
Dalam hitungan detik, Nathan, Zian dan Theo berhasil menerobos masuk melalui atap dengan menggunakan tali. Mereka mendarat mulus di dalam ruangan di mana Luna di sekab, tapi sayangnya tempat itu sudah kosong.
Tak ada seorang pun di dalam ruangan itu selain tumpukan kayu dan kotak-kotak besar, serta seutas tali yang masih menyatu dengan kursi yang mereka bertiga yakini sebagai tempat untuk mengikat tubuh Luba sebelum akhirnya mereka memindahkannya ketempat lain.
Mata Theo membulat saat tenpa sengaja melihat beberapa orang berjalan sambil membawa seorang gadis muda yang dia yakini sebagai Luna berjalan menuju tangga darurat yang menghubungkan langsung dengan atap gedung.
"Tuan, di sana," seru Theo lantang. Zian dan Nathan menolehkan kepalanya mengikuti arah tunjuk Theo.
Tapu hanya seorang pria yang kemudian tubuhnya menghilang di balik dinding. Tanpa mengulur banyak waktu, Zian berlari mengejar pria-pria tersebut di susul Nathan dan Theo.
Namun setelah keluar melewati pintu, langkah mereka bertiga di hentikan oleh beberapa pria bersenjata seperti pistol, belati dan balok kayu. Jumlah mereka pun tidak tanggung-tanggung, sekitar 30 orang kini berdiri berjajar di depan ketiganya.
"Zian, pergilah dan selamatkan Luna. Mereka serahkan padaku dan Theo." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Zian.
"Baiklah, Hyung. Kalian berhati-hatilah," Nathan mengangguk.
Kedua mata Nathan menatap satu persatu pria-pria itu dengan sangat tajam, memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan teliti. Tak ada rasa takut maupun gentar yang terpancar dari raut wajahnya, pria itu terlihat begitu tenang.
Jumlah tak jadi masalah baginya, karna berhadapan dengan hal semacam ini bukanlah sesuatu yang baru bagi Nathan dan Theo. Mereka sudah sangat terbiasa, bahkan berhadapan yang lebih banyak dari ini pun mereka pernah.
Nathan dan Theo saling bertukar pandang dan sama-sama mengangguk. Perkelahian pun tidak dapat terhindarkan lagi, Nathan dan Theo yang hanya berdua di keroyok tiga puluh orang secara bersamaan. Mereka tidak hanya saling pukul dan menendang. Namun juga berbagai gerakan lainnya.
Duaarrr,,,
Desiran suara peluru di lepaskan pun turut mewarnai perkelahian yang sangat tak seimbang itu. Nathan dan Theo bahkan tak segan-segan menembaki siapa pun yang mencoba menghadang langkahnya.
Suara benda hancur, tulang patah dan jeritan kesakitan pun mewarnai jalannya perkelahian, entah sudah berapa banyak dari kubu lawan yang nyawanya telah melayang di tangan mereka berdua yang sangat brutal dan tak mengenal kata ampun. Tidak salah bila Nathan mendapatkan julukan iblis berdarah dingin, namun lebih pantas bila dia di sebut sebagai Dewa kematian. Karna dia tidak sedikit pun memiliki belas kasihan ketika sudah terlibat di dalam perkelahian.
Dan setelah hampir 30 menit, pemenangnya pun dapat diketahui. Meskipun hanya berdua saja, namun tidak sulit bagi Nathan dan Theo untuk mengalahkan dan menghancurkan lawannya yang berjumlah 30 orang.
"Sial, kenapa ada lagi," Theo mengumpat saat melihat 1 kelompok lagi yang jumlahnya jauh lebih banyak dari sebelumnya berjalan menghampiri mereka berdua.
Dan satu orang yang berjalan di barisan paling depan terlihat menyeret sebuah kapak berukuran besar. Namun di saat bersamaan, teman-teman Zian datang memberi membatu.
"Theo, segera susul Zian. Mungkin saja dia membutihkan bantuanmu. Aku dan mereka akan menyelesaikan mereka," perintah Nathan yang kemudian di balas anggukan Theo.
"Baik, Tuan!!"
.
.
Sementara itu, di gedung yang sama namun di lokasi yang berbeda. Seorang gadis tubuhnya tergantung pada sebuah tiang besi yang langsung mengarah pada laut lepas, di sekitar gadis itu terlihat beberapa orang pria dan seorang wanita yang sedang menyeringai dan menyaksikannya dari dalam ruangan.
Wanita itu melipat kedua tangannya dan meletakkannya di depan dadanya, sudut bibirnya tertarik keatas menciptakan smrik mengerikan yang selalu menjadi andalannya.
Dean beranjak dari samping Miranda dan kemudian menghampiri Luna."Bagaimana rasanya tergantung di sana, Adikku tersayang?" tanya Dean dengan seringai liciknya.
"Apa sebenarnya maumu, Dean? Kau ingin membunuhku?" seru Luna berbalik bertanya.
"Kau adalah kunci yang sangat berharga Leonil Luna, awalnya aku memang sangat menginginkan kematianmu karna kau sudah berani menyakiti Miranda dan calon anak kami. Tapi setelah aku fikir-fikir lagi, keberadaanmu justru akan menjadi bom waktu untukku karna kau sangat membahayakan untuk rencanaku. Jadi tidak ada cara lain selain membiarkanmu mati. Dan sebelum kau mati, sebaiknya tandatangi surat wasiat ini,"
"Aku tidak mau!!" Luna menolak dengan tegas.
"Jadi kau lebih memilih mati, huh? Baiklah, aku akan mengabulkannya. Tak lama lagi kau akan berakhir di bawah sana adikku sayang," Dean menyeringai.
Bukannya merasa takut oleh ucapan Dean, Luna justru terlihat begitu tenang dan menyikapi ucapan kakak angkatnya itu dengan senyum meremehkan. "Kau fikir aku takut, justru aku lebih senang bila kau membunuhku. Karna dengan begitu kau malah tidak akan mendapatkan apapun, bahkan uang sepeser pun." Balas Luna dengan santainya.
"Apa maksudmu?" tanya Dean meminta penjelasan.
"Fikirkan dan renungkan saja apa yang baru aku katakan, jika kau memang benar-benar cerdas. Pasti kau bisa mencernanya." Ujar Luna dengan seringai penuh kemenangan.
Brakkkk ... !!!! ...
__ADS_1
Dobrakan keras pada pintu mengejutkan semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut termasuk Dean dan Luna. Seorang peia terlihat memasuki ruangan.
Mata Luna membelalak sempurna saat melihat siapa yang datang menyelamatkannya. "Zian," Gumamnya membatin.
"Nathan? Apa yang kau lakukan di sini? Apa untuk gadis ini? Dia bukan istrimu tapi kenapa kau harus susah-susah menyelamatkannya? Ahh, atau jangan-jangan kalian menjalin hubungan gelap ya? Dan lancang sekali kau, apa kau datang untuk mengantarkan nyawamu?" Dean menyeringai. "Habisi pria ini," pinta Dean pada seluruh anak buahnya.
"Baik Boss."
Sepertinya Dean tidak sadar jika yang ada dihadapannya itu bukanlah Nathan melainkan orang yang sangat mirip dengannya. Zian tak menjawab dan hanya menatap Dean dengan tajam. Sedikitnya sepuluh orang mengepung Zian dan mereka semua bersenjata.
"ZIAN!!" jerit Luna dan menyita perhatian Dean serta Miranda. Keduanya memicingkan mata mendengar nama yang baru saja di sebutkan oleh Luna."Awas dibelakangmu!!"
Brugg...!! Zian menahan balok kayu yang mengarah pada kepala belakangnya. Pemuda itu memutar tubuhnya dan kemudian menendang orang itu hingga dia terjengkang kebelakang.
Menyaksikan perkelahian yang tak seimbang itu membuat Luna merasa cemas, bagaimana tidak? Karna Zian yang hanya sendiri di keroyok oleh sepuluh orang secara bersamaan.
Melihat pihaknya kalah, tak lantas membuat Dean tinggal diam. Tanpa ragu ia memutuskan tali yang mengikat tubuh Luna dan...
BYYUURR... !!! ..
Tubuh Luna jatuh kedalam laut, kedua mata Theo yang baru saja tiba di sana langsung membelalak sempurna melihat apa yang terjadi pada gadis itu.
"Nona Luna!!" dan teriakan keras Theo menyita perhatian semua yang ada di dalam ruangan itu minus Dean dan Miranda. Zian yang terkejut segera berlari menuju jendela, sontak ia menolehkan kepalanya dan menatap tajam pada Dean.
Brugggg ...
Zian mendorong tubuhnya dan menghimpitnya pada tembok, tangan kanan Zian mencekik leher Dean hingga membuat pria itu kesulitan untuk bernafas.
"Aaa...gghhhh, le-pas-kan aku." Pintanya terbata.
"Aku tidak akan melepaskanmu jika sampai terjadi apa-apa padanya, meskipun kau mencoba sampai keujung dunia pun, aku pasti akan mengejarmu." Ancam Zian penuh keseriusan.
Zian mengangkat pistol di tangannya dan memukulkan pada kepala Dean, membuat Pria itu menjerit kesakitan."AAAHHHHH..." cairan merah kental seketika mengalir dari keningnya.
BRAKK..
Dobrakkan keras pada pintu mengekutkan semua orang di ruangan itu. Dean terutama. Dia terkejut melihat kedatangan Nathan di sana. Dan jika yang ada dihadapannya adalah Nathan, lalu siapa yang menyelamatkan Luna tadi? Sebuah tanda tanya besar muncul du benak Dean.
Sementara itu. Miranda tak berkedip sedikit pun melihat sosok tampan yang ada di depan matanya. Miranda memperhatian Nathan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia terpesona. "Dia akan menjadi mangsaku selanjutnya," ujarnya bergumam.
"Apa yang terjadi? Di mana Luna dan Zian?" tanya Nathan karna tak menemukan keberadaan mereka berdua.
Theo mengatakan yang sebenarnya pada Nathan. Nathan tampak sangat terkejut. Ia pun segera menghubungi Viona dan menyampaikan apa yang terjadi pada Luna.
.
.
Zian terus berenang, kedua matanya mencoba menemukan keberadaan Luna. Setelah beberapa saat, Zian pun menemukan tubuh gadis itu hampir menyentuh dasar laut. Tanpa mengulur banyak waktu, Zian pun mempercepat berenangnya untuk bisa mengapai tubuh Luna dan berhasil.
Zian mendapatkan tubuh gadis itu yang telah tak sadarkan diri, kemudian membawanya kepermukaan.
Setelah berenang sekitar lima menit, mereka pun sampai di tepi pantai. Zian membaringkan tubuh Luna di atas pasir yang kering, kedua tangannya memompa perutnya untuk mengeluarkan air yang terminum saat tubuhnya tenggelam. Namun apa yang Zian lakukan tidak membuahkan hasil, usahanya tidak berhasil.
Karna tidak memiliki pilihan lain, akhirnya Zian pun memutuskan untuk memberi Luna nafas buatan.
Uhukkk .. Uhukk .. Uhukk ...
Dan berhasil, Luna terbatuk-batuk dan sesaat kemudian kedua matanya mulai terbuka. "Di mana ini?" Gumam Luna penuh kebingungan. Matanya menelisik kesegala penjuru arah dan tempat itu terasa sangat asing baginya.
"Kau sudah sadar. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Zian memastikan, Luna menatap Zian sejenak dan mengangguk.
Sekali lagi Luna kembali memperhatiakan apa yang ada disekelilingnya. Gadis itu mengerutkan dahinya, mencoba memperhatikan sekitarnya untuk mengetahui di mana saat ini Ia dan Zian berada. Tempat itu begitu asing untuknya, yang lebih mengherankan lagi, tak ada 1 pun bangunan di sana selain pepohonan rindang dan gua besar yang ada di belakang mereka.
__ADS_1
"Zian, sepertinya kita berdua terdampar di sini. Dan bagaimana caranya kita bisa keluar dari tempat ini?" tanya Luna penuh kebingungan.
Zuan mengangkat bahunya. "Entahlah, sepertinya kita tidak akan bisa keluar dari tempat ini kecuali seseorang menemukan kita di sini." Balas Zian seraya mengunci manik coklat Luna yang membelalak terkejut.
"APA!!"
.
.
Berada di tempat asing seperti ini membuat Luna merasa ketakutan, ia menyesal kenapa harus terdampat di tempat asing seperti ini, terlebih lagi suasana di tempat itu sedikit mengerikan.
Saat ini Ia dan Zian berada di dalam gua, Zian membawanya masuk kesana karna takut ada binatang buas yang mungkin akan membahayakan nyawa mereka berdua di tambah kilatan petir yang menyambar di segala penjuru arah.
Bagi Luna tidak ada yang lebih menakutkan selain berada di tempat yang gelap dan mendengar juga melihat kilatan petir yang menyambar-nyambar.
Jlederrr ... !!!! ...
"Kyyyyaaaa..."
Luna menjerit histeris saat mendengar suara petir yang menggelegar di tambah kilatan terang yang terjadi di luar gua, membuatnya dengan reflek memeluk Zian dan membenamkan wajahnya pada dada bidangnya.
"A-ku ta-kut," lirih Luna terbata.
Tanpa rasa ragu sedikit pun Zian mengangkat tangan kanannya yang kemudian dia lingkarkan pada punggung Luna, Zian memejamkan kedua matanya dan mengusap punggung gadis itu dengan gerakan naik turun. "Tenanglah, Lun. Semua akan baik-baik saja, aku bersamamu." bisiknya lembut.
Mendengar ucapan Zian membuat perasaan Luna menjadi hangat dan tenang, gadis itu melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Zian dan mengunci sepasang manik abu-abunya yang juga menatap padanya.
"Zian... Berjanjilah padaku, jangan pernah tinggalkan aku sendiri di sini. Aku sangat takut." lirihnya tanpa melepaskan kontak matanya.
Zuan menggeleng. "Tidak akan. Aku berjanji akan selalu menemanimu sampai kita bisa keluar dari tempat terkutuk ini." balas Zian meyakinkan.
Zian mengulurkan tangannya untuk membalai wajah cantik Luna dan menyelipkan beberapa helai rambut panjangnya yang menutupi wajah cantiknya ke belakang telinga.
Perlahan tapi pasti Luna mulai memejamkan matanya saat pemuda itu semakin mendekatkan wajahnya dan mempersempit jarak di antara mereka sampai akhirnya...
CHU....!!
Luna merasakan benda lunak dan basah menyentuh permukaan bibirnya dengan sangat lembut, benda asing yang pertama kali menyentuh bibirnya.
Dengan ragu Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian saat pemuda itu semakin memperdalam ciumannya.
Zian memagut bibir atas dan bawah-nya secara bergantian, ciuman yang awalnya begitu lembut namun semakin lama semakin brutal dan kasar. Gerakan kepala Zian pun turut mengambil alih, Zian merotasikan kepalanya ke-kanan dan kiri secara bergantian. Membuat Luna mendesah panjang. Dan tanpa Luna sadari.
Desahan itu justru memberikan ruang untuk Zian mendapatkan akses lebih. Zian memasukan lidahnya ke dalam mulut hangat Luna dan mulai mengobrak-abriknya. Dan tanpa sadar Luna juga membalas ciuman Zian.
Ciuman itu baru berakhir ketika Zian merasakan pukulan pada dadanya. " I-tu ciuman pertamaku." kata Luna sesaat setelah Zian mengakhiri ciuman panasnya.
Zian menggeleng. "Bukan, tapi itu ciuman keempatmu. Karna ciuman pertamamu aku ambil saat aku memberikan nafas buatan untukmu." jelas Zian dengan nada datar.
Dan lagi-lagi kedua mata Luna membelalak saking kagetnya. "A-Apa? Ciuman keempatku? Ya Tuhan, Zian Qin. Sepertinya kau suka sekali ya mengabil kesempatan dalam kesempatan," Luna menatap Zian tak percaya.
"Maksudmu apa?" Zian menatap Luna penuh selidik.
"Bukan apa-apa, sudahlah lupakan saja. Sebaiknya sekarang kita cari cara untuk bisa keluar dari tempat ini. Huaaa ðŸ˜ðŸ˜..., aku tidak ingin selamanya terjebak di tempat seperti ini," tangis Luna pun kembali pecah.
Gadis itu menangis seperti bocah. Luna menjatuhkan tubuhnya pada tanah dan terus meraung seperti bocah lima tahun yang tidak di belikan permen oleh Ibunta. Sedangkan Zian hanya bisa mendengus geli melihat tingkah kekanakan gadis berparas ayu tersebut.
"Dasar bocah, sungguh kekanakan!!"
-
Bersambung.
__ADS_1