
Hembusan angin malam meniup helaian dedauanan yang melambai-lambai indah diranting pohon di luar gua. Menemaninya melewati kesunyian malam yang begitu kelam.
Gemercik air hujan memecah kesunyian dan keheningan malam yang begitu suram yang menghasilan lantunan melody dan berirama tidak beraturan. Di tambah kilatan-kilatan petir yang menggemuruh di atas sana kian menambah kesan malam yang kian mencekam.
Terlihat seorang pria berdiri di bibir gua, sepasang mata abu-abunya menatap rintikan air hujan yang berjatuhan di depannya dengan tatapab datar. Beberapa di antaranya memercik dan membasahi tubuhnya.
Pemuda itu masih enggan beranjak dari tempatnya meskipun hawa dingin kian menusuk tubuhnya melalui pori-pori kulitnya yang tak terbalut pakaian hangat, hanya ada kemeja hitam tanpa lengan serta jeans hitam membalut tubuh kekarnya. Sangat kontras dengan keadaan malam itu, karna cuaca yang tak bersahabat dan langit terlihat begitu murka. Ia benar-benar menghiraukannya.
Entah karna tubuhnya yang sudah kebal dengan hawa dingin atau memang dia yang terlalu bodoh, tak ada yang tau apa alasan pemuda itu berdiri lama di sana dalam cuaca malam tak bersahabat tersebut.
Termasuk sosok gadis yang duduk meringkuk kedinginan di dalam gua, meskipun di depannya sudah ada api unggun yang menemaninya. Namun itu tidak memberikan pengaruh apa pun, rasa dingin tetap mendera tubuh mungilnya yang hanya barbalut dress hitam berbahan brokat berlengan panjang.
Tak ada mantel tebal maupun syal yang melekat di tubuhnya, di tambah pakaiannya yang masih belum terlalu kering akibat inseden yang baru saja Ia alami.
"Apa kau sudah merasa lebih hangat.??" Gadis itu 'Luna' mendongakkan kepalanya mendengar suara dingin + datar seorang pria masuk kedalam telinganya.
Gadis itu menatap Zian sejenak dan menggeleng pelan. Terlihat pria itu berjalan menghampiri Luna kemudian duduk di sampingnya. Kedua tangannya Ia arahkan pada api unggun di hadapannya, kemudian Ia takupkan pada wajah gadis itu. Membuatnya sedikit tersentak, dengan ragu Ia menolehkan kepalanya dan menatap wajah tampan di hadapannya.
"Saat aku masih kecil, mama sering kali melakukan hal ini ketika aku merasa kedinginan sambil berkata 'Zian, kau akan merasa lebih baik setelah mama melakukan ini, Sayang'." ujar Zian seraya tersenyum hambar.
Ada kesedihan, kerinduan yang terpancar dari sorot mata Zian. Luna terdiam seketika, pandangannya meneduh. Manik hazelnya terkunci pada manik abu-abu milik Zian yang juga menatap padanya. Merasa tak sanggup berlama-lama menatap mata itu, Luna pun memilih memalingkan wajahnya dan menatap kearah lain.
Namun sebuah sentuhan lembut pada wajahnya mengagetkan gadis itu, membuatnya menoleh seketika.
Terlihat pandangan Zian berbeda dari sebelumnya, sorot matanya yang tajam dan nyarang menatap wajah Luna dengan tatapan yang sulit di artikan.
Seketika peluh membasahi hampir di sekujur tubuhnya, rasa khawatir mulai menghinggapi perasaannya. Takut jika sampai lelaki itu melakukan sesuatu padanya, terlebih keadaan di dalam gua itu sangat sepi. Hanya ada dan Ia saja di sana.
"Ke-ke-na-pa kau menatapku seperti itu?" tanya Luna was-was. "Ja-jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku terlihat seperti seekor kucing yang tertangkap basah sedang mencuri ik-"
GREPPP ... !!!! ...
Belum sempat Luna melanjutkan kalimatnya, Zian lebih dulu menarik pinggangnya. Membuat tubuhnya dan Zian menempel dengan sempurna.
Jantung Luna berdetak tak karuan melihat seringai tajam terlukis di wajah tampan milik Zian.
Berbagai perasaan kini memenuhi dirinya, yang tak mampu Luna prediksikan maknanya.
"Sihir apa yang telah lau gunakan untuk menjeratku, Leonil Luna? Bagaimana bisa dengan mudahnya kau membuatku jatuh ke dalam pesonamu? Kenapa kau membuatku merasakan perasaan yang begitu asing.
Katakan padaku, siapa kau sebenarnya? Seorang Dewi atau hanya seorang manusia biasa. Kenapa kau memiliki kecantikan yang begitu sempurna?"
Zian membelai wajahnya, membuat jantung gadis itu semakin tak menentu. Terlebih setelah mendengar penuturan yang baru saja meluncur bebas dari bibir kissablenya. Ringan namun memiliki makna yang sangat dalam, hingga Luna tak mampu untuk mencernanya. Otaknya begitu lamban untuk Ia dapat berfikir.
__ADS_1
Ia masih tetap saja diam, sorot matanya menatap teduh iris abu-abu menawan di hadapannya. Seakan ada magnet yang menggerakan diri Zian untuk mendekatkan wajahnya, membuat Luna memejamkan matanya.
Deruan nafas Zian yang hangat Luna rasakan membelai wajahnya, jantungnya berdetak beraturan. Sungguh sangat berbanding balik dengan apa yang tengah Luna rasakan.
Sampai akhirnya... Ia merasakan sebuah benda lunak dan basah menyentuh permukaan bibirnya dengan sangat lembut. Menyapu setiap inci bibir merahnya, memagur bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Hangat dan berkesan.
Meskipun awalnya begitu takut dengan perlakukan Zian, namun kali ini sepertinya tidak lagi. Terlihat dari ekspresi wajah Luna yang begitu menikmati ciuman itu.
Zian menuntun tangan Luna dan mengalungkan di lehernya, sedangkan tangan Zian menekan tengkuk Luna untuk memperdalam ciumannya.
Menyadari Luna membalas ciumannya, Zian menyandarkan tubuh gadis itu pada batu besar yang ada di dalam gua.
Desahan yang keluar dari bibir Luna menambah gelora Zian untuk membelai seluruh isi dalam mulut gadis itu, dan tanpa Luna sadari. Desahan itu memberikan ruang bagi Zian untuk menelusupkan lidahnya ke dalam mulutnya dan mengabsen setiap inci dalam rongganya. Menyatukan lidah mereka dan tak jarang mereka saling bertukar saliva.
Ciuman itu terlepas, menyisahkan deru nafas yang terdengar jelas. Berebut oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga paru-paru yang terasa kosong.
Zian melirih gadis di hadapannya, tangan kanannya tergerak begitu saja. Menyentuh bahu Jessica dan membawa gadis itu kedalam pelukannya.
Lagi-lagi Luna di buat terpaku oleh perlakuan Zian, dengan ragu dan tak yakin. Luna mengangkat tangannya dan membalas pelukan Zian. Tak ada sepatah kata pun yang mereka ucapkan, hanya gemercik sisa-sisa air hujan terdengar seperti nyanyian pelepas di dalam kesunyian malam.
Kedua insan yang hatinya saling terpaut dalam satu perasaan yang di sebut cinta. Meskipun mereka sama-sama belum mengakuinya, namun perasaan itu nyata. Terpancar dari matanya.
"Apa yang kau lakukan?" Luna segera tersadar. Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali, lalu membalas tatapan Zian yang terlewat datar. "Sampai kapan kau akan duduk dipangkuanku dan memelukku seperti ini?"
Luna kehilangan kata-katanya. Dia malu setengah mati. Buru-buru ia turun dari pangkuan Zian dan melepaskan pelukkannya. Baru saja dia membayangkan hal-hal yang tidak-tidak bersama Zian sampai-sampai Luna tidak sadar dengan apa yang ia lakukan. Dan Luna sangat merutuki kebodohannya itu.
"I-itu tadi aku hanya merasa takut karna tiba-tiba ada petir. Ya, ada petir makanya aku langsung melompat kepangkuanmu dan memeluk lehermu. Ja-jadi jangan salah paham apalagi berfikir yang tidak-tidak," ujar Luna mencoba memberikan penjelasan. Kegugupan terlihat jelas dari raut wajah dan sorot matanya.
Zian mendengus geli. "Dasar kau ini, ada-ada saja,"
"Zian, Apa mungkin kita bisa keluar dari tempat ini? Dan sampai kapan kita akan terdampar di pulau tak berpenghuni ini? Aku ingin pulang," renggek Luna. Luna mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke dalam manik abu-abu milik Zian.
Zian mendesah panjang dan menggeleng."Aku sendiri tidak tau, apa kau merasa takut?" Tanya Zian begitu dingin namun ada kehangan di balik sikapnya itu yang selalu bisa Luna rasakan.
"Tidak, selama kau masih menemaniku dan tetap bersamaku." Balas-nya cepat.
Zian memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain. "Kenapa kau begitu mempercayaiku? Apa kau tidak takut hanya berdua denganku di tempat seperti ini? Apa kau tidak takut jika aku melakukan sesuatu yang buruk padamu? Terlebih kau tau jika aku adalah seorang yang berdarah dingin, bahkan orang sering mengataiku sebagai psycho." Tutur Zian panjang.
"Untuk apa aku merasa takut, karna aku yakin kau tidak mungkin melakukan hal semacam itu padaku,"
"Kenapa kau begitu yakin?" tanya Zian datar.
"Karna aku melihat masih ada kebaikan di dalam hatimu. Dan kau tidak mungkin bisa menyakitiku apalagi membunuhku karna aku adalah-"
__ADS_1
BRAKKK ... !!! ...
Luna mengantungkan kalimatnya setelah mendengar suara gaduh yang berasal dari luar gua.
Sontak mereka beranjak dari duduknya dan berlari keluar untuk memeriksanya.
Sebuah kapal menepi di sana, terlihat beberapa awak kapal turun dari dek dan berjalan menuju daratan. Di tangan dan tubuh mereka penuh dengan senjata, dan dapat mereka berdua pastikan jika kapal itu adalah kapal seorang perompak.
"Wow, lihatlah. Pulau kita kedatangan tamu rupanya." Seru salah seorang dari awak kapal itu yang di yakini sebagai kaptennya.
"Boss lihatlah, tamunya yang datang adalah seorang wanita. Dan itu cukup untuk menemanimu bersenang-senang."
"Itu benar, cepat tangkap gadis itu dan bawah dia padaku. Bunuh saja pemuda yang bersamanya, karna dia tidak ada gunanya."
"Baik Boss."
Beberapa pria berjalan menghampiri mereka berdua. Luna dan Zian terlihat begitu santai menyikapi apa yang akan pria-pria itu lakukan, tak ada rasa takut maupun gentar terpancar dari wajah keduanya. Karna bagi mereka, berhadapan dengan bahaya bukanlah sesuatu yang baru. Terutama bagi Zia, Ia sudah terlalu biasa berhadapan dalam situasi semacam itu.
"Sepertinya kita akan bermain-main sebentar dengan para kurcaci-kurcaci itu. Apa kau sudah siap?" tanya Zian seraya melirik Luna menggunakan ekor matanya.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk."Tentu saja."
Perkelahian antara Luna-Zian melawan para pria asing itu pun tak dapat terhindarkan lagi. Perkelahian yang sangat tak seimbang, karna dua melawan hampir 20 orang. Namun hal itu tak menciutkan nyali Zian maupun Luna, mereka begitu bersemangat untuk menghabisi mereka.
Duaaarrr ...
Duaaarrr...
Desiran peluru di lepaskan pun mewarnai jalannya perkelahian, dan entah sudah berapa banyak dari kubu lawan yang nyawanya melayang sia-sia di tangan Zian yang menghabisi mereka dengan brutal.
Pemuda itu tidak setengah-setengah dalam menghabisi lawannya, dan tanpa belas kasih serta rasa manusiawi. Zian menembaki pria-pria tersebut, membuat mayatnya bergelimpangan dengan darah menggenang yang berasal dari lubang peluru Zian tepat bersarang.
Dan kurang dari 15 menit, pemenangnya pun dapat di ketahui. "Ampun Tuan-Nona, tolong jangan bunuh saya. Semua anak buah saya telah kalian habisi. Kalian boleh ambil apapun dariku, tapi tolong. Jangan ambil nyawaku.
"Aku akan membiarkanmu hidup, tapi dengan 1 syarat. Bawa kita berdua keluar dari pulau terkutuk ini." Tutur Zian dan di balas anggukan oleh pria itu.
"Ba-ba-ik-lah, kalian naik saja keatas kapalku. A-aku akan mengantar kalian dan membawa kalian keluar dari sini."
"Ayo." Zian merait telapak tangan Luna dan menggenggamnya, keduanya berjalan beriringan menuju kapal milik pria tersebut.
Dan kini keduanya dapat bernafas lega. pasalnya mereka dapat keluar dari tempat asing itu tanpa harus berlama-lama di sana.
-
__ADS_1
Bersambung