
Seorang wanita terlihat meliukkan tubuhnya memasuki sebuah cafe yang terletak di pusat kota Seoul. Di dalam cafe itu sudah ada orang lain yang sepertinya sudah menunggu kedatangannya.
Wanita itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. "Maaf, aku terlambat. Apa kau sudah menunggu lama?" tanya wanita itu seraya menarik kursi didepannya kemudian duduk disana.
"Langsung saja, Cherly-ssi. Sebenarnya untuk apa kau mengajakku bertemu di sini?" tanya Viona to the poin.
Alih-alih menjawab. Cherly malah menundukkan wajahnya. "Viona, aku ingin meminta maaf padamu. Aku tau jika semua yang aku lakukan padamu dan Nathan oppa selama ini tidak mungkin bisa termaafkan. Aku menyadari semua kesalahanku pada kalian berdua, terutama kesalahanku padamu. Dan dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku sungguh-sungguh ingin minta maaf padamu," ujar Cherly sambil menundukkan wajahnya.
Viona mencoba menemukan kebohongan dari sorot mata Cherly tapi tidak ada, justru penyesalan-lah yang Viona tangkap dari manik hitamnya. Dia tau Cherly tulus dan dia bersungguh-sungguh.
Cherly menatap langsung kedalam manik hazel Viona. "Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku, tapi kau harus tau jika aku bersungguh-sungguh dan aku menyesali semua perbuatanku padamu. Terus terang saja. Aku sudah tidak tahan dengan kelakuan Rio, Frans dan Satya. Mereka tidak hanya membuat buruk hari-hariku, tapi mereka nyaris saja membuatku gila. Aku ingin lepas dari mereka, aku menginginkan kehidupan yang normal lagi seperti sebelum mereka datang dan membuat buruk hidupku," ujar Cherly panjang lebar.
Cherly benar-benar sudah tidak tahan dengan kelakuan Rio dan kedua paman kecilnya. Cherly merasakan kehidupan seperti di neraka karna tingkah ajaib mereka. Dan satu-satunya cara supaya mereka melepaskan dirinya, adalah dengan berdamai dengan Nathan dan Viona.
"Aku pasti akan memaafkanmu jika kau benar-benar tulus dan bersungguh-sungguh,"
"Aku bersungguh-sungguh, aku benar-benar ingin berdamai denganmu," jawab Cherly cepat.
"Baiklah, aku akan mrmaafkanmu," Viona tersenyum.
Cherly ikut tersenyum juga. "Terimakasih, Viona. Kau sungguh berhati besar, sekarang aku mengerti kenapa Nathan Oppa lebih memilihmu dari pada diriku. Kau benar-benar wanita yang baik dan luar biasa, Viona Anggella. Aku sungguh kagum padamu, kau memiliki hati yang besar."
"Kau terlalu memuji, aku tidaklah sebaik dan sehebat itu," Viona merasa malu.
Cherly terkekeh. "Kau terlalu merendah, Nyonya muda Lu. Dan apakah sekarang kita bisa berteman?" Cherly menatap Viona ragu-ragu. Wanita berparas cantik itu lantas mengangguk.
"Ya, kita adalah teman mulai sekarang," dan kemudian mereka berpelukkan selama beberapa detik. Cherly merasa lega karna Viona mau memaafkan dirinya.
Brakk..
Dorr...
Dorr...
Para pengunjung cafe termasuk Viona dan Cherly terlonjak kaget saat mendengar dobrakkan keras pada pintu masuk cafe di tambah suara tembakkan di udara yang membuat suasana menjadi sangat tegang dan mencengkam.
Semua orang berhamburan menyelamatkan diri termasuk kedua wanita cantik itu. Tanpa banyak berfikir Cherly langsung menarik lengan Viona dan membawanya berembunyi di bawah kolong meja.
Mereka berteriak supaya semua orang mau menyerahkan harta bendanya dan tidak ada yang melawan. Karna ketakutan, orang-orang itu pun menuruti dan segera memberikan harta benda yang mereka miliki pada para perampok bersenjata tersebut.
"Vio, bagaimana ini? Bagaimana jika mereka menghabisi kita?" bingung Cherly sedikit panik.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Bantuan akan segera tiba," Viona mencoba menenangkan Cherly. Jika dirinya tidak dalam keadaan hamil. Mungkin dirinya bisa mengambil tindakkan, tapi masalahnya saat ini dirinya sedang berbadan dua dan Viona tidak ingin mengambil resiko yang besar.
Viona mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Nathan tapi nomornya tidak aktif, dan Viona ingat jika suaminya sedang meeting dengan rekan bisnisnya yang dari Dubai. Akhirnya Viona memutuskan untuk menghubungi Alex.
"Nona, tetaplah di sana, dan jangan coba-coba untuk mengambil tindakkan apapun. Aku, Xion, Zain dan Milen akan segera tiba,"
"Aku menunggu kalian,"
Viona menyembulkan kepalanya keluar. Beberapa orang menjadi tawanan mereka. Jumlah mereka lebih dari sepuluh orang dan semua bersenjata, pasti Tao akan sangat kesulitan menghadapi mereka seorang diri.
"Huwaaa... Rupanya ada dua bodadari di sini. Kalian fikir kalian bisa sembunyi dariku? Hahaha,"
__ADS_1
"Pergi kau," dengan brutal Cherly memukul kepala pria itu dengan tasnya setelah sebelumnya menarik lengannya hingga membuatnya tersungkur. Tidak hanya Cherly saja, tapi Viona juga. Wanita yang tengah berbadan dua itu mengunci leher pria tersebut sehingga dia tidak bisa bernafas dan akhirnya mati. "Kau tidak apa-apa?" tanya Cherly memastikan.
Viona mengangkat lengannya yang terluka oleh sabetan benda tajam milik pria itu. "Hanya luka kecil, lalu bagaimana dengan kau sendiri?"
"Aku baik-baik saja,"
Dorr...
Dorr..
Dorr...
Suara tembakkan beruntun dari arah luar membuat perhatian Viona terlihkan. Dan wanita itu menghela nafas lega setelah melihat siapa yang datang. Dan kurang daru 10 menit, Alex dan yang lain berhasil mengatasi mereka semua.
"Nona, Anda tidak apa-apa?" tanyanya memastikan. Viona menggeleng, meyakinkan pada Alex jika dirinya baik-baik saja.
Dan untuk sejenak Cherly terpaku menatap sosok tampan yang berdiri dihadapannya. Mata hitam miliknya tak berkedip sedikit pun ketika memandang sosok kekar nan gagah tersebut. Dan muncul rona merah diwajahnya ketika dia menoleh dan membuat mata mereka saling bersiborok.
Raut wajah Alex tak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Meskipun sempat muncul rona merah di kedua pipinya. Dan Viona yang menyadari hal itu diam-diam menarik sudut bibirnya. Dan sebuah ide muncuk dikepalanya. "Cherly, bukankah kakimu sedikit terkilir saat berusaha membawaku berlindung tadi?"
"Hah," dan Cherly yang kebingungan hanga bisa terbengong setelah mendengar apa yang Viona katakan.
"Alex, tolong antarkan temanku ini pulang ya," Viona mendorong Cherly hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukkan Alex, rona merah muncul di kedua pipi mereka saat kedunya bersinggungan karna ulah jahil Viona.
"Viona, apa-apaan ini?" bisik Cherly lirih.
Alih-alih menjawab, Viona malah terkekeh membuat Cherly semakin kebingungan dibuatnya. Dan sepertinya Cherly masih belum menyadari sesuatu, jika sebenarnya Viona memang sengaja melakukannya.
Cherly menyembulkan kepalanya dari bahu Alex dan mencoba meminta penjelasan dari Viona. Viona terkekeh seraya melambaikan tangannya.
"Aahh. Sakit," Viona terlonjak kaget saat merasakan sesuatu yang dingin namun terasa perih menyentuh lengannya yang terluka. Sontak dia menoleh dan mendapati Tao berdiri disampingnya sedang nyengir kuda. "Yakk!! Panda, pasti kau sengaja ya? Ahh, sakit. Tao, kau sudah bosan hidup ya!" amuk Viona pada Tao.
"Aissh. Nona Boss, kau ini benar-benar wanita kejam yang tidak tau berterimakasih ya? Jelas-jelas aku hanya ingin membantumu, tapi kau malah bersikap kejam padaku!"
"Ohh. Sudah mulai berani kau ya? APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP!! Baiklah, aku akan meminta Nathan Oppa supaya memecatmu. Biar kau tidak bisa menghidupi kucing-kucing liarmu lagi!" tegas Viona dan pergi begitu saja.
Sontak kedua mata Tao membelalak saking kagetnya. "Omo!! Nona Boss, tunggu!!!"
-
Kabar yang terjadi di cafe sudah sampai ketelinga Nathan. Alex berhasil menghubunginya dan memberitaunya perihal apa yang terjadi di sana, Alex juga mengatakan jika Viona nyaris menjadi salah satu korban. Nathan yang nendengar kabar itu langsung meninggalkan rapat dan melenggos pergi, beruntung ada Bima yang bisa mengambil alih.
Mobil yang Nathan kendarai melaju kencang pada jalanan pada jalanan yang padat kendaraan. Nathan membuka ponselnya dan mendapati beberapa panggilan tak terjawab dan semua dari Viona. Bungsu dalam keluarga Lu itu semakin mempercepat laju mobilnya, Nathan tidak akan pernah merasa tenang jika belum melihat sendiri bagaimana kondisi Viona dan janinnya saat ini.
Kurang dari dua puluh menit berkendara. Nathan pun tiba dikediamannya. Pria itu melenggang masuk dan mendapati Viona tengah berada di ruang keluarga dengan Tao yang sedang mengobati luka pada lengannya.
"Sakit!! Tao pelan-pelan," jerit Viona histeris.
"Aish, Nona Boss. Ini juga sudah pelan-pelan, jangan manja deh," omel Tao yang kemudian dihadiahi sebuah timpukkan majalah oleh Viona. "Appo...Nona Boss, sakit," kini giliran Tao yang histeris karna kesakitan.
"Mampus kau Tao, memangnya aku peduli," Viona menjulurkan lidahnya kemudian tertawa. Sedangkan Tao langsung menekuk wajahnya. "Hahaha,"
Dan sekarang Nathan bisa menghela nafas lega setelah melihat Viona baik-baik saja. Dan kedatangan Nathan langsung mengalihkan perhatian keduanya. "Oppa, kau sudah pulang," seru Viona kemudian bangkit dari posisinya. Wanita itu menghampiri Nathan yang langsung menariknya ke dalam pelukkannya.
__ADS_1
"Aku lega melihatmu baik-baik saja, maaf Sayang karna tidak bisa datang menolongmu. Aku sangat-sangat menyesal karna sudah mematikan ponselku,"
Viona menggeleng. "Tidak apa-apa, Oppa. Lagi pula aku baik-baik saja dan hanya mengalami sedikit luka." Tutur Viona meyakinkan.
"Aku lega,"
"Oppa,"
"Hm,"
"Tribal," renggek Viona sambil mengunci manik kanan milik Nathan. Nathan mendesah berat.
"Baiklah, aku akan mengganti pakaianku sekarang," dan Viona langsung bersorak senang setelah mendengar jawaban Nathan. Dia tau jika Nathan tidak akan mengecewakan dirinya. Dan keduanya berjalan beriringan menuju kamar mereka yang berada dilantai dua.
-
"KYYYAAAA!!! SETAN!!!"
Suasana rumah yang semula tenang seketika menjadi gaduh karna ulah Rio Frans dan Satya. Senna tidak tau apa lagi yang sedang dilakukan oleh mereka lakukan kali ini. Senna yang sedang tidak ingin ambil pusing melanjutkan kembali kegiatan memasaknya yang sempat tertunda.
Selang beberapa saat kemudian tampak Tiffany menghampiri kakak iparnya tersebut. "Eonni, apa lagi yang mereka lakukan kali ini?" Senna mengangkat bahunya tanda tak tau. "Eonni, apa yang bisa aku bantu?"
"Cuci buah dan sayurnya kemudian potong kentang dan wortelnya," Tiffany mengangguk.
Dan sementara itu. Kegaduhan dilantai dua masih terus berlanjut. Suara pekikkan dan gelak tawa datang dari salah satu kamar dilantai dua. Senna dan Tiffany yang mendengar jelas hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. Terkadang Senna berfikir kapan mereka bisa bersikap dewasa.
"Yakk!! Paman, cepat kembalikan dot itu padaku. Huaaa, jangan menyitanya lagi. Tanpa doi itu bagaimana aku bisa tidur dan mimpi indah malam ini."
"Rio... Rio... si kolor pink bermotif panda.. Kemarilah, biarkan aku memakanmu,"
"KYYYAAA!! SETAN!!"
Brugg...
"Ahhh. Pinggangku!!" pekik Frans sambil memegangi pinggangnya yang serasa mau patah. "Yakk!! Bocah, kenapa kau malah menendangku?"
"Hehehe, reflex Paman. Lagi pula salahmu sendiri, kenapa kau harus menakut-nakutiku!! Kau tau sendiri bukan jika aku itu takur hantu!!"
Mata Rio membelalak saat Satya menunjukkan botol dotnya lalu menjulurkan tangannya ke luar jendela seolah-olah mau menjatuhkan dot tersebut. "Kkkyyyaaa!! Paman, Jangan!!" teriak Rio histeris. "Huaa... Hiks, Paman cepat kembalikan dot susuku, kenapa kalian begitu jahat padaku sih? Kenapa kalian harus menindasku? Apa salahku? Hiks, kalian begitu kejam. Oh Tuhan, tolonglah hambamu yang teraniaya ini. Lindungi hamba dari para durjana yang terkutuk, Tuhan. Hamba adalah pemuda manis, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung. Tapi kenapa mereka begitu jahat padaku? KENAPA TUHAN!!"
"Mulai lagi," batin Satya dan Frans melihat Rio yang mulai mendrama.
Rio menangis dan berteriak sambil sesekali meneteskan obat tetes mata pada kedua matanya seolah-olah dirinya benar-benar sedang mslenangis. "Tuhan!! Kabulkan doaku ini, dan tolonglah... kutuk mereka menjadi BU-DI!!" sontak kedua mata Frans dan Satya membelalak, mereka saling bertukar pandang dan...
"TIDAK!!! JANGAN MENGUTUK KAMI JADI BUDI!!!"
"Hahahha! Siapa suruh kalian menindasku, dan aku percaya jika Tuhan akan memgabulkan doaku, karna doa orang teraniaya itu akan mudah dikabulkan oleh Tuhan. Aku keluar dulu, sampai jumpa Paman B.U.D.I!! Hahahha."
Rio melambaikan tangannya pada kedua paman kecilnya. Awalnya mereka yang hendak menjahili Rio, tapi endingnya malah mereka sendiri yang dikerjai oleh pemuda itu.
-
Bersambung.
__ADS_1