Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 55) "Luna Tertembak"


__ADS_3


Riders jangan lupa baca novel baru Author ya. Yang udah ganti judul jadi ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM jangan lupa buat tinggalkan like komentnya ya 🙏🙏🤗🤗


-


Jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan, tetapi Zian belum juga tiba di mana dia akan bertemu dengan beberapa koleganya. Reno gelisah melihat kearah pintu ruangan.


Berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel Zian, tapi selalu tidak ada jawaban. Reno hanya ingin memastikan apakah Zuan sudah berangkat atau belum.


Ada dua alasan mengapa Reno menantikan kedatangan atasannya tersebut. Reno benar-benar panik dan cemas. Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan. Reno berlari keluar, tapi mobil Zian masih belum juga tampak diparkiran.


"Zian Qin, di mana kau sebenarnya? Astaga, lama-lama aku bisa gila jika seperti ini," gumam Reno setengah frustasi.


Baru saja Reno hendak kembali keruangan, tapi hal itu dia urungkan saat melihat kedatangan Zian. Pria itu terlihat begitu tenang dan raut wajahnya tak menunjukkan kepanikan sedikit pun, sangat berbeda dengan Reno yang sudah mirip dengan cacing kepanasan.


"YAKK!! MANUSIA KUTUB!! DARIMANA SAJA KAU INI? APA KAU TIDAK TAU JIKA AKU HAMPIR GILA KARNA DIRIMU!!" teriak Reno setengah mencak-mencak di depan Zian.


Pria itu memutar jengah kedua matanya."Kita masih memiliki waktu dua puluh menit lagi. Dan satu lagi, gajimu bulan ini dipotong 30% karna sudah berani membentakku!!"


Sontak kedia mata Reno membulat."APA? DIPOTONG 30%? YAKK!! RUSA, KENAPA SEMAKIN HARI KAU SEMAKIN KEJAM SAJA?" protes Reno. "Jika gajiku dipotong sampai 30%, lalu bagaimana aku bisa menghidupi lima kucing liarku?" Reno sedikit frustasi.


"Baiklah kalau begitu 40%


"YAKK!!"


"Daripada kau kebanyakkan protes, sebaiknya segera siapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk rapat hari ini dan kau ikut keruangan." Tegas Zian tak ingin dibantah.


"Aku ikut?" tanya Reno heran.


"Kenapa? Kau keberatan? Kalau begitu gaji akan dipotong 50%,"


"JANGAN!!! Baiklah, aku ikut ke ruangan," ucap Reno pada akhirnya. Zian menyeringai. Menepuk-nepuk kepala Reno dan pergi begitu saja.


"Bagus,"


"Astaga, bagaimana bisa aku terjebak dengan Iblis seperti dia. Jika begini terus, lama-lama aku bisa mati muda, dasar Iblis sialan kau, Zian Qin," Reno terus saja menggerutu. Berhadapan dengan Zian memang membutuhkan tingkat kesabaran yang sangat ekstra.


"Aku mendengarnya, bodoh!!"


.


.


Pertemuan Zian dengan para koleganya berakhir lebih cepat dari yang perkiraannya. Semua berjalan lancar dan Zian akan mendapatkan untung yang sangat besar jika proyek kerjasama mereka berjalan lancar.


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Zian dari tumpukan kertas yang penuh dengan uang didspannya. Pria itu mengangkat wajahnya dan mendapati Reno berjalan menghampirinya.


Zian memicingkan matanya melihat mimik wajah Reno. Pria itu menekuk wajahnya dan bibirnya sedikit manyun.


"Ada apa dengan wajahmu itu?"


"Apa kau tidak melihat jika aku sedang frustasi. Aku terancam kehilangan beberapa surga dunia yang aku miliki. Kucing-kucing liarku sudah pasti akan melarikan diri jika mereka tau gajiku akan kau potong sebesar itu,"


"Hn, itu artinya kau sudah memelihara kucing liar yang salah," Zian menyahut cepat.


"Yakk!! Aku serius, kenapa kau menanggapinya seperti itu?"

__ADS_1


Zian mengangkat wajahnya. "Lalu aku harus menanggapinya seperti apa? Lagipula salahmu sendiri karna asal memelihara kucing liar. Jika tidak ada kepentingan lagi, sebaiknya keluar sana. Aku masih banyak pekerjaan,"


Reno menatap Zian tidak percaya. Pria itu menggepalkan tangannya sambil menggeram frustasi di depan Zian saking gemasnya. Rasanya dia ingin sekali merebus Zian hidup-hidup di dalam kuali raksasa supaya sifat menyebalkannya itu bisa hilang. Sedangkan Zian tak ingin terlalu ambil pusing apalagi terlalu memikirkannya.


Zian menggulirkan pandangannya dan waktu sudah menunjuk angka 4 sore. Rasanya malam ini dia akan pulang sedikit terlambat karna pekerjaannya yang menumpuk.


Zian meraih ponselnya yang ada di atas meja kemudian mengirim pesan singkat pada Luna dan mengatakan jika malam ini dirinya akan pulang sedikit terlambat karna pekerjaan yang menumpuk. Dalam pesan itu, Zian mengatakan pada Luna jika dia tidak perlu menunggunya karna dirinya pulang sedikit terlambat.


Zian hanya tidak ingin Luna terus menunggu kepulangannya dengan cemas jika dirinya tidak memberikan kabar sama sekali


-


Lampu-lampu sepanjang kota Berlin terlihat sangat indah ketika malam tiba. Wanita cantik itu tengah memperhatikan kerlipan lampu-lampu malam kota Berlin dari jendela hotel tempatnya menginap dengan tatapan tak terbaca.


Entah apa yang dipikirkannya, namun dari gurat wajahnya menandakan jika dia tengah memikirkan sesuatu.


Tokk... Tokk...


"Nunna, apa kau ada di dalam?" ketukan pada pintu dan seruan dari luar kamar mengalihkan perhatiannya.


Wanita itu 'Luna' Beranjak dari balkon dan berjalan menuju pintu. Saat pintu terbuka, tiga sosok pemuda tampanlah yang petama kali tertangkap oleh mata coklatnya. "Ada apa?" tanya Luna sedikit datar.


"Bibi, kami lapar. Bagaimana kalau kita makan malam di luar saja?" renggek Rio sambil memegangi perutnya yang sudah keroncongan dari tadi.


"Masuklah dulu, aku akan bersiap-siap,"


Setelah mengganti pakaiannya. Luna menghampiri trio kadal yang sedang menunggunya. Tak lupa Luna mengirimkan pesan singkat pada Zian dan memberitaunya jika dirinya akan makan malam di luar bersama Rio dan kedua paman kecilnya.


Frans memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana jeansnya. "Nunna, kau sudah siap?" tanyanya memastikan.


"Oke," dan ketiganya menjawab dengan kompak.


-


Soojin baru saja menginjakkan kakinya di Berlin Tegel Airport.


Berlin Tegel Airport sendiri merupakan bandara internasional di kota Berlin, ibu kota Jerman. Meskipun melayani penerbangan di ibu kota, bandara ini hanya melayani 20 juta penumpang pertahunnya, menjadikannya sebagai bandara tersibuk keempat di Jerman.


Soojin menghentikan langkahnya sejenak. Pandangannya kemudia menyapu, banyak sekali manusia yang hilir-mudik disekelilingnya. Siapa yang menduga jika wanita itu akan tiba di Berlin hanya demi satu tuan, yakni menghalangi Zian dan Luna bersenang-senang.


Setelah mendapatkan informasi jika saat ini Zian dan Luna sedang berada di Jerman. Soojin-pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk segera menyusul mereka berdua.


Soojin menutup matanya dan mengambil nafas dalam-dalam. Seringai tajam tercetak jelas di bibir merah meronanya. Soojin sudah tidak sabar melihat bagaimana reaksi mereka berdua terutama Luna saat melihat keberadaannya di Berlin.


"Nyonya, kami sudah memesankan taxi untuk Anda, dan sekarang taxi itu menunggu Anda di luar. Dan mengenai keberadaan Zian dan wanita itu, kami masih belum menemukannya,"


"Tidak masalah.Toh, aku juga baru saja tiba. Kita biarkan saja mereka berdua bersenang-senang untuk saat ini, sebelum kita berikan sebuah kejutan yang sangat manis untuk mereka berdua," tutur Soojin dengan seringai tajam andalannya.


"Sesuai perintah Anda, Nyonya,"


-


Bukan lagi sebuah rahasia bila Berlin menjadi magnet bagi para wisatawan di seluruh penjuru dunia. Salah satu kota metropolitan di dunia ini banyak menyajikan pemandangan unik dan menarik.


Di setiap sudut Ibu Kota Republik Federal Jerman ini, begitu banyak ditemukan bangunan artistik yang memiliki jiwa seni tinggi, baik itu bangunan tua maupun modern. Ada pula berbagai restoran dan cafr tematis berkelas dunia yang mampu memanjakan para pencinta kuliner.


Selain itu, jangan pernah lupakan pemandangan alamnya yang tidak kalah menarik minat para wisatawan asing maupun domeskik. Untuk sebuah kota metropolitan, Berlin terbilang kota yang masih asri karena sebagian wilayahnya masih hijau.

__ADS_1


Tidak salah bila Berlin menjadi salah satu tempat yang wajib dimasukkan ke dalam agenda tempat-tempat indah yang wajib untuk di kunjungi.


Salah satunya adalah Garten der Welt atau juga di sebut sebagai Taman Dunia. Tempat itu berjarak sekitar 15 kilometer dari stasiun utama Kota Berlin, Garten der Welt sendiri berlokasi di sebuah daerah bernama Marzahn.


Sungguh luar biasa bukan? Bagi mereka yang ingin pergi ke tempat yang penuh dengan tempat-tempat indah, maka Berlin salah satu rekomendasinya.


Dan bagi mereka yang lebih tertarik pada seni tinggi dibandingkan disco atau bar, dapat menjelajahi jalan Auguststrasse di Berlin Mitte. 


"Nunna, kemarilah... Bagaimana kalau kita memgambil foto dulu," seru Satya yang telah siap untuk mengabadikan monent mereka.


Satya menarik lengan Luna dan mrenempatkan dia di samping Rio. "Bibi, jangan memasang muka aneh begituM kau harus tersenyum dan katakan...


DORRR...


DORRR...


DORRR...


Rentetan suara tembakkan yang dilepaskan secara membabi buta membuat suasana yang semula tenang menjadi begitu mencekam. Orang-orang berteriak, berlari dan berhamburan melarikan diri, begitu pula dengan trio kadal dan Luna.


Rio segera menarik lengan Luna dan membawanya bersembunyi di tempat yang aman. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba saja datang sekumpulan pria yang wajahnya tertutup kain hitam yang memperlihatkan bagian mata dan mulutnya saja.


Mereka melepaskan tembakannya secara acak pada setiap orang yang ada di sana, baik anak kecil, wanita bahkan sampai lansia menjadi korban dari keganasan mereka.


Mayat-mayat bergelimpangan setelah terkena peluru yang dilepaskan secara membabi buta. Banyak nyawa melayang dengan sia-sia tanpa tau apa kesalahan mereka.


Di tengah keriuan yang terjadi. Terlihat seorang anak kecil yang sedang menangis. Anak itu tampak kebingungan seperti mencari seseorang, mungkin saja orang tuanya? Karna hanya itu hanya sendirian. Tak ada yang peduli, tak ada yang empati, semua berlarian menyelamatkan diri masing-masing.


Menyaksikan hal tersebut. Membuat hati Luna tergerak. Wanita itu tak lantas tinggal diam. Tanpa memikirkan keselamatkannya sendiri. Luna berlari menerjang bahaya untuk memyelamatkan anak tersebut. Tentu saja yang Luna lakukan mengejutkan Rio dan kedua paman kecilnya.


"Bibi, kau mau kemana?" teriak Rio.


"Nunna, kembali," seru Satya memohon.


"Jangan ke sana, itu sangat berbahaya..." kini hiliran Frans.


Seakan tuli. Luna menghiraukan teriakkan ketiga pemuda itu. Desiran peluru berkali-kali nyaris menerjang tubuhnya. Pipi dan lengannya tampak terluka karna tak sengaja terserempet peluru.


DORRR...


Kedua mata Luna membelalak melihat sebuah peluru melesat cepat ke arah anak itu berada. Luna langsung menyambar tubuh bocah laki-laki itu dan memeluknya, sampai akhirnya...


"NUNNA//BIBI!!!"


Satya, Frans dan Rio menjerit histris melihat tubuh Luna terkulai di tanah setelah dada sebelah kirinya tertembus peluru. Ketiga pemuda itu pun segera menghampiri Luna, bahkan mereka juga tidak peduli meskipun nantinya mereka akan tertembak juga. Karna yang terpenting bagi mereka adalah menyelamarkan Luna.


"BIBI, BANGUN. HIKS, CEPAT BUKA MATAMU. BIBI... BANGUN, JANGAN MEMBUAT KAMI TAKUT..!!"


"NUNNA, HIKS.. JANGAN BERCANDA, INI TIDAK LUCU. NUNNA, BANGUN...!"


"KALIAN JANGAN HANYA MENANGIS SAJA, KITA HARUS SEGERA MEMBAWANYA KE RUMAH SAKIT!!" bentak Satya pada dua pemuda dihadapannya.


Satya langsung mengangkat tubuh Luna. Dia tidak bisa membiarkan hal buruk sampai menimpa Luna, bagaimanapun caranya nyawa Luna harus selamat.


"Nunna, aku mohon bertahanlah,"


-

__ADS_1


__ADS_2