarga Lu, dan alasan kenapa ayahmu dilenyapkan ... Selain karna ingin mengusai seluruh harta ayahmu, juga demi menghilangkan bukti karna ayahmu adalah satu-satunya saksi dalam pembantaian pasangan suami istri dari keluarga Lu. Dan supaya tidak terlalu mencolok, ayahmu memutuskan untuk menyimpannya di dalam liontin itu."
Deg!
Viona tersentak, rasanya seperti ada bongkahan batu besar yang menghantam dadanya. Satu kebenaran besar baru saja terungkap jika ternyata kedua orang tuanya meninggal bukan karna kecelakaan melaiankan karna dibunuh. Rasanya Viona sulit sekali membercayai hal ini namun kejanggalan pada kematian orang tuanya yang membuatnya yakin jika mereka benar-benar telah dibunuh, seperti apa yang dia yakini selama ini.
"Jadi keyakinanku memang benar, jika mereka meninggal karna dibunuh. Ya Tuhan, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun aku menyadarinya padahal selama ini aku meyakini tentang kejanggalan pada kematian mereka." lirihnya parau. Viona benar-benar tidak kuasa menahan air matanya, pertahannya pun akhirnya roboh.
Gyuttt!!
Viona menggepalkan kedua tangannya, matanya berkilat penuh amaran. Bibirnya bergetar dan air matanya terus berlinang "Derry Ardinata, aku tidak akan pernah memaafkanmu, tidak akan pernah. Tunggu saja, aku pasti akan menghancurkanmu."
"Dan satu lagi, mengenai liontin yang kau kenakan. Sebenarnya itu bukanlah liontin biasa karna di dalam liontin tersebut tertanam sebuah chips yang didalamnya terdapat semua bukti-bukti tentang kejahatan Derry Ardinata pada keluargamu juga keluarga sahabat ayahmu.
Keluarga itu bermarga Lu, dan alasan kenapa ayahmu dilenyapkan ... Selain karna ingin mengusai seluruh harta ayahmu, juga demi menghilangkan bukti karna ayahmu adalah satu-satunya saksi dalam pembantaian pasangan suami istri dari keluarga Lu. Dan supaya tidak terlalu mencolok, ayahmu memutuskan untuk menyimpannya di dalam liontin itu." Viona tersentak, marga Lu. Yang itu artinya adalah keluarga Nathan.
Nathan sedikit terkejut, jadi itu alasan kenapa Derry mencari-cari pemilik liontin tersebut. Dan sepertinya Dewi Fortuna kembali berpihak padanya karna liontin itu berada di tangan istrinya sendiri.
Seringai tajam tercetak disudut bibir Nathan, sorot matanya semakin dingin dan terlihat lebih berbahaya dari seorang iblis neraka. "Bukan hanya, kau. Tapi kita, aku akan membantumu menghancurkan bajing** itu. Kita buat mereka tidak mampu lagi menghadapi dunia. Karna kita.... memiliki dendam pada orang yang sama."
-
Bersambung.
__ADS_1