Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 53) "Tidak Berguna.


__ADS_3


Riders tersayang, baca juga novel terbaru Author yang judulnya TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM jangan lupa untuk meninggalkan like koment juga ya riders.


-


Karna insiden yang mereka berdua alami dua jam yang lalu. Pelipis Zian mendapatkan lima jahitan. Awalnya Zian menolak untuk dibawa ke rumah sakit, namun karna paksaan Luna, akhirnya Zian pun setuju.


Saat ini keduanya sedang berada di kamar Hotel tempat mereka menginap sejak beberapa hari yang lalu. Karna semua barang-barangnya masih di Hotel dan mereka belum Check Out. Akhirnya Zian dan Luna memutuskan kembali ke Hotel alih-alih menempati rumah barunya.


Luna menghampiri Zian dengan beberapa butir obat dan segelas air putih. "Oppa, minum dulu obatnya, setelah ini istirahat. Pasti kepalamu pusing karna insiden tadi,"


"Hn. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sebaiknya kau tidur duluan saja, aku akan menyusul setelah pekerjaanku selesai,"


Luna menggeleng. "Tidak, Oppa!! Kau harus istirahat, kau sedang sakit. Dan masalah pekerjaan kau bisa meminta bantuan, Reno untuk menyelesaikannya. Lagipula apa gunanya kau membayar mahal dia jika hanya untuk makan gaji buta!!"


Zian mengangguk. Apa yang dikatakan oleh Luna memang ada benarnya. Jauh-jauh dia membawa Reno ke Berlin supaya dia bisa meringankan pekerjaannya, bukannya malah membiarkan dia berleha-leha dan kelayapan bebas di luar sana sementara dirinya harus bekerja keras menyelesaikan semua pekerjaannya.


"Yang kau katakan ada benarnya. Aku akan menghubunginya besok pagi," Luna tersenyum kemudian mengangguk.


"Ya sudah, sebaiknya kita tidur sekarang,"


Zian beraring disamping Luna. Posisi mereka saling berhadapan. Wajah Luna berhadapan dengan dada bidang Zian yang tersembunyi apik dibalik singlet putihnya. "Oppa, apa kau sudah tidur?" Luna mengangkat wajahnya dan mengunci sepasang mutiara abu-abu milik Zian.


Zian membuka kembali matanya. "Belum, memangnya kenapa? Apa kau tidak bisa tidur, hm?" Luna mengangguk. Zian melonggarkan pelukannya pada tubuh Luna kemudian merubah posisinya. Zian duduk dan menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur.


"Apa yang membuatmu tidak bisa tidur?" tanya Zian sambil mengunci manik cpklat wanita itu.


Luna mengangkat bahunya. "Entahlah, aku sendiri tidak tau. Hanya saja banyak sekali hal yang mengganggu pikiranku dan membuatku sulit untuk tidur," ujarnya.


"Apa kau memiliki masalah?" Luna menggeleng. "Lantas?"


Luna membalas tatapan Zian. Lagi-lagi dia menggeleng. "Aku hanya berfikir jika aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Semenjak kita menikah, tak banyak hal yang bisa aku lakukan untukmu, bahkan aku tidak bisa melakukan tanggung jawabku sebagai seorang istri dengan baik."


"Aku begitu payah dalam segala hal. Aku tidak bisa memasak, aku tidak bisa membuat kopi dengan benar. Dan jangankan untuk membuatkanmu sarapan, bahkan untuk memasak ramyeon saja aku tidak bisa. Aku selalu menimbulkan masalah, beberapa kali kau harus terluka karna diriku. Bukankah sangat jelas jika aku ini sangatlah payah?" Luna mulai berkaca-kaca.


Zian meraih tangan Luna dan mengunci sepasang mutiara coklat jernihnya."Dengar, Sayang. Aku tidak pernah mempersalahkan semua itu. Aku menikahi dirimu, itu artinya aku sudah siap menerima semua kekurangan dan juga kelebihanmu. Lagipula aku tidak pernah mempersalahkannya. Jadi jangan pernah menjadikan semua itu sebagai beban untukmu,"

__ADS_1


Luna menundukkan wajahnya. "Tetap saja, Oppa. Aku begitu berbeda dengan, Vio eonni. Kami terlahir kembar, tapi kenapa aku begitu payah dalam segala hal. Dia terlahir sebagai wanita yang hebat, sementara aku... Aku begitu tidak berguna," Luna mulai terisak.


Zian mendesah berat. Diraihnya bahu Luna ke dalam pelukannya. "Kau bisa mengikuti les memasak. Bukankah kau ingin menjadi seorang desainer yang hebat? Kalau begitu wujudkan impianmu itu dan buktikan padaku jika kau memang layak. Aku akan memberimu waktu dua tahun, dan kau bisa melanjutkan Study-mu di luar negeri jika kau mau. Bagaimana?"


Luna melonggarkan pelukannya kemudian menggeleng. "Jika aku berhasil menjadi seorang desainer yang hebat seperti impianku selama ini, itu artinya akan semakin berkurang waktu yang aku miliki untuk memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang istri. Aku menolaknya, lebih baik aku mengikuti kes memasak saja," tutur Luna panjang lebar.


"Baiklah, terserah kau saja. Yang penting aku sudah memberimu kesempatan. Ya, sudah, sebaiknya kita tidur sekarang," ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


"Baiklah, Oppa,"


-


Tiga orang pemuda berjalan beriringan bersama padatnya manusia lainnya dijalanan kota.


Lelah berjalan, ketika pemuda itu pun memutuskan untuk berhenti sejenak.


Ketiganya memilih menikmati keheningan tepat di hadapan lingkaran sebuab air mancur dengan patung wanita menumpahkan air dari kendi yang dipeluknya berada tepat di tengah kolam.


Segalanya tampak putih dengan suasana yang tidak terlalu ramai. Sempurna dan selaras. Hanya tampak segelintir orang yang berhilir mudik. Mereka berdiri tanpa jarak.


"Kau hanya termakan isu para bocah," tukas Satya tak peduli.


Pakaian yang melekat ditubuhnya tampak sedikit lusuh setelah ia dan kedua saudaranya itu baru saja mengalami hari yang teramat panjang dan melelahkan.


Bagaimana tidak, mereka bertiga terombang-ambing di kota Berlin tanpa tau harus melakukan apa. Ingin menginap di Hotel mewah dan berbintang, rasanya tidak mungkin. Bukan karna mereka terlalu miskin, hanya saja mereka tidak tau bahasa Jerman dan bagaimana caranya berkomunikasi sementara mereka sangat payah dalam bahasa Inggris.


Mereka pergi ke Jerman tentu bukan tanpa alasan. Mereka ingin menyusul Luna dan Zian yang sedang berada di Berlin. Ini adalah liburan musim dingin, dan mereka ingin menghabiskan masa liburan panjangnya itu dengan melancong ke luar negeri.


"lagipula, kita bertiga tidak pernah memiliki koin emas. Kau sendiri yang pernah berkata jika koin emas tak bisa membeli apapun di sini, bukan begitu?"


Rio mendengus, namun tetap menyiratkan persetujuan melalui cengirannya.


"Oya, Paman."


"Apa?" sahut Frans dan Satya dengan kompak.


Clak. Clak. Clak.

__ADS_1


Bukan koin emas, melainkan kerikil yang dilemparnya hingga memantul-mantul di permukaan air sebelum tenggelam sempurna.Tubuh lelah Rio sedikit dimiringkan.


"Aku mulai frustasi, ini adalah hari ketiga kita di sini, tapi kota masih belum bisa menemukan mereka berdua. Jika saja aku tidak bodoh dan meninggalkan ponselku di pesawat. Pasti nasib kita tidak akan semenyedihkan ini. Huuuaaa..." tiba-tiba Rio menangis keras seraya menjatuhkan tubuhnya.


Satya dan Frans turut menjatuhkan tubuhnya di samping Rio, dan ketiganya menangis berjamaah. Bahkan mereka tak peduli dengan tatapan orang-orang yang ada disekitar mereka. Yang menatap ketiganya dengan tatapan aneh. Sungguh mereka terlihat begitu menggelikan, pikir orang yang melintas.


-


Luna selalu berharap menjadi seorang istri yang baik. Istri yang memegang teguh janji pernikahan. Berkelakuan manis, rajin, dan mengurus segala pekerjaan baik itu pekerjaan rumah maupun kegiatannya di luar rumah dengan seimbang.


Apabila ia memiliki anak, ia ingin menjadi seorang ibu yang utuh untuk anak-anaknya. Menjadi orang pertama yang tanggap dengan segala kebutuhan dan perubahan mereka.


Luna ingin cepat memiliki anak, dengan begitu suara tawa mereka dapat menghangatkan seisi rumah. Melahirkan, membesarkan, merawat anak-anaknya kelak didampingi suami yang selalu membuat hatinya berdebar. Yang selalu berbagi suka dan duka dengannya.


Mungkin sebagian telah dia dapatkan. Tapi masih banyak impiannya yang masih menjadi angan-angan saja, karna hingga detik ini dia masih di berikan momongan.


Luna baru saja bangun dan mendapati tempat disampingnya telah kosong yang menandakan jika sang penghuni telah bangun dan sejak beberapa saat yang lalu. Tempat itu terasa sedikit dingin ketika di sentih.


Luna menyibak selimutnya kemudian dia berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya terasa lengket semua. Setelah mandi dan berganti pakaian, Luna pergi ke balkon kamar untuk memastikan apa suami tampannya itu ada di sana atau tidak? Dan benar dugaan Luna, Zian memang berdiri di sana.


"Aku fikir kau sudah berangkat kerja,"


Perhatian Zian sedikit teralihkan. Pria itu lantas menoleh dan mendapati Luna berdiri dibelakangnya sambil memeluknya. "Aku memutuskan untuk mengambil cuti selama beberapa hari, dan semua pekerjaan, sudah aku serahkan pada Reno .


"Benarkah?" Zian mengangguk. "Maka itu artinya kita akan memiliki waktu lebih untuk berdua. Oppa, bagaimana kalau kita mencoba membuat peruntungan di sini. Siapa tau ketika kita kembali nanti kita sudah mendapatkan hasil?" Luna menatap Zian dengan mata berbinar-binar.


Zian menyeringai. Dengan segera dia mengangkat tubuh Luna dan membawanya masuk ke dalam kamar. Melihat seringai Zian membuat Luna merinding sendiri.


"Oppa, apa maksudmu dengan seringai itu?"


"Kita akan melakukannya sekarang,"


"APA!!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2