
Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya DIPAKSA MENIKAHI TUAN MUDA CACAT tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗
-
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, tepat dimana semua orang sedang terlelap di atas tempat tidurnya sambil membungkus diri dengan selimut tebal yang hangat sambil merangkai mimpi. Kecuali mereka yang dituntut harus bekerja lembur.
Begitu pula dengan pasangan muda Zian Qin dan Luna Qin yang sedang tertidur di kasur mereka yang empuk. Zian berbaring sambil memeluk tubuh Luna, mata kirinya tertutup sempurna menyembunyikan mutiara abu-abunya, nafasnya naik turun dengan teratur.
Sedangkan Luna tidur dengan posisi memunggungi Zian, matanya tertutup sempurna menyembunyikan sepasang mata yang meneduhkan siapapun yang melihatnya.
Tiba-tiba Luna terbangun karena merasa sangat haus. Ia merasakan nafas hangat seseorang di belakangnya yang membuatnya merasa geli sendiri.
Dengan sangat hati-hati, Luna melepaskan pelukan Zian di perutnya karena ia tidak mau membuat suaminya terbangun. Zian melenguh pelan ketika Luna mulai duduk, dan kembali tertidur pulas.
Luna menghela nafasnya lega. Dia pikir dia akan membangunkan Zian karena gerakannya. Tatapan matanya tiba-tiba berubah sendu saat melihat perban yang membalut di sana sini. Zian terluka dan babak belur setelah terlibat perkelahian sengit dengan puluhan pria sore tadi.
Tak ingin mengganggu tidur suaminya kemudian Luna beranjak dan pergi untuk mengambil minum. Dia benar-benar haus. Dan tak lama setelah kepergian Luna, mata kiri Zian terbuka. Pria itu menyernyit karena tidak mendapati Luna berbaring di sampingnya. Tempat kosong itu masih terasa hangat, yang hangat masih belum terlalu lama di tinggalkan.
Zian memegangi kepalanya yang terlilit perban. Kepalanya masih agak pusing dan mata kanannya yang sedikit cidera juga masih terasa berdenyut nyeri walau tidak separah tadi.
Menyibak selimutnya, Zian perlahan turun dari ranjangnya. Agak terhuyung ia berjalan keluar kamar untuk mencari Luna dan kebetulan dia juga merasa haus.
Belum juga sampai pintu, tubuh Zian sudah terhuyung ke depan, nyaris saja terjatuh jika saja tidak ada sepasang lengan kurus yang dengan sigap menahannya. Zian mendongak, terkejut bukan main mendapati Luna menangkap tubuhnya.
"Sayang," panggilnya lirih.
Yang dipanggil malah merengut tidak suka."Kau mau ke mana?" tanya Luna kemudian menuntun Zian untuk kembali berbaring.
"Mengambil minum dan mencarimu, tiba-tiba kau menghilang dan itu membuatku cemas." jawab Zian.
__ADS_1
Luna menghela napas. "Lalu kenapa tidak memanggilku? Aku keluar hanya untuk mengambil minum, Oppa." Ujar Luna menjelaskan. "Oppa diam di sini dan tetap berbaring. Biar aku ambilkan air." Ucap Luna dan pergi begitu saja.
Tak lama kemudian Luna kembali sambil membawa segelas air putih yang kemudian dia berikan pada Zian. "Oppa, minum dulu." Luna membantu Zian untuk duduk. "Setelah ini sebaiknya kau tidur lagi. Kau masih sakit dan kau terlihat buruk." Tuturnya.
"Bisa tolong ambilkan obatku? Kepalaku pusing dan mata kananku terus saja berkedut nyeri," Zian memegangi mata kanannya yang terlilit perban. Luna mengangguk.
"Tunggu sebentar, Oppa."
Luna menuangkan beberapa butir obat ke atas telapak tangannya lalu dia berikan pada Zian. Setelah meminum obat itu Zian kembali berbaring. Dia memang harus tidur, kepalanya benar-benar tidak bisa di ajak untuk kompromi.
"Sebaiknya kau juga segera tidur." kata Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
-
"Kupikir orang sepertimu tidak akan pernah jatuh sakit hanya karena beberapa luka saja." Adalah komentar Kalina setelah mengecek suhu badan Zian.
Kalina langsung menyusul ke Jeju setelah mendapatkan kabar dari Luna jika suaminya itu sedang sakit setelah terlibat perkelahian sengit dengan puluhan orang yang tidak dia kenal.
Kepalanya pusing, matanya sangat panas dan tubuhnya terasa lemas sekali. Sepertinya ia benar-benar tumbang kali ini.
Kalina menghela napas. Masih menatap Zian cemas. Ia menyibak poni Zian di keningnya, Panas. Demamnya cukup tinggi. Meskipun ada perban yang melilit keningnya, tapi suhu tubuh Zian yang panas masih dapat dirasakan oleh Kalina.
Melihat keadaan putra tirinya saat ini membuat Kalina merasa miris. Perban membalut di sana-sini. Zian yang biasanya tangguh dan arogan kini tampak lemah dan rapuh. Kalina menghela napas.
"Sebaiknya sekarang kau istirahat. Aku akan membuatkan bubur untukmu, tapi di mana Luna? Kenapa dia tidak menampakkan batang hidungnya sedari tadi?" ucap Kalina penuh keheranan.
Zian menggeleng. Dia juga tidak melihat batang hidung Luna sedari tadi.
"KYYYAAA...!!"
__ADS_1
Sampai sebuah jeritan menyita perhatian mereka berdua. Kalina segera melesat keluar begitu pula dengan Zian. Sambil mencengkram kepalanya, Zian berjalan sedikit tertatih untuk melihat apa yang terjadi. Dia menjadi cemas setelah mendengar jeritan Luna.
"Luna, ada apa?" panik Kalina setibanya dia di dapur. Pantas saja jika Kalina tidak melihat batang hidung putrinya karena sedari tadi Luna berada di dapur. "Ya Tuhan, Luna. Apa yang terjadi di sini? Kenapa dapurnya malah seperti kapal pecah?" Kalina menghampiri putrinya. Dia terheran-heran melihat keadaan dapur yang berantakan.
"Jangan bertanya lagi. Ibu, bagaimana ini... Buburnya terus meletup-letup dan, aw... berkali-kali tanganku terkena cipratan panasnya."
Kalina mendengus geli, begitu pula dengan Zian. Zian pikir Luna teriak karena apa. Zian berbalik dan berjalan menuju sofa ruang keluarga, kemudian berbaring di sana.
"Sebaiknya temani suamimu. Biarkan Ibu yang menyelesaikan memasak buburnya. Kau ini perempuan tapi kenapa masih saja payah dalam urusan masak memasak." Kalina menjitak gemas kepala putrinya. Sedangkan yang dijitak hanya bisa merenggut kesal.
"Ibu, berhentilah mencibirku. Biarpun payah, aku tetap saja putrimu yang paling cantik, baik hati dan rajin menabung. Kalau begitu aku akan meninggalkan Ibu sendiri, jangan lupa memasakkan untukku juga ya."
"Dasar anak ini,"
Kalina menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri bungsunya. Wanita itu harus segera menyelesaikan kekacauan yang Luna ciptakan.
.
.
"Oppa, kenapa kau malah tidur di sini? Ayo, aku antar kau ke kamar."
Zian menggeleng dan menepis pelan tangan Luna. "Tidak perlu, aku ingin di sini. Sebaiknya kau bantu Ibu menyelesaikan kekacauan yang kau ciptakan."
Luna mempoutkan bibirnya dan merenggut kesal. "Kau mengusirku, Ibu mengusirku. Apa karena aku tidak berguna jadi kalian semua tidak membutihkanku?" kedua matanya tampak berkaca-kaca. Luna beranjak dari hadapan Zian dan pergi meninggalkan Villa.
Luna tersinggung dengan sikap Zian dan juga ibunya. Dia tau jika dia memang tidak berguna dan tidak bisa apa-apa. Tapi tetap saja sikap mereka membuatnya semakin merasa tidak berguna.
"Luna, tunggu!!"
__ADS_1
-
Bersambung.-