
"Luna,"
Zian menghentikan mobilnya saat iris abu-abunya tanpa sengaja melihat Luna yang sedang berkelahi melawan beberapa preman. Gadis itu terlihat cukup kwalahan menghadapi para preman yang jumlahnya lebih dari lima orang.
Tanpa menghiraukan Amanda, gadis yang satu mobil dengannya. Zian segera turun dari mobilnya untuk membantu Luna."Zian, kau mau kemana?" tanya Amanda sambil menahan lengan Zian."Kau tidak boleh pergi kemana pun, kita bisa terlambat, ulang tahun papa di mulai lima belas menit lagi,"
Zian menepis tangan gadis itu dengan kasar. "Kau fikir aku peduli. Lagipula sejak awal aku tidak pernah berminat untuk menghadiri pesta ulang tahun papamu!!"
"Apa? Zian, teganya kamu. Padahal papa sudah sangat baik padamu. Bahkan dia rela menyerahkan putri kesayangannya ini untuk-"
"Berhentilah bermimpi dan sebaiknya segera bangun dari tidurmu itu!!" Zian meninggalkan Amanda begitu saja dan pergi menghampiri Luna.
Brugg..
Tubuh Luna terhuyung kebelakang setelah terkena pukulan pada bahu kirinya. Bukan kerasnya aspal yang Luna rasakan, melaiankan dada bidang seseorang dan sebuah tangan yang melingkari dadanya. Sontak saja Luna mendongak dan.. "Zian!" pekiknya terkejut.
"Mundurlah, biar aku yang membereskan mereka," ucap Zian yang kemudian dibalas anggukan oleh Luna. "Maju kalian semua,"
Dan perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi. Zian yang hanya seorang diri di keroyok lima orang sekaligus. Jika saja Zian seorang amatiran. Pasti hal tersebut akan memudahkan lawan untuk menghabisinya, tapi sayangnya Zian adalah seorang pria yang telah terlatih. Dia pernah mengikuti latihan fisik berat selama bertahun-tahun.
Zian menghindari setiap serangan yang mengarah pada wajah dan ulu hatinya. Dan dia telah berhasil menumbangkan tiga diantara kelima preman tersebut, dan menyisahkan dua orang lagi. "Sialan kau!! Beraninya kau menjatuhakan anak buahku!!" Zian di serang dari dua arah yang berbeda. Kedua pria itu menyerang Zian secara bersamaan.
Kedua mata Luna membelalak saat melihat salah seorang dari kedua pria itu berlari ke arah Zian sambil membawa sebuah balok kayu, pria itu hendak memukul Zian dari belakang.
"Zian, awas!!!"
Luna berlari menghampiri Zian kemudian memeluknya dan menggunakan tubuhnya sebagai tameng untuk pemuda tersebut.
Buggg...!!
"Aaahh,"
Alhasil balok itu bukannya menghantam tubuh Zian malah menghantam bahu kiri Luna. Mata Zian terbelalak, dengan segera Zian menahan tubuh Luna yang ambruk ke arahnya. "Luna," seru Zian sambil menepuk pipi gadis itu. Zian menggeram marah. "Kau!! Berani sekali kau melukainya!!"
Tubuh pria itu gemetar ketakutan saat melihat tatapan Zian yang tajam dan mengintimidasi. Tubuhnya terhuyung kebelakang, dia pun segera memberi kode pada temannya. Dan keduanya pun buru-buru pergi dari sana.
Luna membuka matanya. Raut wajahnya menunjukkan jika dia sedang kesakitan."Zian, bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Luna penasaran.
"Luna, apa kau tidak apa-apa? Gadis bodoh, kenapa kau harus membahayakan dirimu hanya untuk melindungiku?" alih-alih memberi jawaban. Zian malah balik bertanya dan mengomeli Luna.
Luna menceritkan bibirnya. Kesal karna Zian malah mengomelinya. "Beginikah caramu bersikap pada orang yang sudah menyelamatkanmu? Dasar rusa kutub."
"Dan bagaimana aku bisa diam saja ketika melihatmu dalam bahaya. Sudah berkali-kali kau menyelamatkan nyawaku tanpa menghiraukan keselamatanmu sendiri, Zian. Kau selalu berlari menerjang bahaya hanya demi diriku. Jadi mana mungkin aku bisa diam saja ketika giliranmu yang berada dalam bahaya," Luna menakup wajah Zian dan mengunci iris matanya.
"Zian, aku.... merindukanmu," Luna menatap Zian dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Zian menarik lengan Luna dan membawa gadis itu ke dalam pelukkannya. "Gadis bodoh! Sebaiknya kau tidak banyak bicara, dan aku tau jika kau sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Sebaiknya aku membawamu ke rumah sakit sekarang," Zian hendak melepaskan pelukkannya namun di tahan oleh Luna.
"Sebentar saja, biarkan seperti ini. Aku mohon," pinta Luna dan semakin mengeratkan pelukkannya pada tubuh Zian.
"Apa sebesar itu kau merindukanku, Lun?" Zian meletakkan kepalanya di atas kepala coklat Luna. Gadis itu mengangguk. "Aku juga merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu," Luna menutup matanya saat merasakan pelukkan Zian yang semakin erat.
Setelah satu tahun. Akhirnya mereka saling melepaskan egonya dan mengakui mengungkapkan rindu yang lama mereka pendam. Bahkan Luna tidak merasa ragu untuk mengatakannya lebih dulu, karna kenyataannya dia memang sangat merindukan Zian.
Sementara itu. Amanda yang tidak suka melihat kedekatan Zian dan Luna langsung manghampiri mereka berdua. Dengan kasar Amanda melepaskan pelukkan mereka kemudian menjauhkan Zian dari Luna.
"Zian, apa-apaan kau ini? Bagaimana bisa kau malah berpelukkan dengan gadis lain sementara calon istrimu ada di sini!!"
"Calon istri?" kaget Luna seraya menatap Zian dengan pandangan bertanya.
"Aku akan menjelaskannya padamu. Tapi tidak sekarang, nanti setelah kau di obati." Zian melirik Amanda dari ekor matanya."Sebaiknya kau pergi sendiri saja. Dan satu hal lagi, berhenti menyebut dirimu sebagai calon istriku di depan orang lain. Aku sangat muak mendengarnya!!"
"Zian, teganya kau berkata setajam itu padaku?" Amanda menatap Zian dengan mata berkaca-kaca.
Mengabaikan Amanda, Zian meraih pergelangan tangan Luna dan membawanya pergi dari sana. Dan di tengah langkahnya, Luna menyempatkan dirinya untuk memberi cibiran pada Amanda dengan menjulurkan lidah padanya. Kekesalan Amanda semakin berlipat ganda saat melihat Luna memeluk lengan Zian dengan mesra. Luna sengaja lebih tepatnya.
"Gadis menyebalkan!! Awas saja kau, aku pasti akan memberimu pelajaran!!"
.
.
Saat ini mereka berdua sedang berada di kamar Luna. Luna menolak untuk di bawah ke rumah sakit dan meminta supaya Zian sendiri yang mengobati bahunya. Lagipula hanya cidera ringan saja, begitulah yang ada Luna pikirkan.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah perbincangan panjang yang serius. "Jadi karna hal itu kau menjauhiku? Karna aku adalah putri kandung dari ibu tirimu?" tanya Luna seraya mengunci binner abu-abu milik Zian.
Zian mengangguk. "Dulu aku pernah mengatakan pada ibumu jika aku akan menemukan putrinya kemudian menghancurkan masa depannya. Aku akan membuat ibumu merasa hancur sampai dia tak mampu lagi menghadapi dunia. Justru akulah yang lebih hancur saat mengetahui jika putri wanita itu adalah dirimu, orang yang selalu ingin aku lindungi, Leonil Luna," ujar Zian.
Luna terdiam setelah mendengar apa yang Zian katakan. "Jadi alasan Zian menjauhiku karna hal itu? Karna dia tidak ingin menyakitiku. Zian, begitu banyak kau berkorban untukku, bagaimana aku harus membalas kebaikanmu," lirih Luna membatin.
"Aku akui jika aku memang bodoh. Tidak seharusnya aku menjauhimu hanya karna kau putrinya. Tapi pada saat itu aku benar-benar berada di posisi yang sangat sulit. Sudah sejak lama aku ingin menemuimu, tapi aku selalu tidak memiliki waktu."
"Selama satu tahun aku hanya memfokuskan diri pada pekerjaan di kantor. Aku bekerjakeras supaya perusahaan milik kakek yang berada diambang kehancuran bisa bangkit kembali. Dan satu tahun waktu yang aku butuhkan untuk mengembalikan kejayaan perusahaan itu."
"Maafkan aku, Luna. Jika selama ini aku bersikap kejam padamu, aku tidak akan menyalahkanmu jika kau ingin membenciku, karna bagaimanapun juga aku yang bersalah. Sekali lagi aku minta maaf,"
Luna menakup wajah Zian dan mengunci iris abu-abunya. "Sudahlah, Zian. Kau tidak perlu merasa bersalah padaku. Sebaiknya kita lupakan saja yang sudah berlalu dan mari kita membuka lembaran baru. Lagipula tanpa adanya masalalu yang menyakitkan juga tidak akan ada sebuah masa depan yang indah. Bukankah begitu?"
"Kau benar, kau memang gadis yang hebat, Lun. Aku sangat bangga karna bisa mengebal gadis seperti dirimu,"
"Leonil Luna," Luna membanggakan diri sambil mengibaskan rambut panjangnya dengan jari-jarinya. Dan endingnya sebuah jitakkan malah mendarat mulua pada kepalanya. "Sakit!! Zian, kenapa kau malah menjitakku?" protes Luna sambil mencerutkan bibirnya.
__ADS_1
"Salahmu sendiri kau begitu menggelikan,"
Luna mencerutkab bibirnya. "Jahat," kemudian Luna memukul lengan Zian. Tiba-tiba Luna teringat sesuatu. "Oya, Zian. Ngomong-ngomong kau masih memiliki satu hutang penjelasan padaku. Siapa gadis yang tadi dan kenapa dia mengaku sebagai calon istrimu?"
Zian mendesah berat. "Namanya Amanda Roberto. Papanya adalah rekan bisnisku dan teman baik mama. Mereka berdua berencana untuk menjodohkan kami, tapi aku menolaknya. Dan sejak itu, Amanda tidak pernah mau jauh dariku dan selalu menempel seperti benalu. Jujur saja, Lun. Aku sangat muak dan sangat tidak nyaman dengan keberadaannya,"
"Aku punya ide?" seru Luna tiba-tiba.
Sontak Zian menoleh. "Ide apa?"
"Bagaimana kalau kita berpura-pura jadi sepasang kekasih saja?" Zian memicingkan matanya dan menatap Luna penuh selidik setelah mendengar apa yang baru saja Luna katakan. Gadis itu pun tampak helagapan. "Tu-tinggu, Zian. Kau jangan salah paham dulu, ma-maksudku.. Emmpphh,"
Kedua mata Luna membelalak dan dia tak melanjutkan kata-katanya saat tiba-tiba Zian menakup wajahnya kemudian mencium bibirnya. "Baiklah, aku setuju!!"
-
Mendesah lelah. Itulah yang Zian lakukan saat Reno lagi-lagi nyelonong masuk ke dalam ruangannya tanpa basa-basi dengan setumpuk dokumen di tangannya.
Zian memijit pelipisnya. "Apa lagi ini?" tanya Zian dengan nada lemas saat pemuda yang menjabat sebagai asisten pribadi yang merangkap sebagai sahabat Zian itu meletakan dokumen-dokumen itu di meja kerjanya.
Ini adalah Zian yang sekarang. Mantan ketua gangster yang sekarang menjabat sebagai seorang CEO perusahaan properti yang terkenal. Mapan, kaya, jenius, dan tampan. Begitu sempurnanya dia. Tapi sayangnya predikatnya itu tak di dukung dengan sebuah kesempurnaan, karna hingga detik ini CEO muda nan tampan itu masih belum memiliki pasangan.
Moodnya yang sudah dia bangun dengan susah payah seketika memburuk saat lagi-lagi Reno, kawannya itu membawa kembali tumpukan dokumen sialan yang harus dia kerjakan. Demi apa coba, bahkan Zian sampai harus melewatkan makan siangnya hanya untuk bercumbu ria dengan dokumen sialan itu.
"Perusahaan akan memulai proyek besar akhir bulan ini. Wajar jika banyak proposal yang harus kau periksa dan ditanda tangani." jawab Reno dengan lugas. Jabatannya di kantor sebagai Asisten Zian dan orang yang paling dia percayai.
Reno menarik tempat duduk di depan Zian. Tidak seperti para pegawai yanf lain. Dia tidak perlu repot-repot bicara sopan dengan Zian karena dia adalah temannya semenjak masih sama-sama duduk di bangku TK.
Meskipun Zian akan menekuk wajahnya saat dia bicara menyebalkan kepadanya. Tapi tak ada niat dalam hati Zian untuk memecatnya dari perusahaan miliknya.
"Kau tahu, sekarang aku paham kenapa Jonas tidak mau mengambil alih perusahaan milik mendiang kakek ini dan lebih memilih menjadi model? Dokumen ini benar-benar membuatku muak."
"Oh baiklah. Apa kau akan bilang jika kau menyesal?" ujar Reno sembari memutar jengah matanya.
Zian mendesah berat. Lalu mengalihkan pandangannya pada langit biru di luar sana. "Menyesal tak ada gunanya sekarang. Adakah dokumen yang lainnya selain ini?" Zian memutar lehernya dan menatap Reno memastikan.
"Tidak ada lagi, hanya itu saja untuk hari ini." Jawabnya.
Zian tersenyum lega. "Hn, baguslah. Setelah ini aku akan pulang dan tidur sepuasku."
"Sayangnya tidak bisa. Karna hari ini - tepatnya jam 4 sore kau ada janji dengan klien dari Busan di ruang meeting."
Zian memijit pelipisnya untuk yang kesekian kalinya. Kapan pekerjaan-pekerjaan itu akan berhenti menyiksa dirinya. Apa mereka tidak bisa membiarkan dirinya mengistirahatkan otaknya bahkan hanya satu detik saja.
"Batalkan saja. Lagipula sejak awal aku tidak berminat untuk menjalin sebuah kerjasama dengan perusahaan itu. Karna sejak awal si keparat Roberto-lah yang mengusulkan supaya aku mau bekerjasama dengan Z GROUP." Terang Zian panjang lebar.
__ADS_1
-
Bersambung.