Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 81 "Sosok Yang Luar Biasa"


__ADS_3

"Dimana Ibu??"


Shion menghampiri Rio yang sedang menikmati makanannya di meja makan. Pemuda itu tampak tak peduli dengan kedatangan wanita itu. "Seseorang tiba-tiba datang dan membawanya pergi." Jawabnya acuh tak acuh.


"Lalu kenapa kau tidak menghentikan mereka supaya tidak membawanya," tanya Shion.


Rio mengangkat bahunya. "Untuk apa? Toh itu bukan urusanku,"


"Apa maksudmu itu bukan urusanmu? Bukankah dia Ibumu, meskipun dia sudah menelantarkanmu, tapi tetap saja dia wanita yang sudah melahirkanmu!!"


"Kenapa kau yakin sekali jika dia itu ibuku?" Rio mengangkat wajahnya dan menatap Shion dengan pandangan bertanya.


"Apa-apaan tatapanmu itu? Kenapa kau menatapku seperti itu? Dan sejak kapan bocah cupu dan idiot sepertimu jadi pandai berbicara?"


Rio meletakkan sendok dan garpunya kemudian bangkit dari duduknya. Satu persatu penyamarannya Rio lepaskan dan sekarang terlihat sosok asli di balik kaca mata kuda dan tompel hitamnya. "Ka-Kau tidak cupu dan tidak idiot? Si-siapa kau sebenarnya?" tanya Shion terbata-bata. Shion memperhatikan wajah Rio yang sepertinya tidak terlalu asing baginya.


"Heh. Sepertinya faktor usia membuatmu tidak mengingat siapa diriku, Bibi!! Apa kau tidak ingat pernah menyiksa 3 bocah laki-laki dan membuatnya menangis sepanjang hari 7 tahun yang lalu? Dan aku adalah salah satu dari ketiga bocah itu,"


Kedu mata Shion lantas membelalak. "Omo!!" wanita itu membekap mulutnya dan menatap Rio tak percaya. "Ka-kau, mungkinkah kau adalah?"


"Bebar, aku adalah Rio Lu. Bagus Bibi masih mengingatku," kata Rio menyela ucapan Shion. "Aku sedang malas bermain-main dengan wanita ular sepertimu. Anggap saja ini adalah hari keberuntunganmu. Dan jangan coba-coba membocorkan pada wanita itu tentang siapa diriku yang sebenarnya jika kau tidak ingin aku membuka rahasia besarmu di depan paman Nathan. Karna jika rahasia itu sampai terbongkar, aku berani bersumpah dia akan langsung menembak mati dirimu detik itu juga,"


"Tunggu," Shion menahan lengan Rio. "Apa maksudmu?" tanya Shion meminta penjelasan.


Rio mengangkat bahunya. "Pikirkan saja sendiri. Oke, aku pergi. Bye-bye Bibi, selamat bermimpi buruk," Rio melambaikan tangannya pada Shion dan pergi begitu saja, bahkan dia tidak peduli dengan teriakkan Shion yang memintanya untuk berhenti.


Rio merasa puas melihat wajah terkejut Shion. "Hehehe, mimpi burukmu baru saja di mulai Shion Choi. Kami bertiga akan menemanimu bersenang-senang sepanjang waktu, dan balas dendam baru saja dimulai," ucap Rio di tengah langkahnya.


Rio masih mengingat dengan jelas di mana Shion selalu memperlakukannya, Satya dan Frans dengan sangat buruk di masa lalu. Ketika di depan semua orang, Shion selalu bersikap baik dan manis. Shion selalu menunjukkan jika dia sangat menyukai Rio, Satya dan Frans hanya demi mengambil hati kakak-kakak Nathan. Tapi di balik itu semua dia adalah wanita yang sangat mengerikan. Ketiga pemuda itu pernah di kunci di kamar mandi oleh Shion selama berjam-jam


Pada saat itu mereka bertiga hanyalah seorang bocah, yang cuma bisa menangis ketika ditindas. Jangankan untuk membalas perbuatan Shion, untuk melaporkan perbuatan Shion pada Nathan, Senna dan Henry saja mereka berani. Shion selalu mengancam akan membunuh mereka jika mereka sampai berani mengadu. Dan sekarang mereka ingin membalas semua perbuatan Shion pada mereka di masa lalu.


-


Cicitan suara burung yang bertengger du atas pohon dan juga terpaan sinar mentari pagi membuat Viona harus terbangun dari tidurnya. Saat matanya melirik ke arah jam yang terpasang di dinding kamarnya, waktu telah menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit.


Viona menguap lebar. Ia merasa begitu lebih baik pagi ini. Udara pagi yang masih segar terasa begitu nyaman untuk dihirup, cicitan suara burung yang terdengar merdu dan juga sinar mentari pagi yang bersinar cerah dan penuh kehangatan mampu membuat perasaan hangat dan nyaman bagi siapa pun, termasuk Viona. Membawa perasaan damai pada hatinya yang sedikit kalut.


Setelah mencuci muka dan menggosok giginya. Viona segera meninggalkan kamarnya dan pergi ke dapur. Viona berniat untuk membuat sarapan untuk Nathan, dirinya dan tiga orang yang juga tinggal satu atap dengannya. Mereka bertiga adalah Hans, Daniel dan Kakek Lee.


Namun, saat Viona membuka pintu kamarnya. Dia telah melihat Hans yang sedang meminum kopi hangat di sebuah cangkir putih sembari memandang selebaran kertas di tangannya. Viona pun segera menghampiri pria teraebut


"Oh, Viona kau sudah bangun?" tanya Hans kemudian meletakkan kertas itu di atas meja. "Paman bangun terlalu pagi hari ini dan sulit untuk tidur lagi. Lalu kenapa kau sudah bangun? Ini masih terlalu pagi,"


"Aku hendak membuat sarapan, Paman. Lalu siapa yang membuatkan kopi untuk Paman? Apa Paman membuatnya sendiri?" tanya Viona memastikan.


"Kakek Lee yang membuatkannya untuk Paman, beliau sudah bangun sejak setengah jam yang lalu dan sekarang sedang berada di taman belakang. Terus terang Vi, Paman merasa malu pada dia. Usianya sudah senja tapi dia memiliki semangat hidup yang begitu luar biasa. Dan Paman banyak belajar darinya tentang apa arti hidup yang sebenarnya. Dia benar-benar sosok yang luar biasa," tutur Hans panjang lebar.

__ADS_1


Viona mengangguk. "Ya, aku setuju dengan Paman. Dia memang sosok yang begitu luar biasa, dan sebaiknya Paman temani Kakek Lee berkebun. Saat ini Paman kan seorang pengacara, jadi aku rasa tidak ada salahnya jika Pamanmau bantu-bantu meringankan pekerjaan rumah. Merawat bunga-bungaku dan bersih-bersih rumah contohnya,"


Sebuah jitakkan mendarat mulus pada kepala coklat Viona. "Enak saja, kau fikir Pamanmu yang super duper tampan dan penuh pesona ini adalah OB. Lagi pula untuk apa kau membayar mahal orang-orang itu jika hanya untuk memakan gaji buta,"


"Bilang saja kalau Paman malas melakukannya dan aku sudah kebal dengan berbagai alasan-alasan Paman!!" Viona menjulurkan lidahnya pada Hans dan pergi begitu saja. Wanita itu terkekeh di tengah langkahnya. Viona merasa puas melihat wajah masam Hans.


"OMO!!' nyaris saja Viona terkena serangan jantung dadakan karna ulah Tao. Saat tiba di dapur Viona melihat laki-laki bermata panda itu sedang memakan mangga muda miliknya. "Yakk!! Panda jelek, berani sekali kau mencuri mangga mudaku? Kau sudah bosan hidup ya?" amuk Viona sambil memukul Tao dengan seikat bayam.


"Yakk!! Nona Boss, hentikan!! Berhenti memukulku, kenapa kau ini pelit sekali dan selalu perhitungan padaku. Padahal aku hanya memakan sedikit mangga mudamu tapi aku langsung kebakaran jenggot."


"Sedikit apanya Panda!! Jelas-jelas mangga mudaku kau habiskan semua. Dasar menyebalkan," teriak Viona dan pergi begitu saja.


.


.


.


Brakkk...


Nathan yang baru saja keluar dari kamar mandi nyaris saja terkena serangan jantung dadakan karna ulah istrinya sendiri. Viona masuk dan langsung membanting pintu kamar sambil menekuk wajahnya. Nathan meletakkan handuknya lalu menghampiri Viona.


Wanita itu mengangkat wajahnya dan mendapati sang suami berdiri menjulang dihadapannya. "Apa lagi sekarang? Kenapa pagi-pagi sudah marah, hm?" tanya Nathan penasaran.


"Oppa, sebaiknya pecat saja panda gila itu. Lama-lama aku bisa terkena stroke karna ulahnya. Dia baru saja menghabiskan mangga mudaku yang kau belikan kemarin sore tanpa menyisahkan satu pun untukku," ujar Viona panjang lebar.


"Sudah tau, aku sedang kesal. Malah memintaku untuk tersenyum," Viona semakin menekuk wajahnya, dan bukan Nathan namanya jika tidak memiliki banyak cara untuk mengatasinya. "Kenapa menatapku seperti itu?" Viona mencerutkan bibirnya.


Nathan menakup wajah Viona kemudian menyatukan bibir mereka. Dan melum** nya singkat namun penuh kelembutan. Ciuman itu berlangsung kurang dari satu menit namun berhasil mengembalikan senyum di bibir Viona.


"Hehehe. Manis sekali Oppa,"


Nathan mendengus geli. Dengan gemas dijitaknya kepala coklat milik Viona. "Tidak perlu memasak, sebaiknya beri tau Daniel dan Kakek Lee juga Paman Hans jika kita akan pergi ke kediaman keluarga Lu. Aku ingin memperkenalkan mereka bertiga pada semua anggota keluarga Lu,"


"Siap Oppa, dengan senang hati," Viona beranjak dan mukai melangkahkan kakinya sampai akhirnya...


"Shit," sebuah umpatan yang keluar dari bibir Nathan menghentikan langkahnya. Nathan meringis kesakitan sambil mencengkram mata kiriny Viona lantas berbalik dan menghampiri suaminya.


"Oppa, kau kenapa? Apa matamu sakit lagi?" tanya Viona memastikan. Viona benar-benar mencemaskan keadaannya. Duduklah dulu, biar aku lihat. Semoga jahitannya tidak teebuka lagi,"


Viona menuntun suaminya untuk duduk di sofa yang berad di sisi kiri tempat tidur. Viona menarik turun benda hitam yang melekat pada mata kiri suaminya. Benar dugaannya, lagi-lagi ada jahitannya yang terbuka. Viona mengambil tisu yang ada di atas meja, melipatnya hingga membentuk bentuk segiempat kemudian menempelkan pada mata kiri Nathan.


"Aku akan mengambil peralatanku dulu, pegang dulu tisunya supaya pendarahannya bisa cepat berhenti "


Dan tak berselang lama Viona membali dengan sebuah peralatan medis di tangan kanannya serta wadah kecil berisi air bersih di tangan kirinya. Viona meletakkan dua benda mati tersebut di atas meja kemudian menurunkan tangan Nathan dari mata kirinya begitu pula dengan tisunya.


Dengan perlahan dan hati-hati Viona mulai menjahit lagi jahitannya yang terbuka setelah membersihan darahnya dan mengoleskan anti septic pada jahitannya supaya tidak terjadi infeksi. Dan sebisa mungkin Viona mencoba untuk tegar dan tidak menangis meskipun pada kenyataannya kedua matanya mulai memanas dan air mata sudah menggenang dipelupuknya. Sesekali jari-jari lentiknya mengusap kristal-kristal bening yang nyaris saja menetes itu.

__ADS_1


Nathan memandang Viona dengan sendu. Lagi-lagi dia membuat wanitanya sendiri menangis. Dengan lembut Nathan menyeka air mata yang menetes itu dan menatapnya dengan sendu. "Jangan menangis, Sayang. Aku baik-baik saja,"


"Hiks, aku hanya merasa sedih dengan keadaanmu saat ini, Oppa. Hatiku benar-benar sakit," air mata yang sedari tadi menggenang dipelupuknya kini jatuh begitu saja membasahi wajah cantiknya. Dan lagi pula istri mana yang tidak akan sedih dan sakit ketika melihat suami yang begitu dia cintai terluka.


Nathan menatap Viona dengan sendu. Dengan lembut, Nathan menarik lengan Viona dan membawa wanita itu ke dalam pelukkannya. Mata kanannya tertutup rapat. "Maaf," bisiknya penuh sesal. Viona menggeleng. Kemudian melonggarkan pelukkannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Tamak sebuah perban yang sudah menyatu dengan plaster menutup sempurna mata kiri Nathan yang tidak lagi sempurna.


"Aku akan mendi dulu.Bisakah kau siapkan pakaian untuku?" ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.


"Baiklahnya,"


Setelah menyiapkan pakaian mana yang akan Nathan pakai. Viona beranjak keluar untuk memberi tau Hans, Kakek Lee dan Daniel jika Nathan akan memperkenalkan mereka pada seluruh keluarga Lu.


-


"Kkkyyyaaaa, kau lucu sekali Nak," histeris Frans, Satya dan Rio saat bertemu dengan Daniel.


Kedatangan Daniel dan Kakek Lee dalam keluarga Lu langsung disambut dengan baik oleh Henry dan Senna. Mereka merasa senang dan gembiara karna ada anggota baru dalam keluarga mereka. Saat ini Daniel sedang bersama Rio dan kedua paman kecilnya.


"Kakek, tidak perlu sungkan. Anggap saja seperti di rumah sendiri," ucap Senna tersenyum.


"Terimakasih Nyonya, tapi saya sangat tidak pantas diperlakukan dengan seistimewah ini,"


"Apa yang Kakek katakan, tentu saja Kakek sangat pantas. Kami sudah lama menjadi yatim piatu, untuk itu kami sangat bahagia dengan kehadiran Kakek ditengah keluarga ini," ujar Henry. Dan kakek Lee semakin terharu dengan kebaikkan keluarga Lu. Dia tidak menyangka jika di dunia ini ternyata masih ada orang-orang baik seperti mereka.


"KYYYAAA!! DANIEL, KAU MEMILIKI BAKAT YANG SANGAT BAGUS NAK."


Seruan keras yang berasal dari lantai dua itu langsung menyita perhatian semua orang yang sedang berkumpul di ruang tamu. Nathan dan Henry tidak tau apa yang terjadi di sana, mereka hanya bisa berdoa semoga Rio, Frans dan Satya tidak menularkan virus ajaibnya pada bocah yang masih itu.


Gelak tawa mewarnai kebersamaan Rio, Frans, Satya dan Daniel di sebuah kamar di lantai dua. Mereka bertiga melihat bakat terpendam Daniel yang sangat luar biasa. Hanya butuh sedikit di asah maka bakat itu akan menjadi luar biasa.


"Daniel, sepertinya kau akan menjadi penerus kita bertiga di masa depan. Kembangkan dan asah terus bakat jahil dan kenakalanmu itu, Nak. Paman sangat mendukungnya,"


"Tapi Paman, kata Kakek kita tidak boleh berbuat nakal dan berbuat jahat pada orang lain. Itu dosa,"


Rio menggeleng. "Tidak, jika kita melakukannya tepat sasaran. Maksud Hyung, jika kau melakukannya pada orang jahat yang suka menindasmu dan meremehkanmu. Jika kau mau, kita bertiga bisa menjadi guru privatmu. Bagaimana? Kau mau tidak?" tanya Rio memastikan.


Daniel tampak berfikir. Bocah itu tersenyum kemudian mengangguk. "Ya Paman, aku mau," ketiganya tersenyum kebar seraya mengacungkan jempolnya.


"Pilihan yang tepat, Nak. Dan dalam waktu satu bulan, kita berempat akan menjadi tim yang hebat. Bersama-sama kita akan memberantas kejahatan dan ketidakadilan pada keluarga ini!!" seru Satya dengan begitu bersemangat.


Ketiganya saling bertukar pandang dan dengan kompak mereka menjawab...


""SETUJU!!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2