Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 63


__ADS_3

Sebelum membaca tinggalkan like dan tambah ke list favorite. Koment sesuai alur cerita 🙏🙏 Dan maaf kalau novelnya masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak kekurangan 🙏🙏🙏 Dukung novel ini sampai tamat 🤗🤗


-


Jam yang menggantung di dinding sudah menunjuk angka 10 malam, tapi Nathan masih disibukkan dengan tumpukan dokumen di meja kerjanya. Harusnya ia sudah pulang sejak tiga jam yang lalu jika saja Bima tidak pulang secara tiba-tiba karna sakit perut, dan endingnya ia harus terjebak dengan tumpukan dokumen yang membuatnya jengah itu.


Nathan mengangkat wajahnya dan menghentikan gerakkan jarinya sejenak ketika mendengar pintu ruangannya diketuk dari luar. "Masuk," pintanya datar, lalu pria itu kembali menekuni tumpukan dokumen yang ada didepannya.


Pintu terbuka dan menampilkan seorang laki-laki berkulit tan lengkap dengan jas hitamnya. Laki-laki itu melangkahkan kakinya mendekati meja CEO muda tersebut dan membungkuk hormat. "Maaf mengganggu Anda Tuan. Saya hanya ingin menyampaikan bila QH corp di America telah menerima permintaan kerjasama yang perusahaan kita ajukan," kata Kai pada laki-laki dihadapannya.


Laki-laki bermanik coklat tajam itu kembali menghentikan gerakan tangannya dan pandangannya kini terfokus pada sekertaris yang merangkap sebagai orang kepercayaannya itu


"Seperti yang kita inginkan. Lagi pula bagaimana mungkin mereka bisa menolaknya dengan penawaran kita yang menggiurkan." katanya dingin.


Kai tersenyum tipis mendengar jawaban puas dari atasannya tersebut. "Anda memang tidak pernah salah dalam hal berspekulasi, Tuan. Dan aku rasa mereka tidak terlalu bodoh sampai-sampai melewatkan kesempatan emas seperti ini." imbuh Kai membuat sudut bibir kanan Nathan tertarik keatas.


Nathan, pria berkebangsaan China yang memutuskan untuk tinggal dan menetap di Seoul, Korea Selatan. Seorang CEO muda di sebuah perusahaan besar dan hampir delapan puluh lima persen perusahaan swasta menengah kebawah bergantung padanya.


Mungkin Nathan tidak menyadari betapa tenarnya dirinya dikalangan konglomerat luar saat wajah tampannya tereksposh di telivisi, koran, majalah bahkan internet. Hampir setiap hari banyak orang yang datang padanya untuk menawarkan sebuah kerja sama.


"Tua , ini sudah hampir tengah malam. Sebaiknya Anda pulang saja. Pasti saat ini Nyonya sedang menunggumu, apalagi Nyonya sedang hamil muda. Dan dari buku yang pernah saya baca, wanita yang sedang hamil muda itu membutuhkan lebih banyak perhatian dari suaminya." ujar Kai panjang lebar.


Natha terdiam mendengar ucapan Kai, membicarakan Viona membuat dia teringat pada wanita itu. Memang benar apa yang Kai katakan. Tidak seharusnya dirinya meninggalkan Viona terlalu lama di saat dia sedang hamil muda. Natha meraih ponselnya yang ia simpan di laci meja kerjanya lalu menghidupkannya, sedikitnya ada sepuluh pesan yang belum terbaca dan semua dari Viona.


Nathan mencari kontak nama Viona lalu menghubunginya, panggilannya tersambung tapi tidak ada jawaban. Nathan berfikir bila Viona pasti sudah tidur. "Kai, aku benar-benar lelah, sebaiknya kau saja yang mengemudikan mobilku," Nathan melemparkar kunci mobilnya pada Kai dan melewatinya bgitu saja.


.


.


Nathan membuka pintu kamarnya dan mendapati Viona telah terlelap dalam tidurnya. Meletakkan jasnya, Nathan menghampiri Viona kemudian duduk di sisi yang sama dengan wanita itu berbaring. Jari-jarinya mengelus kepala Viona penuh sayang, mata kanannya menatap wanita itu dengan sendu. Dan sentuhan Nathan membuat tidur Viona sedikit terusik, kelopak matanya terbuka perlahan hingga terlihat sepasang mutiara hazel yang tampak sayu.


"Oppa,"panggilnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Wanita itu beranjak dari berbaringnya dan posisinya dengan Nathan sekarang duduk saling berhadapan. "Kau baru pulang?" Nathan tersenyum seraya mengangguk. "Mandilah dulu, aku akan menyiapkan makan malam untukmu." Viona hendak beranjak tapi segera ditahan oleh Nathan.


Laki-laki itu menarik lengan Viona dan membawanya kedalam pelukkannya. "Maaf," bisiknya pelan.


Viona mengerutkan dahinya mendengar permintaan maaf Nathan. Seingatnya Nathan tidak pernah berbuat salah. "Maaf, untuk apa?" Viona melonggarkan pelukkannya dan menatap dalam sepasang mutiara hazel itu.


"Karna akhir-akhir ini aku jarang sekali memiliki waktu untukmu," Viona menggeleng. "Tidak apa-apa Oppa, aku bisa mengerti. Kau terlihat lelah, segeralah mandi aku akan menyiapkan makan malam untukmu. Pasti kau belum makan, 'kan?"


"Hm, aku memang tidak sempat makan malam. Pekerjaan di kantor hari ini sangat menumpuk. Tiang gila itu pulang lebih awal karna sakit perut." ujarnya.


Usai makan malam, mereka tidak langsung tidur. Jika sudah terbangun seperti ini pasti Viona akan sulit untuk tidur lagi. Meskipun lelah dan mengantuk, tapi tidak mungkin Nathan membiarkan Viona tetap terjaga sendirian saja.


Saat ini pasangan itu duduk di sofa yang berada dibalkon kamar, Viona duduk sambil menyenderkan kepalanya pada dada bidang Natha yang tertutup piama tidurnya, tangan kanan Nathan melingkari punggung Viona menggunakan kepala coklatnya sebagai sandaran dagunya.

__ADS_1


"Oppa, kelak saat bayi ini lahir kau ingin seorang bayi laki-laki atau perempuan?" tanya Viona sambil memainkan jari-jari Nathan.


Nathan mencium pucuk kepala Viona cukup lama. "Laki-laki atau perempuan bagiku sama saja, yang terpenting kalian berdua sehat dan selamat." jawabnya. Viona mengangkat wajahnya dari pelukan Nathan, raut wajahnya berubah sendu saat melihat benda hitam bertali yang selama satu bulan belakangan ini menutup mata kiri suaminya.


"Ada apa?" tanya Nathan melihat tatapan sendu Viona, wanita itu tersenyum lalu menggeleng


"Tiba-tiba saja aku mengantuk. Oppa, ayo tidur."


"Setelah aku mendapatkan hadiahku," jawabnya seraya mencium bibir Viona.


Natha memperdalam ciumannya dengan melum** bibir ranum Viona, dia menjilati lembut bibir itu. Viona perlahan membuka bibirnya mempersilahkan lidah Nathan untuk mendapatkan akses lebih. Lidah Nathan mulai menginvasi rongga mulut Viona sambil sesekali membawa lidah wanita itu untuk menari bersama.


Kedua tangan Viona mengalung pada leher Nathan, mereka saling merotasikan kepalanya seirama. Tapi sayangnya ciuman itu tidak berlangsung lama, Nathan mengakhiri ciumannya saat menyadari bila Viona mulai kehabisan nafasnya.


Nathan menarik Viona untuk berbaring disampingnya dan membiarkan lengannya menjadi bantalan kepala Viona. Sentuhan dan kecupan lembut Nathan menghantarkan Viona menuju alam mimpinya hanya dalam hitungan detik saja. Nathan tersenyum tipis. Wanita itu terlihat begitu polos, wajahnya seperti bayi ketika sedang tertidur.


Hormon Ibu hamil memang mudah berubah. Terkadang dia bersimap begitu menyebalkan, tapi tiba-tiba dia bersikap dewasa layaknya wanita hamil pada umumnya. Malam ini contohnya. Viona bersikap lebih tenang dan tidak aneh-aneh Tapi apapun itu. Nathan tidak keberatan dan apapun akan dia lakukan selama itu bisa membuat Viona bahagia.


-


Dobrakan keras pada pintu mengalihkan perhatian Nathan yang tengah fokus pada tumpukan dokumen diatas mejanya. Seorang laki-laki setengah babak belur tersungkur dilantai ruangannya


"Jelaskan, apa maksudnya, Kai, Bim?" seru Nathan seraya bangkit dari duduknya.


"Dan karna dia tidak mau membuka mulutnya tentang siapa yang sudah menyuruhnya, terpaksa kami memberinya sedikit pelajaran dasar." Lanjut Bima.


Susah payah laki-laki itu menelan salivanya saat melihat tatapan mematikan Nathan yang super tajam. Meskipun hanya melalui mata kanannya saja, tapi tatapan Nathan cukup untuk membuat nyawanya tercabut secara paksa dari tubuhnya. Laki-laki itu mulai berkeringat dingin saat Nathan mendekatinya, Nathan mensejajarkan posisinya dengan pria di hadapannya.


"Aku tidak akan banyak bertanya padamu. Katakan dengan jujur siapa orang yang telah menyuruhmu?"


"...."


"Diam sama saja dengan kau mempersulit dirimu sendiri."


Laki-laki itu menggeleng "Sa...saya bisa terkena masalah jika bos tau saya membocorkan rahasianya. Saya tidak ingin mati konyol ditangan wanita iblis itu, saya... masih mau hidup." ujar laki-laki itu dengan suara bergetar.


Nathan mendesah berat, matanya yang tajam masih menatap laki-laki ini. "Baiklah, aku akan membiarkanmu tetap hidup untuk kali ini. Kembalilah pada wanita yang sudah menyuruhmu itu dan katakan padanya jika dia sudah membuat masalah dengan orang yant salah. Suruh dia berhenti jika masih ingin tubuhnya tetap utuh dan nyawanya masih melekat pada tubuhnya."


Laki-laki itu pun segera berdiri dan bergegas meninggakan kantor Nathan. Sepertinya menerima pekerjaan itu bukanlah pilihan yang tepat karna dia harus berurusa dengan Iblis seperti Nathan yang sangat jelas tidak memiliki rasa beras kasihan sedikit pun.


"Aku sudah menduganya, jadi dia ingin membalas kematian putra dan mantan suaminya? Baiklah, aku terima tantanganmu dan akan kubuat permainan ini jauh lebih menarik. Kau akan melihat siapa Nathan Lu yang sebenarnya." ujarnya menyeringai


"Kai, terus awasi laki-laki itu,"


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Bima menghampiri Nathan kemudian duduk di sofa berhadapan dengan sahabat esnya itu. Bima mematikan ac dalam ruangan itu kemudian mengambil sebatang rokok dari kotaknyal "Lalu apa rencanamu selanjutnya? Jujur saja, aku penasaran dengan kejutan yang akan wanita itu terima dari Iblis sepertimu." lagi-lagi Nathan menyeringai tajam membuat Bima sedikit merinding.


"Tunggu dan lihat saja," jawabnya masih dengan seringai yang sama.


Bima sungguh-sungguh penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Nathan kali ini. Pasti dia memiliki rencana. San Bima berani bersumpah jika Nathan tengah merencanakan sesuatu yang sangat mengerikan untuk wanita yang sudah berani membuat masalah dengannya.


Tentang apa rencananya, Bima masih berusaha untuk mencari taunya. "Kenapa menatapku seperti itu?"


"Aku sungguh-sungguh penasaran dengan rencanamu itu. Aku berharap kali ini tidak aneh-aneh seperti biasanya." Nathan menyeringai tajam mendengar ucapan Bima.


"Kau memang sangat memahami diriku, Bima Park. Aku berencana untuk merajam tubuh wanita itu kemudian menggilingnya hingga hancur sebelum akhirnya aku buang kelaut sebagai makanan hiu di sana."


Susah payah Bima menelan salivanya, ia merinding sendiri mendengar rencana gila Nathan yang begitu mengerikan. Bima sangat mengenal betul sahabatnya itu, dan Nathan bukanlah tipe pria yang suka bermain-main dengan ucapannya. Jika Nathan sudah berbicara, pasti dia benar-benar akan melakukannya.


"Ck, kenapa kau serius sekali, Bim? Aku tidak mungkin melakukan hal sekeji itu di saat istriku sedang hamil. Aku memang akan memberinya sebuah kejutan, tapi bukan dengan cara sadis seperti itu."


"Huft," Bima mengusap dadanya lega, ia fikir jika Nathan benar-benar akan melakukannya. "Sudah waktunya makan siang, bagaimana jika kita pergi sekarang,"


"Kau duluan saja dan ajaklah, Kai. Viona akan datang sebentar lagi."


"Baiklah, aku pergi dulu." dan dalam hitungan detik sosok Bima sudah menghilang dibalik pintu.


Nathan melepaskan jasnya kemudian meletakkan disandaran kursinya. Menyisahkan kemeja hitam lengan terbuka yang dipadukan dengan vest putih kombinasi hitam. Viona bisa merajuk lagi jika sampai melihat dirinya memakai pakaian lengan panjang. Dan jika sudah merajuk akan sulit mengatasinya. Itulah kenapa Nathan tidak ingin terlalu memgambil resiko kali ini. Dia ingin tenang untuk sebentar saja.


Decitan pintu yang dibuka dari luar mengalihkan perhatian Nathan. Pria itu lantas menoleh pada sumber suara. Nathan mengurai senyuman setipis kertas menyambut kedatangan wanitanya.


Viona datang membawakan makan siang untuknya, pelukkan hangat dan ******* singkat pada bibirnya langsung menyambutnya. "Maaf, tidak bisa menjemputmu di loby," Viona menggeleng kemudian meletakkan makanan-makanan itu diatas meja.


Viona memperhatikan penampikan Nathan dan tersenyum lebar. Suaminya itu memakai pakaian lengan terbuka seperti keinginannya dan hal itu membuat Viona bahagia tak terkira. Suaminya memang yang terbaik. "Oppa, kemarilah. Aku sudah membuatkan banyak makanan kesukaanmu," Nathan mengambil tempat di samping Viona.


Melihat menu yang Viona masak hari ini membuat cacing dalam perut Nathan semakin meronta-ronta. "Seperti biasa, masakanmu memang yang terbaik, Nyonya Lu." Viona tersenyum manis mendengar pujian Nathan akan rasa masakannya. Viona memang sengaja membuat menu yang hampir semua adalah makanan kesukaan Nathan.


Usai makan siang pasangan suami-istri itu duduk di sofa yang berada ditengah-tengah ruangan "Oppa, sepertinya baby Lu sangat merindukan papanya. Apa kau tidak ingin menyapa malaikat kecil kita?" ucap Viona seraya mengusap perutnya yang masih rata.


Nathan menggeser sedikit duduknya lalu mengarahkan wajahnya pada perut Viona yang masih terlihat rata. Senyum hangat tersungging di sudut bibirnya, jari-jarinya mengusap perut Viona dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Hiduplah dengan sehat di dalam sana, Nak. Papa dan Mama akan menunggumu dengan sabar. Jadilah anak yang baik dan jaga serta lindungi Mamamu. Dan Papa pasti akan selalu melindungi kalian berdua. Kali ini Papa tidak akan membiarkanmu pergi untuk yang kedua kalinya." Dan kemudian Nathan mencium perut Viona sebelum akhirnya beralih pada bibir ranum tipisnya yang menggoda.


Bukan ciuman panjang yang memabukkan melainkan ciuman ringan namun penuh kelembutan. "Tunggulah sebentar, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan segera. Setelah ini kita pulang sama-sama." Viona tersenyum kemudian mengangguk


"Baiklah Oppa,"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2