
Tokk!! Tokk!!
Suara ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Zian dari tumpukan kertas-kertas itu. Lantas pria ber-eye patch hitam itu mengangkat wajahnya dan mempersilahkan sang sekretaris untuk masuk.
"Ada apa?" Tanyanya to the poin.
"Maaf, Sajang-nim. Seorang wanita memaksa untuk bertemu dengan Anda dan saya memintanya untuk menunggunya di luar." Ujarnya.
Zian mengangkat alisnya. "Wanita?" perempuan itu mengangguk. "Apakah itu, Luna?" Ucapnya memastikan.
Ia menggeleng. "Bukan Sajang-nim." Jawabnya.
Jika memang Luna yang datang, Sunny tidak perlu sampai harus menyampaikan padanya, lagi pula bukankah wanita itu bisa datang menemuinya kapan pun dia mau. Yang menjadi pertanyaannya? Bila bukan Luna lalu siapa. Seketika Zian menjadi penasaran.
"Persilahkan dia untuk masuk." Ucapnya datar.
"Baik, Sajang-nim."
Perempuan itu meninggalkan ruangan atasannya lalu menghampiri wanita berambut sebahu yang sejak tadi memaksa untuk bertemu dengan Zian."Nona, Zian Sajang-nim mempersilahkan Anda untuk masuk." Ucapnya ramah.
Wanita itu menutup ponselnya kemudian bangun dari posisi duduknya. "Kenapa tidak dari tadi, bukankah aku sudah bilang jika dia tidak mungkin menolak kedatanganku." Wanita itu melewati Sunny begitu saja.
Sikapnya yang sombong dan angkuh membuat Sunny ingin sekali mencakar dan merusak wajahnya yang sok kecantikan itu.
Cklekk!!
Pintu di buka dari luar. Namun perhatian Zian masih belum teralihkan dari tumpukan dokumen yang penuh dengan uang didepannya. Seorang wanita dalam balutan mini dress hitam yang kontras dengan kulit putihnya terlihat meliukkan tubuhnya memasuki ruang kerja Zian.
Wajahnya dalam polesan make up dan lipstick merah pada bibirnya membuatnya terlihat dewasa. Rambut sebahunya di selipkan ke belakang telinga pada sisi kanannya "Apa kabar, Zian Qin? Sudah lama tidak bertemu." Sapa wanita itu sesaat setelah berhadapan dengan Zian. Zian mengangkat wajahnya dan...!!
"Lee Soojin?"
"Kau masih mengingatku?" Wanita itu melepaskan kaca mata hitamnya seraya mengurai senyum setipis kertas.
Soojin menghampiri Zian dan kemudian duduk di meja kerja mantan suaminya itu."Tujuh tahun tidak bertemu, banyak sekali yang berubah pada dirimu. Kau semakin dewasa dan tampan." Ucap Soojin.
Wanita itu tersenyum. "Dan rasanya aku masih tidak percaya kau yang dulu culun dan cupu kini menjadi seorang CEO. Dan... Ya Tuhan, Zian!! Apa yang terjadi pada mata kiri mu?" wanita itu mengangkat tangannya untuk menyentuh benda hitam yang menutup mata kiri Zian.
Zian menepis tangan wanita itu dari wajahnya lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju jendela kaca di samping kanan meja kerjanya. "Untuk apa kau kembali dan menemui ku lagi?" tanya Zian dingin.
Selanjutnya Zian merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang dan seseorang menyandarkan wajahnya pada punggungnya yang tertutup kemeja putih dan vest hitamnya.
"Aku kembali karena aku merindukanmu." bisik Soojin sambil menutup matanya. Wanita itu semakin mengeratkan pelukan nya pada tubuh Zian.
"Aku tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak setelah meninggalkanmu malam itu, tujuh tahun yang lalu. Sejak saat itu aku selalu di bayang bayangi rasa bersalah, sudah lama aku ingin menemui mu dan meminta maaf padamu kemudian memperbaiki hubungan kita. Tapi aku tidak pernah memiliki keberanian untuk melakukannya. Aku... sangat mencintaimu, Zian."
Zian menutup mata kanannya seraya menghela nafas panjang. "Sudah terlambat, Lee Soojin. Tidak ada gunanya lagi kau kembali sekarang, karena hatiku sudah lama mati untukmu."
"BOHONG." Soojin melepaskan pelukan nya seraya berteriak keras.
__ADS_1
Wanita itu menarik bahu belakang Zian supaya pria itu menatap padanya. "Aku tidak percaya, bagaimana bisa kau membuang ku begitu saja dari hatimu? Kita bersama selama satu tahun, Zian. Setelah semua yang kita lewati di masa lalu, semua kenangan indah yang kita ciptakan dan dengan mudahnya sekarang kau mengatakan jika hatimu sudah lama mati untukku? Kau jahat, Zian Qin, kau benar-benar jahat!!" Soojin memukul dada Zian dengan brutal dan berhambur memeluknya.
"Apa yang membuatmu tidak mencintaiku lagi? Apa karena gadis itu? Ingat, Zian. Dia hanya bagian kecil dari masa lalu mu, untuk apa lagi kau masih mengingatnya? Lagi pula tidak ada gunanya kau masih menyimpan cintamu untuknya, dia tidak akan pernah kembali padamu!!"
"Lagi pula dia tidak pernah tau jika kau mencintainya. Lupakan dia, dia hanya masa lalu mu. Sementara aku, aku adalah masa depanmu. Seharusnya kau paham akan hal itu."
Zian berusaha untuk melepaskan pelukan itu tapi Soojin menolaknya dan semakin mengeratkan pelukannya. "Kau salah besar bila berfikir demikian, Lee Soojin. Seharusnya kau sadar jika sejak awal hubungan kita di mulai tanpa di dasari oleh cinta, semua yang terjadi di antara kita adalah sebuah kepalsuan, aku pikir aku bisa mencintaimu dan melupakannya, tapi nyatanya tidak. Aku mau menikahi mu karena aku ingin membalas budi baik ayahmu padaku, tidak lebih."
"Bukankah kau sendiri yang dulu memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kita? Dengan terang-terangan kau mengatakan malu memiliki suami cupu dan culun sepertiku!! Aku memang bodoh karena mau menuruti kemauan mereka. Dan setidaknya hanya Luna yang selalu tulus padaku dan dia satu-satunya orang yang memperlakukanku layaknya manusia." Zian mengambil jeda dalam kalimatnya.
"Di saat semua orang merundung ku karena aku culun dan cupu. Luna justru datang dan mengulurkan tangannya padaku. Setelah semuanya, lalu kenapa sekarang kau malah memohon untuk kembali? Apa kau sudah tidak memiliki harga diri lagi sebagai seorang wanita?" Zian melepaskan pelukan itu dengan paksa dan mendorong Soojin hingga wanita itu sedikit terhuyung kebelakang.
"Saat itu aku pergi karena terpaksa. Kau yang memaksaku untuk meninggalkanmu. Satu tahun kita hidup dalam satu atap tidak sekali pun kau mau menyentuhku, bahkan kau memutuskan untuk tidur di kamar yang berbeda. Apakah itu layak? Zian Qin, aku pergi karena aku ingin menyadarkan mu jika keberadaan ku ini memang penting untukmu. Tapi begini kah balasan mu setelah pengorbananku untukmu?"
"Cukup, Lee Soojin. Hentikan drama picisan mu itu, kau pikir aku akan luluh hanya karena air matamu. Kau bersikap seolah-olah kau yang paling terluka dan tersakiti dalam pernikahan itu."
"Apa kau lupa dengan apa yang telah kau lakukan saat kita masih menjadi sepasang suami-istri? Hampir setiap hari kau membawa laki-laki pulang ke rumah kita? Dan selama satu tahun apakah sekali pun kau memenuhi tanggung jawab mu sebagai seorang Istri?"
"Kau selalu sibuk dengan duniamu sendiri, pergi ke sana kemari dengan teman-temanmu tanpa memandangku sedikit pun sebagai suamimu. Kau tidak pernah menghargai ku sebagai seorang kepala keluarga, dan aku akan mengingatkanmu satu hal yang paling penting padamu."
"Surat perceraian kita, kau sendiri bukan yang menginginkannya? Dan sekarang tiba-tiba kau datang dan mengatakan semua penyesalan mu? Kau sungguh wanita munafik, Lee Soojin. Keluarlah, aku tidak ingin melihatmu lagi di...!!"
'CHUUU'
Soojin membungkam bibir Zian dengan bibir sebelum pria itu semakin banyak bicara. Dan di saat bersamaan, pintu ruang kerja Zian di buka dari luar. Seseorang yang berdiri di ambang pintu tampak syok dan terkejut setengah mati dengan apa yang di saksikan oleh sepasang mutiara coklatnya.
Hingga ia tidak sadar jika kotak makanan dalam genggamannya terlepas begitu saja. Suaranya yang kencang mengejutkan Soojin juga Zian. Zian langsung mendorong tubuh Soojin lalu menghampiri orang itu.
"Luna..!!"
Luna menyeka air matanya yang hampir menetes. "Ma-maaf, aku tidak tau jika kau sedang ada tamu. Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat. Aku akan segera membereskan ini dan pergi dari sini."
Luna memungguti makanan-makanan yang berserakan dan mengotori lantai ruang kerja Zian. "Tidak perlu, biar OB saja yang melakukannya." Ucap Zian datar.
"Tidak perlu memanggil OB, aku bisa melakukannya sendiri." Ucapnya serak.
Sebisa mungkin Luna menahan air matanya agar tidak menetes. "Sebaiknya aku pergi sekarang. Sekali lagi maaf karena masuk di saat yang tidak tepat." Baru saja Luna melangkahkan kakinya tapi segera di hentikan oleh Zian.
Zian menahan pergelangan tangan Luna.."Kau tidak perlu pergi ke mana pun, lagi pula kami sudah selesai. Kau datang membawakan makan siang untukku bukan?" Luna mengangguk.
"Tapi sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi. Makanannya sudah hancur dan tidak bisa di makan lagi. Hanya tersisa omelet dan tempura ini saja yang masih utuh." Ujarnya.
Zian mengambil dua kotak itu seraya mengulum senyum tipis. Pria itu bangkit dari posisinya begitu pula dengan Luna."Tidak masalah, Sayang. Aku akan meminta Sunny memesankan beberapa makanan untuk kita berdua." Ucap Zian seraya menyeka air matanya. "Dan apa yang kau lihat tak seperti yang kau pikirkan. Aku akan menjelaskan nya padamu," ujar Zian sambil mengunci mata Luna.
"Sebaiknya kau pergi dan jangan pernah datang menemui ku lagi. Ingat, Lee Soojin!! Diantara kita telah berakhir sejak tujuh tahun yang lalu,"
Soojin yang merasa terabaikan memilih untuk pergi. Hatinya benar-benar panas melihat kebersamaan dan kedekatan mereka berdua. Melihat cara Zian memperlakukan Luna membuat hati Soojin seperti di remas-remas. Bahkan Zian tidak melirik sedikit pun pada wanita itu saat dia melewatinya.
Atmosfer dalam ruangan itu terasa begitu berbeda. Mereka melewati makan siangnya tanpa ada percakapan, mereka sama-sama diam dalam kebisuan. Luna yang biasanya selalu bawel dan tidak kehabisan topik untuk di bahas tiba-tiba menjadi bisu.
__ADS_1
Tak sepatah kata pun keluar dari bibir perempuan itu. Ia benar-benar masih syok dengan apa yang di lihat oleh matanya. Lagipula istri mana yang tidak akan cemburu dan sakit hati melihat suaminya berciuman dengan wanita lain meskipun itu hanya ciuman sepihak saja.
"Namanya, Lee Soojin. Dia mantan istriku, kami bercerai tujuh tahun yang lalu. Aku menikahinya karena ingin membalas budi baik keluarganya. Sebelum meninggal, ayahnya memintaku untuk menjaga putrinya, dan satu bulan kemudian kami memutuskan untuk menikah."
"Tidak ada cinta dalam pernikahan itu. Pernikahan kami hanya bertahan selama satu tahun, dia menceraikan ku agar bisa menikah dengan kekasihnya dan aku mengabulkannya. Tapi aku tidak menduga jika dia akan kembali dan menemui ku lagi. Dan yang kau lihat tadi tidak seperti yang kau bayangkan." Tutur Zian panjang lebar.
Zian memberikan penjelasan pada Luna karena dia tidak ingin jika gadis itu sampai salah paham padanya. Zian tak ingin rumah tangganya dengan Luna yang baru saja terbina menjadi berantakan karena sebuah kesalapahaman.
Sesaat keheningan kembali menyelimuti kebersamaan mereka. Luna masih kehilangan kata-katanya dan tidak tau harus berkata apa. Hatinya terasa sakit dan dadanya seperti di cabik-cabik. Meskipun Luna tau itu hanya ciuman sepihak, tapi tetap saja itu menyebalkan.
"Lalu kenapa kau tidak pernah bercerita jika kau sudah pernah menikah?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap Zian yang juga menatap padanya. Wajahnya cemberut dan matanya kembali berkaca-kaca.
"Aku memang ingin mengatakannya padamu, tapi aku masih menunggu waktu yang tepat,"
"Baiklah, kali ini kau aku maafkan. Tapi jangan diulangi lagi. Jangan sembunyikan apapun lagi dariku,"
Zian mengangguk. "Baiklah, aku berjanji. Dan setelah ini kau mau kemana?" tanya Zian tanpa mengakhiri kontak matanya.
Luna mengangkat bahu seraya menatap datar pria didepannya. "Entahlah, mungkin pulang. Moodku benar-benar hancur karena wanita itu." Ucapnya acuh tak acuh.
Zian memicingkan mata kanannya melihat perubahan sikap Luna, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai tipis. "Ke-kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Luna gugup. Gadis itu menundukkan wajahnya dan kembali menyantap makanannya.
"Cemburu eh?" Goda Zian dan membuat pipi Jessica merona.
"Cemburu? Si-siapa yang cemburu? Kau terlalu percaya diri, Tuan Qin!! Lagipula apa yang perlu di cemburi dari pria menyebalkan sepertimu," Luna menekuk bawahnya. Kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika ia sedang kesal dan marah.
Zian terkekeh, dengan gemas Zian mengacak rambut coklat Luna. Dan hal itu membuat Luna menjadi semakin kesal pada Zian. "Zian, hentikan!! Kau merusak tatanan rambutku," dumalnya kesal. Dan detik berikutnya bibir Luna sudah berada dalam pagutan bibir Zian.
Kedua tangan Zian menakup wajah Luna dan semakin memperdalam ciumannya. Meskipun awalnya terkejut dengan serangan Zian yang begitu tiba-tiba, namun detik berikutnya Luna sudah bisa mengimbangi ciuman suaminya.
Luna mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher Zian. Luna berpindah ke atas pangkuan suaminya. Sebelah tangan Zian menekan tengkuk Luna sedangkan tangan satu lagi memeluk pinggang ramping Luna dengan protektif.
Setelah puas dengan bibir Luna, kemudian ciuman Zian turun menuju leher jenjangnya. Mengecapi kulit lehernya yang putih bak porselen milik Luna dan meninggalkan beberapa jejak kepemilikan di sana.
Dan sementara itu.... Tiga orang yang sedari tadi mengintim di depan pintu ruangan Zian hanya bisa menelan ludah bahkan salah satu dari mereka bertiga sampai mimisan melihat bagaimana panasnya ciuman tersebut. Mereka adalah Rio, Frans dan Satya.
Rencananya mereka datang untuk mengajak Zian makan siang bersama. Tapi siapa yang menduga jika di dalam sana Zian tengah menikmati makanan pembukanya. Dan Rio yang tidak ingin kehilangan momen berharga tersebut langsung mengabadikannya.
"Hihihi... Aku bisa memperagakannya jika aku memiliki kekasih nanti," ucap Rio setengah berbisik.
"Astaga, kenapa mimisan ku tidak mau berhenti juga. Mereka berdua benar-benar gila," seru Frans sambil menyumpal hidungnya dengan daun sirih yang selalu dia bawah kemana pun dia pergi.
Frans memang sering mimisan akhir-akhir ini setiap kali melihat gadis cantik atau orang sedang berciuman.
"Ck, diam lah kalian berdua dan nikmati saja tontonan gratisnya!!" geram Satya yang merasa terganggu dengan ucapan mereka berdua.
-
Bersambung.
__ADS_1