
"BOCAH!!! HUAAA, LEPASKAN KAMI. KAMI MINTA AMPUN!!"
Seorang pria berkepala plontos berteriak meminta ampun supaya Rio, Satya dan Frans melepaskan mereka berlima. Tidak hanya membuat tubuh mereka gatal-gatal oleh semut dan ulat bulu saja. Tapi mereka bertiga juga membuat sekujur tubuh mereka di sengat lebah setelah berendam dalam kubangan lumpur bercampur kotoran sapi dan kerbau.
Keadaan mereka jauh dari kata baik-baik saja. Kelima anggota Mafia yang gagah perkasa dan selalu ditakuti karna kekejamanannya malah tunduk pada tiga pemuda yang jelas usianya berbeda jauh dari mereka.
Entah bagaimana bisa mereka memikirkan cara untuk menjebak dan mengerjai mereka berlima habis-habisan. Rio, Satya dan Frans seperti tidak pernah kehabisan akal dalam membuat orang lain sengsara dengan kenakalan dan ide-ide jahilnya.
"Paman, makanya jangan berani-berani mencari masalah dengan kami. Beginilah akibatnya, dan kalian akan tetap tergantung di sana sepanjang malam. Berdoa saja semoga besok ada orang yang menemukan kalian. Dan kalian tenang saja, dompet dan harta benda kalian aman bersama kami. Kami pergi dulu. Byebye,"
"Bocah!! Jangan pergi!! Jangan tinggalkan kami!!" teriak mereka tapi di hiraukan oleh ketiganya. Frans mengangkat tangannya dan melambai pada kelima pria malang tersebut. Mereka ingin segera pulang karna mereka sudah sangat merindukan kasur super nyaman miliknya.
-
Hembusan angin malam berhembus kencang dalam kesunyian.
Malam yang dihiasi bulan purnama menjadi malam yang amat panjang.
Gemerisik daun-daun kering yang berguguran mewarnai heningnya malam. Suara yang dihasilkan bernaung sejenak di indera pendengaran, membawa perasaan damai bagi setiap orang yang masih terjaga. Tak terkecuali seorang wanita yang tengah menikmati lembutnya angin malam. Cahaya bulan lebih terang malam ini.
Wanita itu tengah berdiri di balkon kamarnya, lensa hazelnya menerawang, ribuan manik-manik langit memainkan cahayanya. Angin terus berhembus, menggoyangkan helaian panjang yang merurai itu dengan lembut. Berdiri dalam diam, menikmati indahnya suasana. Sudah lama tidak seperti ini, dikarnakan banyaknya peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini.
Gaun tidur berbahan sutra yang meletak ditubuhnya terlihat bercahaya selagi purnama tidak segan-segan untuk membagi sinarnya untuk sang dara. Tak lama kemudian, kedua lensa pengamat tertutup, senyum yang menghiasi wajah menambah keindahan parasnya.
Tampak sebuah kolam kecil yang berada di taman belakang bergelimang akibat biasan sang bulan. Warna jingganya yang memesona pancarkan kesejukan, kian langit berubah keunguan dengan dekorasi hitam dan biru tua di mana-mana. Manik putih di atas sana mengerlipkan cahayanya pada setiap makhluk hidup yang bernaung di bumi, mengundang gumaman terpesona kepada mereka yang melihatnya.
Kedua mata itu kembali terbuka saat merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Membuat senyum di bibir pink tipis itu terkembang semakin lebar. Sudah lebih dari tiga hari dia tidak merasakan kehangatan pelukkan seperti ini.
"Kenapa belum tidur dan malah berdiri di sini?" tanya si pria kemudian mengecup lembut leher jenjang wanita dalam pelukkannya.
"Aku belum mengantuk." Jawab si wanita. "Malam ini langit terlihat cerah. Oppa, bagaimana kalau kita jalan-jalam sebentar? Aku ingin melihat kunang-kunang. Kau tidak keberatan bukan? Anggap saja sebgai penebusan dosamu karna sudah mendiamiku selama berhari-hari." Wanita itu 'Viona' melepaskan pelukkan Nathan kemudian berbalik badan.
Sebuah jitakkan mendarat dengan mulus pada kepala coklat Viona membuat wanita itu sedikit meringis. "Aku tidak mungkin mendiamimu jika kau tidak memukainya lebih dulu. Ganti pakaianmu, aku tunggu di bawah." Viona mengangguk dengan antuasias.
Nathan membuka lemari pakaiannya kemudian mengeluarkan sebuah long vest hitam berlebel GUCCI yang kemudian dia pakai sebagai luaran kaos dalam putih tipisnya. Nathan keluar lebih dulu dan menunggu Viona di ruang tamu.
Tak lama berselang Viona datang dengan pakaian berbeda. Dress panjang berwarna putih setengah lengan, tak ketinggalan sebuah syal bermotif bunga melingkari leher putihnya.
"Di mana mantel hangatmu?"
__ADS_1
"Aku tidak membawanya. Lagi pula udara malam ini tidak terlalu dingin. Jika aku kedinginan bukankah ada Oppa yang bisa menghangatkanku? Dan bisakah kita berangkat sekarang?" Viona memeluk lengan terbuka Nathan dan keduanya berjalan beriringan menuju halaman.
-
Sebuah Lamborghini Veneno melaju kencang pada jalanan malam yang legang. Gelapnya malam tak membuat si pengemudi mengurangi sedikit pun kecepatan pada mobilnya. Sosok wanita yang duduk disamping dipengemu tak terusik sama sekali meskipun mobil itu di lajukan dengan kecepatan tinggi.
Dan setelah dua puluh menit berkendara. Mereka tiba di tempat tutuan. Viona segera turun dari mobil Nathan kemudian berlari ke tengah-tengah padang ilalang yang di penuhi ribuan kunang-kunang yang terus berkerlip indah.
Selain bisa melihat kunang-kunang. Viona juga bisa melihat langit malam yang di penuhi jutaan bintang tanpa penghalang. Kerlap-kerlip bintang bertaburan memainkan sinarnya. Dia tas saja terlihat sebuah lentera yang tak pernah lelah menyinari alam semesta.
Angin malam berhembus kian kencang. Membawa hawa dingin namun terasa menyejukkan. Hamparan Alang-alang di depan kian larut semakin liar, sementara remang bulan purnama merambat berselimut mendung, membuat cahaya kian menghilang. Viona menatap sedih. Bulannya beranjak pergi.
"Oppa, sepertinya kita datang di waktu yang salah." Ucap Viona seraya membalik tubuhnya. Posisinya dan Nathan saling berhadapan.
"Maksudmu?"
"Tadi langit begitu cerah tapi sekarang malah di selimuti awan gelap. Lihatlah di atas sana. Bulan dan bintang tak bisa kita nikmati lagi," ucapnya sedih.
"Bukankah masih ada kunang-kunang? Kau kemari karna ingin melihat kunang-kunang bukan?"
"Ya, tapi tetap saja kurang sempurna tanpa ada bulan dan bintang," sesalnya.
Langit malam bertabur bintang terpampang manis di binar teropong kembar Viona. Anak-anak rambutnya dimainkan oleh angin sepoi-sepoi yang cukup untuk menggetarkan ranting-ranting pohon. Para hewan bersenandung saling bersahutan membentuk harmoni alam.
Padang rumput, bunga-bunga.. serta ilalang. Indahnya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, dua matanya terbuka lebar ketika ia merasakan sepasang tangan yang memeluknya dari belakang. Kepalanya bersandar pada dada bidang yang tersembunyi di balik kain putih tipis serta long vest hitam yang memamerkan otot-otot lengannya yang terbentuk.
"Oppa, aku punya hadiah kecil untukmu," ucap Viona setengah berbisik.
"Hadiah untukku?" Viona mengangguk.
"Kau ingin melihatnya?" tawar Viona seraya melepaskan pelukkan Nathan. Kedua manik hazelnya terkunci pada mata kanan milik Nathan. "Tapi kau harus memberiku hadiah setelah melihatnya, bagaimana? Kau setuju?"
"Aku rasa bukan hal yang sulit."
"Sebenarnya sudah sejak beberapa hari yang lalu aku ingin memberitaumu, tapi kau selalu acuh dan mendiamiku. Jadi aku tidak pernah memiliki kesempatan," tutur Viona.
Wanita itu semakin mengintimkan tubuhnya pada suaminya. Nathan memandang Viona bingung. Wanita ini semakin menenggelamkan dirinya pada dada bidang Nathan, menyamankan diri sebentar. Tangannya mengambil sesuatu dari dalam saku gaun panjangnya.
Vioa mengusap perutnya yang nasih rasa dengan senyuman terbaik yang dia miliki. "Anak ini merindukan Papanya." Wajahnya saat ini benar-benar terarah pada wajah Nathan, memandangnya lembut. Dan kemudian Viona menunjukkan sebuah testpack pada Nathan.
__ADS_1
Ingin meledak rasanya dada Nathan saat mengambil benda yang diserahkan Viona padanya. Tangannya sedikit gemetar. Ada dua garis merah sejajar di tengah benda tersebut. Raut wajah pria itu yang selalu dingin menunjukkan kegembiraan sekarang.
"Vio, ini?" Nathan mengangkat wajahnya.
"Oppa, aku hamil," kata Viona sambil menunduk.
Setelah menyimpan benda itu di dalam saku long vestnya, jari telujuk kiri Nathan mengangkat perlahan dagu Viona. Diarahkan wajah cantik itu dan dengan perlahan ia menunduk mengecup lembut bibir Viona. Dilum**nya dengan penuh perasaan bibir mungil itu. Nathan tidak tahu harus berkata apa sekarang, semua perasaan senang, takjub, gembira bercampur menjadi satu.
-
"Oppa, kumohon?"
"Tidak, Viona."
Dan suara tangisan yang jelas terdengar begitu pura-pura keluar dari bibir Viona Lu. Istri dari Nathan Lu itu lalu menatap Nathan dengan pandangan yang bisa membuat siapa pun akan merasa iba dan kasihan. Wajah memelas dengan sudut bibir sedikit melengkung ke bawah.
"Hiks, kau memang sudah tidak sayang padaku lagi? HUAAA, OPPA JAHAAAT! HIKS, OPPA SANGAT JAHAT!!" Viona langsung histeris sambil sesekali menyust air matanya. "KENAPA TUHAN!! KAU MEMBUATKU MENIKAHI MANUSIA KUTUB YANG SUPER DINGIN INI? KENAPA!"
Nathan memutar iris matanya jengah. Dan drama pun kembali dimulai.
Sejak tau jika dirinya hamil. Viona menjadi sosok yang sangat manja, dan moodswingnya bertambah parah, belum lagi ia selalu ngidam hal yang aneh-aneh yang membuat Nathan sering kali kerepotan dan frustasi di buatnya.
"Oppa!! Kau sudah tidak menyayangiku ya? Hiks… Hiks…," cairan bening itu keluar dan merembes dari mata hazel Viona. Suara isakan keluar dari bibir tipis ranum itu. "Kenapa sih Oppa tidak mau? Padahal aku hanya memintamu memakai pakaian lengan tebuka, apa sih susahnya?"
"Bukan itu masalahnya!! Aku harus pergi bekerja, bagaimana pandangan orang-orang jika aku datang ke kantor dengan pakaian lengan terbuka? Reputasiku sebagai seorang CEO bisa hancur karna hal itu. Jadi mengertilah!!"
Viona menyusut air matanya. "Tapi ini bukan kemauanku, anak ini yang memintanya. Dia ingin supaya Papanya-"
"Berhenti menggunakan anak itu sebagai alasan, Viona Lu!! Apakah kau belum puas membuang semua kemeja lengan panjangku lalu menggantinya dengan pakaian tanpa lengan. Kali ini aku tidak akan menurutimu. Sekali tidak tetap tidak!!" tegas Nathan.
Sudut bibir Viona tertarik ke bawah semakin dalam dan.. "Huaa...! Kau benar-benar jahat Oppa, kau memang sudah tidak menyayangiku lagi." Tangis Viona pecah, hanya pura-pura menangis lebih tepatnya. Bahkan sesekali Viona meneteskan obat tetes mata pada sudut matanya. "Baiklah kalau begitu aku akan mogok makan, mogok mandi dan aku tidak mau bicara denganmu lagi." Viona membuang muka ke arah lain.
Dan sekali lagi Nathan hanya bisa mendesah panjang. "Baiklah, aku akan memakai pakaian yang kau inginkan! Sekarang kau puas?"
Wajah Viona langsung sumringah. Wanita itu berhambur ke dalam pelukkan Nathan. "Aku tau kau tidak mungkin bisa menolaknya. Kau memang yang terbaik Oppa, aku semakin mencintaimu." Viona mencium pipi Nathan kemudian mengecup singkat bibir kissable-nya. "Aku akan menyiapkannya untukmu.
Wanita hamil terkadang memang sangat merepotkan, tapi bagi Nathan Lu… Hanya Viona Lu, satu-satunya wanita hamil yang tidak terlalu merepotkan. Ya meskipun pada kenyataannya dia sering merepotkan dirinya. Tapi Nathan tetap menikmatinya, meskipun tingkah Viona terkadang membuatnya frustasi. Dan semua yang Nathan lakukan karna dia terlalu menyayangi Viona.
-
__ADS_1
Bersambung.