
Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ETERNAL LOVE (CINTA TERLARANG PANGERAN IBLIS DAN PUTRI LANGIT) tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗
-
Tepat pukul 19.00 Zian tiba dirumahnya. Lelah terpancar jelas dari raut mukanya. Selain karna pekerjaannya yang menumpuk juga karna pergulatan panasnya dengan Luna siang tadi. Zian tidak hanya sendiri, ada Reno yang mengekor di belakangnya sambil menenteng koper besar.
Laki-laki itu berencana untuk menumpang tinggal di kediaman Zian sampai beberapa hari kedepan karna apartemennya dalam masa perbaikan.
"Kenapa sepi sekali? Di mana, istrimu yang galak itu? Kenapa dia tidak menyambutmu?" tanya Reno karena tak nampak batang hidung Luna.
"Mungkin sedang ada di kamar. Kau bisa menempati kamar tamu, kau harus membereskannya dulu karena kamar itu sudah lama tidak di tempati,"
"Tidak masalah. Yang penting aku memiliki tempat tinggal gratis, hahaha..." Reno tertawa, sedangkan Zian hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
"Tiang jelek, sedang apa kau disini? Dan koper itu untuk apa?"
Sontak saja Reno menoleh dan mendapati Luna berdiri di sampingnya dengan tatapan bingung. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Sudut bibir Reno tertarik keatas, pria jangkung itu meletakkan kopernya kemudian merentangkan kedua tangannya.
"Luna!!" Reno berseru dan berhambur memeluk Shea
"Mau apa kau??" namun belum sempat tangan Renk mendekap tubuh wanita itu. Sepasang tangan seputih dan sehalus porselen lebih dulu mendorongnya hingga pria itu terhuyung kebelakang.
"Aissshhh, kau kasar sekali, Luna? Padahal aku cuma ingin memelukmu!" Reno merengut kesal karna penolakan Lun.
"Cihh!! Memangnya siapa kau sampai-sampai ingin memelukku? Tidak boleh! Cuma Zian Oppa dan ayah saja pria yang boleh memelukku," Luna menjulurkan lidahnya dan hal itu membuat Reno semakin kesal.
Sedangkan Zian yang melihat langsung perdebatan mereka hanya bisa menghela nafas. Zian menggelengkan kepala, dia tidak merasa heran lagi dengan Luna dan Reno yang tidak pernah bisa akur ketika bersama. Hal semacam ini memang kerap terjadi, dan pemandangan semacam itu sudah tentu bukan hal baru lagi bagi Zian. Zian tidak lagi terganggu, karna hal itu sudah sangat biasa baginya.
"Mulai malam ini sampai beberapa hari kedepan, Reno akan tinggal bersama kita. Apartemen Reno sedang direnovasi!" ujar Zian memaparkan.
Luna menoleh dan menatap Renk penuh selidik. "Benarkah itu?" Reno mengangguk antusias.
Luna melipat kedua tangannya, seringai tipis terlukis menghiasi wajah cantiknya. Melihat seringai misterius Luna membuat perasaan Reno menjadi tidak enak, Ia memiliki firasat buruk. "Tidak masalah, asal kau bisa mengikuti aturanku. Setiap pagi aku dan Zian Oppa selalu membagai tugas, dan mulai besok pagi kau akan mengambil tugasku untuk bersih-bersih, sementara aku dan Zian Oppa akan menyiapkan sarapan. Kau boleh menempati kamar tamu!"
"Huaaa... Gonawo, Luna... Kau memang yang terbaik!" Reno memeluk Luna dan kali ini tidak ada penolakan.
"Oppa, sebaiknya kau mandi dulu. Setelah ini makan malam sama-sama. Tadi Ibu datang dan membawakan kita makan malam!"
Zian bangkit dari duduknya dan menghampiri Luna, tanpa aba-aba Zian menarik tengkuk wanita itu dan mencium bibir ranumnya dengan sedikit memagutnya. Tidak ada penolakan dari wanita itu, bahkan Luna tidak segan meskipun ada Reno disana.
Lengkungan panjang lolos dari bibir Luna ditengah ciuman panasnya ketika lidah Zian menerobos masuk ke dalam mulunya dan mengobrak abrik bagian dalamnya. Lidah Zian mengabsen setiap inci dalam rongga mulut wanita itu dan sesekali mengajak lidah Luna untuk menari bersama.
__ADS_1
Tangan Zian seakan tak ingin dianggurkan begitu saja. Salah satu tangannya mengusap punggung Luna yang hanya berbalut kain tipis, sedangkan tangan satu lagi Zian gunakan untuk meremas buah dadanya. Gerakan kepala mereka pun tak mau kalah. Zian dan Luna menggerakkan kepalanya seirama.
Sementara itu, Reno yang lagi-lagi harus ternoda matanya karna live kiss Zian-Luna hanya bisa terdiam dengan mulut mengangga. Cairan merah mengalir dari lubang hidungnya. Reno mimisan melihat adegan panas didepan matanya itu.
"Me--me--re--ka berdua!!! KYYYAAAA MEREKA MESUM! Dasar pasangan gila" Reno menjerit histeris setelah kesadarannya kembali.
Dan ciuman mereka benar-benar berakhir setelah Zian menyadari bila sang istri mulai kehabisan nafasnya.
Mereka berlomba-lomba untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya, untuk mengisi paru-paru mereka yang mulai kosong. "Istirahat selesai!" kata Zian yang kemudian memagut bibir Luna untuk yang kedua kalinya. Namun ciuman kali ini lebih singkat dari sebelumnya. Zian melepas tautan bibirnya, bibirnya beralih pada kening Luna dan pergi begitu saja.
"Kenapa!!!" Luna bertanya ketus pada Reno yang sedang menatapnya. Laki-laki itu menggeleng cepat.
"Kau tidak ingin mandi? Apa kau tidak lapar?"
Reno segera tersadar, buru-buru Ia mengambil kembali kopernya dan melesat kedalam kamar tamu. Luna menghela nafas panjang. Beranjak dari ruang tamu, Luna kembali ke kamarnya yang berada dilantai dua.
Cklekkkk!!!
Pintu bercat putih itu terbuka dari luar, gemercik air yang mengalir dari shower terdengar seiring langkah kaki Luna yang semakin dalam. Tanpa ragu Luna membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci, kemunculan Luna sontak saja membuat Zian yang berada di dalam sedikit tersentak.
Namun raut terkejutnya tersamarkan dengan seringai nakal yang tercetak diwajah tampannya. Zian beranjak dari tempatnya dan menarik lengan Luna. Detik berikutnya, pergulatan bibir terjadi dibawah guyuran air shower. Zian memagut bibir Luna dengan ganas, laki-laki itu menekan tengkuk Luna untuk semakin memperdalam ciumannya.
Tidak cukup sampai disitu, pergulatan lidah mereka semakin lama semakin memanas hingga terdengar kecapan-kecapan dari lidah mereka. Kedua tangan Luna mengalung pada leher Zian sedangkan kedua tangan Zian gunakan untuk memeluk pinggang ramping Luna untuk semakin menyatukan tubuh mereka. Tidak ada jarak lagi, rasa dingin dari air shower yang mengucur tidak terasa sama sekali, terkalahkan dengan panasnya pergupatan bibir mereka.
"Segera ganti pakaianmu, kau bisa sakit jika terlalu lama memakai pakaian basah seperti ini!" Luna mengangguk, diraihnya tengkuk Zian dan mencium singkat bibirnya.
Luna mengurai senyum tipis dibibirnya. "Kau juga, Oppa. Segera selesaikan mandimu aku dan Reno akan menunggumu dibawah!" Zian tersenyum tipis kemudian mengangguk.
Luna menutup kembali pintu kamar mandi. Wanita itu keluar hanya dalam balutan handuk putih, Luna segera mengganti pakaiannya dan bergegas menghampiri Reno yang mungkin saat ini sudah menunggu dirinya dan Zian di meja makan.
.
.
Setelah acara makan malam selesai. Luna mulai melakukan pekerjaannya, wanita itu duduk diruang gelap. Di depannya terpampang layar monitor yang sudah menyala.
Jari-jari lentinya terus menari dengan lincah diatas kyboard-nya. Tatapannya begitu serius, bola matanya bergerak membaca rentetan kata yang tersusuk rapi di depannya.
Luna berencana membatu Zian meringgankan pekerjaannya. Dia tau jika saat ini suaminya itu sedang berusaha menghancurkan sebuah perusahaan yang di pimpin oleh seorang CEO muda bernama Derby Qin. Luna sudah mendengar sendiri dari mulut suaminya mengenai permusuhan diantara mereka berdua.
Gerakan jari-jari lentinya terhenti untuk beberapa saat. Lalu tangan lentik itu menggerakan mousenya selama beberapa saat, benda elektronik yang memancarkan sedikitnya 8 warna lampu yang berbeda itu terdiam, seiring dengan terhentinya gerakan tangan Luna pada mousenya. Wanita itu termanggu di depan layar komputernya..
"Ohh, jadi bajingan itu menyewa seorang hacker juga? Oke, kita akan memasuki permainan yang sesungguhnya!"
__ADS_1
Jari-jarinya kembali menari di atas keyboard hitam-nya. Sederet kode rumit yang merupakan bahasa pemrogaman tingkat tinggi tersusun dengan rapi dan memenuhi layar komputernya.
'Mencoba bermain-main denganku......
Jemari telunjuknya menekan tombol enter dengan cukup keras. Setelah menunggu cukup lama, muncul tulisan merah dilayar komputernya yang membuat seringai dibibir Luna semakin lebar..
....Sama saja dengan bunuh diri. Karna---- Leonil Luna tidak pernah gagal!"
-
Jam di dinding dapur telah menunjukkan pukul 07.00. Luna tersenyum puas memandang hasil masakannya yang telah tersaji dengan rapi di atas meja makan. Tugasnya telah selesai dan yang perlu Ia lakukan saat ini hanyalah menunggu kedatangan Zian. Karna tidak mungkin Ia sarapan tanpa suaminya dan jangan lupakan satu mahluk lagi yang sejak kemarin menumpang hidup padanya dan Zian.
Meskipun hasilnya belum terlalu sempurna. Namun Luna mulai bisa memasak setelah dia belajar dengan giat pada Ibunya. Kalina tidak merasa keberatan sama sekali, dia justru senang karena bisa mengajari putrinya yang payah itu memasak.
Luna menarik kursi di depannya dan menempatkan tubuhnya dengan nyaman di sana.
Sesekali Luna melirik pada jam yang tergantung di dinding, sudah hampir 15 menit namun belum ada tanda-tanda jika kedua pria itu akan segera datang. Sambil menunggu mereka, Luna memainkan ponsel pintarnya. Seringai lebar terpatri di wajah cantiknya ketika melihat berita terhangat pagi ini.
"Jangan bilang itu adalah ulahmu?" tegur seseorang dari arah belakang.
Sontak Luna menoleh, terlihat Zian datang dalam balutan kaus putih tanpa lengan dan jeans hitam panjang. Luna tersenyum hangat menyambut kedatangan laki-laki itu. Luna bangkit dari duduknya dan sebuah ciuman mendarat lembut mendarat mulus di bibir merah mudanya.
Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian saat laki-laki itu memperdalam ciumannya. Lidah Zian menekan pertengahan bibir Luna dan mencari akses masuk ke dalam mulut wanita itu kemudian mengobrak abriknya, lidah Zian bergerak dengan liar di dalam sana. Mengabsen deretan gigi putih wanitanya dan sesekali mengajak lidah itu menari bersama.
Zian benar-benar melepaskan tautan bibirnya ketika Luna mulai kehabisan nafasnya."Tunggu, bagaimana kau tau, Oppa??" Luna memandang Zian bingung.
"Bagaimana mungkin dia tidak tau, apa kau meragukan kejelihan suamimu ini?" ucapnya. Luna menggeleng
"Sama sekali tidak, Oppa. Hanya ini yang bisa aku masak, persediaan dikulkas sudah mulai menipis. Jadi aku masak seadanya saja!"
"Tidak masalah, karena ini sudah lebih dari cukup!" Luna mengangguk. "Setelah sarapan, aku akan menemanimu belanja!" kata Zian yang segera dibalas anggukan oleh Luna.
"Yakk!! Kalian berdua, apa kalian melupakan keberadaanku di sini?" seru Reno menengahi obrolan suami-istri tersebut. "Sudahlah, ayo kita sarapan... Aku sudah sangat lapar," Reno mendahului Zian dan Luna membuat wanita itu mendengus berat. Yang tuan rumah siapa yang mengatur siapa? Tapi Luna tak ingin ambil pusing.
Ketiganya menyantap sarapannya dengan tenang, tidak ada perbincangan diantara mereka bertiga. Hanya terdengar dentingan piring dan sendok yang saling bersentuhan. Luna mengangkat wajahnya, memandang Zian yang sedang menyantap sarapannya. Seulas senyum terpatri di wajah cantiknya, betapa Ia sangat beruntung karna memiliki suami yang begitu menyayangi dan mencintainya.
Awalnya Luna berpikir akan sangat sulit ketika hidup satu atap dengan suami dingin dan irit bicara seperti Zian, tapi ternyata semua fikirannya itu salah. Luna justru merasa jika hidupnya semakin berwarna dengan kehadiran Zian disisinya.
Acara sarapan pagi keluarga kecil itu pun selesai, Zian menuntut supaya Reno membantu Luna membereskan sisa makanan yang ada di dalam wadahnya. Zian meletakkan wadah dan piring-piring itu di wastafel lalu mencucinya.
Reno bertugas meletakkan wadah yang telah bersih ke dalam tempatnya. Tujuannya adalah untuk meringankan pekerjaan Luna.
-
__ADS_1
Bersambung.