Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 70


__ADS_3

Nathan hanya menatap datar puluhan mayat yang bergelimpangan di tanah. Sedikitnya 20 nyawa baru saja melayang sia-sia di tangannya dan Viona. Tidak ada sedikit pun penyesalan yang tersirat dari raut wajah mereka berdua. Justru mereka merasa puas.


Dan rasanya Nathan masih tidak percaya bila Viona yang selama ini di kenal hangat dan penuh kelembutan ternyata memiliki sisi psycho juga. Bahkan dia sangat mahir dan jago dalam menggunakan senjata api.


Nathan menyimpan kembali senjatanya kemudian menghampiri Viona. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya memastikan. Viona mengangguk, meyakinkan pada suaminya jika dirinya baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja, Oppa. Kau sendiri tidak terluka bukan?" Nathan menggeleng.


"Aku tidak terluka, dan aku baik-baik saja," jawabnya. Dan Viona menghela nafas lega.


Tak berselang lama, Kai datang bersama beberapa anak buahnya. Kai langsung menunduk penuh sesal. "Kau terlambat, Kai! Cepat urus mayat-mayat ini dan bakar semuanya, aku tidak ingin ada satu pun yang tersisa," ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Kai.


"Baik, Tuan,"


"Kita pulang," Nathan meraih pergelangan tangan Viona dan keduanya berjalan beriringan menuju tempat dimana mobil Nathan diparkirkan.


Semua Nathan habisi tanpa ada satupun yang dia biarkan tetap hidup. Nathan sudah pernah memberikan peringatan tapi wanita itu, tapi dia tetap tidak mengindahkan peringatan darinya dan menganggap jika ancamannya main-main.


Dan apa yang Nathan lakukan hari ini adalah sebuah bukti jika dia tidak pernah main-main dengan ucapannya. Karna Nathan akan menghabisi semua orang yang berani membuat dan mencari masalah dengannya.


.


.


Nathan dan Viona tiba di rumah pada pulul 10 malam. Viona langsung merebahkan tubuhnya yang terasa lelah pada sofa ruang keluarga begitu pula dengan Nathan. Keduanya merasa begitu lelah di tambah lagi dengan perkelahian dengan orang-orang suruhan Dora.


Tiba-tiba Viona bangkit dari posisinya kemudian berpindah ke atas tubuh Nathan. Sepasang mutiara hazelnya mengunci iris kanan milik Nathan yang juga menatap padanya. "Ada apa, hm?" tanya Nathan sambil membelai pipi Viona dengan penuh kelembutan.


"Oppa, apa kau akan tetap mengingatku dan mencintaiku seperti ini jika suatu saat nanti tiba-tiba aku pergi dari pelukkanmu dan menghilang dari dunia ini?" tanya Viona acuh tak acuh pada suami tercintanya yang saat ini tengah memeluk erat tubuhnya.


Bukan pertanyaan yang serius, wanita itu hanya iseng saja bertanya seperti itu.


Nathan mendengus mendengar pertanyaan Viona yang memang suka aneh-aneh, dan Nathan tidak heran lagi pasalnya Viona sudah sering bertanya hal-hal yang tidak masuk akal dan ini bukan pertama kalinya


"Dasar bodoh," Nathan menyentil kening Viona saking gemasnya.


Viona langsung memasang wajah cemberut mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya. "Hiks, jadi aku tidak berarti apa-apa bagimu. Kau jahat, Oppa, hiks... jawabanmu melukai hatiku." ujarnya sambil berurai air mata.


Lagi-lagi Nathan mendengus mendengar ucapan sang istri ditambah dengan banyaknya liquid-liquid bening yang mengalir dari pelupuk matanya. "Kau jahat, Oppa. Ternyata selama ini kau tidak benar-benar mencintaiku. Hiks, aku mau marah dulu padamu." Viona langsung membuang muka dan menatap kearah lain. Dan Nathan hanya bisa menggelengkan kepala, dia benar-benar geli melihat tingkah kekanakkan istri cantiknya itu.


Beginilah Viona jika sedang merajuk, sudah sangat sering Nathan dibuat kwalahan dan frustasi dengan sikap manja Viona yang melebihi batas wajar. Meskipun begitu, tetapi Nathan tidak pernah merasa keberatan apalagi tertanggu. Ia justru merasa senang karna itu artinya hanya padanya Viona menggantungkan segalanya.


Nathan merubah posisinya lalu menarik wanita itu kedalam pelukkannya, mendekap erat tubuhnya sambil sesekali mencium pucuk kepalanya.


"Jangan menanyakan sesuatu yang membuatku takut, Sayang. Jangankan benar-benar mengalaminya. Memikirkannya saja sudah membuatku sangat ketakutan. Aku tidak ingin berandai-andai karna sampai kapan pun aku tidak akan membiarkanmu menghilang apalagi pergi dari sisiku, tidak akan pernah!" Tegas Nathan sambil mengerutkan pelukkannya. Mata kanannya tertutup rapat.


Viona menyeka air matanya dan membalas pelukkan Nathan, ucapan Nathan membuat perasaannya kembali tenang. Itu artinya ia masih sangat dibutuhkan.


Dalam hatinya ia tidak henti-hentinya berterimakasih pada Tuhan karna mempertemukannya dengan pria seperti Nathan. Ya meskipun Viona tau jika suaminya itu bukanlah pria baik-baik.


Kedua tangannya selalu berlumur darah, tapi pria berdarah dingin itu tidak pernah berbuat buruk apalagi bersikap kasar padanya. Dan Nathan adalah satu-satunya pria yang yang mampu membuatnya jatuh cinta, begitu pula dengan Nathan. Dan dari Viona-lah, Nathan bisa menemukan sebuah arti dari cinta sejati.


"Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur sekarang," ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona. Nathan mengangkat tubuh Viona bridal style lalu membawanya pergi ke kamar mereka yang berada di lantai dua.


Nathan benar-benar sangat lelah dan ingin segera menginstirahatkan tubuhnya. Bukan hanya tubuhnya saja yang lelah, tapi juga otaknya. Dan untuk sejenak.saja dia ingin merasa tenang.

__ADS_1


.


.


.


Malam sudah semakin larut, tapi Nathan tak kunjung bisa menutup matanya. Meskipun rasa kantuk sudah mendera tetapi matanya tetap saja sulit untuk dipejamkan.


Nathan menyibak selimut dari tubuhnya kemudian beranjak dari posisi berbaringnya. Digulirkannya pandangannya pada jam yang menggantung di dinding, pukul 01.00 dini hari. Kemudian pandangannya beralih pada sosik jelita yang berbaring disampinya. Wajahnya begitu damai seperti tidak memiliki beban apapun yang dia pikul dipundaknya. Nathan tersenyum tipis


Nathan meninggalkan kamarnya dan pergi kebalkon. Langit begitu cerah dengan jutaan bintang yang menghiasi. Bulan berpendar sempurna disinggasananya dan jutaan manik-manik langit memainkan sinarnya.


Hembusan angin malam menerpa setiap helaian coklat Nathan yang tengah berdiri di balkon kamarnya, ia menatap taman bunga yang berada di bawahnya lalu ia menghembuskan nafasnya kasar.


Pria itu mengeluarkan satu batang rokok dari dalam bungkusnya kemudian menyulutnya. Asap putih tampak keluar dari sela-sela bibirnya yang kemudian melayang di udara dan akhirnya menghilang.


BRAKKK...


Suara dentuman keras yang berasal dari halaman depan rumahnya mengalihkan seluruh atensinya. Nathan bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata ada tamu tak di undang yang datang dan saat ini sedang dalam penanganan Tao serta beberapa anak buah Nathan yang dia tugaskan untuk berjaga.


Perkelahian berlangsung semakin sengit. Tao tidak hanya menghajar dan membuat mereka babak belur, tiga diantaranya sudah meregang nyawa karna terjangan amunisi yang Tao lepaskan.


Nathan segera melibatkan diri dalam perkelahian, dan Nathan tak segan-segang menembaki mereka yang mencoba untuk mendekat. Nathan menghabisi orang-orang itu tanpa sisa. Dan kurang dari 30 menit mereka berhasil di atasi. Mayat-mayat tampak bergelimpangan di tanah dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Halaman depan seketika menjadi lautan darah.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Nathan pada mereka. Mereka menggeleng. Meyakinkan jika mereka baik-baik saja.


"Segera obati luka-luka kalian, kalian bisa istirahat dan biarkan yang lain giliran berjaga. Tao suruh anak buahmu untuk mengurus mayat-mayat ini. Rajam tubuhnya, sepertinya singa-singaku sudah sangat kelaparan," terang Nathan.


Tao mengangguk. "Baik, Tuan,"


Nathan kembali ke kamarnya. Pria itu langsung membersihkan muka dan tangannya yang terkena noda darah. Melepaskan singlet hitamnya dan membuangnya ke dalam tempat sampah. Setelah memastikan cipratan darah pada wajah serta tangannya sudah benar-benar bersih, Nathan beranjak dan meninggalkan kamar mandi. Dan sebuah sunglet abu-abu tampak membalut tubuh atasnya.


-


"Selamat pagi, Tuan Wiranata," sapa tiga pemuda yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada di ruang inap Bram.


"Siapa kalian? Dan sedang apa kalian di sini?"


Rio menghampiri Bram yang sedang berbaring karna tidak bisa berbuat apapun akibat pembengkakkan pada sosisnya karna ulah Frans dan Satya.


"Kami akan memperkenalkan diri. Aku Rio dan mereka adalah kedua paman kecilku, Paman Satya dan Paman Frans. Kami hanya ingin melihat bagaimana keadaan Anda. Sepertinya yang Anda alami begitu serius, Tuan. Astaga, kenapa celana piama yang Anda pakai terlihat menonjol ke atas," kaget Rio. Matanya membelalak dan Rio membekab mulutnya dengan kedua tangannya. "Omo!! Jika melihat dari kondisinya sepertinya ujung sosis Anda perlu di potong. Kalau orang Indonesia menyebutnya di sunat. Ahh, pasti karna Anda belum pernah di sunat ya? Lihatlah kami, sudah tiga kali di sunat makanya bisa sehat dan tidak mengalami apa-apa," tutur Rio.


"Sebenarnya apa yang kau bicarakah?


Rio menggeleng. "Aku juga tidak tau apa yang baru saja aku katakan," ucapnya.


"Dasar bocah sinting," sinis Bram setengah kesal.


"Omo!! Paman, kau memiliki jam tangan yang sangat bagus," histeris Frans melihat sebuah Rolex milik Bram yang dia letakkan dia atas meja kecil samping ranjangnya.


"Jangan di sentuh, itu barang mahal dan jika sampai rusak kalian tidak akan mampu menggantinya!!"


"Benarkah? Jika ini Asli pasti akan tahan banting dan tahan air dong?" kini giliran Satya.


"Tentu saja, barang mahal," jawab Bram menyombongkan diri.

__ADS_1


Rio menjentikkan jarinya. "Aku jadi sangat penasaran. Bagaimana kalau kita melakukan uji coba?" usul Rio.


Bram memicingkan matanya. "Uji coba apa maksudmu?" tanyanya was-was.


"Iya Paman, uji coba untuk membuktikan apakah ini Rolex asli atau palsu." Sahut Frans.


"A..Apa yang mau kalian lakukan?" panik Bram melihat Satya datang dengan membawa mangkuk berisi air panas. "U..Untuk apa air itu?" tanya Bram sekali lagi.


"Aisshh, Paman ini bagaimana? Bukankah kami tadi sudah bilang mau uji coba," sahut Rio dengan senyum misteriusnya. Entah apa lagi yang mereka rencanakan kali ini.


Frans meletakkan mangkuk berisi air panas itu diatas meja lalu memasukkan rolex milik Bram ke dalamnya. Membuat kedua mata Bram membelalak saking kagetnya. "APA YANG KALIAN LAKUKAN?" teriaknya marah.


Ketiganya menoleh. "Masih ada satu lagi, Paman ini pasti ponsel mahal dan tahan air 'kan? Bagaimana kalau kita uji coba juga." Ucap Rio kemudian memasukkan ponsel tersebut ke dalam air juga.


"JANGAN!!!" teriak Bram, tapi terlambat karna Rio sudah memasukkan ponsel itu ke dalam air. "KALIAN!!" geram Bram marah. Dan karna ulah mereka bertiga Bram mengalami menjadi rugi besar hingga ratusan juta rupiah. "Sebenarnya siapa kalian dan masalah apa yang kalian miliki denganku? Tunggu, sepertinya aku mengenali kalian berdua. Kalian dua penjual yang membuat kantorku berantakkan dan membuatku terdampar di tempat terkutuk ini 'Kan!!!" amarah Bram semakin memuncak.


"Bingo, ternyata mata Paman sangat jelih. Itu memang kami. Hahahha,"


"Sebenarnya masalah kalian denganku?" geram Bram.


"Tidak ada, tapi kau yang menciptakan masalah dengan kami. Kau mengenal wanita bernama Viona Anggella? Wanita yang sedang kau incar dan ingin kau habisi itu sebenarnya adalah istri dari Pamanku, dan untuk itu kami tidak akan tinggal diam." Terang Rio.


"Jadi kalian adalah pemuda-pemuda dari keluarga Lu?" tebak Bram 100% benar,"


"Bingo," Frans menjentikkan jarinya."Paman ternyata kau cerdas juga ya. Aku kasih nilai -10 untukmu karna kau menjawab benar," lanjutnya.


Sontak Frans dan Satya menoleh. "Kenapa -10?" tanya mereka penasaran.


"Karna dia adalah orang jahat, dan orang jahat keenakkan kalau di kasih nilai plus jadi aku kasih minus saja,"


Satya mengacak rambut Rio sedangkan Frans mencubit pipinya. "Dasar kau ini, ada-ada saja. Tapi betul juga, orang jahat itu tidak ada plus-plusnya tapi minus semua. 1000 poin untukmu," Satya mengacungkan jempolnya.


"Hehehe, aku ini memang yang terbaik di antara yang terbaik Paman," Frans membanggakan diri.


Bram yang merasa geram karna diabaikan melemparkan bantal pada mereka bertiga. "Yakk!! Aku masih di sini dan berani sekali kalian mengabaikanku!!" geram Bram. "Baiklah, kalian sendiri yang mengibarkan bendera perang denganku. Kalian fikir kalian bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup? Kalian akan menjadi perkedel setelah ini," Bram menyeringai.


"Hehehe. Kau percaya diri sekali Paman mau membuat kami menjadi perkedel, memangnya kau bisa? Lihatlah kondisimu sekarang bahkan semua anak buahmu sudah tidak ada yang berguna."


"Apa maksudmu? Apa yang sudah kalian lakukan pada mereka?"


"Taraaaa,"


Rio membuka pintu ruang inap Bram dan memperlihatkan para anak buah Bram yang sedang terkapar dengan keadaan yang sangat-sangat mengenaskan. Sekujur tubuh mereka dalam balutan segala macam atribut wanita seperti pakaian sampai wig. Bahkan ketiga pemuda itu merias wajah dengan make up tebal yang menggelikan. Mereka sudah beberapa kali pingsan karna melihat wujudnya sendiri.


"Kaliaaann!!! Aku pasti akan membunuh kalian semua!!" Teriak Bram penuh emosi. Bram mengambil pistolnya dan mengarahkan pada Rio, Frans dan Satya. Membuat mereka bertiga refleks mengangkat kedua tangannya.


Tiba-tiba Rio menurunkan kembali tangannya. "OMO!!! Paman ada nyamuk di celanamu," seru Rio. Melihat seekor nyamuk menempel pada celana Bram tepat di atas sosisnya yang bengkak.


"Ma-mau apa kau?" panik Bram melihat Rio mengangkat tangannya tinggi.


"Tentu saja memukul nyamuk, memangnya mau apa lagi," jawabnya santai.


Mata Bram membelalak. Rio memukul miliknya. "ARRRKKHHH!!! SOSISKU!!"


"HAHAHA!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2