Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 108 "Iblis Dalam Bentuk Dewi"


__ADS_3

Viona membuka lilitan perban yang membebat kening dan mata kiri Nathan. Wanita itu mendesah berat. Luka tampak pada kening Nathan tepat diatas alis kirinya dan mata kirinya kembali mengeluarkan darah segar.


Nathan sudah menceritakan semua yang dia alami pada Viona. Saat dalam perjalanan kembali ke Villa. Mobil Nathan dihadang oleh tiga mobil. Nathan yang hanya seorang diri dikeroyok sedikitnya dua puluh orang.


Orang-orang itu bisa Nathan atasi dengan mudah, tapi dua diantaranya berhasil menciderai kepala, lengan dan membuat mata mata kirinya kembali mengalami pendarahan.


"Lalu, apakah Oppa tau siapa yang mengirim mereka?" tanya Viona ditengah kesibukkannya mengganti perban dan mengobati luka-luka Nathan.


Nathan mengangguk. "Mereka orang-orang suruhan Sandora, sepertinya wanita itu masih belum mau menyerah juga,"


"Lalu apa rencana Oppa selanjutnya? Tentu Oppa tidak akan membiarkannya begitu saja bukan?" tanya Viona memastikan.


"Tentu saja tidak. Dan aku sudah menyiapkan sebuah kejutan untuknya. Kejutan yang akan membuatnya hancur dalam hitungan jam saja," Nathan menyeringai tajam. Seringai yang tercetak dibibir Nathan membuat Viona merinding sendiri. "Apa selama aku tidak ada semua baik-baik saja?" tanya Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.


"Tentu saja, semua aman terkendali. Bahkan hari ini aku jalan-jalan bersama Mariana. Kami pergi kebukit untuk memetik bunga." Jelasnya.


"Syukurlah. Aku akan tidur lebih awal. Kepalaku sangat pusing. Aku tidak akan memaksamu untuk segera tidur, tapi jangan tidur terlalu larut," nasehat Nathan sambil menakup sisi wajah Viona. Wanita itu mengangguk mengiyakan.


"Aku mengerti. Ya sudah, sebaiknya Oppa istirahat saja," Viona mencium perban yang melilit kening Nathan kemudian berpindah pada perban yang menutup mata kirinya. "Aku akan pergi ketaman belakang untuk melihat bintang," Nathan mengangguk.


Kemudian Viona beranjak dan meninggalkan Nathan begitu saja. Sebenarnya Viona tidak benar-benar ingin melihat bintang. Dia hendak mengawasi Danila, Viona tau jika wanita itu cukup berbahaya. Dan sudah dapat dipastikan jika dia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Tapi sayangnya Viona tidak akan membiarkannya.


.


.


.


Viona mengawasi Danila dari kejauhan. Dia tidak tau apa yang sedang wanita itu lakukan didapur. Viona hanya melihat Danila seperti memasukkan sesuatu ke sebuah cangkir yang kemudian diisi dengan cairan hitam sedikit jernih seperti seduhan kopi. Viona tidak tau serbuk apa yang Danila masukkan kedalam cangkir itu. Tapi Viona berani bersumpah jika wanita itu sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik.


Melihat Danila pergi kekamar mandi, kesempatan itu tak lantas Viona sia-siakan begitu saja. Ia segera memungut kembali botol yang Danila buang dari tempat sampah dan ternyata itu adalah obat perangsang. Viona yang tidak bodoh tau betul apa tujuan Danila yang sebenarnya.


Setelah membuang dan menukar kopi itu dengan yang baru, Viona kembali bersembunyi ditempatnya. Dan tepat setelahnya, Danila kembali dari kamar mandi. Danila membawa kopi itu kekamar Nathan dan berniat memberikannya pada pria itu. Tapi sayangnya saat tiba di sana ternyata Nathan sedang tidur.


Danila meletakkan nampan yang dia bawah diatas meja kemudian mendekati Nathan dan berlutut disamping pria itu berbaring. Jari-jarinya membelai wajah tampan Nathan dan sesekali mengusap perban yang menutup mata kirinya, pandangannya sendu.


"Tuan Muda, sebenarnya apa yang terjadi pada matamu ini? Siapa yang melakukan hal kejam ini padamu? Atau mungkin cacatnya mata indahmu ini ada hubungannya dengan wanita jalang itu?"


Danila kemudian membaringkan kepalanya diatas dada bidang Nathan. "Bagaimana caranya supaya kau tau jika aku sangat mencintaimu, Tuan Nathan! Apakah cintaku padamu salah? Aku hanya ingin memilikimu dan berada disisimu. Hanya aku, harusnya hanya diriku yang berada dihatimu dan disimu, bukan jalang itu!!" Danila menggepalkan tangannya. Amarah terlihat pada sorot matanya.


Brugg...!! Tubuh Danila terjerambat kelantai karna dorongan keras pada tubuhnya. "Apa-apaan kau? Lancang sekali kau berani masuk kemari. Keluar kau dari sini. KELUAR!!"


"TIDAK!!" Danila menggeleng kuat. Wanita itu bangkit dari posisinya kemudian menghampiri Nathan dan menciumnya dengan paksa. Nathan mendorong dan menampar Danila dengan keras.


"Kau!! Berani sekali kau!!" geram Nathan diliputi amarah. "Keluar sekarang juga atau kuledakkan kepalamu!!" ancam Nathan bersungguh-sungguh.


"Tuan Nathan!! Apa kau tidak bisa membuka sedikit hatimu untukku? Aku mencintaimu, Tuan. Sangat-sangat mencintaimu. Bahkan aku sudah mencintaimu jauh sebelum jalang itu datang!! Jadi aku mohon padamu, sedikit saja buka hatimu untukku," mohon Danila dengan mata berkaca-kaca.


"Siapa yang kau sebut jalang?" sahut seseorang dari arah belakang. Danila menoleh dan mendapati Viona tengah bersandar pada pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa itu aku?" kemudian Viona beranjak dan menghampiri Danila.


Viona mencengkram rahang wanita itu lalu memasukkan sebutir obat kedalam mulutnya. "Uhuk.. uhukk..." Danila langsung terbatuk-batuk dan mulai menunjukkan gejala yang sama seperti siang tadi. "Kau... Ke-kenapa kau melakukan hal ini lagi padaku?" Danila memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Tubuhnya seperti ditusuk-tusuk dan lehernya serasa tercekik. "Wa-wanita sialan, ka-kau keterlaluan!!"


"Vi, sebenarnya obat apa itu? Sepertinya dia sangat tersiksa," Nathan memicingkan mata kanannya dan menatap Viona penasaran.

__ADS_1


"Tidak perlu mencemaskannya, Oppa. Obat itu tidak akan membunuhnya, hanya membuatnya sedikit kesakitan. Dan kondisinya akan kembali normal setelah sepuluh menit." Jelas Viona menjawab rasa penasaran Nathan. "Lagi pula bibit pelakor seperti dia harus dibasmi, dan ini adalah cara yang paling tepat,"


Nathan tidak berusaha menghentikan Viona ataupun menegurnya. Dia justru sangat menikmati pertunjukkan yang diciptakan oleh wanita itu.


Nathan mengambil sebungkus rokok yang ada di atas meja. Dia mengambil satu batang rokok, meletakkannya dimulut dan menyalakan rokok tersebut dengan korek apinya. Pria itu menghisap dalam-dalam rokoknya, kemudian mengeluarkan asap rokok tersebut dari mulutnya.


"Aku tidak tau jika dokter behati malaikat sepertimu ternyata bisa melakukan tindakkan mengerikan seperti ini, Sayang," ucap Nathan kemudian mencium singkat bibir Viona.


Sangat sulit dipercaya memang. Mengingat jika Viona adalah salah satu dokter bedah terbaik yang memiliki hati seperti Malaikat. Nathan tidak tau jika istri cantiknya itu juga memiliki sisi gelap yang membuatnya terlihat seperti seorang Iblis wanita dalam wujud seorang Dewi. Dan terlepas dari semua itu, darah mafia mengalir dalam tubuh Viona. Jadi tidak mengherankan jika dia juga bisa bersikap kejam.


Aroma tajam nan pahit dari tembakau yang terbakar memenuhi udara di sekitar mereka. Nathan menopang dagunya dengan salah satu tangannya dan beralih menatap Danila yang tengah menggeram kesakitan di lantai kamarnya. Tak ada rasa simpatik sedikit pun tersirat dari sorot matanya yang tajam. Karna menurutnya wanita seperti Danila memang pantas mendapatkannya.


Dan setelah sepuluh menit. Keadaan Danila perlahan membaik. Susah payah wanita itu bangkit dari posisinya. Peluh membasahi hampir disekujur tubuhnya. Sebelah tangannya menekan dadanya.


"Ini belum berakhir. Ingat, aku pasti akan membalas semua ini!!"


"Tunggu!!" langkah Danila terhenti karna seruan keras Viona. Viona menghampiri Danila dengan seringai yang tercetak dibibir tipisnya. "Apa kau masih mengingat pil yang kau minum dua hari yang lalu? Penawarnya masih ada padaku jadi sebaiknya kau tidak usah macam-macam!!


Obat itu baru bekerja setelah sepuluh hari berada di dalam tubuhmu. Dihari kesepuluh kau akan mengalami halusinasi dan merasakan ketakutan yang berlebihan. Dan jika kau tidak meminum penawarnya itu dengan tepat waktu, tidak menutup kemungkinan kau akan mengalami kegilaan. Dan waktu yang kau miliki hanya tersisa delapan hari lagi,"


"Kau!! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?"


"Aku tidak menginginkan apapun darimu!! Aku hanya ingin kau menjauhi suamiku dan berhenti menggodanya. Jika kau sanggup melakukannya, aku akan menyerahlan penawar itu padamu. Tapi jika tidak, maka bersiaplah untuk berakhir di rumah sakit jiwa!!"


-


PLAK..


PLAK..


Istri salah satu dari penjaga sel yang mendapatkan laporan jika suaminya sedang melakukan perselingkuhan langsung mendatangi kantor polisi tempatnya bekerja, dan setibanya di sana, dia malah memergoki Shion yang sedang mendominasi suaminya.


Wanita itu yang kalap langsung membanting tubuh Shion dan membenturkan wajahnya ketembok sampai beberapa kali. Hingga wajah Shion mengalami babak belur.


Tiga gigi depannya terlepas, hidung patah, mata kanan bengkak. Tidak cukup sampai disitu saja, rambut sebahu Shion dipotong secara acak hingga tak berbentuk lagi. Pitak tampak dibeberapa bagian dikepalanya.


Tidak cukup sampai disitu penderitaan yang Shion alami. Wanita itu dikarak keliling kota bersama lima pria yang tidur bersamanya termasuk suami wanita itu sendiri. Parahnya lagi mereka dibiarkan dalam keadaan bulat tanpa busana.


Sepanjang jalan mereka dicaci, dimaki dan dilempari dengan batu, tomat dan telur busuk. Bahkan cakaran, tamparan berkali-kali Shion terima. Dan tak ada yang bisa Shion lakukan kecuali menangis dan meraung dengan keras.


"ARRKKHH!! KENAPA KALIAN TIDAK LANGSUNG MEMBUNUHKU SAJA, HAH!" teriak Shion mulai frustasi.


"Itu terlalu mudah untuk pelakor murahan sepertimu!!"


"TAPI INI BUKAN SEPENUHNYA SALAHKU!! MEREKA YANG MEMANGGILKU DAN MEMAKSAKU MELAYANI MEREKA!!"


"Lalu kenapa kau mau? Jika kau memang masih memiliki harga diri, pasti kau akan menolaknya!!"


"KARNA AKU TIDAK MEMILIKI PILIHAN!!"


"Huuu... Dasar pelakor. Sekali pelakor tetap saja pelakor.."


"Sudahlah langsung bakar saja dia!!"

__ADS_1


"Benar, bakar saja. Bakar saja..!!"


"Aaahhhh..!!" Shion berteriak dan meraung saat seorang wanita menyiram bengsin ketubuhnya. Shion menggeleng, memohon supaya mereka tidak melakukannya. "Tidak.. tidak... tidak.. Aku mohon jangan lakukan itu. Kasihani aku, jebal jangan membakarku!" Shion menjatuhkan tubuhnya dan memohon supaya masa tidak membakar dirinya.


"SUDAH CULUP!!" Istri petinggi kepolisian itu berteriak dengan lantang. "LEPASKAN WANITA ITU, AKU RASA SUDAH CUKUP HUKUMAN UNTUKNYA!! Kita pergi,"


"Baik Nyonya,"


-


Sinar mentari pagi menelusup masuk melalui celah tirai, menggantikan kegelapan malam yang telah kehabisan waktu menemani para manusia. Malam telah berlalu dan pagi pun menjelang, memaksa para manusia kelelahan untuk bangun dan menjalani hari-hari mereka kembali.


Begitu pula dengan wanita ini. Dia terbangun, bukan karena cahaya matahari yang mulai mengganggu tidurnya. Melainkan suara alunan melodi piano yang terdengar harmonis dan indah.


'Siapa yang memainkan lagu ini...' pikirnya


Melodi itu masih mengalun begitu lembut. Benar-benar mencerminkan sang pianis. Begitu indah, namun rapuh.


Viona pun bangkit dari berbaringnya, melepaskan diri dari selimut hangatnya dan seketika udara dingin mulai menyapu kulitnya yang halus. Musim semi, namun hawa musim dingin masih begitu terasa.


"Siapa kau? Dan apa yang sedang kau lakukan di sini?"


Alunan melodi itu terhenti, sang pianis mengalihkan pandangan pada Viona. Matanya terpaku, tubuhnya membatu. Dia adalah wanita yang sama yang dia temui semalam.


"Hei Tuan, aku bertanya padamu. Bukannya memintamu untuk diam!!" seru Viona dengan nada geram.


Pria itu bangkit dari posisinya kemudian menghampiri Viona. Pria itu berlutut dan mencium punggung tangan kanan Viona. Pria itu mendongak dan sebuah tamparan keras dari Viona yang dia terima. "Tidak sopan!! Berani sekali kau mencium tanganku, dasar lancang!"


Pria itu tersenyum lebar. "Kau sangat galak, Nona. Dan aku sangat menyukai wanita galak sepertimu. Oya perkenalkan, namaku adalah-"


"Sekalinya playboy, tetap saja playboy." Kalimat pria itu terpotong oleh suara dingin seseorang dari arah belakang. Sontak dia menoleh dan mendapati Nathan tengah menuruni tangga. "Jangan coba-coba menyentuh apalagi menggodanya, jika kau tidak ingin aku gantung hidup-hidup dipohon mangga,"


"Yakk!! Kenapa mulutmu tetap saja tajam seperti silet? Dan tatapan itu!! Kenapa kau malah menatapku seperti itu?"


"Sedang apa kau disini?" tanya Nathan dengan nada sinis.


"Seharusnya kau tidak seperti itu jika bertanya pada yang lebih tua. Begini-begini kita adalah saudara meskipun berbeda Ayah!!"


"Tapi aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudaraku!!" ucap Nathan dan melewati pria itu begitu saja.


"Dasar Iblis. Kedua kakakmu saja sudah mau mengakuiku sebagai saudara tertua kalian, tapi kenapa kau tidak mengakuiku juga? Jauh-jauh aku datang kesini untuk berdamai denganmu. Tapi kau tetap saja kejam padaku!!"


"Itu bukan urusanku!! Dan sekali lagi aku tegaskan. Jangan coba-coba untuk menganggunya. Dia adalah istriku, dan jila urusanmu di sini sudah selesai. Kau bisa pergi sekarang!!"


"Yakk!! Apa-apaan itu? Kau mengusirku? Oh, ayolah Nathan Lu. Jangan terlalu kejam padaku. Baiklah aku tidak akan memaksamu lagi untuk memanggilku Kakak. Tapi ijinkan aku menginap beberapa hari disini. Aku bangkrut, dompetku di copet saat dalam perjalanan kemari. Jadi kasihanilah Kakakmu ini, ya," renggek pria itu memohon.


"Terserah," ucap Nathan dan pergi begitu saja.


Pria itu langsung bersorak dan melompat karna kegirangan. Sedangkan Viona hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol pria yang ternyata masih memiliki ikatan darah dengan suaminya tersebut.


"Dasar pria konyol," Viona beranjak dari sana dan meninggalkan pria itu begitu saja.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2