Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 70) "Hot & Cool,"


__ADS_3


Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


Semburat sinar berwarna jingga menghiasi permukaan langit, berpadu sempurna dengan warna samar violet yang berpendaran tertimpa kilau mentari sore. Semilir angin yang bertiup semilir-semilir, yang mampu menghantarkan rasa sejuk pada perasaan.


Atmosfir terasa hangat dan menyenangkan, terutama bagi Luna yang pada akhirnya bisa mewujudkan impiannya untuk menyaksikan seluruh kota Seoul dari ketinggian. Wajah cantuk itu berseri-seri penuh kebahagiaan, menikmati saat-saat pertama ia naik kincir raksasa itu. Panorama tenggelamnya matahari di balik horizon lautan membuatnya semakin bahagia.


Sebaliknya, sepasang mata abu-abu dingin itu hanya menatap bosan pada pemandangan di depannya. Sang- empunya menyilangkan kedua lengannya, bertumpu pada panel jendela kincir dan meletakkan dagunya di sana. Wajah datar itu terus menatap bulatan oranye yang tingga sepertiga dengan pandangan jemu. Pergerakan kincir yang lambat sama sekali tidak mengubah suasana hatinya.


Tatapan Zian tak teralihkan sedikit pun. Dipandanginya kilauan-kilauan bahagia yang seolah terpancar dari setiap inci wajah cantik dan anggun itu, juga seluruh gesturnya.


Rambut coklat terang-nya yang berayun lembut setiap kali ia menggerakkan kepalanya. Matanya yang berbinar-binar sarat akan kekaguman. Kedua tangannya menempel pada kaca, seolah ingin menyentuh rangkaian indah kota yang tertangkap oleh retinanya.


Luna tersenyum lebar. Wanita itu kemudian menggulirkan pandangannya pada sosok tampan di depannya. "Oppa... Apa kau percaya, jika ada pasangan yang berciuman di dalam kincir angin saat mencapai puncaknya, maka cinta mereka akan kekal!!" kata Luna sambil menatap Zian yang duduk didepannya.


Pria itu menggeleng. "Aku belum pernah mendengarnya, jadi mana bisa aku percaya!!" jawabnya seperti biasa, datar.


"Saat masih kecil aku memiliki sebuah impian. Ketika dewasa, aku ingin menaiki sebuah kincir angin bersama laki-laki yang mencintai dan aku cintai, kemudian kami berciuman saat kincir itu tiba dipuncaknya!" Luna tersenyum, wajahnya memerah, ia merasa geli dengan impian masa kecilnya dulu.


"Dan kau sudah mewejudkannya?" Luna menggeleng, Wanita itu tersenyum tipis.


"Bagaimana mau mewujudkannya, jika sejak remaja sampai dewasa aku belum pernah pacaran sekalipun. Dulu hatiku sudah dibutakan oleh cintaku pada bajingan itu. Aku terlalu mengharapkannya, tapi kenyataan tak seindah yang aku bayangkan. Bukankah itu sangat miris," ujar Luna yang merasa miris dengan nasib hidupnya yang tidak pernah merasakan manisnya berpacaran, dan ketika dia jatuh cinta, tapi cintanya itu malah bertepuk sebelah tangan.


"Untuk itu, aku akan mewujudkan impianmu!" kata Zian membuat mata Luna kembali terbuka.


"Maksud, Oppa,"


"Maksudku, ini..."


Kedua mata Luna terbelalak saat merasakan benda lunak dan basah menyentuh permukaan bibirnya di susul pagutan-pagutan lembut yang melenakan. Reflek, wanita itu mencengkram lengan terbuka Zian. Zian mencium bibirnya ketika kincir angin yang mereka naiki tepat pada puncaknya.


Ciuman mereka berakhir tepat ketika kincir angin berhenti berputar. Zian segera turun lalu mengulurkan tangannya dan membantu Luna untuk keluar dari kincir tersebut. "Kau ingin kemana lagi setelah ini?" tampak Luna berfikir, menimbang penawaran Zian.


"Eemm!!! Bagaimana kalau kita makan saja? Aku lapar!" Luna mengusap perutnya yang sudah keroncongan.


Zian mengangguk, mengiyakan. "Baiklah!"


Di tengah perjalanan, Luna dan Zian tidak sengaja bertemu dengan Mark dan teman-temannya. Mereka sama-sama berhenti, tatapan tidak suka jelas sekali Zian tunjukkan ketika pria itu menatap Luna dengan tatapan tak terbaca.


Zian menggenggam tangan Luna dan membawanya pergi dari sana. Hati Zian kembali terbakar saat bertemu degan Mark, karena hal itu mengingatkan Zian pada kejadian malam itu.


"Aku tidak berselera makan lagi, sebaiknya kita langsung pulang saja," ucap Zian dan membuat Luna menghela nafas. Dia tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan keputusan Zian.


"Baiklah,"


-


Tapp!! Tapp!! Tapp!!


Satya, Frans dan Rio membulatkan matanya saat mendengar derap langkah kaki seseorang berjalan menaikki tangga menuju lantai dua. Buru-buru ketiga pemuda tampan itu mematikan televisi didepannya dan beralih pada buku di atas meja seolah-olah ia sedang belajar dengan serius


Ketiganya tidak ingin terkena masalah bila Tao sampai melihat mereka bermalas-malasan dan memergoki mereka tengah mencuri-curi waktu untuk menonton Tom & Jerry favoritnya lalu melaporkannya pada Nathan. Karma bisa-bisa mereka terkana hukuman dari Nathan dan mereka juga tidak ingin menjadi dendeng panggang.


"Uncle, ada apa dengan kalian bertiga? Kenapa kalian terlihat panik dan wajah kalian pucat?Aahh.. Pasti kalian berbuat masalah lagi ya?" tebak Laurent seraya menatap ketiganya penuh selidik.


"Hahaha... Mana ada Princess, masa iya Uncle yang tampan ini membuat masalah, Uncle hanya sedikit terkejut karena Uncle pikir yang datang adalah-"

__ADS_1


"Uncle Tao atau papa, kan?" tebak Laurent 100% benar. Gadis kecil itu tertawa. "Hahaha.. Aku sudah menduganya, Uncle.. Malam ini kalian temani Laurent tidur ya. Mama masih di rumah sakit dan papa belum pulang, Lucas mengunci pintunya karena dia tidak mau aku numpang tidur di sana. Laurent takut tidur sendirian," rengek Laurent memohon.


"Baiklah, Princess... Biar Uncle Rio yang menemani tidur, oke..."


"Oke, Uncle."


-


CKITT....


Zian terpaksa mengerem mendadak karena kemunculan beberapa pria yang menghadang mobilnya. Salah satu dari ketujuh pria itu menghampiri mobil Zian dan menggedor pintu di samping kirinya.


"Turun dan serahkan harta benda kalian!!" teriak orang itu.


"Tunggulah di dalam dan jangan coba-coba untuk keluar. Aku akan membereskan mereka dengan segera,"


"Oppa, hati-hati," Zian mengangguk.


Perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi. Zian yang hanya seorang diri dikeroyok sedikitnya tujuh orang dan semua bersenjata. Luna tak sedikit pun meloloskan pandangannya dari jalannya perkelahian tersebut. Dia benar-benar mencemaskan Zian. Luna takut jika Zian sampai terdesak dan terluka.


Dia ingin sekali membatu tapi Zian melarangnya, karena jika dia keras kepala dan memaksakan diri untuk keluar, bisa-bisa Zian malah mengomelinya habis-habisan. Zian hanya tidak ingin bekas luka tembak di dada Luna sampai terbuka lagi.


"OPPA!!" Luna menjerit histeris melihat salah seorang dari mereka berhasil melukai Zian. Darah segar tampak mengalir dari pelipis kirinya yang terkoyak.


Luna benar-benar bingung, haruskah dia turun dan membantu Zian atau tetap diam di dalam mobil dan menjadi penonton. "Aahhh... masa bodoh," dan akhirnya Luna memutuskan untuk keluar dan membantu Zian.


"Luna, apa yang kau lakukan? Bukankah aku memintamu untuk tetap di dalam mobil!!"


"Aku tidak bisa diam saja melihatmu sendirian melawan mereka. Dan aku tidak terima karena mereka sampai membuatmu terluka,"


Zian mendesah berat. Dasar keras kepala!!"


"Oppa, sebaiknya kita pulang sekarang. Lukamu harus segera diobati, kali ini biar aku saja yang membawa mobilnya,"


"Hn, baiklah,"


.


.


Di sini mereka sekarang. Luna dan Zian duduk saling berhadapan di atas tempat tidur di kamar mereka. Luna mengobati luka pada pelipis dan lengan Zian yang tidak sengaja terkena sabetan senjata lawannya.


"Oya, Lun. Sebenarnya untuk apa kau bertemu dengan, Soojin?"


Gerakkan tangan Luna terhenti oleh pertanyaan yang baru saja terlontar dari bibir Zian. Wanita itu memgangkat wajahnya dan menatap langsung pada mata suaminya yang tengah menatapnya datar. "Bukan aku, tapi wanita itu yang menghubungiku lebih dulu dan mengajakku bertemu." Jelasnya. Luna tidak terima karena Zian berfikir jika dirinyalah yang menemui Soojin.


"Apa yang, Soojin katakan padamu?" Tanya Zian lagi.


"Dia memintaku agar meninggalkanmu, tentu saja aku menolaknya dengan tegas. Akhirnya dia marah dan berusaha untuk melukaiku dengan sebuah pisau. Apalagi setelah aku mengatakan padanya jika aku ini sedang hamil anakmu, bodohnya dia percaya. Dia semakin marah dan murka," tutur Luna.


Zian mendesah berat. Ia tau Soojin pasti akan melakukan segala cara untuk memisahkannya dengan Luna, Zian tau betul Soojin itu wanita seperti apa. "Jangan pernah temui dia lagi apapun alasannya." Pinta Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna


"Baiklah, aku mengerti."


Sebuah perban terlihat membebat pelipis kiri Zian dengan rapi. Darah tampak pada permukaan perbannya, yang menandakan jika luka itu teramat sangat baru.


"Apa yang kau lamunkan?" tegur Zian melihat Luna yang tiba-tiba terdiam.


Wanita itu menggigit bibir bawahnya dan menatap Zian dengan serius. "Oppa, jujur saja aku merasa takut dan cemas. Pasti wanita psycho itu pasti tidak akan menyerah untuk membuat kita berpisah. Bagaimana jika dia melakukan hal-hal tidak terduga untuk memisahkan kita?" Luna mengunci manik mata milik Zian.

__ADS_1


Zian meraih bahu Luna dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Tidak akan ada yang terjadi. Aku pasti akan melindungimu, dan aku tidak akan ku biarkan siapa pun menyentuh dan menyakitimu termasuk Soojin." Ujarnya sambil mengusap punggung Luna dengan gerakkan naik turun.


Wanita itu menutup matanya seraya meremas kemeja yang membalut tubuh Zian tanpa peduli jika pakaian Zian akan kusut karna ulahnya.


Setelah di rasa Luna mulai tenang. Zian melepaskan pelukkannya, jari-jarinya menghapus jejak air mata di pipi Luna dengan lembut. "Aku paling benci melihatmu menangis, tersenyumlah Sayang, kau terlihat jelek saat menangis." Luna mencerutkan bibirnya dan dengan kesal ia meninju dada Zian.


"Menyebalkan."


"Jangan memasang wajah seperti itu jika kau tidak ingin aku melahap habis bibirmu."


"Siapa yang peduli."


Selanjutnya bibir Luna sudah berada dalam pagutan bibir Zian. Salah satu tangan Zian menekan tengkuk wanitanya supaya ciuman itu tidak mudah terlepas, tangan satu lagi memeluk pinggang ramping Luna dan membunuh jarak di antara mereka. Zian terus memagut bibir Luna, atas dan bawah secara bergantian.


Tak ingin di anggurkan, lidah Zian menelusup ke dalam rongga mulut Luna dan mengobrak-abrik isi dalam mulutnya. Menyapu dinding mulutnya, mengabsen deretan gigi putihnya dan membawa lidah Ku a menari bersama. Seperti tarian sensual yang di iringin musik erotis yang memikat. Sesekali mereka saling bertukar saliva di dalam mulut hangat Luna.


Tak ingin kalah dari suaminya, Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian dan membalas ciuman panasnya.


Sadar Luna membalas ciumannya. Zian merubah posisi mereka dengan menempatkan Luna di atas pangkuannya. Bibirnya terus memagut bibir Luna dan lidah mereka bergulat panas di luar mulut masing-masing. Benang saliva tampak ketika mereka memutuskan untuk mengakhiri ciuman panasnya.


"Kau semakin hebat saja, Sayang."


"Itu karna aku belajar darimu, Oppa."


Zian menyentil gemas kening Luna ."Aku akan membersihkan diri dulu, kau tetaplah di sini. Setelah ini kita makan malam sama-sama." Ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


"Baiklah, aku akan menyiapkan pakaian ganti untukmu, oke." Luna mengerlingkan matanya pada Zian. Dan Zian berani bersumpah jika pakaian yang Luna siapkan untuknya pasti adalah pakaian lengan terbuka.


"Hn, baiklah," kemudian Zian beranjak dari hadapan Luna dan pergi begitu saja.


Luna berlari ke ruangan di mana semua barang-barangnya dan Zian di simpan. Luna berjalan menuju deretan pakaian milik Zian, wanita itu terlihat memilih pakaian mana yang akan Zian pakai malam ini. "Ahhh, aku rasa yang ini sangat pas untuk, Zian Oppa," Luna menatap puas hasil pilihannya. Dia membayangkan ketika Zian memakai pakaian pilihannya tersebut. Pasti dia akan terlihat Hot & Cool.


CKLEKK...


Decitan suara pintu di buka mengalihkan perhatian Luna. Wanita itu tersenyum lebar melihat kedatangan Zian. Aroma maskulin langsung berkaur di dalam hidungnya ketika Zian keluar dari dalam sana.


"Oppa, aku sudah menyiapkan pakaian untukmu. Aku akan menunggumu di luar, oke," Luna menggerling kan mata pada Zian dan pergi begitu saja.


Zian melihat pakaian yang Luna pilihkan untuknya dan mendesah berat. Persis seperti dugaannya. Sebuah pakaian lengan terbuka yang memamerkan otot-otot lengannya dan Zian tidak memiliki pilihan lain selain memakainya. Karna jika tidak, pasti Luna akan merajuk dan mengancam akan mogok makan.


Setelah berpakaian lengkap. Zian segera turun dan menghampiri Luna yang sudah menunggunya di meja makan. Tak ada yang sepesial yang tersusun di atas meja. Hanya beberapa lembar roti tawar dan selai berbagai macam rasa. Serta dua buah telor mata sapi yang sedikit gosong.


Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Oppa, maaf telur mata sapinya setengah gosong. Dan lihatlah ini, lenganku malah terkena cipratan minyak panas." Luna menunjukkan luka bakar di lengan kanannya yang sudah dia olesi pasti gigi.


Zian mendesah berat. "Kenapa kau harus memaksakan diri? Dan lihatlah karena kau ceroboh, kau jadi terluka seperti ini," omel Zian sembari memeriksa keadaan luka di lengan Luna. Untung hanya luka kecil saja.


"Aku hanya berusaha menjadi istri yang berguna. Selama ini aku selalu payah dalam segala hal. Sebagai seorang istri, aku ingin bisa melayani mu. Membuatkan sarapan, makan malam dan segala hal yang selalu dilakukan oleh seorang istri. Tapi aku apa, jangankan untuk menyiapkan sarapan, bahkan untuk membuat ramyeon saja aku tidak bisa." Luna menundukkan wajah. Tatapannya berubah sendu dan kedua matanya tampak berkaca-kaca.


Zian menarik lengan Luna kemudian membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Kau tidak perlu memaksakan diri, Sayang. Selama ini kau sudah melakukan banyak hal untukku. Dan itu lebih dari cukup untukku. Aku tidak akan memaksamu untuk bisa seperti orang lain. Sebaiknya sekarang kita makan, lagipula telor buatanmu juga tidak buruk-buruk amat," tutur Zian sambil mengusap punggung Luna.


Luna mengangkat wajahnya dan tersenyum haru. Sungguh betapa Luna sangat beruntung memiliki suami seperti Zian. "Jika tidak enak jangan di paksa untuk memakannya, Oppa. Aku tidak ingin kau sampai keracunan karena masakanku,"


"Telor ini aman dan aku akan baik-baik saja meskipun memakannya. Ya, meskipun rasanya sedikit pahit. Duduklah dan kita makan malam bersama." Luna tersenyum kemudian mengangguk.


"Baiklah, Oppa,"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2