Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 84 "Santapan Nyamuk Dan Lebah"


__ADS_3

"Viona di sini,"


Wanita itu tersenyum lebar dan balas melambai pada Cherly. Viona tidak hanya datang sendiri, trio ajaib ikut bersamanya juga Daniel. Rio, Frans dan Satya tidak merasa terkejut melihat Viona tiba-tiba jadi akrab dengan Cherly. Mereka bertiga tau jika Cherly sudah berubah dan menyadari kesalahannya.


"Maaf, kita datang terlambat," ucap Viona penuh sesal.


"Tidak apa-apa, aku juga baru sampai. Oya kalian mau pesan apa?"


"Samakan saja denganmu, Bibi," balas Rio mewakili yang lain. Sikap trio pada Cherly pun berubah 180 derajat. Mereka menjadi lebih sopan dan akrab. "Bibi, bukan hanya sifatmu saja ya yang berubah, tapi penampilanmu juga. Sejak kapan kau memakai perona wajah? Ahh, jangan bilang jika kau sedang jatuh cinta?" tebak Rio 100% benar.


Alih-alih menjawab. Cherly malah menunduk malu. Bagaimana bocah itu tau jika aku sedang jatuh cinta? pikir Cherly. "A-apa yang kau bicarakan, la-lagipula siapa yang sedang jatuh cinta? Kau terlalu mengada-ada," kata Cherly sambil menundukkan wajah.


"Ekhem. Aku fikir hubunganmu dengan Alex sudah ada kemajuan. Menurutmu dia orang yang seperti apa? Baik, hangat, dingin atau penyayang?" tanya Viona dan membuat Cherly semakin terpojok.


"Yakk!! Viona Lu, kenapa kau jadi ikut-ikutan juga?" amuk Cherly sambil menekuk wajahnya. Alih-alih merasa bersalah dan meminta maaf, Viona malah tertawa terbahak-bahak.


"Sepertinya kalian bisa maju satu langkah lagi," Viona mengedipkan matanya pada Cherly.


"Nunna. Bahkan wajahmu semakin memerah, kalau bukan jatuh cinta lalu apa namanya?" timpal Satya.


"Betul.. betul.. Hahaha, Nunna kau benar-benar sedang jatuh cinta ya?" Frans tak mau kalah.


Cherly menggacak kasar rambut coklatnya. "Aish, kenapa kalian berempat malah bekerja sama untuk memojokkanku?" keluh Cherly. "Lagi pula siapa juga yang sedang jatuh cinta. Kami baru tahap perkenalan saja, aku dan Alex Oppa belum saling mengenal satu sama lain. Jadi mana bisa disebut sudah jatuh cinta," ujarnya.


"Cieee, bahkan manggilnya saja Alex Oppa. Ahhh, akukan jadi ikut meleleh. Kekeke," ucap Rio terkekeh.


"Kalian lanjutkan saja, aku mau ketoilet dulu," seru Viona seraya bangkit dari duduknya.


"Viona, aku ikut denganmu saja," kata Cherly yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.


Brugg..


Namun ketika hendak berbalik badan tanpa sengaja Viona bertabrakkan dengan seseorang dan membuat mereka sama-sama terhuyung. Dan karna insiden tidak disengaja itu. Pakaian wanita yang bertabrakkan dengan Viona menjadi kotor karna ketumpahan minumannya sendiri.


"Yakk!! Kau, di mana matamu saat berjalan eo? Apa kau tidak melihat aku berjalan didepanmu," amuk perempuan itu pada Viona. Dia tidak terima karna pakaiannya kotor. "Aku tidak mau tau, cepat ganti rugi atau-"


"Atau apa?" Viona menyela cepat.


Sontak wanita itu mengangakat wajahnya. "Kau," dan berseru kencang setelah melihat siapa yang ada dihadapannya. "Bagus bertemu denganmu di sini, sudah lama aku ingin memberimu pelajaran. Kemari kau Jalang! Biarkan aku membunuhmu! Karna ulahmu sekarang rambutku tidak bisa tumbuh lagi!"


Plakk..


Cherly menepia tangan wanita itu yang pastinya adalah Shion sebelum menyentuh Viona. Wanita itu berdiri di depan Viona dan berhadapan dengan Shion. "Minggir kau, sebaiknya kau tidak usah ikut campur,"


"Sebaiknya hadapi aku dulu sebelum kau menyentuhnya!!"


"Aku bilang minggir, aku tidak memiliki masalah denganmu!!"

__ADS_1


"Tapi aku punya," Cherly menyela cepat. "Karna yang kau ganggu adalah temanku!!" katanya menegaskan.


Viona menarik Cherly untuk mundur. "Sudahlah, sebaiknya biarkan saja. Tidak ada gunanya juga ribut dengan wanit tak tau malu seperti dia. Sebaiknya yang waras ngalah saja," ujar Viona yang kemudian di balas anggukan oleh Cherly.


"Kau benar, ngurusin wanita sinting seperti dia hanya buang-buang waktu dan energi saja," timpal Cherly.


"Yakkk!! Jadi menurut kalian aku ini gila!!" amuk Shion. Dia tidak terima dengan ucapan Viona dan Cherly.


Viona mengangkat bahunya. "Aku rasa begitu, karna hanya orang sakit mental saja yang suka mencari masalah dengan orang lain," tandasnya tersenyum.


"Kau!!"


"Hayoo," tiba-tiba Rio, Frans dan Satya muncul di depan Shion dan membuat wanita itu terlonjak kaget. "Bibi, sebaiknya kalian berdua pergi saja. Betina ini serahkan pada kami," kata Rio yang kemudian di balas anggukan oleh Cherly dan Viona.


Viona dan Cherly menatap sejenak pada Shion yang tampak pucat. Mereka tidak tau hal mengerikan seperti apa yang akan terjadi pada Shion setelah ini. Dan Cherly langsung bergidik ngeri, dia teringat saat mereka bertiga membuatnya nyaris gila karna kelakuan mereka.


"Paman, angkatttt!!" teriak Rio memberi aba-aba. Dan mereka bertiga langsung mengangkat tubuh Shion dengan posisi wanita itu diatas dalam posisi berbaring. Rio memegang kakinya, satya memegang punggungnya dan Frans memegang kepalanya.


"Yakkk!! Apa yang kalian lakukan? Cepat turunkan aku!" teriak Shion menuntut.


"Huha.. Huha.. Huha... Sebaiknya kau diam saja Nunna. Berdoa pada Tuhan, semoga Tuhan mau mengampuni semua dosa-dosamu. Huha.. Huha.. Huha.. karna malam ini kalian akan menjadi santapan empuk nyamuk dan lebah peliharaan kami," ujar Satya.


Sontak kedua mata Shion membelalak. "APA? TIDAK!!!!"


-


"Senang bekerja sama dengan Anda Tuan Lu,"


"Semoga kerjasama ini bisa membuat kita saling menguntungkan," ucap Nathan.


"Pasti Tuan, kalau begitu kami permisi dulu," pamit kedua pria itu sebelum meninggalkan ruang rapat.


Nathan tersenyum puas. Dan dengan bergabungnya Group Shinhwa diperusahaannya, maka sudah bisa dipastikan jika saham pada perusahaan milik Bram akan kembali mengalami penurunan. Dan maka semua berjalan seperti yang Nathan harapkan.


Nathan melangkahkan kaki di koridor perusahaannya dengan tenang. Wajahnya yang rupawan tak menunjukkan emosi apapun namun aura ketegasan, kewibawaan, keangkuhan, kekuasaan dan aura dingin menguar begitu kentara pada dirinya.


Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya langsung menunduk sopan, namun tak digubris sedikit pun olehnya. Kai yang setia mengikuti di belakang terlihat sibuk dengan tab di tangannya. Sibuk mengatur jadwal tuannya.


"Apa saja jadwalku hari ini?" tanya Nathan sambil melirik Kai dari ekor matanya.


Kai menatapnya sejenak pada Nathan. "Hari ini ada pertemuan dengan relasi Anda dari China menyangkut pembangunan pusat perbelanjaan dan cabang hotel kita di sana."


Nathan melangkah memasuki lift diikuti Kai dan menekan tombol berangka 27. "Dan masalahnya hari ini Anda masih harus hadir di rapat pertemuan lain dengan kolega Anda dari Inggris,"


Pintu lift terbuka dan Nathan segera melangkah memasuki ruangannya tanpa menghiraukan sang sekertaris wanita berambut hitam sebahu dengan kaca matanya yang tengah menyapanya.


Kai mengangguk pada sekertaris itu. Kemudian lelaki itu segera menutup pintu ruangan atasannya dan duduk berhadapan dengan Nathan yang mulai memeriksa dokumen yang menumpuk di atas mejanya.

__ADS_1


"Tentang boss kedua Black Devil. Apakah ada informasi yang berhasil kau dapatkan?" tanya Nathan tanpa melepaskan titik fokusnya dari lembar dokumennya.


Kai mengangguk. "Sudah Tuan. Beberapa informasi tentang Joy Dawson sudah berhasil kami dapatkan. Seperti dugaan Anda, dia kuat hanya ketika bersama anak buahnya. Namun tanpa orang-orangnya dia lemah,"


"Sudah kuduga."


"Tapi sepertinya kali ini akan lebih berat, Tuan. Setelah kematian Ricard Dawson, pasti mereka akan semakin memperketat keamanan supaya tidak kecolongan lagi," jelas Kai.


"Kau tidak perlu mencemaskan hal itu. Karna aku tau harus bagaimana. Dan sebaiknya terus awasi Agatha, aku sedikit menaruh curiga pada wanita itu. Ada kemungkinan jika dia adalah seorang mata-mata yang dikirimkan oleh Sandora untuk mengawasiku,"


"Saya mengerti, Tuan!"


Nathan mendongak menatap Kai dan tersenyum miring. "Hubungi Bima dan suruh dia menggantikan diriku menyambut tamu kita dari Inggris. Dampingi dia karna dia sangat payah dalam berbahasa Inggris. Aku harus menemani Viona ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya setelah ini,"


Kai mengangguk. "BaikTuan,"


.


.


.


Lampu kota yang gemerlapan dan sinar bulan yang terang terpantul pada Sungai Han yang ada di depan sana.


Di sana, di tepi sungai, terlihat sepasang suam-istri dudukdi sebuah bangku dengan tangan mereka yang saling menggenggam. Si wanita menarik nafas dalam-dalam dan bibirnya tertarik membentuk seulas senyum tipis.


Kenangan-kenangan masa lalu kembali membanjiri benaknya.


Kenangan tentang masa-masa paling indah dalam hidupnya. Kenangan tentang setiap hari yang dilaluinya bersama seseorang yang kini menjadi pendamping hidupnya. Meskipun sedih pernah mendera hatinya. Tapi semua telah berlalu dan kebahagiaan itu kembali ke dalam genggamannya.


"Apa yang sedang kau fikirkan?" tanya si pria pada wanita disampingnya. Wanita itu tersenyum kemudian menggeleng.


"Tidak ada, hanya mengenang masa lalu saja," jawabnya dangan senyun yang sama.


"Viona, maaf," wanita itu 'Viona' mengangkat wajahnya dan menatap bingung pada Nathan. "Maaf karna sampai detik ini aku masih belum mengingatmu apalagi kenangan kita di masa lalu. Aku sudah mencoba untuk mengingat segalanya tapi hasilnya selalu nihil."


Viona menalup wajah Nathan dan menggeleng. "Jangan terlalu memaksakan diri, Oppa. Aku tidak akan memaksamu untuk mengingat semuanya. Kau sudah kembali itu lebih dari cukup untukku," tukas Viona sambil mengunci manik kanan milik Nathan. Nathan menarik bahu Viona dan membawa wanita itu ke dalam pelukkannya.


Viona menutup matanya begitu pula dengan Nathan. Setitik kristal bening mengalir dari sudut matanya. Sedih kembali menderah hatinya. Viona memahami betul apa yang Nathan rasakan saat ini. Memangnya siapa yang akan baik-baik saja tanpa semua ingatan masa lalunya, termasuk Nathan.


"Ahhh, Oppa. Apa kau merasakannya juga? Dia menendang lagi," seru Viona. Wanita itu melepaskan pelukkan Nathan lalu menuntun tangan pria itu dan mengusapkan pada perutnya. "Kau merasakannya?" Nathan mengangguk. "Aku sangat bahagia saat dokter mengatakan jika dia hidup dan tumbuh dengan baik di dalam sini. Dan aku tidak sabar menunggu beberapa bulan lagi,"


Tiba-tiba Nathan beranjak dari samping Viona kemudian berlutut didepannya. Jari-jari besarnya mengusap perut Viona yang semakin membuncit. "Baik-baik di dalam sana ya Nak. Papa dan Mama akan selalu menunggumu dengan sabar," ucap Nathan.


Viona tersenyum tipis. Ia merasa terharu, Viona menyeka air matanya yang menetes kemudian berhambur memeluknya. "Gomawo karna selalu mencintai dan melindungi kami berdua dengan sepenuh hati, Oppa," Viona tersenyum.


Nathan mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Viona. "Sama-sama, Sayang,"

__ADS_1


-


Bersambung."


__ADS_2