Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 89) "Permainan Zian"


__ADS_3


Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ETERNAL LOVE (CINTA TERLARANG IBLIS DAN PUTRI LANGIT) tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗


-


Membahagiakan Luna dan membuatnya selalu merasa nyaman berada di sisinya adalah salah tujuan dalam hidup Zian. Itulah kenapa dia selalu menuruti apapun yang Luna inginkan meskipun ketika rasa lelah tengah mendera dan menggerogoti sekujur tubuhnya.


Malam ini contohnya, Zian tidak merasa keberatan membawa Luna berkeliling kota karena wanita itu ingin memakan sesuatu yang pedas. Padahal saat ini Zian sangat lelah, namun rasa lelahnya itu dia abaikan demi memenuhi keinginan Luna.


Saat ini mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang setelah berkeliling kota demi menemukan kedai makanan Korea yang masih buka. Dan untungnya Dewi Fortuna sedang berpihak pada mereka, ada satu kedai yang masih buka dan itu adalah satu-satunya kedai yang bisa mereka temui.


Zian menggulirkan pandangannya dan mendapati Luna sudah tertidur pulas dengan kepalanya yang bersandar pada jendela kaca di samping kanannya. Pantas saja Zian tidak mendengar lagi ocehannya, ternyata Luna sudah tertidur pulas.


Melihat wajah polos istrinya membuat sudut bibir Zian tertarik ke atas. Kemudian Zian menepikan mobilnya dan berhenti. Zian melepaskan sabuk pengamannya kemudian mengangkat tubuh Luna dan membawanya pindah ke jok belakang. Dia akan menyewa jasa sopir pengganti untuk menggantikannya mengemudi.


-


"Tuan, kita dalam masalah besar!!"


Tapp...


Derby menghentikan langkahnya setelah mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh asisten pribadinya. Mata hitamnya memicing dan menatap Eric penuh selidik. "Apa maksudmu?" tanyanya meminta penjelasan.


"Saham kita mengalami penurunan drastis setelah beberapa data penting perusahaan kita di curi oleh seorang hacker misterius. Dan saat ini para teknisi kita sedang bekerja keras untuk mengatasi serangan tiba-tiba pada sistem keamanan perusahaan kita,".


"APA!!" Derby memekik kencang. Tanpa menghiraukan Eric, Derby bergegas pergi ke ruang kontrol untuk melihat situasi di sana.


Pintu otomatis itu terbuka setelah Eric memasukkan kata sandi di sebuah alat di samping pintu tersebut sehingga pintu. Derby melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut dan diikuti oleh Eric dengan langkah sedikut terburu.


Terlihat raut panik tercetak jelas di wajah para teknisi ruang kontrol tersebut. Masing-masing dari mereka sibuk dengan komputer-komputer di hadapannya. Sekitar lebih dari 30 teknisi komputer tersebut berusaha melindungi sistem komputer perusahaan mereka dari serangan worm yang telah dikirimkan oleh seorang hacker jenius.

__ADS_1


"Tuan, hal ini tidak bisa di biarkan. Jika tetap itu dibiarkan, worm itu akan masuk ke dalam keamanan perusahaan dan mengacaukannya. Jika data-data perusahaan kembali di curi, maka secara otomatis saham perusahaan akan kembali mengalami penurunan secara signifikan. Saham perusahaan akan anjlok dan perusahaan ini akan bangkrut." Jelas Eric menuturkan.


Derby yang tadinya hanya melihat pergerakan worm itu melalui sebuah layar monitor besar, kini mulai mengetikkan sesuatu pada keyboard yang terhubung dengan komputer induk milik perusahaannya. Seperti yang telah di jelaskan oleh Eric sebelumnya. Jika terus dibiarkan, maka perusahaannya bisa mengalami kebangkrutan. Dan Derby tidak bisa membiarkan hal tersebut sampai terjadi.


"Aktifkan Supernova sekarang juga!" perintah Eric kepada seluruh teknisi.


Supernova sendiri adalah sebuah program antimalware buatan seorang ahli komputer jenius dari Rusia. Derby rela menghabiskan uang sampai jutaan juta dolar Amerika hanya untuk mendapatkan program ini. Antimalware yang canggih di tahun sekarang.


"Baik," jawab seluruh teknisi yang berada di ruangan tersebut dengan kompak.


Derby menggigit ujung kukunya dan mulai mengamati cara kerja Supernova itu. Senyum miring pun tersungging di bibirnya tatkala matanya melihat sendiri program itu memusnahkan worm tersebut. Pria itu berpikir bahwa perusahaannya tidak sia-sia mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk membeli program tersebut. Ini sebanding dengan hasil yang di dapat.


Namun tak berapa lama kemudian, dirinya dikejutkan tatkala seorang teknisi memberi tahu kepadanya bahwa worm itu hanyalah pengalihan saja. Ada worm lain yang tak terdeteksi oleh program antimalware tersebut yang berhasil melewatinya dengan memanfaatkan bug pada program itu.


"Shit! Bangsat, hacker sialan itu sangat pintar!" umpatnya kesal. "Aku tidak mau tau dan aku juga tidak ingin mendengarkan alasan apapun lagi dari kalian. Hentikan dia bagaimanapun caranya." Perintah Derby pada seluruh teknisi di dalam ruangan tersebut.


"Baik, Tuan!!"


-


Program antimalware milik perusahaan itu tidak akan mempan melawan cacing-cacing ciptaannya. Dan jika di teruskan, sudah pasti perusahaan itu akan hancur hanya dalam hitungan detik saja. Sayangnya dia tidak berniat menghancurkan perusahaan tersebut, setidaknya untuk saat ini.


Pria dalam balutan celana panjang dan kemeja putih yang lengannya di gulung sampai sikut itu terlihat bangkit dari duduknya dan melenggang keluar meninggalkan kamarnya. Dia harus melihat apa yang sedang di lakukan oleh sosok bidadari kesayangannya di taman belakang.


Namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika dia merasakan getaran pada ponselnya yang tersimpan di dalam saku celananya. Ada sebuah pesan masuk.


"Tuan, semua berjalan seperti yang Anda harapkan."


Pria itu 'Zian' menarik sudut bibirnya dan menyeringai tipis. Kepuasan terlihat jelas pada raut wajah tampannya. Selama pria itu ada di sana, semua akan berjalan seperti yang dia harapkan. Zian memang akan menghancurkan Derby, tapi dia akan melakukan secara perlahan dan tidak terburu-buru .


Memasukan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya. Zian melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


-


Para teknisi perusahaan milik Derby melihat bahwa worm yang mereka hadapi telah menghilang tanpa jejak. Mereka langsung mengecek sistem komputer mereka dan tidak menemukan tanda-tanda bahwa data-data perusahaan mereka kembali dicuri oleh worm tersebut. 'Ada apa sebenarnya ini?' kalimat itulah yang berada dibenak para teknisi.


"Ada apa?" Eric menghampiri salah seorang teknisi melihat wajah bingung mereka.


"Worm itu tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak, Tuan. Dan data-data perusahaan tetap aman, tapi kami tidak bisa menemukan beberapa data yang telah di curi semalam." Jelas teknisi itu.


Derby terdiam mendengar jawaban dari salah satu teknisi perusahaannya. "Sepertinya ada yang ingin bermain-main denganku. Sial, siapapun dirimu. Aku pasti akan menemukanmu!!" ujarnya membatin.


Derby beranjak dan meninggalkan ruang kontrol. Sementara itu, sebuah seringai tercetak di sudut bibir Eric. Beranjak dari ruang kontrol, Eric segera menyusul Derby yang sudah semakin menjauh.


-


Matahari bersinar tidak begitu terik dipadupadankan dengan lembutnya warna awan pagi ini menambah kesan manis untuk orang-orang yang melihatnya. Kicauan burung yang masih setia hinggap di dahan pohon pun semakin menambah kesan indah untuk cuaca pagi itu.


Jam masih menunjukkan pukul delapan pagi, terlihat sosok cantik bertubuh mungil yang tengah berbadan dua tak lain dan tak bukan adalah Luna saat ini tengah sibuk memetik beberapa tangkai mawar yang tumbuh di halaman belakang Villa.


Senyum manis tak pernah lenyap dari bibirnya ketika melihat beberapa kupu-kupu terbang kesana kemari dan hinggap di atas bunga-bunga. Serta berberapa kumbang yang tengah menghisap inti sari dari bunga-bunga tersebut.


Perhatiannya tersita sepenuhnya oleh derap langkah kaki seseorang yang berjalan semakin mendekat. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat kedatangan suami tercintanya. Melihat senyum lebar di bibir istrinya membuat orang itu ikut tersenyum juga.


"Oppa, Kemarilah dan bantu aku membawa bunga-bunga ini ke dalam," pinta wanita itu pada suaminya.


"Apakah ini sudah cukup?" tanya Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


"Ya, aku hanya ingin mengganti bunga yang ada di kamar saja. Oya, Oppa... Kau dari mana saja? Kenapa baru menyusulku kesini? Tapi ya sudahlah, kenapa harus di bahas juga. Ayo kita masuk." Luna memeluk lengan terbuka suaminya dan keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam.


Sepanjang mereka berjalan. Luna terus saja berceloteh dan raut wajahnya berubah-ubah setiap detiknya dan membuat Zian gemas sendiri. Zian memang tidak memberikan respon apapun, tapi bukan berarti dia tidak mendengar apa Luna katakan.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2