Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 91 "Kebenaran Yang Terungkap"


__ADS_3

Viona terus berlari tanpa arah, pertemuannya dengan Sunny dan Kirana membuatnya kembali melemah. Mereka berdua tidak hanya sekedar sahabat untuknya, lebih dari itu. Karna merekalah dulu yang selalu ada ketika dirinya bersedih dan menangis. Namun apa yang kini Ia lakukan, Ia justru bersikap kasar pada mereka dan mungkin juga melukai perasaannya.


Namun Viona tidak memiliki pilihan lain, Ia harus tetap melakukannya, demi dendam kesumatnya pada Jodry dan Shion.


"Aaaarrrrkkkkkkk!!"


Viona berteriak sekencang-kencangnya meluapkan semua rasa sesak yang ada di dalam hatinya. Perasaannya serta semua rasa sakit yang selama ini harus dia tahan. Sejujurnya Ia tidak sanggup, namun Viona juga harus tetap bertahan. Meskipun itu sangat menyakitkan. Tapi hal itu harus tetap Ia lakukana, dan mungkin Ia harus merelakan dirinya di benci oleh orang-orang terdekatnya. Meskipun berat, Viona tetap harus bisa melaluinya.


"Eonni tau ini berat Vi, tapi kau harus tetap bertahan. Kau harus bertahan demi tujuan kita. Kau tidak boleh lemah sampai mereka berdua menerima balasannya. Bahkan kau juga harus bisa menahan semua rasa sakit itu untuk sementara waktu. Mereka pasti akan mengerti suatu saat nanti." Tutur wanita yang saat ini berada tepat di hadapan Viona.


"Eonni,"


Tubuh wanita itu 'Tania, terhuyung kebelakang karna pelukan Viona yang sangat tiba-tiba. Wanita itu meremas pakaian yang Tania kenakan dan menangis sejadi-jadinya, saat ini hanya Tania-lah satu-satunya orang yang bisa memahami perasaannya. Dan hanya padanya, Ia bisa menyandarkan semua rasa sakit yang tengah di rasakannya.


"Eonni, sakittt!!" Jerit Viona sambil meremas dadanya, air matanya pun semakin tidak terhitung jumlahnya.


Tania yang sangat memahami perasaan Viona hanya mampu menghela nafas. Wanita itu memejamkan matanya dan semakin mengeratkan pelukannya , kemudian berkata. "Seandainya kau berjalan, kau sudah berada di tengah Vi. Dan jangan karna satu halangan kau kembali berlari kebelakang. Kau harus melangkah kedepan, dan kau harus bisa menyelesaikan semuanya. Meskipun rasa sakit yang harus kau dapatkan." Tutur Tania panjang lebar.


Wanita itu kemudian melepaskan pelukannya pada Viona. Jari-jari lentiknya terangkat perlahan untuk menyeka air mata di wajah Viona dan tersenyum tipis.


"Tidak ada gunanya kau menangisi semuanya, tersenyumlah. Kau harus kuat, demi janinmu yang terbunuh kau harus bisa menyelesaikan semua sampai akhir. Kau ingin pulang sekarang atau-"


"Eonni duluan saja, aku masih ingin di sini." Balas Viona menyela ucapan Tania, Tania tersenyum tipis dan mengangguk.


"Baiklah, Eonni pergi dulu."


Selepas kepergian Tania, seorang pria terlihat berjalan menghampiri Viona kemudian berdiri di sampingnya. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya, pria itu hanya diam sambil menatap lurus kedepan.


Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celanan bahannya, serta rambutnya yang coklat terang di biarkan sedikit berantakan. Dan sepertinya Viona masih tidak menyadari keberadaan pria itu di sana, Ia terlalu dalam meratapi segala peristiwa yang menimpa hidupnya. Sampai suara dingin terlewat datar masuk dan berkaur di dalam telinganya.


"Kau terlihat sangat berantakkan, Nona," Viona terkejut setengah mati. Sontak wanita itu mengangkat wajahnya dan kedua matanya membelalak melihat siapa yang berdiri disampingnya. "Kenapa kau seperti melihat hantu saja? Ekspresimu itu sedikit mengerikan," sinis orang itu yang pastinya adalah Nathan.


Viona terkekeh pelan. "Bukankah aku ini adalah hantu yang sangat cantik," canda Viona sambil menggerlingkan mata pada Nathan.


"Apakah aku memang selalu seperti ini? Selalu tebar pesona pada setiap pria?"


"Itu terlalu kasar, Tuan. Lagi pula aku tidaklah semurahan itu. Lagi pula hanya padamu aku bersikap seperti ini,"


"Kenapa?"


"Karna aku tertarik padamu," jawabnya santai.


"Bukankah di dunia ini masih banyak pria yang lebih baik dan lebih tampan dariku? Lalu kenapa harus aku?"


"Karna kau adalah suamiku," lirih Viona membatin. Tatapannya berubah sendu, wanita itu kembali menyungging senyum dibibirnya. "Apakah perlu alasan untuk tertarik pada seseorang?"


"Semua yang terjadi di dunia ini ada sebab dan akibatnya, Nona. Semua tidak mungkin bisa terjadi begitu saja,"

__ADS_1


Viona mengangguk. "Aku sependapat denganmu, tapi yang aku rasakan padamu tidak butuh alasan," Viona menakup wajah Nathan dan mencium singkat bibirnya. "Tiba-tiba aku merasa lapar, ayo temani aku makan malam," Viona memeluk lengan terbuka Nathan dan menyeretnya pergi.


Nathan hanya menatap datar lengannya yang dipeluk oleh Viona. "Melihat sikapmu membuatku semakin yakin jika kau memang Viona-ku, bukan Ellena Kim. Dan aku masih menunggu kau menjelaskan sendiri kenapa harus berpura-pura meninggal dan menjadi orang lain," ujar Nathan membatin. Nathan sudah tau jika yang saat ini bersamanya bukanlah Ellena Kim melainkan Viona Lu, istrinya.


Langkah Viona terhenti karna tarikan Nathan, Nathan menakup wajah Viona dan mencium bibir ranumnya dengan sangat brutal. Tak ada penolakkan dari Viona, wanita itu membiarkan Nathan terus menciumnya dan menginvasi bibirnya. Namun ciuman berlangsung beberapa detik saja.


Nathan mengakhiri ciumannya dan menatap Viona dengan lembut. "Kau ingin makan siang di mana?" tanya Nathan sembari menghapus jejak liur dibibir Viona.


"Hm, bagaimana kalau kita pergi ke Playfood cafe saja?" usul Viona. Nathan menatap manita itu kemudian mengangguk.


"Baiklah,"


.


.


.


Usai makan malam, Viona mengajak Nathan untuk singgah diapartemen miliknya. Awalnya Nathan menolak namun karna paksaan Viona, akhirnya dia pun menyetujuinya. Saat ini kedua insan manusia itu sedang berada di apartemen milik Viona.


"Tuan Lu, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Kau terlihat sangat lelah, sebaiknya kau mandi dan aku akan menyiapkan pakaian ganti untukmu,"


"Hm, apa ini tidak terlalu merepotkanmu?"


Viona menggeleng. "Tidak sama sekali, dan biarkan aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan?"


"Sebaiknya kau mandi sekarang, airnya keburu dingin. Aku akan keluar sebentar, dan jika kau lelah, kau bisa beristirahat dikamarku sembari menunggu pakaiannya datang. Ada handuk baru di kamar mandi, aku pergi dulu," Viona mencoba mengalihkan pembicaraan, hampir saja dia membuka kartunya sendiri.


Nathan tidak memberikan tanggapan apa-apa dan hanya menatap datar kepergian Viona. Pria itu mendesah berat, Nathan beranjak dari ruang keluarga dan pergi ke kamar Viona.


.


.


Viona kembali setengah jam kemudian. Wanita itu memasuki aparteman miliknya sambil membawa sebuah paperbag yang berisi kemeja dan celana untuk Nathan.Viona memicingkan matanya melihat apartemannya kosong dan sosok Nathan tak terlihat dimana pun.


Kemudian Viona pergi kekamarnya dan mendapati Nathan tengah berbaring di atas tempat tidurnya sambil menutup matanya. "Tuan Lu, apakah Anda benar-benar tidur?" tanya Viona nanun tidak ada sahutan.


Viona mendekati Nathan dan berhenti tepat disamping dia berbaring. Jari-jari lentiknya mengusap wajah Nathan dengan lembut.


"Oppa, aku merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu," Lirih Viona sambil menatap wajah Nathan dengan sendu. Namun tidak ada tanggapan.


Mata kanan Nathan memang tertutup rapat, tapi bukan berarti dia benar-benar tidur. Sebenarnya Nathan tidak sedang tidur, dia hanya sekedar menutup mata saja. Isakan yang keluar dari bibir Viona membuat dada Nathan bergejolak hebat. Hatinya berkecambuk, kedua tangannya terkepal kuat.


"Oppa aku takut, sangat takut. Aku takut kau akan membenciku, aku takut bila kau tidak sudi melihatku lagi karna aku bukan lagi Viona yang dulu kau kenal. Aku berbeda Oppa, aku telah berubah. Namun aku melakukan semua ini karna terpaksa, aku ingin mereka berdua merasakan apa yang selama ini aku rasakan. Aku ingin mereka membayar mahal untuk kejahatan yang telah mereka lakukan padaku juga calon bayi kita, aku ingin mereka mengakui perbuatannya dan menyadari kesalahannya.


Jika saja Jordy dan Shion merasa bersalah karna telah membunuhku, mungkin aku tidak akan melakukan balas dendam ini dan menghentikannya sejak lama. Tapi apa, sedikit pun mereka tidak merasa bersalah. Dan mereka justru bahagia setelah aku tiada. Shion dan Jordy, mereka berdualah yang memaksaku untuk memulai semua ini.

__ADS_1


Oppa, jika suatu saat nanti kau sudah mengetahui semua kebenarannya dan tentang diriku juga balas dendamku. Aku harap kau tidak membenciku. Maaf, jika aku harus melakukan semua ini dan berpura-pura tidak mengenalimu, jujur aku sangat tersiksa Oppa. Aku tersiksa karna merindukanmu, aku ingin sekali memelukmu dan mengatakan betapa aku sangat merindukanmu. Tapi itu tidak mungkin, karna saat ini aku hidup sebagai Ellena bukanlah Viona.


Bersabarlah sedikit lagi Oppa, setelah semuanya selesai. Aku berjanji akan kembali padamu dan menjadi Viona-mu yang dulu. Aku akan membuatmu bahagia dan tersenyum seperti dulu lagi." Tutur Viona panjang lebar.


Wanira itu segera menyeka air mata yang membasahi wajah cantiknya, Viona mengusap mata kiri Nathan yang tertutup benda hitam bertali dan menatapnya sendu.


Sedangkan Nathan, Ia mati-matian menahan dirinya saat merasakan sentuhan Viona pada wajahnya. Ingin sekali ia membuka matanya kemudian menarik Viona kedalam pelukannya, namun Nathan tidak ingin melakukannya. Ia masih ingin tau lebih banyak lagi tentang apa yang menimpa istrinya tersebut, dan Nathan memutuskan untuk tetap berpura-pura tidak mengetahui apa-apa.


"Oppa, aku mencintaimu." Ucap Viona kemudian mencium singkat bibir Nathan dengan lembut, melum** nya secara perlahan. Meskipun tidak ada balasan, namun Ia tetap merasa bahagia.


Tania yang baru saja tiba di apartemen milik Viona dan tidak sengaja mendengar semua ucpan wanita itu, tanpa sadar dia meneteskan air matanya. Dan berkata lirih.


"Eonni berjanji padamu, Vi. Eonni akan membantumu sampai akhir, setelah itu Eonni akan menjelaskan semua kepada Suamimu. Eonni juga akan memastikan bila Nathan tidak akan membencimu.


Tapi selama kau masih ingin balas dendam. Eonni harap kau masih bisa bertahan, kau harus kuat dan jangan lemah. Eonni akan selalu berada di sisimu, dan siap setiap kau butuh sandaran dan pertolongan.


Eonni sangat menyayangimu Viona Lu, dan Eonni tidak akan membiarkan mereka menyakitimu lagi. Setelah semua ini berakhir, Eonni pastikan kau akan kembali berbahagia bersama suamimu. Jadi bertahanlah sayang, aku menyayangimu adikku." Tania menyeka air matanya dan tersenyum lembut.


"Vio," panggil Tania dan mengalihkan perhatian Viona. Lantas wanita itu menoleh dan mendapati Tania berjalan menghampirinya. "Kenapa dia bisa ada disini?"


"Aku yang mengundangnya,"


"Kenapa kau ini ceroboh sekali. Tidak seharunya aku-"


"Aku tau," Viona menyela cepat. "Aku tau Eonni, tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Aku begitu merindukannya, dan aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Katakan jika aku egois Eonni, dan lagi pula istri mana yang akan baik-baik jika terpisah terlalu lama dari suaminya," Viona mulai terisak. Dadanya berdenyut sakit. Dia benar-benar tersiksa dengan keadaannya saat ini.


Tania menarik Viona dan membawa wanita itu ke dalam pelukkannya. "Maaf, Vi. Eonni hanya tidak ingin kau menjadi lemah setelah bertemu kembali dengan suamimu. "


"Eonni tidak perlu cemas, aku tau aku harus bagaimana dan melakukan apa,"


Tania melepaskan pelukkannya, Ia tersentak dan kedua matanya membulat sempurna melihat Nathan tiba-tiba membuka kanannya, Tania bermaksud untuk memberi tau Viona, tapi hal itu dia urungkan melihat Nathan menggelengkan kepala. Memberi israyat agar Tania tidak memberi tau Viona.


"Vi, bisakah kau siapkan teh panas untuk Eonni? Eonni ke toilet dulu." ucap Tania yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.


Setelah memastikan Viona benar-benar sudah pergi, Tania berbalik dan menghampiri pria itu. "Pasti kau sudah mendengar semuanya." Ucap Tania setelah berhadapan dengan Nathan.


"Jelaskan padaku, sebenarnya apa yang telah terjadi padanya?" tanya Nathan meminta penjelasan.


"Aku tidak akan mengatakan apa pun, tapi mungkin Video ini bisa menjawab semuanya. Semua peristiwa yang terjadi pada istrimu telah aku rekam di dalam ponsel ini." Ujar Tania sambil menyerahkan bukti kejahatan yang di lakukan oleh Shion dan Jordy pada Nathan.


"Maaf Tuan Lu, aku harus pergi sekarang." Sambung Tania dan berlalu dari hadapan Nathan.


Nathan memutar video itu dan melihat isinya, mata kanannya membulat seketika setelah melihat isi rekamannya. Nathan mengepalkan kedua tangannya dan menggeratkan gigi-giginya, Nathan terbakar emosi melihat apa yang telah dilakukan oleh Shion dan Jordy pada Viina. Dan yang lebih menyakitkan hati Nathan adalah saat Shion meminta anak buahnya untuk melemparkan tubuh Viona yang masih bernyawa kedalam sungai Han, bahkan di situ Nathan melihat bagaimana Jordy mengabaikan Viona saat istrinya meminta pertolongannya.


"Jordy Lim, Shion Choi, aku tidak akan mengampuni kalian berdua. Kalian harus membayar mahal untuk apa yang telah kalian berdua lakukan pada Viona."


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2