
Desahan keluar dari sela-sela bibir merah Miranda ketika pria itu mencumbunya dengan keras. Tubuhnya tersebrak-sentak seiring tusukkannya yang semakin cepat dan menggila.
Tubuh polos mereka yang basah oleh keringat tampak berkilauan di bawah sinar lampu. Miranda terus mendesah merasakan kenikmatan duniawi yang tengah di rasskannya.
"Sayang, kita lepaskan sama-sama," ucap si pria yang kemudian di balas anggukan oleh Miranda.
Miranda mendongakkan wajahnya ketika si pria menjatuhkan kepalanya dilengkungan lehernya. Kemudian tubuh pria itu ambruk di atas Miranda setelah melakukan pelepasan. Kemudian pria itu bangkit dari atas tubuh Miranda dan memungguti pakaiannya yang berserakkan di lantai.
"Kau semakin luar biasa saja, Sayang. Pantas saja pria bodoh itu begitu tergila-gila padamu," ucap pria itu kemudian mengecup singkat bibir merah Miranda.
Miranda beranjak dari berbaringnya kemudian mengambil gelas berisi wine di atas nakas samping ranjang empuknya."Bukankah aku sangat hebat dan luar biasa? Dan tinggal satu langkah lagi semua harta milik pria bodoh itu akan menjadi milik kita," ujar Miranda kemudian meneguk wine-nya.
Sejak awal Miranda memang tidak pernah mencintai Dean. Selama ini dia hanya memanfaatkannya agar bisa menguasai seluruh hartanya. Miranda bekerjasama dengan kekasihnya untuk mendapatkan karta yang Dean miliki, dan Dean merupakan korban kesepuluh mereka berdua.
Modusnya selalu sama, menjebaknya dan pura-pura hamil untuk menjerat mangsanya. Dan selalu mereka yang lemah dan bodoh, yang menjadi korban kelicikan pasangan kekasih itu. "Aku harus pergi sekarang. Jangan sampai si bodoh itu curiga karna aku pergi terlalu lama,"
"Aku mengerti, Sayang. Segera transfer uang padaku. Kita membutuhkan mobil baru dan kau harus segera mendapatkan uang-uang itu, aku tidak mau rugi,"
Miranda menakup wajah kekasihnya dan mencium singkat bibirnya. "Jangan cemas, kau selalu bisa mengandalkanku,"
"Tentu,"
"Aku pergi dulu," Miranda menyambar tasnya dan pergi begitu saja.
Meninggalkan sang kekasih sendiri dikamar itu. Miranda tidak bisa membuat Dean menunggu.
-
...Kebahagiaan… apa itu kebahagiaan? Apa arti kehabahiaan itu sendiri untukku? Kurasa kini sudah tidak ada. Kebahagiaan ku satu persatu mulai pergi, kini hanya ada kesedihan sebagai penggantinya....
...Perasaanku yang dulu hancur karena kepergian mama yang begitu tiba-tiba perlahan-lahan mulai tersusun kembali, tawaku yang sempat hilang terbawa angin perlahan angin pun mengembalikannya, namun selepas papa pergi, perasaan itu kini hancur kembali, aku serasa tak punya gairah untuk hidup....
...Derita yang dulu ku alami kini menyelemuti diriku lagi, hatiku tersayat, tubuhku membeku, pikiranku tak karuan. Sekarang apa yang harus ku lakukan? Dimana aku akan temukan lagi rasa kebahagiaan itu? Apakah masih ada?...
Luna menutup diary-nya. Air mata kembali mengalir dari pelupuk matanya. Kesedihan, kehilangan masih terlihat jelas dari sorot matanya yang tak lagi memancarkan sebuah kehidupan.
Luna masih tenggelam dengan kesedihannya itu. Hari-hari terus dijalani oleh Luna seperti biasanya, dengan senyumannya. Namun senyuman kali ini sungguh sangat berbeda.. terlihat senyuman itu… palsu.
Ya.. Luna masih belum bisa menjalankan hidupnya sempurna seperti sedia kala, luka dihatinya masih saja bersarang, pikiran tentang ayahnya juga masih saja mengganggu.
Ketukan dan decitan suara pintu di buka dari luar sedikit mengalihkan perhatian Luna dari langit senja. Gadis itu tidak memberikan respon apapun bahkan ketika Zian sudah ada dihadapannya. Tanpa berkata apapun, Zian menarik bahu Luna dan membawa gadis itu ke dalam pelukkannya.
"Jika ingin menangis, sebaiknya jangan di tahan. Keluarkan semua, dan menangislah. Keluarkan air matamu sebanyak yang kau mau. Aku tidak akan mengejekmu apalagi menertawakanmu," ujar Zian panjang lebar.
"Aku hanya masih tidak percaya jika papa sudah tiada. Rasanya baru kemarin aku mengobrol dengannya, tapi secepat angin Tuhan mengambilnya dari dunia ini. Papa adalah orang baik, tapi kenapa ada orang yang begitu tega padanya. Apa salah papaku pada orang itu? Dan kenapa dia harus membunuhnya? Kenapa, Zian... Kenapa?" tangis Luna kembali pecah.
Zian dapat merasakan perubahan Luna sejak kematian tuan Leonil. Sudah satu minggu terhitung sejak kematian tuan Leonil, Luna menjadi sosok yang sangat pendiam dan tatapan matanya selalu kosong. Bahkan Zian dapat melihat jika Luna yang sekarang seperti tidak lagi memiliki semangat untuk hidup.
Zian melepaskan pelukkannya. "Luna," panggilnya pelan. Dan Luna hanya duam dan entah menatap kearah mana dengan tatapan kosongnya. Zian menghela nafas panjang. "Luna, yang aku kenal adalah Luna yang periang, ceria dan kuat. Coba lihat dirimu sekarang... kau seperti mayat hidup gadis bar-bar,"
Luna hanya dian seolah tak mendengarkan perkataan Zian. Tapi dibalik tatapa kosongnya itu Luna sedang menangis. "Aku sungguh-sungguh tak sanggup, Zian. Semua ini begitu berat untukku. Dia bukan hanya sekedar ayah bagiku, bagiku dia lebih dari itu," Isaknya pelan.
__ADS_1
"Aku fikir aku sanggup, ternyata aku tidak. Aku fikir aku mampu dan kuat menerima kepergian papa, tapi hatiku tidak. Meskipun tubuhku berusaha keras untuk tegar, tapi hatiku tidak. Hatiku begitu sakit, Zian." Luna semakin terisak, air matanya jatuh semakin deras.
Zian-pun hanya bisa menatap sedih gadis dihadapannya itu. Dia jkut merasakan kesedihan yang Luna rasakan saat ini."Aku memahami betul, Lun. Tapi tidak ada alasan untukmu terus-terusan terpuruk seperti ini, di atas sana papamu juga tidak akan senang melihatmu terus-terusan terpuruk dalam kesedihan seperti ini," ujar Zian menasehati.
"Lalu aku harus bagaimana, Zian? Katakan padaku, aku harus bagaimana?"
"Kembalilah menjadi Luna yang dulu aku kenal. Yang selalu ceria dan selalu membawa kehangatan bagi orang lain. Jujur saja, Lun. Aku benci melihatmu seperti ini. Coba pikirkan perasaan kakakmu dan ayah kandungmu. Melihatmu seperti ini, itu hanya akan membuat mereka menjadi jauh lebih sedih.
Kembalilah menjadi Luna yang dulu aku kenal, kembalilah menjadi Luna yang selalu membawa kehangatan dan kebahagiaan untuk orang lain. Karna aku sangat merindukan senyuman indah di bibirmu,"
"Zian,"
"Makan malam sudah siap, sebaiknya kita makan malam sekarang.Aku sudah sangat kelaparan, dan apa kau tau? Aku harus menahan lapar selama beberapa saat hanya untuk membujukmu," ujar Zian. Luna mencerutkan bibirnya, dia kesal mendengar cibiran Zian.
"Dasar beruang kutub menyebalkan. Kalau begitu gendong aku sampai di meja makan. Anggap saja itu sebagai hukuman karna sudah membuatku kesal."
Zian mendesah berat. Pemuda itu berlutut di depan Luna. "Naiklah," pintanya dingin. Luna berjingkrak senang. Dengan segera dia naik ke atas punggung Zian seraya mengalungkan tangannya pada leher pemuda itu. Zian tersenyum tipis. Pemuda itu melirik Luna melalui ekor matanya.
"Leonil. Luna, senang melihatmu telah kembali,"
-
"EONNI!! OPPA!! KAMI DATANG,"
Teriakkan dari arah depan mengejutkan Viona yang sedang menyuapi si kembar. Sontak saja wanita itu menoleh dan mendapati kedatangan Luna dan Zian. Viona beranjak dari posisinya ketika melihat Luna berlari menghampirinya. Tubuh Viona sedikit terhuyung karna Luna memeluknya dengan tiba-tiba.
"Aku sangat merundukan, Eonni,"
Viona mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Luna. "Eonni juga sangat merindukanmu," Viona menutup matanya yang sedikit memanas dan semakin mengeratkan pelukkannya.
"Hyung, apa kau juga merasa jika pelaku pembunuhan ayah angkat Luna adalah orang dalam? Karna saat di pemakaman, aku melihat keberadaan putra sulung dokter Leonil serta calon istrinya. Mereka melihat dari kejauhan, bukankah kau bilang jika saat itu Leonil Dean sedang berada di luar negeri? Dan bukankah hal ini sangat janggal!"
"Karna memang itulah yang dia katakan ketika aku menghubunginya. Dean, mengatakan jika saat itu dia sedang berada di Eropa untuk sebuah perjalanan bisnis dan tidak bisa kembali karna hari itu juga." Tutur Nathan.
"Entah kenapa perasaanku mengarakan jika itu hanya alibinya saja untuk menutupi kejahatannya. Apalagi dia juga pernah menjadi otak di balik penculikan Luna karna hasutan kekasihnya. Tidak menutup kemungkinan jika Dean adalah pelaku di balik kematian, dokter Leonil." Zian menatap Nathan serius.
"Masuk akal. Hanya saja kita tidak bisa menyimpulkan tanpa bukti-bukti yang kuat. Apalagi sidik jari yang di temukan oleh polisi pada gagang pisau adalah sidik jari tuan Leonil sendiri," ujar Nathan.
"Sepertinya mereka ingin melenyapkan semua bukti yang ada dengan menghapus semua jejak kejahatannya. Hyung, kita tidak bisa tinggal diam, karna mungmin saja yang menjadi target mereka selanjutnya adalah Luna!!"
"Kau benar, aku akan mengurus masalah ini dan coba menyelidiki lagi. Jika memang Dean pelakunya, maka aku tidak akan melepaskannya. Akan aku buat dia membayar mahal untuk semua kejahatannya, terutana iblis betina itu!!" Nathan menggepalkan tangannya.
Dan tanpa sengaja. Trio Rio, Satya dan Frans mendengar apa yang mereka bicarakan. Dan hal tersebut membuat mereka bertiga merasa seperti kejatuhan gunung. Mereka langsung berjingkrak histeris.
"YE..!! DAPAT MAINAN BARU LAGI!!"
-
"TARIK SIS....!"
".....SEMONGKO..."
__ADS_1
Suara gaduh yang berasal dari halaman rumahnya membuat Miranda kesal setengah mati. Dia tidak tau dari mana datangnya para mahluk dua alam itu yang sekarang sedang merusuh di halaman rumah mewahnya. Miranda sudah mencoba mengusirnya, tapi tidak berhasil. Mereka tidak pergi juga.
"KITA NYANYI LAGI, YOOKK!!"
"TARIK SIS...."
"...SEMONGKO...!"
Jurus yang sangat ampuh, teruji, terpercaya Tanpa anjuran dokter, tanpa harus muter-muter Cukup siji solusinya, pergi ke mbah dukun saja Langsung sambat, "Mbah, saya putus cinta!"
Kalau tidak berhasil pakai jurus yang kedua Semar mesem namanya, jaran goyang jodohnya
Cen rodok ndagel syarate penting di lakoni wae Ndang dicubo mesti hasil terbukti kasiate gejrot.
"Aaarrrkkhhhh!! Sialan mereka semua, apa mereka tidak tau kalau aku sangat lelah dan ingin segera tidur. Tunggu dan lihat saja, aku pasti akan mengusir kalian semua!!"
Miranda tidak tau mimpi buruk apa yang dia alami semalam sampai-sampai harus mengalami kesialan sepanjang hari ini. Mulai dari bertemu tiga pemuda aneh bin nyeleh, ban mobil kempes saat dalam perjalanan pulang, dan malam harinya rumahnya malah di datangi para banci kaleng. Parahnya lagi mereka meyanyikan sebuah lagu yang sama sekali tidak Miranda ketahui apa artinya.
"Sayang, siapa mereka? Kenapa mereka malah membuat konser di halaman rumahmu?"
"Aku sendiri tidak tau, Dean. Siapa mereka dan dari mana datangnya. Karna sudah hampir dua jam mereka membuat keributan dan kegaduhan di halaman rumah ini, aku sudah mencoba mengusirnya tapi gagal. Dean, cepat lakukan sesuatu untuk mengusir mereka semua,"
"Diamlah, aku juga sedang berfikir. Tunggu di sini, aku akan keluar dan mengurus mereka semua,"
"Hati-hati,"
"Aku tau harus bagaimana menghadapi mereka!!"
Dean menarik keluar senjata yang sedari tadi terselip dipinggangnya. Dengan emosi yang sampai di ubun-ubun. Dean menghampiri mereka sambil melepaskan tembakan peringatan ke udara.
DORRR...
DORRR...
Sedikitnya dua tembakkan yang Dean lepaskan dan hal itu membuat para banci kaleng tersebut terkejut dan kalang kabut menyelamatkan diri. Karna mereka tidak ingin mati konyol.
"MINGGAT KALIAN SEMUA, PERGI SEJAUH MUNGKIN DARI SINI!!" teriak Dean penuh emosi.
Alih-alih pergi. Mereka malah menyulut sebuah petasan beruluran jumbo yang kemudian dilemparkan ke dalam halaman rumah tempat Dean berada.
Syutttt...
DUAARRRR.....
"Ayam... Ayam.. Ayam....!! YAKK!! BERANI-BERANINYA KALIAN!!!"
"HAHAHA!! MAKAN ITU PETASAN,"
"KALIAN! AWAS KALIAN SEMUA!!"
"HAHAHA! INGAT BAIK-BAIK, INI BARU AWAL DARI PENDERITAAN KALIAN. DAN... KABOORRR, GORILA MENGGILA NGAMUK...!!"
__ADS_1
-
Bersambung.