
Yuk baca novel baru Author "Terpaksa Menikahi Mafia Kejam" like koment jangan lupa ya. Di jamin gak bakal nyesel.
-
Sepasang saudara kembar terlihat sibuk berkutat di dapur menyiapkan makan malam. Mereka berdua adalah Luna dan Viona. Karna Luna sangat payah dalam hal memasak, jadi dia hanya bisa membantu Viona semampunya.
Sedikitnya sudah ada sepuluh menu berbeda yang telah tersaji dan tersusun di atas meja. "KYYYAAA...!! MINYAKNYA MELETUP-LETUP. EONNI, HELP ME!!" jeritan histeris Luna menyita perhatian para pria yang sedang mengobrol di ruang keluarga.
Zian yang takut hal buruk terjadi pada gadis ceroboh itu, segera menghampiri Luna di dapur. Setibanya di sana, Zian malah disuguhi sebuah pemandangan yang sangat menggelikan. Di mana Luna yang tengah berjongkok diatas meja sambil memegang tutup panci sebagai tameng untuk melindungi tubuhnya dari cipratan minyak panas.
Zian mendengus geli. Sedangkan Viona hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya. "Luna, sebenarnya aku itu sedang masak atau akrobat?" tegur Zian seraya menghampiri Luna.
"Huhuhu... Zian, tolong aku," renggek Luna memohon.
Zian mendengus geli. Selalu saja ada tingkah gadis itu yang membuatnya merasa geli dan tak habis fikir. Zian mengulurkan tangannya pada Luna dan membantu gadis itu untuk turun. "Eonni, aku menyerah." Luna angkat tangan. Sepanjang dia membantu Luna memasak, tak ada satupun pekerjaan Luna yang betul.
Viona mendengus. "Kalau begitu siapkan minumannya saja. Sebentar lagi tamu kita akan datang,"
"Tamu?" Luna memicingkan matanya dan menatap Viona penasaran. Wanita itu mengangguk. "Apakah mereka rekan bisnis, Nathan Oppa?" tanya Luna memastikan. Viona menggeleng. "Lalu siapa?"
"Kau akan mengetahuinya nanti,"
Luna mencerutkan bibirnya. Dia benar-benar tidak puas dengan jawaban Viona. Tapi Luna tak ingin ambil pusing. Gadis itu menghampiri para pria dan bergabung bersama mereka. Luna duduk bersebelahan dengan Zian.
"Oppa, jangan membuatku penasaran seperti, Vio eonni. Beritau aku siapa sebenarnya tamu yang akan datang kemari? Sepertinya sangat special, jangan bilang kalau kau tak ingin mengatakannya juga," ujar Luna seraya menatap Nathan penuh selidik.
Nathan melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya kemudian beranjak dari duduknya. Dan bersamaan dengan itu, terdengar deru suara mobil yang memasuki halaman.
__ADS_1
"Mereka sudah datang,"
Luna yang merasa sangat penasaran langsung berlari keruang tamu dan mengintip dari jendela yang ada disamping pintu masuk. Terlihat sepasang suami-istri keluar dari mobil, kemudian mereka berjalan beriringan menuju halaman utaman kediaman Nathan.
Tampak Viona dan Nathan selaku tuan rumah menyambut kedatangan mereka berdua. Sedangkan Luna tak mampu bergerak satu incipun. Tubuhnya terasa kaku dan dia hanya mampu terpaku setelah mengetahui siapa tamu yang di maksud oleh Nathan dan Viona.
Luna mundur beberapa langkah kebelakang. Gadis itu beranjak dari ruang tamu dan berlari ke kamarnya yang ada di lantai dua. Luna masih belum siap, dia tak siap untuk bertemu Kalina. Luna masih membutuhkan waktu.
.
.
"Luna," gadis itu menoleh saat merasakan tepukan pada bahunya. Luna menoleh dan mendapati Zian berdiri dibelakangnya. "Aku hanya ingin kau bisa menghadapi semuanya. Suka tidak suka, mau tidak mau, kau harus tetap menerimanya karna bagaimana pun juga dia adalah ibu kandungmu, orang yang telah melahirkanmu dan Viona. Aku harap kau mau mengerti dan berbesar hati untuk memaafkannya,"
"Tapi, Zian. Aku-"
"Aku tidak bisa menikahimu sebelum kau memaafkannya. Aku saja bisa, lalu kenapa kau tidak. Dan sebaiknya dengarkan dulu alasan kenapa ibumu menelantarkanmu pada saat itu."
"Luna," panggil Zian seraya menepuk bahu Luna.
Luna mengangkat wajahnya dan menatap Zian dengan sendu. "Baiklah, aku akan mencobanya. Aku akan mencoba untuk memaafkannya," jawab Luna pada akhirnya.
Zian menarik Luna ke dalam pelukkannya dan mendesah berat. "Aku tau ini pasti teramat sangat berat untukmu, Luna. Untuk memaafkan seseorang yang telah membuat kita sakit hati bukanlah sesuatu yang mudah, sama halnya denganku."
"Setelah cukup lama memendam sakit hati dan kebencian pada ibumu, akhirnya aku menemukan jawaban kenapa papa lebih memilih bersamanya dibandingkan bersama mama. Dan butuh waktu yang sangat lama untukku bisa melakukannya. Aku harap kau juga bisa melakukannya."
Zian melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Luna yang penuh air mata. "Bukankah kau sendiri yang ingin menutup buku lama dan membuka lembaran baru. Dan inilah saatnya," jari-jari besar Zian menghapus air mata yang membasahi wajah Luna.
Luna mengangguk. "Baiklah, aku akan melakukannya," Zian tersenyum. Dan sekali lagi Zian merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Ini baru gadisku. Sekarang temui ibumu dan bicara baik-baik dengannya," ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
"Baiklah,"
.
.
"Luna,"
Kalina langsung bangkit dari duduknya saat melihat kedatangan Luna. Gadis itu terlihat menuruni tangga dengan Zian berjalan disampingnya. Kedua mata Kalina tampak berkaca-kaca. Kalina menoleh pada Viona, wanita itu terlihat mengangguk samar.
Kalina menyeka air matanya dan menghampiri Luna. Tubuh Luna terhuyung kebelakang karna pelukkan Kalina yang tiba-tiba. "Hiks, maafkan Ibu, Putriku. Maafkakn, Ibu karna sudah meninggalkanmu dan memperlakukanmu dengan kejam pada saat ini," Kalina menangis sambil memeluk Luna dengan erat.
"Tapi kenapa, Bu? Kenapa Ibu harus meninggalkanku pada saat itu? Aku membutuhkan penjelasan dari, Ibu." Luna melonggarkan pelukannya dan menatap Kalina penuh tanya. Dia menuntut sebuah penjelasan dari Kalina.
Kalina menyeka air matanya. "Tidak ada niat dihati, Ibu untuk meninggalkanmu apalagi menelantarkanmu, Putriku. Pada saat itu karir Ibu hancur dan Ibu bangkrut. Semua uang Ibu habis untuk menutupi hutang yang tidak sedikit jumlahnya. Ibu di tipu dan rumah kita kita terpaksa harus Ibu jual. Jangankan untuk membeli tempat tinggal baru, untuk makan saja kita kesulitan. Itulah kenapa Ibu harus menitipkanmu dipantiasuhan. Karna tidak mungkin Ibu membawamu untuk hidup bersama Ibu di dalam penjara," tutur Kalina panjang lebar.
Kedua mata Luna membelalak. "Jadi mobil mewah yang saat itu menunggu Ibu bukanlah-"
Kalina mengagguk. "Itu benar, Luna. Mobil itu adalah mobil polisi. Ibu sengaja meminta polisi mengantarkan Ibu dengan mobil mewah. Jika sampai mobil kepolisian pasti kau akan mengetahui yang sebenarnya. Dan Ibu tidak ingin kau sampai tau jika Ibu masuk penjara. Ibu di penjara selama lima tahun, dan satu tahun kemudian Ibu bertemu dengan paman Qin."
"Paman Qin dan Ibu adalah teman semasa kuliah dulu, kami sempat berpacaran selama beberapa tahun. Tapi hubungan kami harus berakhir karna Dahlia. Maaf Zian jika aku harus mengatakan ini. Bukan ibumu yang sebenarnya menjadi korban. Tapi aku, Ibumu menjebak ayahmu untuk bisa menikahinya. Bibi, sungguh-sungguh minta maaf Zian, untuk semua yang telah terjadi,"
Zian menggeleng. "Aku sudah melupakannya. Bagaimana pun juga kita adalah keluarga, dan seharuanya akulah yang meminta maaf padamu karna sudah memperlakukanmu dengan buruk tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi."
"Gomawo, Zian. Viona, kemarilah Nak. Biarkan Ibu memelukmu juga," Viona menghampiri Kalina dan memeluknya. Setelah sekian lama, akhirnya Viona tau siapa ibu kandungnya. Sungguh, rencana Tuhan memang sangatlah indah.
Sementara itu... Nathan, Zian dan para pria tak bisa menahan rasa harunya melihat pertemuan dan bersatunya kembali ibu dan anak itu. Dan ini merupakan kado terindah di ulang tahun Luna dan Viona.
__ADS_1
-
Bersambung.