
Viona tengah menikmati sore dengan ditemani hujan. Rintik demi rintik, jatuh membasahi setiap jengkal tanah dihadapannya Meresap dan terhisap oleh setiap akar yang terpendam didalamnya.
Bau tanah basah yang khas menguar, menggelitik saraf penciuman. Memberi nuansa segar dan menenangkan. Langit masih tampak kebiruan ditengah kelam yang menelisik dan semburat jingga yang menyeruak di ufuk barat.
Viona mulai bermain dengan imaginasinya sendiri, ketika dia melihat gumpalan awan di ujung langit. Tangan kanannya terangkat, menjulur, mantap dan menorehkan sebuah lukisan di udara yang kosong. Membentuk mahakarya terindah, begitu sempurna, wajahnya. Seseorang yang paling berharga dalam hidupnya. Hal yang akan selalu terpatri dalam setiap sel di otaknya. Bukan hanya saat ini, tapi selamanya....
Dan sepertinya angin juga menyetujuinya. Viona dapat merasakan sentuhannya yang lembut pada wajah dan tubuhnya. Angin juga terlihat menerbangkan helain demi helaian rambut panjang yang terurai. Viona menutup matanya, mencoba merasakan bisikan rintik hujan yang masih menemani setiap detik dalam senja.
"Aku mencarimu dan ternyata kau ada di sini? Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan di sini?" Viona menutup matanya saat merasakan sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang, detik berikutnya dia merasakan bahu kanannya sedikit memberat.
Viona tersenyum dalam posisi yang sama. "Menikmati senja," jawabnya bak sebuah lonceng yang bergema.
"Kenapa tidak memberitauku? Setidaknya katakan padaku kau akan pergi kemana sehingga aku tidak kebingungan mencarimu." Tanyanya dengan nada protes.
"Karna aku tidak ingin mengganggumu. Oppa terlihat sangat sangat lelah hari ini." Jawab Viona tanpa mengalihkan sedikitpun dari tatapan sang senja.
"Apa kau tau bagaimana panik dan cemasnya aku saat tidak bisa menemukanmu di mana pun, aku hampir gila karna tidak bisa menemukanmu!"
Lantas Viona berbalik dan menatap pria dihadapannya. Wanita itu merinding sendiri ketika melihat tatapan Nathan yang penuh dengan intimidasi. "Maaf," lirihnya penuh sesal.
Nathan mendesah berat. Lantas dia menarik Viona ke dalam pelukkannya. "Kau tahu, sesibuk dan selelah apapun seorang pria. Ia tidak akan pernah melupakan dan membiarkan wanitanya menunggu dan kesepian." Ucapnya sambil mengeratkan pelukkannya.
Lantas Viona mengangkat wajahnya dan menatap Nathan dengan tatapan tak percaya. "Wow, memangnya sejak kapan pria dingin seperti Oppa bisa mengarang kata-kata?” timpal Viona.
Alhasil sebuah jitakkan mendarat dengan mulus pada kepala coklatnya. Wanita itu meringis kesakitan. "Aku hanya menyuarakan pikiranku." Balasnya acuh tak aku. Viona mencerutkan bibirnya.
Beberapa saat mereka berdua saling terdiam. Viona kembali memusatkan pandangan terhadap senja dihadapannya. Begitu pula dengan Nathan. Nathan menatap langit senja dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
Nathan menggulirkan pandangannya saat merasakan tangan Viona yang terus mengusap lengannya yang hanya tertutup kain tipis dressnya.
Nathan mendengus berat. "Seharusnya kau membawa mantelmu saat keluar di tengah cuaca tak menentu seperti ini." Kemudian dia melepas jasnya lalu menyampirkan pada bahu kecil Viona, menyisahkan kemeja putih dan vest hitam yang senada dengan celana bahannya.
Viona tersenyum tanpa dosa. "Hehehe, aku lupa." Lagi-lagi Nathan hanya mendengus. Meraih bahu Viona lalu membawa wanita itu ke dalam pelukkannya. Memeluknya dengan sangat erat, memberikan rasa hangat pada wanita dalam pelukkannya tersebut. Viona mengangat wajahnya dan menatap langsung ke dalam sepasang mutiara coklat milik Nathan. "Oppa, apa kau tidak marah padaku karna aku tidak jujur dari awal tentang Black Rose padamu?" tanya Viona tanpa mengakhiri kontak mata diantara mereka.
Nathan melepaskan pelukkannya kemudian berpindah ke samping Viona. "Tentu saja aku marah, bahkan aku sangat marah. Tapi-" Nathan menggantung kalimatnya. Kedua tangannya menakup wajah Viona dan mengunci sepasang mutiara hazelnya. "Sayangnya aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa marah padamu. Dan tidak mungkin kau merahasiakan hal sebesar itu dariku tanpa alasan," Nathan meraih kepala coklat Viona lalu menyandarkan kepala wanita itu pada dada bidangnya.
Viona mentup matanya. Tidak pernah terfikir dalam hidupnya jika dirinya akan bertemu pria seperti Nathan mencintainya dengan penuh ketulusan. Pria yang selama ini di kenal kejam, dingin dan arogan ternyata masih memiliki sisi yang hangat. Selama ini Nathan tidak pernah menggunakan hatinya apalagi ketika dia berurusan dengan orang-orang yang berani mencari masalah dengannya, dan karna kekejamannya itu Nathan dijuluki sebagai Iblis berdarah dingin. Dan dengan mata kepalanya sendiri Viona pernah menyaksikan kekejaman suaminya.
Nathan melepaskan pelukkannya. "Sudah larut malam, sebaiknya kita masuk sekarang. Kau terlihat lelah, dan aku tidak ingin mendengar kata penolakkan!" tegas Nathan tak ingin dibantah.
Viona mendesah berat. Jika sudah begini dia tidak berani melawan apalagi melayangkan protesnya pada Nathan. "Baiklah, tapi gendong." Viona merentangkan kedua tangannya sambil memasang wajah polosnya. Tanpa berkata apa-apa Nathan mengangkat tubuh Viona bridal style dan membawanya masuk ke dalam Villa.
-
Cherly benar-benar di buat terpojok oleh kata-kata Rio. Perdebatan hebat diantara keduanya tak bisa terhindarkan lagi. Entah apa masalahnya hingga keduanya kembali terlibat dalam perdebatan hebat. Dan bukan lagi rahasia jika Rio dan Cherly seperti kucing dan anjing. Di mana pun mereka bertemu, pasti di situ terjadi keributan. Entah dendam apa yang Rio miliki padanya sampai-sampai dia begitu tidak menyukai Cherly.
"Kau ingat ini Cherly Park?" Rio menujukkan botol kecil berisi serbuk putih pada Cherly. Wajah gadis itu pucat seketika ketika melihat apa yang Rio tunjukkan padanya
__ADS_1
"Da--darimana kau mendapatkan benda itu?" Cherly menatap Rio dengan panik.
Rio mengeringai "Tidak penting dari mana aku mendapatkan benda ini? Yang jelas dari sumber terpercaya!" jawab Rio menyombongkan diri.
Cherly berusaha merebut botol itu dari tangan Rio. "Kembalikan botol itu padaku!" Rio menyembunyikannya dan tidak membiarkan Cherly mendapatkannya, dan hal itu membuat Cherly semakin panik.
Cherly menatap Satya dan Frans yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Cherly merasa jika dirinya seperti seekor kucing yang tertangkap basah sedang mencuri ikan segar dari dalam kolam. "Memangnya serbuk apa itu?" Rio menoleh pada Satya, namun pemuda itu tidak memberikan jawaban dan hal itu membuat kedua pamannya menjadi semakin penasaran
"Berikan obat itu, Bocah!" bentak Cherly menuntut.
Melihat ekspresi Cherly membuat Rio semakin yakin jika itu bukanlah serbuk biasa. "Bukankah dengan menggunakan obat ini kau mendapatkan Paman Nathan? Kau memohon dan mengatakan padanya jika kau sedang hamil anaknya. Kau menjebaknya dan pura-pura mengandung, lalu 3 bulan kemudian kau pura-pura keguguran dan hal itu kau gunakan dan kau manfaatkan untuk menjerat paman Nathan. Bukankah begitu?" ujar Rio yang membuat wajah Cherly semakin pucat.
"Benarkah itu? Kenapa aku tidak tau" ucap Frans kebingungan.
"Aku juga," sahut Satya menimpali.
Cherly menggeleng. "Ti--tidak, itu tidak benar. A--aku tidak pernah menjebaknya, a--aku tidak tau apa-apa, sungguh. Rio hanya mengarang saja!" tutur Cherly memaparkan. Dia terlihat gugup, panik dan pucat.
"Benarkah? Jika kau memang benar-benar tidak bersalah, kenapa kau terlihat panik dan wajahmu juga pucat!" sahut Frans.
Cherly menggeleng. "Aku berkata jujur. Aku tidak bohong, saat itu Nathan Oppa sedang mabuk dan dia langsung meniduriku, aku sungguh-sungguh hamil dan aku mengalami keguguran tiga bulan setelahnya!" Cherly terus meyakinkan kedua adik angkat Nathan, sementara Rio masih tetap tidak mempercayainya.
Rio mengamati wajah Cherly dengan seksama, Ia tau jika gadis itu sedang berbohong. "AKU PUNYA IDE!" seru Rio dengan lantang hingga semua mata kini terarah padanya.
"Ide apa?" tanya Satya.
Rio tersenyum misterius. "Bagaimana kalau sekarang kita setubu** Cherly secara beramai-ramai? Maka dengan begitu kita akan tau kebenarannya, dia masih perawan atau benar-benar sudah ternoda!" ujar Rio sambil menatap kedua pamannya secara bergantian
Sontak saja hal itu membuat Cherly terbelalak, gadis itu menggeleng. "Baik aku mengaku!" serunya dan membuat semua tatapan tertuju padanya. "Baik, malam itu aku memang telah menjebak Nathan oppa, kami tidak pernah melakukannya dan aku tidak pernah hamil apa lagi keguguran. Aku hanya mengarang saja, dan semua itu aku lakukan karna aku ingin Nathan oppa menjadi milikku! Aku menyewa dokter gadungan untuk meyakinan Nathan oppa jika aku benar-benar hamil!!" mereka berdu terperangah dengan pengakuan Cherly, kecuali Rio.
Dan Rio berjingkrak kegirangan karna rencananya berjalan lancar, Rio harus berterimakasih pada kedua paman kecilnya. Karna kedua pasangan mesum itu membuat rencananya berjalan lancar dan sukses. "Bingo, inilah jawaban yang aku tunggu-tunggu. Terimakasih Bibi atas pengakuannya. Jadi aku tidak perlu susah payah lagi untuk menemukan kebenaran itu!" ujar Rio sambil mengurai senyum penuh kemenangan.
Cherly merasa muak dengan pemuda satu ini, dia selalu saja ikut campur urusannya. "Kau puas sekarang?? KAU PUAS!" teriak Cherly dan berlalu begitu saja.
Satu persatu menghampiri Rio, mereka berdiri bersebelahan menatap kepergian Chery dengan senyum terkembang. "Hei Bocah, memangnya obat apa itu?" tanya Satya sambil menujuk obat ditangan Rio.
Riomengangkat botol kecil itu sambil tersenyum. "Ini?? Ahhh pasti kalian penasaran ya, sebenarnya ini hanya bedak bayi yang kemudian aku tuangkan kesini, dan soal yang aku ucapkan tadi sebenarnya aku hanya mengarang saja. Aku ingin memancing penyihir itu supaya dia sendiri yang mengakui kebenaran itu pada kita dan aku sudah merekamnya di sini!" lagi-lagi kedua pemuda itu dibuat terperangah oleh pengakuan Rio.
Sungguh mereka tidak menduga dan tidak menyangka jika semua yang Rio katakan tadi hanya karangan saja, mereka semakin kagum dengan kecerdasan yang Rio miliki. Mereka sungguh tidak pernah berfikir sampai sejauh itu, dan berterimakasihlah pada Rio. Ternyata dibalik sifatnya yang jahil, dia sangat berguna untuk keluarganya.
"Paman aku mengantuk. Bisakah kita pulang sekarang?" renggek Rio pada Frans dan Satya. Keduanya mengangguk. Bukan hanya Rio, tapi mereka berdua juga sudah sangat lelah dan ingin segera tidur. Apa yang mereka lakukan hari ini memang menguras tenaga dan otaknya. Dan pilihan terbaiknya adalah segera pulang dan tidur dengan nyaman.
-
Malam begitu sunyi dan sepi, sang penguasa malam pun enggan menapakkan sinarnya dan bersembunyi di balik awan hitam. Menyembunyikan sinarnya, bintang-bintang yang biasanya berpijar setiap malam ikut bersembunyi. Semua seakan pergi meninggalkan bumi, sendiri di dalam keheningan.
Hanya ada kehampaan dan kekosongan yang terasa, wanita itu terpaku. Matanya menatap kosong kedepan, tidak ada gerakan dari tubuhnya. Ia diam mematung, fikirannya kosong seakan kehilangan seluruh isinya. Lensa matanya seakan tak berfungsi, tak ada gerakan sama sekali.
Setelah cukup lama diam dalam posisi itu, perlahan kedua pupilnya tertutup. Fikirannya yang kosong mulai terisi.
__ADS_1
Jiwa dan raganya seakan bertengkar, letih dalam diri begitu menyiksa. Membawanya kembali kedalam ruang hampa di dalam dirinya.
Gadis itu berdiri di ambang jendela kamarnya sambil bersidekap dada. Hawa dingin yang begitu menusuk seakan tak Ia hiruakan, padahal pakaian yang Ia kenakan malam ini begitu kontras dengan cuaca yang dingin. Hanya sebuah gaun tidur merah tipis yang membalut tubuhnya. Tidak ada mantel tebal ataupun syal yang membuatnya merasa hangat.
Pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding kamarnya. Malam ini tidak berbeda dengan malam-malam sebelumnya, tetap sunyi dan sepi. Sesekali Ia mendongak menatap langit malam yang gelap dan pekat, hanya beberapa bintang saja yang terlihat.
Bulan tampak malu-malu untuk menujukkan sinarnya yang hangat. Di tengah-tengah wanita itu menikmati kesendiriannya, tiba-tiba ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang. Memberikan rasa hangat pada tubuhnya yang sedikit menggigil. Wanita itu melirik ke belakang. "Oppa, kenapa bangun?" tanya wanita itu pada pria yang memeluknya.
"Lalu kenapa kau sendiri tidak tidur dan malah berdiri di sini?" alih-alih sebuah jawaban. Pria itu malah balik bertanya.
Wanita itu menundukkan wajahnya. "Aku merindukan Ibu dan Ayah. Kenangan tentang mereka tiba-tiba memenuhi pikiranku dan itu membuatku tidak bisa tidur," suaranya terdengar parau seperti menahan tangis.
Nathan memutar tubuh Viona hingga posisi mereka saling berhadapan. Nathan menarik bahu Viona dan membawa wanita itu ke dalam pelukkannya. "Jika kau ingin menangis, sebaiknya jangan ditahan. Itu hanya akan membuatmu semakin sesak." Bisik Nathan.
Viona menutup matanya. Jari-jarinya meremas tank top putih yang membalut tubuh Nathan, tanpa peduli pakaian suaminya akan kusut karna ulahnya. Nathan mengusap punggung Viona dengan gerakkan naik-turun, berharap apa yang dia lakukan bisa memberikan sedikit ketenangan pada perasaan sang istri.
Saat di rasa Viona mulai tenang. Nathan melonggarkan pelukkannya. Jari-jarinya menghapus jejak air mata di wajah cantik yang tampak rapuh itu. "Jika kau merasa sedih, jangan pernah ragu untuk berbagi denganku. Kau tidak sendirian lagi, Sayang. Ada aku, aku akan selalu melindungimu dan berada di sisimu." Viona mengangguk dan kembali berhambur ke dalam pelukkan Nathan. Viona merasa bersyukur karna yang akhirnya menjadi pendamping hidupnya bukanlah Leo tapi Nathan.
"Gomawo Oppa, Jeongmal gomawoyo," bisik Viona sambil menutup matanya.
"Sama-sama, Sayang,"
-
Kehilangan botol susu sama dengan kehilangan intan berlian. Itulah yang saat ini tengah di rasakan oleh Rio, pemuda itu benar-benar tidak bisa tidur tanpa menghisap susu dari botol susu kesayangannya.
Sudah berkali-kali Ia mencoba memejamkan matanya dan telah menggunakan berbagai cara agar Ia bisa segera terlelap, namun tak ada satu pun dari usahanya yang membawakan hasil. Bahkan Ia sampai menghisap jari jempolnya, namun tetap saja. Hal itu tidak memberikan efek apa-apa.
"Paman, bantu aku menemukan botol susuku yang di buang Ibu sore tadi, aku tidak bisa tidur tanpa botol susu itu." Renggek Rio sambil mengguncang tubun Satya dan Frans secara bergantian.
"Aisss kau ini mengganggu orang sedang tidur saja, tidur lagi sana." Satya melemparkan bantal kearah Rio kemudian menitupi sekujur tubuhnya dengan menggunakan selimut tebal miliknya.
Huffftttt...
Terlihat Rio menghela nafas panjang, dengan wajah di tekuk. pemuda itu berjalan lunglai meninggalkan kamar kedua pamannya. Rio merasa jika mereka berdua sangat jahat padanya.
" Hiks.. Hiks.. Hiks.. Kenapa kalian tega sekali padaku? Hiks, di mana botol susuku, Ibu kembalikan botol susuku, aku tidak bisa tidur tanpa botol susu itu," ucap Rio sedikit terisak.
Rio terus menitihkan air matanya ketika meninggalkan kamar kedua pamannya. Pemuda itu bersikap layaknya anak kecil yang tidak di belikan permen oleh Ibunya.
Rio berjalan menuju sofa ruang tengah dan duduk sendiri di sana, memperhatikan sekitar dan terlihat sepi. Wajar saja karna ini sudah menunjukkan pukul 11 malam, tiba-tiba dia merinding sendiri. Dia teringat dengan film horror yang ditontonnya sore tadi, tiba-tiba bulu kuduk Rio berdiri.
Glukk...
Susah payah Rio menelan salivanya saat mendengar suara derap langkah kaki yang menggema. Dengan kaku Rio memutar lehernya, pupil matanya membesar mana kala dia melihat sosok pria berwajah putih menuruni tangga. Rio mencoba untuk menutup matanya dan memastikan jika ada yang salah dengan pengelihatannya. Tapi tidak, sosok itu benar-benar nyata. Saking takutnya, tanpa sadar Rio sampai terkencing di celana.
"KKYYYAAA!!! HANTU!!" Rio lari kocar-kacir meninggalkan ruang keluarga. Sedangkan sosok yang dia fikir hantu hanya bisa menatap Rio keherananan.
"Ada apa dengan bocah itu? Tiba-tiba berteriak hantu? Ahh, maskerku jadi pecah kan. Uhh, sungguh menyebalkan!!"
__ADS_1
-
Bersambung.